Dear Me

d7652709-25b3-4c70-926f-1cb4371fa44e

Dear me,

Your life. And, today.

Both have same habit because they will end. After this “life”, you’ll go into the other side. Then, “today” will sublimate to the next days.

What did you do when “today” come? Have you feeling grateful for everything? Is there no regrets? There’s no madness? How if the answers are “no”, are you going to withdraw from the world?

Hei you, you made it! It is okay for not being perfect. It’s totally okay. At least, you decided try to live the way you are; with gratitude, with courage, with peace, with acceptance, and with humor.

I know that you don’t need people who ask you to fulfill their terms for their own acceptance and approval. But those people will always exist around, however. All you have to do is keep calm. Because no matter what, all of us should be better. So, be yourself, but do not stop there, be the best version of you.

Then, what I will be?

I want to be a store sometimes. A store that sell refreshment. Everything available at my store will nourish my customers souls. So, they will come back over and over again. Because life is not only about me, nor what the world gave to me. It is about what can I do for others, and how I talk to the universe.

With love,

Dinihari

is this all I want?

IMG_20140805_084807

Journalist.

I did find that dream profession when I was at senior high school. Probably it was just mindless dream. No matter what, I want it then (Alhamdulillah) I reach it. I don’t really remember how I’ve been finally getting here. But yes, I am here, working as a journalist. I have fascinated by my own journey because this has taught me many things in life.

But time passed away then I realize something; it needs an enormous effort for holding on within journalism river. It is totally not easy to strict on the etics. I feel my power have drained slowly. My spirit has buried. I am nothing in the journalism world.

N.O.T.H.I.N.G

Hmm…

Dusk was falling as I laid on my pillow; thinking about this. Either my heart and head mumbling each other. My heart is trying to prod the head. I kinda still don’t know what happen with me. Probably it just because “kurang piknik” hahaha. Yeah, I don’t know. All of these apparently vague for me, wondering; is this really all I want?

 

Tangerang, June 30 2016

Personal Calling

  “But it’s still there.” I was discovering that sentence when I was reading a book, the famous one: The Alchemist. This isn’t exist in the middle of the story but in the author’s note. “It” refers to what is Coelho called as “personal calling”. What is a personal calling? It’s like something make me […]

Dari Sampah Plastik Hijrah ke Hidroponik

DSCF0785
Jajaran tanaman hidroponik milik Hamidi. [dok. pribadi]
GELAS plastik bekas pakai Pop Mi serta sampah gelas Starbucks dan J’Co berdiri saling sejajar di rak kayu. Jumlahnya ratusan, memenuhi suatu pekarangan salah satu rumah di Jalan Siswa Raya, Kecamatan Belendung, Kelurahan Benda, Kota Tangerang.

Aneka gelas plastik bekas pakai itu bukan menjadi pajangan melainkan fungsinya menjelma sebagai pot tanaman. Bagian bawahnya dibolongi lantas di selipkan semacam kain sehingga tampak seperti buntut. Si buntut ini dicelupkan ke dalam potongan botol plastik berisi air.

“Ini namanya tanaman hidroponik. Jadi airnya langsung terserap [melalui kain yang tercelup ke air]. Makan sendiri tanamannya,” kata Hamidi kepada saya, di Tangerang, awal Mei lalu. Dialah yang menerapkan cara bercocok tanam hidroponik ini di halaman rumahnya.

Kamus bebas Wikipedia mengutarakan bahwa hidroponik berasal dari kata Yunani yaitu hydro yang berarti air dan ponos yang artinya daya. Hidroponik juga dikenal sebagai soilless culture atau budidaya tanaman tanpa tanah.

“Jadi hidroponik berarti budidaya tanaman yang memanfaatkan air dan tanpa menggunakan tanah sebagai media tanam atau soilless,” demikian tulis Wikipedia [https://id.wikipedia.org/wiki/Hidroponik].

Hidroponik  tak lain merupakan cara menanam dengan memanfaatkan air saja, tanpa tanah. Yang menjadi fokus adalah pemenuhan nutrisi bagi si tanaman. Kendati bertumpu kepada air, tetap saja kebutuhan air oleh tanaman hidroponik lebih sedikit daripada yang pakai medium tanah.

DSCF0787

Cocok tanam hidroponik adalah kreatifitas Hamidi yang kedua setelah proyek pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar minyak siap pakai.  “Ini [hidroponik] saya gerakkan karena butuh [dana] untuk mengembangkan Mi Plas [BBM dari sampah]. Saya butuh uang untuk Mi Plas,” ucap Hamidi.

Dia berencana menjual tanaman hidroponiknya. Pria berkacamata ini sengaja menanam sayur-sayuran alias tumbuhan yang sehari-hari lazim dikonsumsi masyarakat. Sayuran produksinya dijamin organik karena tak menggunakan pestisida, hanya pupuk cair khusus yang dibuatnya pula dari sampah organik.

Namun Hamidi belum memikirkan serius metode penjualan tersebut, berapa harga yang akan dibanderol, dan bagaimana rantai distribusinya. Sejauh ini dia terus mengembangkan kebun hidroponiknya untuk kebutuhan personal bersama keluarga.

Kebun hidroponik yang dikembangkannya sejak November 2015 ini berisi aneka sayur sebut saja, selada, bayam, pak coi, kacang panjang, tomat, cabai, dan lain-lain. Selain menanam sayuran ini, hamidi juga membuat pupuk cair serta berusaha melakukan pembibitan sendiri.

“Katanya Camat mau datang, kalau benar, saya mau sampaikan saya mau minta bibit. Karena belum semua tanaman ini sudah bisa saya bibitkan sendiri,” ujar pria asal Betawi itu.

Saat ini bibit yang sudah tidak perlu dibeli Hamidi lagi adalah caisin, bayam, bayam merah, selada, kacang panjang, kemangi, cabai, dan tomat. Dalam menyemai bibit tentu butuh waktu berbeda-beda antartanaman.

Bapak tigak anak itu menjelaskan untuk pakcoi butuh sekitar sebulan masa tanam sampai bisa dipanen, sawi sekitar 26 hari, bayam sekitar 22 hari, selada sekitar sebulan, dan tomat antara tiga sampai 3,5 bulan.

Lantaran tidak ada bantuan bahan kimia, masa tanam jadi lebih lama dibandingkan dengan sayur yang menggunakan pestisida.

DSCF0788
Pot tempat penyemaian bibit tanaman sebelum ditanam dengan metode hidroponik. [dok. pribadi]
 Sebetulnya, imbuh Hamidi, dalam bercocok tanam dia bisa menggabungkan pupuk cair dari sampah organic dengan Urea, NPK, dan perangsang buah. Tapi sejauh ini dirinya belum melakukan ini, Hamidi tetap bertahan sealami mungkin.

Dalam menyemai bibit baru dibutuhkan waktu antara sepuluh sampai dengan 15 hari. Kurun waktu ini dibutuhkan untuk menunggu bibit sampai bertunas sekitar tiga hingga empat daun.

Hamidi memang berencana fokus melakukan hidroponik tanaman-tanaman yang dibutuhkan sehari-hari. Tapi ke depan tidak hanya sayuran yang akan dia tanam melainkan pula bebuahan. Sekarang mulai dirintis hidroponik buah melon.

Dia menyatakan tujuannya membuat kebun hidroponik sebetulnya hendak mengedukasi masyarakat bahwa bercocok tanam tidak harus mahal dan berlahan luas. “Kita bisa manfaatkan barang yang sudah dibuang yang dianggap sampah,” kata Hamidi menutup perbincangan.

 

Bipolar

Ini ditulis tepat pukul satu dinihari tanggal 5 Mei 2016, berlokasi di Kota Tangerang.

 

Saat ini ada akibat waktu lampau ketika aku menyuput kopi kebanyakan. Kafein membuat hipomanik kembali menyerang. Seharusnya si hitam menjadi mood booster. Tapi kutenggak melebihi batas sehingga menjadi “disaster”.

 

Ini adalah malam kesekian yang kunikmati dengan pikiran berkelebat secepat kereta. Banyak, cepat, tak terukur, tak terarah, tak beraturan, entah apa maunya. Dia hanya membuat kantukku tetap menjadi kantuk tetapi pikiranku tidak berhenti.

 

Energi berlimpah, seperti air sumur yang tumpah ruah.

 

BIPOLAR

 

Akal sibuk.

Sibuk merancuni gagasan.

Gagasan yang menalar lambat.

Lambat laun tinggal prakarsa.

 

-Dinihari-

a random babble about creative industry

*sipping coffee*

*daydream*

ehem ehem… *check sound*

…WELL, we have four economic sectors, which are agriculture, manufacturing, services, and the last one is creative industry. We are going through a period of growth in the creative industry sector. Therefore, we should focus on human resources instead of natural resources.

 

Several short term problems can be solved by creative industry, such as slow economic growth after the last crises (average 4,5% per annum), high rates of unemployment (9% – 10%), high rates of poverty (16% – 17%), and also poor competitiveness.

 

Creative industry tends toward a greener economy and is creating added value for products and services. Therefore, this sector is expected to answer some challenges on the issues of global warming, utilization of renewable energy, deforestation, and carbon emission.

 

Basicaly, all opportunities are also challenges. Creative industry creates chances but it also had obstacles to face. At least, we have  five fundamental problems, which are human resource quality and quantity, easy doing business, appreciation for creative industry player, how fast information and technology growing, and not many funding institution wants to help the creative industry.

 

Eventhough we have so many homework here, I believe, capital isn’t so important. Experience isn’t so important. You, said Harvey Firestone, can get both these things. “What is important is ideas. If you have ideas there isn’t any limit to what you can do with your business”.

hmmm… *sipping coffee*

*sleep*

Biru

TELAPAK jempol tanganku menyentuh layar ponsel. Menggesernya ke atas dan ke bawah, memeriksa setiap pesan yang masuk dan belum kubalas sejak dua jam terakhir. Saat inilah momentum tatkala aku merasa ada bara di dalam dada; marah. Tepatnya ketika aku membuka pesan baru di baris paling bawah. Bukan masalah dengan si pesan, tetapi perkaranya terletak pada satu chat yang ada tepat di bawah pesan ini.

 

Berubah.

 

Bukan, bukan mood-ku yang berubah. Maksudku, iya betul, mood-ku lantas berubah. Tapi yang kuceritakan di sini adalah perubahan foto profil. Gambar profil nomor yang kunamai “Bagas”, berganti dalam kurun waktu dua jam terakhir.

 

Tampak di sana selembar kertas film khusus rontgen menampilkan foto hitam putih lekuk janin berusia sembilan bulan. Ada lengkungan setengah lingkaran menyerupai kepala. Garis oval putih sisanya menunjukkan itulah si badan. Foto ini tampak syahdu karena kuyakin pasti dibubuhkan efek lawas oleh pemilik.

 

Sudah sembilan berlalu. Berusaha kujaga dan tetap kujalin komunikasi dengan Bagas. Aku hanya ingin belajar tegar dan lapang. Ini kupelajari secara khusus dalam mata kuliah “Bagas” tepat sejak suatu kamis pada bulan Desember silam. Kamis yang seharusnya bisa kukenang dengan rasa manis, kenyataannya malah menjadi sadis.

 

Memilih untuk tak menjadi tua dalam tanda tanya, aku bicara dengan Bagas tentang yang sebenarnya. Dia menunduk dan seperti sungguh menyesal. Apakah itu menyesal karena menghianatiku, atau menyesal karena aksi hidung belangnya kuketahui lebih cepat. Ah.. aku harap yang pertama.

 

Aku memutuskan untuk undur diri dari hubungan kami. Dua pekan kemudian kudengar kabar Bagas sudah menikah dengan perempuan itu. Wanita yang menikmati hangatnya pelukan bagas di atas kasur ketika aku sedang mumet memikirkan proyek kantor nun jauh di Kalimantan.

 

Sekilas tampak biasa saja kejadian pergantian foto profil Bagas. Apa yang harus aku perkarakan? Setiap kertas rontgen ada pemiliknya, terserah mereka mau menyimpan di dalam amplop saja atau mempublikasikan, via foto profil perpesanan misalnya, maka apa urusannya denganku?

 

Mmmm…

 

Mungkin, masalahnya karena itu adalah gambar profil nomor bernama Bagas, seseorang yang menyebabkan rinduku harus tabah.

 

Marahku membiru.

 

Seketika aku merasakan bayang berwarna biru merambat perlahan menutup layar ponselku, lalu leptop, kemudian membalut seluruh dinding ruangan tempatku terduduk. Biru itu seperti cat akrilik kental yang merambat perlahan dari bawah ke atas. Setitik demi setitik tertutup merata. Bahkan bola mataku kini juga ikut teraliri. I feel blue.

 

Karena Bagas aku menangis karena harus hidup di masa kini, bukan masa lalu. Ya, masa lampau saat dia bertanya, “jika benar kamu merasa kelabu, mengapa tak coba lukis dirimu dalam balutan warna lain?”

 

 

 

Tegar

aku mengeja namamu seperti lantun dzikir yang membalut bulir tasbih. terpisah-pisah namun tetap menjadi serangkai utuh, yang paripurna. waktu itu kau sampaikan, jangan menyerah dengan isi kepalamu sendiri. karena hati dan musuh ada di dalam otakmu saja. di luar itu damai.
lalu aku berkata kepadamu, aku tidak cengeng. aku tidak mengeluh kawan. akupun bukan kalah. aku hanya sedang berhenti dari kesibukan kepalaku untuk bernapas dan merapal namamu. ritual yang kulakukan diam-diam seperti kelabu yang menjalari awan putih sore ini.

kubilang kala itu, namamu seperti sengat listrik yang menengangkan dan mengisi daya. Aku suka merapal asmamu untuk dzikirku…

tegar.