54 ALASAN

Oleh Dini Hari

Senar gitar hampir putus dibetot terus oleh jemariku. Hampir saja kekuatan otot trisep memutus jalinannya yang bila ditangani dengan benar dapat menguntaikan melodi indah.

Telunjuk, jari tengah, dan manis berpadu menjelma sebagai kunci G dan terus begitu hingga kalimat ’I’m a big-big girl…’ selesai kulantunkan. Lalu bibirku berganti lirik: ‘in a big-big world…’ dengan iringan kunci D. Kunci C mengalun menemani kalimat ’ is not a big-big thing if you leave me…’.

Terus saja kunyanyikan lagu itu meski liriknya sudah tak beraturan, walau nafas tinggal sejengkal, kantung air mata pun hampir habis stok rasanya. Tapi bibirku terus membuka dan terkatup. Berulang-ulang hanya menyuarakan bait pertama gubahan suara emas Emilia bertitel Big-Big World.

Sreerpt! Ini tarikan ingus keenam yang kubuat dalam ‘kuwelan’ tisu. “Hhhh.” Hanya itu yang bisa keluar dari bibirku dipenghujung lagu.

Celana panjangku masih lepek lengkap dengan bercak cokelat, khas tanah becek. Di luar jendela kamar kosku yang berukuran 4 x 4 meter ini hujan masih gemericik deras. Aku belum mengganti celana yang kotor karena becek air hujan tadi. Aku tengah berada pada salah satu waktu paling mustajab untuk berdoa. Lantas dengan lirih hatiku berbisik, ”Kuatkan aku ya Tuhan…”.

Sejam lalu aku mendapat kabar Rana sakit. Infeksi ginjalnya memang sering kumat. Aku begitu panik tiap kali sahabatku itu terdengar sakit. Tanpa banyak pikir aku segera meluncur ke kosannya.

Tak ada firasat yang angin tularkan bahwa sebentar lagi akan turun hujan. Alhasil, tepat beberapa langkah begitu keluar dari mini market, butiran-butiran air hasil kondensasi di awan jatuh ke tanah. Sempat terpikir untuk berteduh dulu. Tapi aku hanya memikirkan Rana. Aku takut tak ada yang bisa dimintainya pertolongan. Hujan kuterobos!

Setelah membekuk segala perasaan ‘takut basah’ yang sempat hinggap di kepala, hingga akhirnya aku tiba di kosan Rana.

“Ran…” kuketuk pintu kosannya dan masuk, pintunya tak dikunci.

Memasuki ruangan 5 x 6 meter itu pandanganku gelap. Lalu kunyalakan lampu. Segeralah seluruh isi ruangan bercat biru yang diisi satu kamar mandi, sebongkah meja belajar lengkap dengan lampu meja dan kursinya, lemari, kipas angin, televisi, dan tape, serta tempat tidur yang sedang diisi seorang perempuan tengah lelap tidur.

Kudekatkan wajahku padanya. Jelas kulihat keringat sebesar jagung bercokol di kening Rana. Wajahnya pucat, menunjukkan ia tengah menahan sakit yang begitu menghunus tubuh. Aku segera mengambil handuk kecil di samping bantal guna menyeka keringatnya.

Tapi justru aku yang terperangah atas sesuatu. Satu unit ponsel dengan casing putih susu diam di samping bantal Rana. Aku benar-benar sulit mengendalikan segala gagasan yang berkecamuk dalam benak ketika itu. Yang pasti itu ponsel Bayu. Ponsel yang dikatakannya rusak. Lantas kini kudapati ponsel itu ada di kamar Rana. Sahabatku yang dulu (awalnya) Bayu menaruh hati padanya. Entah perasaan itu masih sama tersimpan atau tidak.

Kuingat Bayu pernah menyatakan, ia menyayangiku (juga). Tapi ada ganjalan dalam hatiku sendiri bahwa aku tak pernah yakin, saat ia mengatakan itu, perasaannya pada Rana sudah hilang, menguap.

Satu hal lagi yang pasti, casing ponsel itu aku yang memberikan. Putih susu. Dan sekarang ponsel dengan casing pemberianku ada di tangan sahabatku yang dulunya pernah jadi seseorang spesial di hati si pemiliki ponsel. Aku kalut!

“Dyandra??”

“Iya..?” aku segera menguasai diri lagi.

“Kok lo ada di sini?” Rana bertanya setengah berbisik.

“Udah nggak usah banyak tanya, lo istirahat aja. Gue buatin air panas ya buat kompres..” kataku lagi seraya membelainya.

Kubalutkan kompres ke punggungnya. Saat aku masuk sekilas kulihat Rana memasukkan ponsel itu ke bawah bantalnya. Entah apa maksudnya. Pikiranku kian meracau. Setelah kulihat ia kembali berbaring dengan lemah, dan aku tahu ia sedang ingin istirahat sendiri maka beberapa saat kemudian aku pamit.

Sesampainya di kosan, aku segera masuk kamar. Bersandar di balik daun pintu. Dalam kamar yang gelap, kutumpahkan segala yang tertahan sepanjang perjalanan. Aku yakin dan menyadari sesuatu. Masih ada ‘sesuatu’ pula antara Bayu dan Rana.

Lantas apa mungkin aku terus berjalan di samping kedua insan yang saling berbeda keyakinan namun sama dalam perasaan itu? Tidak! Aku tidak akan membuat siapapun, tidak Rana tidak pula Bayu, untuk memilih. Aku yang akan undur diri!

*     *     *     *

 

Pagi-pagi Albi, teman sekampus yang kamarnya tepat di sebelah kamarku, sudah ’ngejogrok’ di pinggir kasurku. ”Bayu ya? Ini kenapa foto Bayu kamu robek?” itu pertanyaan pertamanya.

Kubuka selimut yang sejak tadi menutupi wajah. Berusaha tersenyum. Sulit menjawabnya. Albi, bernama lengkap Salbiana Biner, tersenyum seolah sudah mengerti apa yang kurasakan. Aku menarik nafas, sedikit-sedikit kucertakan semuanya. Hingga kenapa ada foto Bayu yang kurobek, termasuk kenapa di pojok kamarku sudah teronggok semua barang-barang Bayu dalam kantong plastik dengan rapi, hendak kukembalikan.

”Apa aku yang bodoh atau Bayu yang pengecut? Bahkan, sekedar untuk memperjelas ‘kenyataan’ dalam hidup seseorang aja sepertinya susah banget. Ya.. ‘kenyataan’ tentang dia dan Rana. Oh, nggak.. antara dia dan aku, itu yang bener.”

Albi siaga dengan tisu setiap kali air mataku bak buih melimpah.

”Seenggaknya aku berharap suatu hari nanti bisa teriak di depan ’congor’ Bayu, ’JANGAN PERNAH KETUK PINTU HATI SESEORANG KALO LO NGGAK PERNAH BENAR-BENAR INGIN MASUK KE DALAMNYA!’.”

Kalau aku ini omnivora sudah kulumat dia hidup-hidup. Tidak! Ini nggak boleh berlarut-larut terjadi. Begitu saja dia datang lalu menyentuh hati ini dengan sangat dalam. Tuhan, kumohon jika memang laki-laki ini tidak akan mengisi barang secuil pun episode kehidupanku di masa depan tolong bantu aku mengenyahkannya.

“Bi, kalau ada sebuah pohon yang kayunya di tusuk paku lalu paku itu dicabut kembali, apa yang terjadi dengan pohon itu? Apakah lubangnya akan kembali rapat?” tanyaku pada Albi yang masih mendengarkanku dengan sabar.

Ia tersenyum beberapa saat lalu menunduk. “Mungkin lubang itu memang tidak akan bisa rapat kembali Dy. Tapi yang pasti pohon itu harus tetap tumbuh dan berkembang melanjutkan kehidupannya. Terus tumbuh menjadi pohon besar yang kokoh, sampai akhirnya lubang yang tak pernah rapat kembali itu jadi nggak berarti lagi,” Albi menutup bibirnya dengan senyum pula.

*     *     *      *

Sepanjang hari kemarin hanya kuhabiskan di kosan bersama Albi. Tidak ada yang kulakukan kecuali makan, tidur, dan nonton tv. Ponsel kumatikan. Dalam hati tetap berdoa semoga Rana sudah sembuh.

Sesaat kukerjap-kerjapkan mata berusaha mengumpulkan kesadaran. Kulirik jam dinding, dua jam sudah berlalu sejak kutunaikan solat subuh jam lima tadi. Aku harus tetap semangat. Tanpa buang tempo segera kukirim sms yang kemarin tertunda.

To : Bayu ’Lontong’

Barang-barang lo yang ada di kosan gue udah gue rapihin. Mau gue anterin ke kosan lo, lo yang ambil, atau gue anterin ke rumah lo?

Send.

 

From : Bayu ‘Lontong’

Nanti gue yang  ambil.

 

Aku hendak keluar kamar menuju dapur. Sebelum pintu terbuka aku berhenti mendadak. Ada sesuatu yang kuinjak tepat tersangkut di bawah lubang pintu. Kertas? Paling kertas catatan. Kuambil, bermaksud kupindahkan. Tapi kenapa ada amplopnya?

Kunyalakan lampu, hendak memastikan isi amplop putih tersebut. Surat? Dari siapa? Di bagian atas kertas terpampang kalimat “54 ALASAN DYANDRA HARUS TETAP BAHAGIA”.

Aku duduk lagi di kasur. Membacanya mulai nomer 1. Nomer demi nomer kuselesaikan diiringi dengan tamparan tak kasat mata dalam hati. Tanpa terasa sudah kubaca 50 nomor di kertas polio ini. Inilah 4 nomer terakhir :

51. Tidak terlalu penting bagaimana hidup memperlakukanmu. Karena yang lebih penting adalah bagaimana kamu memperlakukan hidup.

52. Sakit karena patah hati hanya bertahan selama kamu membiarkannya, dan terus mengiris luka sedalam kamu menginginkannya!

53. Kebahagian bukan diukur dari berapa banyak hal yang kau miliki. Tapi bagaimana kau bersyukur dengan apa yang sudah ada.

54. Ini yang terpenting : “ALASAN TERPENTINGKU, KENAPA AKU INGIN KAU TETAP BAHAGIA ADALAH KARENA AKU SAYANG KAMU DYAN.. aku nggak mau melihat kamu jadi terpuruk. Disia-siakan orang yang kamu sayang, anggap saja sebagai kesempatan Tuhan agar kamu bisa dapat yang lebih baik. Biar saja Bayu kriting blo’on itu untuk Rana, Tuhan akan memberimu yang lebih baik! Insya Allah…

Mungkin ini semua tidaklah mudah untuk dilakukan. Tapi sulit bukan berarti tidak bisa!

Albi.

 

Air mataku meleleh.

*     *     *     *

 

Tiga tahun kemudian…

Bandara Sukarno Hatta, 25 Agustus 2009.

”Kamu benar-benar mantap lanjutin pencarian ilmu di Jerman?” pertanyaan keseribu yang Albi lontarkan seraya membantuku mendorong troli koper menuju terminal keberangkatan.

”Pokoknya kamu harus nyusul aku ya Bi. Aku tunggu di Munchen!” jawabku sambil mengibaskan tiket pesawat yang kuselipkan dalam paspor.

”Aku kesana bukan buat cari ilmu ah, aku mau hura-hura aja,” ia tertawa, aku juga ikutan.

”Jadi, tetep tesis di dalam negeri?”

Albi mengangkat bahu. ”Itu pun kalau nasibku mujur kayak kamu.”

”Berusaha, kerja keras, semangat, genapkan dengan doa, dan pasrah itu kuncinya.”

Tak terasa sudah sampai di depan gerbang terminal keberangkatan. Rasanya aku ingin memasukkan Albi ke dalam koper lalu memboyongnya bersamaku. Inilah sahabat yang sungguh mengajarkanku tentang persahabatan sekaligus persaudaraan. Tak pernah kulupa segala memoar dengannya, tentang ke-54 alasan yang dibuatnya. Ia selalu mengingatkanku pada salah satu kutipan firmanNya, ’Maka, nikmat Tuhanmu mana lagi yang kamu dustakan?’. Esensinya adalah, syukur.

Kami berpandangan. Seketika saja berhambur berpelukan. Aku membisikinya, ”Aku bakal kangen banget sama kamu…”

Albi menjawab, ”Satu yang harus selalu kamu jaga keutuhannya dalam hati, yaitu rasa syukur..”

Menangis? Jangan ditanya! Pastilah. Aku pun menangisi Rana yang tak ada di sini, karena keberangkatanku ini kurahasiakan darinya.

*     *     *     *

 

Munchen, Bayern, Jerman, 7 Juli 2010

Hello?”

”Albi?”

Yes. Sorry who is this? I dunno your number.”

“Coba tebak ini siapa!”

“Mm.. bahasa Indonesia berarti orang Indonesia. Siapa ya? Mmm.. Dyandra?!”

“Wah kemampuan pendengaranmu bagus ya, he he he.”

“Apa kabar?”

“Baik banget! Kamu gimana? Sekarang lagi di Wellington atau lagi mudik?”

”Masih di sini. Belum ada waktu libur buat pulang. Kamu bagaimana?”

”Ya… sayang banget. Besok pagi aku pulang ke Indonesia. Dua minggu di sana. Lagi liburan. Kangen sama yang lokal-lokal, hehehe..”

”Hahaha.. dasar. Kalau gitu kita nggak ketemu kali ini ya. Hati-hati ya..”

Okay, see you soon dear, bye…”.

Pembicaraan antar negara itu pun usai. Sejak enam bulan terakhir Albi tinggal di negara tetangga si negeri kanguru, New Zealand. Ia berhasil mendapatkan kesempatan beasiswa summer course citizen journalism dari kantornya. Sekarang Albi merangkap sebagai wartawan sebuah suratkabar berbahasa Inggris di Jakarta sekaligus korensponden VOA Indonesia.

*      *     *     *

 

Frankfurt International Airport, 8 Juli 2010

Aku tengah berada di skyline, alat transportasi di bandara internasional Frankfurt. Aku tengah menuju Terminal 1A khusus untuk penumpang Lufthansa, nasional, Uni Eropa dan internasional. Makin tak sabar menanti pijak kaki di kampung halaman.

Di kepalaku sudah berencana mengunjungi rumah Rana. Jujur, aku sangat merindukannya. Dan besok aku akan tandang ke sana. I’m coming Indonesia!

*     *     *     *

Hari kedua di Indonesia

”Dyan?!” serunya setengah kaget tante Rini menyambutku di depan pagar rumahnya. Ia langsung memelukku.

”Apa kabar tante?”

”Baiik. Ayo masuk..”

Setelah meletakkan segelas air teh di hadapanku, ia kemudian duduk di sampingku. ”Kamu apa kabar? Tante dengar kamu lanjut beasiswa S2 ke Jerman, benar?”

Aku menganguk semangat. ”Iya tante. Sekarang lagi libur tiga minggu. Nah aku sempatkan pulang ke sini. Bagaimana kabar tante sekeluarga? Rana bagaimana?”

”Waah, kamu memang hebat. Tante salut sama kamu,” ia membelai punggungku. ”Kami di sini baik semua. Sekarang tante sibuk di rumah aja. Kalau jam segini Karin belum pulang sekolah jadi di rumah sendiri deh,” Karin adalah adik perempuan Rana, ”Om masih kerja seperti biasa.”

”Mmm… syukur kalau baik-baik ya, tan. Oh iya Rana sekarang kerja di mana?”

Tante Rini terdiam. Beberapa detik kemudian ia malah menangis. Aku jadi bingung. ”Kok tante nangis?”

Terbata-bata ia menjawab, ”Ran.. Rana.. lima bulan lalu… men… meninggal Dyan…”.

Sepertinya barusan ada karung beras yang menghantam kepalaku. Aku tahu jelas barusan telingaku tak mengalami kesalahan pendengaran apapun. Mendengar tante Rini yang makin tersedu-sedu aku pun ikut menangis. Entah kenapa. Segala pertanyaan berkecamuk. Bagaimana bisa?

Tante Rini lalu menceritakan bagaimana kronologisnya dengan singkat. Infeksi ginjal Rana rupanya makin akut. Pada akhirnya ia gagal ginjal dan tak tertolong. Donor ginjal sudah di usahakan tapi tidak ada yang cocok.

”Rana sering cariin kamu. Untung ada Bayu yang banyak banget nguatin dia.”

Aku tersentak lagi mendengar nama Bayu.

”Suatu ketika Rana sempat pesan pada tante, kalau ia begitu berterima kasih pada kamu, pada Bayu juga. Ia juga minta maaf bila apa yang dilakukannya banyak melukai kamu. Ia pun memohon maaf pada Bayu. Keadaan Rana memaksa Bayu menanggalkan perasaannya yang sangat dalam pada kamu. Mungkin kamu salah mengira alasan Bayu memperlakukan kamu selama ini. Semua itu semata karena dia nggak tega ninggalin Rana, Dy.

”Bayu sayang banget sama kamu. Bahkan sewaktu tante menyampaikan  permintaan maaf ini pula ke dia setelah meninggalnya Rana, Bayu jawab ’Nggak apa-apa tante. Saya tidak menyesal harus kehilangan sosok perempuan yang sangat saya sayang demi menjaga sahabat yang saya sayang pula. Mungkin ini memang kesempatan Tuhan untuk Dyandra agar bisa dapat yang lebih baik dari saya. Biar saja dia berpikir apapun tentang saya dan Rana. Saya berdoa yang terbaik untuk Dyan,’ begitu kurang lebih yang Bayu katakan pada tante.”

Aku benar-benar sulit berpikir. Aku.. aku harus berkata apa? Kenapa aku baru tahu sekarang? Kenapa aku berpikir dangkal waktu itu?

”Aku mau ke makam Rana, tante…”

Tanpa banyak buang tempo sudah kudaratkan kakiku di tempat lain. Tepatnya di hadapan sebuah nisan berbentuk salib berlokasi di komplek pemakaman Jeruk Purut. Aku duduk di hadapan nisan itu.

Air mataku makin deras. Berkali-kali aku memohon maaf di dalam hati atas semua kemarahan, sakit hati, dan duka yang pernah terselip di batinku atas kebersamaan Rana dan Bayu.

Aku menilik lagi lebih dalam tentang kata cinta dalam hidup. Alangkah lebih baik bila menjadikan cinta bukan sekedar perasaan. Tapi menjadi pekerjaan, niscaya akan lebih abadi. Jangan hanya jatuh cinta, tapi bangunlah cinta. Hingga bangunannya tinggi menggapai surga. Karena yang kutahu, menikahi orang yang kita cintai hanyalah sebuah kemungkinan. Tapi mencintai orang yang kita nikahi adalah sebuah kewajiban.

”Maafin aku Ran.. kalau aku tahu apa yang akan terjadi, maka apapun yang kupunya akan kuberikan jika kau membutuhkannya. Dan terima kasih Rana, atas semua waktu yang pernah kita gulirkan bersama, waktu yang tak bisa kuputar lagi. Kamu bukan hanya sahabat, kamu anugerah..”

Aku mengendalikan nafasku yang sudah sesenggukkan akut.

”Seandainya bisa memutar lagi waktu yang hilang. Maka aku nggak akan membunuh sedikitpun perasaanku untuk Bayu. Seandainya.. seandainya.”

”Waktu itu datang kembali untuk kamu Dyandra, untuk hatimu yang begitu tulus..” ujar seseorang dari belakangku.

Aku menoleh dan mendongakkan kepala. Seorang laki-laki yang sempat kuharapkan hilang ditelan bumi, berambut ikal memakai jaket biru dongker dan di bahunya tersangkut tas kamera SLR. Ia berdiri tepat di belakangku.

Bayu ada di hadapanku sekarang dana aku sulit bicara. Ia langsung direngkuh tubuhku dalam-dalam kepelukkannya. Aku tak bisa mengelak, tak mau menolak. Aku menangis sejadi-jadinya dalam dekapan Bayu. Dalam hati aku berbisik lirih, ’Terima kasih Tuhan..’

”Jangan pergi dari aku lagi Dyandra.”

*     *     TAMAT    *     *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s