Peluh dan Nyali

Oleh: Dini Hariyanti

 

Kilatan lampu kamera berseliweran dari berbagai arah. Kakiku terbata-bata berjalan menyamping seraya mengikuti sesosok hamba Tuhan yang merasa dirinya penting ini. Sialnya, aku mesti berjalan, sesekali berlari, mengikutinya selama beberapa hari terakhir. Tak hanya aku, tapi dia, dirinya, mereka semua menemaniku di balik topeng ‘persaingan media’ tempat kami digaji.

 

No comment-no comment! Semua akan saya jawab pada konferensi pers besok!”

‘Tahukah anda berapa banyak peluh yang harus ku rogoh dari dalam diri hanya untuk
mendapat untaian kata untuk kutautkan dalam satu koloni aksara dalam berita, Tuan?!’ umpatku dalam hati.

 

“Tapi Pak!” Tuan Hamba Nan Penting itu sudah masuk ke dalam Mercy hitam.

Sisi kanan, kiri, depan, dan belakangku semua masih menyemprotkan kilatnya. Aku dan seorang juru kamera ada di antara kerumunan para buruh tinta ini. Temanku ulet
dengan kameranya dan aku sabar dengan tape recorder di tangan, hingga jendela Mercy merapat dengan daun pintu, dan mobil itu melenggang pergi bersama arogansi si empunya.

 

Emosi membetot pita suaraku menguntai kalimat, “Sudah ketahuan bersalah saja masih sok konferensi pers!”

*      *     *     *

 

“Har.. Har.. apa kamu tidak ada niat untuk pergi saja sejenak, bila perlu hingga
seterusnya dari duniamu itu hah?”

 

Bibirku sesekali meniup kopi panas dan menyeruputnya sedikit demi sedikit. Entah itu
pertanyaan keberapa yang hinggap di gendang kupingku. Sungguh sering aku
mendengarnya, namun setiap kudengar seketika itu juga idealisme ini bak
tergerus, remuk berserak, bersama mimpi-mimpi Siti dan Wati. Istri dan anakku
yang akhirnya pergi dari mimpi, dari sabda suciku di hadapan Tuhan, untuk
sepenuh jiwa raga melindungi daging merah dan kasih tulus mereka.

 

Aku tak jawab. Kutelan saja pahit ampas kopi bersama ampas-ampas penyesalan lainnya. Bibirku melebar tiga senti, aku tersenyum suram.

 

“Sudahlah, maafkan aku. Tak pantas aku membalas cerita AJmu itu dengan pertanyaan macam tadi. Sudah sore, Har, aku pamit dulu..”

 

Aku mengangguk. Kudapati diriku kembali sendiri sehabis bertempur dengan lapangan
dan liputan. Hanya bisa menikmati sendirian sore hari bersama kopi dan mentari
di teras rumah. Aku dapat rasakan ‘sendirimu’ Gie, sejenak pikirku mengenang
sosok Hok Gie, seorang aktivis yang jadi tokoh sentral di film GIE.

 

Kalau saja kuambil uang dari AJ pasti kini aku kaya. Mungkin bisa berhenti jadi
buruh, buruh tinta. Akh.. itu tak ayal buatku jadi penghianat. Penipu bangsa,
dan sama saja seperti koruptor-koruptor cap anjing kudis itu. Artinya, aku tak
menyampaikan fakta sebenarnya dan menciptakan pembohongan publik.

 

 

“Selamat sore Mas Hari!” Dua orang adam mengunjungi istana lapuk tempatku berteduh.

 

Aku bngkit, ‘siapa mereka? Mentang-mentang rumah ini tak berpagar mereka datang tanpa permisi. “Kalian siapa?”

 

“Saya mau mengantarkan ini untuk Mas, ini dari Pak AJ,” jawab salah satunya sopan.

Mendengar inisial AJ, marahku lenyap, tapi tak pula menyulut senyum di wajah.

 

Mimikku datar saat mengambil amplop coklat yang disodorkan di depan air mukaku.

‘Ck’ lidahku berdecak. Ini cek ketiga yang dikiriminya untukku.

 

Sdr. Hari dengan menerima ini Siti dan Wati mungkin akan berubah pikiran dan kembali pada anda..

 

Itu pesannya di atas secarik kertas. Membaca dua nama itu hatiku serasa pincang,
ditambah melihat besarnya nominal yang tertulis.

 

Kutatap lekat-lekat huruf demi huruf yang tercetak pada cek. AJ tak berhenti begitu
saja menggodaku dengan lembaran uangnya. Semata-mata agar fakta terbaru skandal
penipuannya tak kumuat. Tolol sekali dia, pikirku. Yang berhak menentukan naik
cetak atau tidaknya berita bukan aku, tapi redaktur. Aku hanya buruh kecil, apa
dayaku?

 

“Kembalikan ini ke dia. Apapun keadaannya saya tidak akan terima. Silahkan kalian pergi dari sini.” Ucapku mantap.

 

Merekapun melenggang mundur dan pergi.

 

Sejenak kecemasan tentang apa yang selanjutnya akan orang itu lakukan padaku menyergap, membakar nyali hingga asapnya menutupi hati. Tapi sekali lagi, walau asap itu tebal, asalkan hatiku tak buta karenanya, yakinku tak pernah longgar.

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s