Angsapun Berukhuwah…

Oleh Dinihari Suprapto

(dari berbagai sumber)

 

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يُسَبِّحُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالطَّيْرُ صَافَّاتٍ كُلٌّ قَدْ عَلِمَ صَلَاتَهُ وَتَسْبِيحَهُ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِمَا يَفْعَلُونَ

“Tidakkah kamu tahu bahwasanya Allah, kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (QS. An-Nur : 41)

 

Sepenggal surat cinta di atas menyeru manusia untuk lebih merenungi kehidupan. Bercemin diri dari yang telah Allah sajikan dalam hidangan dunia di sekeliling kita. Betapa kerap kita menjadi pribadi lalai. Bukan hanya melupakan Tuhannya bahkan ‘menduakannya’ dengan yang lain. Padahal, terang diwahyukan dalam surat An-Nur ayat 41 tadi bahwa segala yang ada di langit dan di bumi ini senantiasa bertasbih padaNya. Tapi… mengapa kita yang notabene makhluk paling berakal justru tak melakukan pemujaan setiap saat? Pemujaan yang bahkan burung-burung pun selalu mengerjakannya. Namun kita justru abai pada seruan Tuhannya, nyaris setiap hari.

Burung. Kata itu tertulis dengan jelas pada firman Allah tersebut. Mengapa harus burung yang dijadikan analogi totem pro parte bagi kelas hewan? Tak mungkin hanya ketidaksengajaan.   Pasti ada yang hendak disampaikanNya. Kini mari kita peka pada setiap tuturan dalam bait-bait Al-Quran.

Sungguh dalam setiap ciptaan Allah, terdapat pelajaran bagi kaum yang berfikir. Burung, sebagaimana yang Allah firmankan, juga umat seperti kita. Dan dari kehidupan mereka, kita banya mendapat pelajaran.

Burung bukan menjadi satu-satunya nama hewan, maksudnya burung lebih merujuk pada spesies unggas. Salah satu jenis spesies burung atau unggas yang coba saya kupas kali ini ialah Angsa. Tertarik pada disebutnya jenis hewan ini (burung) dalam surat An-Nur menggelitik rasa ingin tahu saya untuk mencoba menelaahnya. Ada apa dengan hewan satu ini? Kenapa jenis burung yang disebut?

Dari sebuah situs di jagad internet saya menemukan paragraph berikut :

“Kalau kita tinggal di negara empat musim, maka pada musim gugur akan terlihat rombongan angsa terbang ke arah selatan untuk menghindari musim dingin. Angsa-angsa tersebut terbang dengan formasi berbentuk huruf “V”. kita akan melihat beberapa fakta ilmiah tentang mengapa rombongan angsa tersebut terbang dengan formasi “V”.” (sumber: muchlisin.blogspot.com)

Saat setiap burung mengepakkan sayapnya, hal itu memberikan daya dukung bagi burung yang terbang tepat di belakangnya. Ini terjadi karena burung yang terbang di belakangnya tidak perlu bersusah payah untuk menembus ‘dinding udara’ di depannya. Dengan terbang dalam formasi “V”, seluruh kawanan dapat menempuh jarak terbang 71% lebih jauh dari pada kalau setiap burung terbang sendirian.

Hikmah utamanya bagi kehidupan berjamaah adalah, ketika kita bergerak dalam arah dan tujuan yang sama serta saling membagi dalam komunitas diantara kita, insya Allah dapat mencapai tujuan kita dengan lebih cepat dan lebih mudah. Ini terjadi karena kita menjalaninya dengan saling mendorong dan mendukung satu dengan yang lain.

Perlu diketahui pula, jika seekor angsa keluar dari formasi rombongan, ia akan merasa berat dan sulit terbang sendirian. Dengan cepat ia akan kembali ke dalam formasi untuk mengambil keuntungan dari daya dukung yang diberikan burung di depannya.

Maknanya, pelajaran yang dapat kita petik untuk kehidupan berjamaah adalah: kalau kita memiliki cukup logika umum seperti seekor angsa, kita akan tinggal dalam formasi dengan saudara-saudara kita yang berjalan di depan. Kita akan mau menerima bantuan dan memberikan bantuan kepada yang lainnya. Lebih sulit untuk melakukan sesuatu seorang diri dari pada melakukannya bersama-sama.

Tahukah kita bawa sewaktu angsa pemimpin yang terbang di depan menjadi lelah, ia terbang memutar ke belakang formasi, dan angsa lain akan terbang menggantikan posisinya. Yang bias diteladani ialah sungguh masuk akal untuk melakukan tugas-tugas yang sulit dan penuh tuntutan secara bergantian dan memimpin secara bersama. Seperti halnya angsa, manusia saling bergantung satu dengan lainnya dalam hal kemampuan, kapasitas, dan memiliki keunikan dalam karunia, talenta, atau sumber daya lainnya.

Bahkan angsa-angsa yang terbang dalam formasi ini mengeluarkan suara riuh rendah dari belakang untuk memberikan semangat kepada angsa yang terbang di depan sehingga kecepatan terbang dapat dijaga. Pelajaran yang dapat dipetik adalah kita harus memastikan bahwa suara kita akan memberikan kekuatan. Dalam kelompok yang saling menguatkan, hasil yang dicapai menjadi lebih besar. Kekuatan yang mendukung (berdiri dalam satu hati atau nilai-nilai utama dan saling menguatkan) adalah kualitas susara yang kita cari. Kita harus memastikan bahwa suara kita akan menguatkan dan bukan melemahkan.

Lebih dari itu, ketika seekor angsa menjadi sakit, terluka, atau ditembak jatuh, du angsa lain akan ikut keluar dari formasi bersama angsa tersebut dan mengikutinya terbang turun untuk membantu dan melindungi. Mereka tinggal dengan angsa yang jatuh itu sampai ia mati atau dapat terbang lagi. Setelah itu mereka akan terbang dengan kekuatan mereka sendiri atau dengan membentuk formasi lain untuk mengejar rombongan mereka.

Hikmah yang dapat dituai kembali untuk kehidupan berjamaah yakni jika kita punya perasaan, setidaknya seperti seekor angsa, kita akan tinggal bersama sahabat dan sesama kita dalam saat-saat sulit mereka, sama seperti ketika segalanya baik.

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا طَائِرٍ يَطِيرُ بِجَنَاحَيْهِ إِلَّا أُمَمٌ أَمْثَالُكُمْ مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ ثُمَّ إِلَى رَبِّهِمْ يُحْشَرُونَ
“Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. Tiadalah kami alpakan sesuatu dalam Al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan.” (QS. Al-An’am : 38)

Setiap penggal kehidupan yang kita miliki mungkin tak lengkap, tak sempurna, tak bisa pula dipaksakan menjadi lengkap dan sempurna. Biarlah tetap seperti adanya, akan datang sosok-sosok lain sebagai tempat kita melengkapkan diri. Pada akhirnya setiap penggal yg dilengkapkan itu menjadi utuh dengan kepada sesama kita mengutuhkan hidup. So, tak ada celah untuk merasa sendiri. Lihatlah.. angsa pun ber-ukhuwah! [disarikan dari muchlisin.blogspot.com]

 


 

 

2 thoughts on “Angsapun Berukhuwah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s