Dengar Apa yang Dibicarakan

PADA suatu malam, seorang wanita merundukkan tulang leher hingga wajahnya menghadap tanah. Tetes demi tetes air turun dari matanya. Ia lantas menengadah ke langit dan berdoa :

”Tuhanku, suami yang sejatinya kukasihi itu telah memakan masa mudaku. Aku pun telah melahirkan banyak prajurit-prajurit kecil di kerajaan rumah tangga kami untuknya. Namun saat keriput melekat erat disekujur tubuh ia justru menelanjangi pengorbananku. Ia mengucapkan hal yang kehinaan maknanya sama dengan  ia hendak menceraikanku. Tuhanku, aku sungguh mengadu pada-Mu,” demikian tuturnya.

Ia begitu sedih atas kelakuan suami terkasih. Doa tak henti-hentinya ditiupkan ke langit. Berharap ada malaikat yang berempati kemudian menyampaikan pada Tuhan, Rabb-nya.

Gayung bersambut, akhirnya suami perempuan itu sadar. Ia meminta berjuta maaf dan mohon pengampunan Dzat Yang Maha Pengampun. Tuhan telah mendengar perkataan wanita yang tiap waktu hatinya selalu bermunajat itu.

Wanita tersebut tinggal di sebuah negeri impian yang tak pernah termaktub dalam peta dunia terlengkap sekalipun. Tanahnya kering, berdebu, namun hati-hati rakyatnya sejuk nan damai.

Niscaya jika bisa kau temukan pintu dimensi waktu yang dapat membawamu ke negeri itu, akan kau dapati seorang laki-laki bertekad besi dengan hati selembut kapas. Pria itu di kala siang maupun malam hanya memikirkan amanah mulia untuk menyejahterakan negerinya. Dialah pemegang tampuk kepemimpinan tertinggi di tanah itu.

Pada suatu siang nan terik, Sang Pemimpin bersama rombongan melintas di jalan sepi. Raja siang pantulkan nur yang lumayan menyilaukan. Dalam perjalanan Sang Pemimpin berhenti sejenak. Sebelumnya, seorang wanita tua berpakaian lusuh melambaikan tangan kepada Pemimpin tersebut, mengisyarakatkannya berhenti.

Dari kendaraan nan gagah lagi mengesankan, Pemimpin itu menghentikan perjalanan. Ia lantas mendekati perempuan renta yang tak sedap di pandangan itu.

“Ada urgensi apa hingga kau memintaku berhenti?” tanyanya.

Wanita itu tak buang tempo. Panjang lebar ia menasehati pria di hadapannya seorang pribadi yang begitu dihormati seantero negeri. Ajudan dan rombongan hanya termangu diam. Mereka bergeming di tempat. Tak satu pun yang bernyali meminta Pemimpin hirau pada perempuan tersebut dan lekas melanjutkan perjalanan.

Salah satu perkataan yang terekam jelas di telinga para ajudan ialah, “Hai Pemimpin dulu engkau dipanggil Jenderal Kecil kemudian engkau dipanggil Pemimpin Negeri, maka amanahlah engkau. Karena, bila kau yakini adanya ujung kehidupan dunia, maka kau pasti akan takut kehilangan kesempatan merengkuh segala kebaikan dunia itu. Dan seandainya engkau yakin adanya waktu, yang akan mempertanyakan kelakuanmu selama di dunia dan meminta pertanggungjawaban, maka kau pasti takut atas segala jenis kesia-siaan hidup!”.

Akhirnya adegan rampung. Penuh kasih dan semburat senyum tulus Sang Pemimpin lanjutkan perjalanan. Seorang ajudan bertanya, “Pemimpinku, mengapa kau hendak berdiri cuma untuk mendengarkan ocehan perempuan itu?”.

Sang Pemimpin menjawab, “Demi Allah, Tuhan Seru Sekalian Alam, seandainya wanita tadi menahanku dari permulaan siang hingga matahari terbenam, aku tak akan bergeser kecuali untuk menunaikan ibadah wajibku. Tahukah kalian siapa perempuan renta itu? Dia adalah seorang hamba yang bahkan Tuhanmu mendengar perkataannya dari atas langit ke tujuh. Tuhan seru sekalian alam mendengarkan ucapannya, mengapa hanya seorang pemimpin sepertiku enggan mendengarkannya?”.

Sejatinya, perempuan itu ialah dia yang doanya diijabah Allah sewaktu dianiaya suaminya. Kejadian sewaktu ia merundukkan kepala tersedu-sedu dulu telah berlalu sekian waktu silam. Namun, ketulusan dalam kalimat ucapannya tak lekang oleh waktu.

Dari sekelumit kisah ini terdapat hikmah indah yang dapat dipetik. Terutama bila melihat ketulusan Sang Pemimpin tatkala mendengarkan nasihat perempuan itu. Tak dilihatnya siapa yang berbicara melainkan apa yang dibicarakan. Maka, berhentilah mencibir seseorang hanya karena tak senang melihat kemasan orang tersebut. Sebab belum tentu kemuliaan kita lebih tinggi dari orang yang kita cibir.

Kisah ini merupakan saduran dari peristiwa yang menjadi musabab turunnya surat Al-Mujadalah (ayat 1 – 4). Cerita tentang seorang wanita mulia yang dimuliakanNya, dialah Khaulah Binti Tsa’labah. Seorang wanita Anshar, istri Aus bin Shamit r.a. yang tak lain adalah saudara laki-laki Ubadah bin Shamit. [*]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s