Diari Visual Lewat Mural

DALAM kehidupan manusia dewasa ini, proses komunikasi kian gencar mengisi setiap relung kehidupan sehari-hari. Kalau dulu proses komunikasi jarak jauh hanya dapat dilakukan lewat telpon kabel dan surat tertulis, kini semua itu sudah old school dalam artian ketinggalan jaman.

Mengapa penulis mengatakan seperti itu? Fenomena yang terjadi di sekeliling menunjukkan kenyataan tersebut. Sebagai contoh, kepada seorang teman yang berada di Perancis, Anda tak perlu lama menunggu balasan surat-menyurat dengannya dalam waktu sekian hari. Electronic Mail (E-Mail) telah mengambil alih peran surat via pos, dan jawaban bisa segera diterima bahkan dalam hitungan menit seusai Anda mengirimnya.

Singkatnya, proses komunikasi dewasa ini berlangsung tak jauh dari penggunaan teknologi. Begitupun teknologi tersebut, telah merambah hingga ke alam bawah sadar seseorang. Misalnya, seperti yang dipaparkan dalam lagu Saykoji : Online. Bahkan, bagi yang baru bangun tidur pun belum afdol kalau belum update news feed Facebook-nya.

Semua itu hanyalah contoh kecil gejala social yang belakangan marak muncul. Beberapa gejala social yang terkait dengan proses komunikasi, salah satunya pengaruh gambar mural bertema lalu lintas di dinding kolong jembatan jalanan ibukota terhadap tingkat kecelakaan.

Contohnya, selama perjalanan jauh yang penulis tempuh sepanjang waktu dari rumah menuju kampus, penulis sempat menemukan beberapa titik ruas jalan ibu kota yang sebagian dindingnya berisi penuh coretan gambar mural. Salah satunya yang ada di ruas perempatan Fatmawati. Mungkin sebagian kalangan menganggap mural seperti vandal alias merusak sarana dan prasarana umum.

Tapi bagi penulis, itu sama sekali berbeda. Kebanyakan gambar mural yang ada justru mengandung berbagai pesan sosial maupun politik. Para penggambarnya menjadikan ruang publik seperti dinding-dinding kolong jembatan sebagai medium untuk membuat buku harian visual mereka.

Isinya pun sangat unik, salah satunya yakni gambar mural yang mengingatkan para pengendara kendaraan agar berhati-hati dalam berkendara, khususnya saat melewati kawasan bergambar mural tersebut. Lantas, seberapa efektif pengaruh gambar-gambar mural seperti itu bagi masyarakat khususnya para pengendara mobil dan motor/////////////// yang melintas.

Berdasarkan Pasal 28 tentang kebebasan berpendapat, terkait dengan pasal 28F yang berbunyi: Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah dan menyampaikan informasi denggan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia.

Dapat penulis pahami bahwa kebebasan dalam berkomunikasi dan mengkomunikasikan sesuatu dimiliki setiap orang sebagai bagian dari hak asasi sebagai manusia. Pada dasarnya, kita memiliki kesempatan yang sama untuk berekspresi dan mengungkapkan buah pikiran kita dalam berbagai bentuk. Bisa dalam sebuah tulisan, lagu, puisi, cerita novel, bahkan dalam gambar-gambar seperti yang lakukan para seniman mural.

Seni mural terbilang sebagai hasil adanya kebebasan berekspresi dan mengekspresikan sesuatu yang menurutnya patut untuk dikritisi. Gambar-gambar yang dibuat para bomber (seniman mural) selalu memiliki makna tersirat. Biasanya gambar yang mereka buat mengusung nilai-nilai moral dengan tujuan mengkritik, melecehkan, atau memuji suatu masyarakat atau kondisi politik.

Seni mural sering kali digunakan untuk mengkritik pemerintah yang dirasa acuh terhadap rakyatnya. Tapi tak jarang juga para bomber menjadikan mural sebagai ajang curhat. Yang pasti, mural biasanya berupa karikatur atau ////////////////////////// animasi yang menonjolkan kritik terhadap subjek yang tercermin dalam gambarnya.

Tak bisa dipungkiri, keberadaan mural sering kali hanya dipandang sebelah mata. Para pembuatnya malah dicap kriminal, hanya karena alasan gambar-gambar yang dibuat tidak pada tempat semestinya. Misalnya, di dinding-dinding kolong jembatan fly over seperti yang penulis kemukakan sebelumnya. Padahal, lokasi-lokasi seperti itu menjadi pilihan para bomber, selain karena sengaja mencari tempat yang strategis dan banyak dilihat orang, mereka tidak memiliki lahan yang pas untuk menuangkan segala ide kreatifnya.

Menurut penulis, seni yang seperti ini kebanyakan dilarang atau dicap kriminal seharusnnya diberikan ruang apresiasi yang lebih lagi. Sebab, seni ini sangat indah dan memiliki arti atau makna yang unik. Walaupun begitu penulis yakin bomber di Indonesia tidak akan berhenti untuk berkarya. Karena bagaimanapun pandangan kebanyakan masyarakat, seni mural adalah bentuk kebebasan berpendapat, berekspresi, dan menuangkan aspirasi dalam sebentuk gambar.

Banyak Orang mengartikan Seni Lukis dinding (Graffity) sebagai Seni Kriminal, namun bagi para Bomber (pembuat graffity) Seni Lukis dinding (Graffity) adalah sebuah curahan hati dari seorang bomber tersebut, namun banyak kendala yang di hadapi oleh para bomber salah satunya adalah di mana mereka mengekspresikan karya mereka tersebut kalau di setiap tempat para Bomber ingin membuat graffity, selalu di incar oleh masyarakat atau para aparat keamanan yang menentang adanya Seni dinding (Graffity).

Karena beberapa kendala tersebut lah para Bomber kebanyakan mengekspresikan karyanya pada malam hari (pada saat orang terlelap tidur), karna itulah graffity di cap oleh masyarakat Seni Kriminal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s