Jumat, Hari Kehidupan

Oleh Dinihari Suprapto

 

Umat muslim, utamanya laki-laki, berbondong menuju masjid di siang hari melaksanakan shalat dua rakaat pada sebuah hari. Di hari yang sama, bahkan sedari kecil mungkin kita telah diberi keyakinan bahwa kiamat jatuh pula pada saat itu. Jum’at namanya. Banyak hal yang Allah, Tuhan Seru Sekalian Alam, utamakan untuk terjadi dan dilakukan pada hari itu.

Mengapa Jum’at begitu istimewa? Sebelum sampai pada pengutaraan hari Jum’at yang kusebut hari kehidupan ini, sempatkan sejenak membaca tuturan muqadimahku.

Entah mengapa tiba-tiba saja tergelitik hasrat untuk menuturkan istimewanya hari Jum’at, hari saat kita berkumpul. Bersama meredam kesibukan selama beberapa jam untuk sesaat menimba ilmuNya. Ketika mengerjakan tulisan ini jemariku terdiam sekian momen. Memeras kemampuan otak guna menobatkan judul.

‘Bagaimana jika kujuduli saja, Keutamaan Hari Jum’at’, batinku.

Akh, agaknya judul macam itu katro sekali.

Hingga tanpa sengaja sewaktu tengah berselancar bebas di jagad world wide web kutemukan kalimat berikut :

Lihatlah hari ini, sebab ia adalah kehidupan, kehidupan dari kehidupan. Dalam sekejap dia telah melahirkan berbagai hakikat dari wujudmu. Nikmat pertumbuhan. Pekerjaan yg indah. Indahnya kemenangan. Karena hari kemarin tak lebih dari sebuah mimpi. Dan esok hari hanyalah bayangan. Namun hari ini ketika anda hidup sempurna telah membuat hari kemarin sebagai impian yg indah. Setiap hari esok adalah bayangan yg penuh harapan. Maka lihatlah hari ini. (Kalidasa)

 

Jangan pikirkan siapa Kalidasa. Tapi aku terenyuh dengan serentet aksara di awal pernyataan tersebut. ‘Lihatlah hari ini’, katanya. Lihat hari ini ukhtiku! Hari apa ini? Hari saat kita berembuk dalam formasi holaqoh, lingkaran. Inilah Jum’at! ‘…ia adalah kehidupan, kehidupan dari kehidupan,’ lanjutannya. Hari ini, Jum’at ini, merupakan inti dari hari demi hari dalam kehidupan kita.

God modul dan God Spot-ku berkolaborasi mematenkan titel, “Jum’at, Hari Kehidupan!”. Menyebutnya hari kehidupan berarti kita berpikiran selaras bahwa Jum’at adalah satu hari yang semestinya jadi esensi kehidupan kita selama sepekan. Selayaknya kita menjadikan hari ini begitu khidmat, berkah, penuh syukur dan suka cita. Ada apa dengan hari Jum’at yang mulia ini? Mengapa Islam terasa begitu mengekslusifkan Jum’at? – tanpa bermaksud memandang hari-hari lain dalam kelasa nomor dua.

Allah SWT menganugerahi bermacam keistimewaan dan keutamaan kepada umatNya. Di antara keistimewaan tersebut adalah hari Jum’at, setelah kaum Yahudi dan Nasrani dipalingkan darinya. Abu Hurairah meriwayatkan, Rasulullah bersabda:

Allah telah memalingkan orang-orang sebelum kita untuk menjadikan hari Jum’at sebagai hari raya mereka, oleh karena itu hari raya orang Yahudi adalah hari Sabtu, dan hari raya orang Nasrani adalah hari Ahad. Kemudian Allah memberikan bimbingan kepada kita untuk menjadikan hari Jum’at sebagai hari raya, sehingga Allah menjadikan hari raya secara berurutan, yaitu hari Jum’at, Sabtu dan Ahad. Dan di hari kiamat mereka pun akan mengikuti kita seperti urutan tersebut, walaupun di dunia kita adalah penghuni yang terakhir, namun di hari kiamat nanti kita adalah urutan terdepan yang akan diputuskan perkaranya sebelum seluruh makhluk. (HR Muslim)

 

Sejatinya, Dia mengistimewakan hari Jum’at benar-benar hanya untuk umat muslim. Sebab tersemat beribu rahasia dan fadillah yang asalnya langsung dari Allah SWT. Dari apa yang kita tahu tentang utamanya Jum’at mungkin masih banyak yang masih tersimpan dan hanya Allah yang tahu. Bahkan, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah menyebut hari Jumat memiliki 33 keutamaan sedangkan Imam as-Suyuthi menyebut ada 1001 keistimewaan.

Ibnu Katsir, seorang hafidz Qur’an berkata, “Hari ini dinamakan Jum’at, karena artinya merupakan turunan dari kata al-jam’u yang berarti perkumpulan. Sebab umat Islam berkumpul pada hari itu setiap pekan di balai-balai pertemuan yang luas. Allah memerintahkan hamba-hambaNya yang mukmin berkumpul untuk melaksanakan ibadah kepada-Nya.

Kemudian Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”. (QS 62 : 9)

Diimbuhkan Ibnu Qayyim Al-Jauziyah bahwa “Hari Jum’at adalah hari ibadah. Hari ini dibandingkan dengan hari-hari lainnya dalam sepekan, laksana bulan Ramadhan dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya. Waktu mustajab pada hari Jum’at seperti waktu mustajab pada malam lailatul qodar di bulan Ramadhan”. (Zadul Ma’ad : 1/398)

Diistimewakan sebagai hari ibadah karena Jumat menyimpan begitu banyak hikmah. Salah satunya momentum diturunkannya Adam as ke bumi. Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Hari terbaik di mana matahari terbit di dalamnya ialah hari Jumat. Pada hari itu Adam Alaihis Salam diciptakan, dimasukkan ke surga, dikeluarkan daripadanya dan kiamat tidak terjadi kecuali di hari Jumat.” (HR Muslim)

Tak berlebihan jika menganalogikan waktu selama sepekan layaknya suatu siklus kehidupan, maka Jum’at telah dipilihNya sebagai hari kehidupan. Hari terbaik terlebih untuk mentafakuri diri.

Di hari ini pula menjadi salah satu waktu terbaik memanjatkan pinta. Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya pada hari Jum’at terdapat waktu mustajab bila seorang hamba muslim melaksanakan shalat dan memohon sesuatu kepada Allah pada waktu itu, niscaya Allah akan mengabulkannya. Rasululllah y mengisyaratkan dengan tangannya menggambarkan sedikitnya waktu itu.” (H. Muttafaqun Alaih)

Saat-saat dikabulkannya doa sebagai keutamaan Jum’at ialah pada saat-saat terakhir setelah shalat ashar (seperti yang dijelaskan dalam banyak hadits) atau di antara duduknya imam di atas mimbar saat berkhutbah Jumat sampai shalat selesai ditunaikan.

Tak salah kiranya jika kita kian menyempurnakan datangnya Jum’at dengan sejuta amalan baik. Salah satunya bersedekah. Ibnu Qayyim bertutur, “Sedekah pada hari itu  (Jum’at) dibandingkan dengan sedekah pada enam hari lainnya laksana sedekah pada bulan Ramadhan dibanding bulan-bulan lainnya”. Hadits dari Ka’ab menegaskan, “Dan sedekah pada hari itu lebih mulia dibanding hari-hari selainnya”. (Mauquf Shahih)

Sekurang-kurangnya masih ada empat keutamaan lain dari Hari Kehidupan ini, yaitu :

1. Sebagai hari penuh berkah yang berulang setiap pekan.

“Di hari Jumat itu terdapat satu waktu yang jika seorang Muslim melakukan shalat di dalamnya dan memohon sesuatu kepada Allah Ta’ala, niscaya permintaannya akan dikabulkan.’ Lalu beliau memberi isyarat dengan tangannya yang menunjukkan sedikitnya waktu itu.” (HR.Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya pada hari Jumat terdapat waktu mustajab bila seorang hamba muslim melaksanakan shalat dan memohon sesuatu kepada Allah pada waktu itu, niscaya Allah akan mengabulkannya.” (Muttafaqun Alaih)

Sambutlah hari Jum’at penuh ketakwaan. Seperti yang diutarakan Ibnu Abbas z berkata bahwa Rasulullah bersabda, “Hari ini adalah hari besar yang Allah tetapkan bagi umat Islam, maka siapa yang hendak menghadiri shalat Jum’at hendaklah mandi terlebih dahulu …”. (HR Ibnu Majah)

2. Hari dihapuskannya dosa-dosa.

Rasul bersabda, “Siapa yang mandi pada hari Jum’at, bersuci sesuai kemampuan, merapikan rambutnya, mengoleskan parfum, lalu berangkat ke masjid, dan masuk masjid tanpa melangkahi di antara dua orang untuk dilewatinya, kemudian shalat sesuai tuntunan dan diam tatkala imam berkhutbah, niscaya diampuni dosa-dosanya di antara dua Jum’at”. (HR. Bukhari)

3. Hari diperintahkannya shalat Jum’at. Sehingga mereka yang berjalan untuk shalat Jum’at akan mendapat pahala untuk tiap langkahnya, setara dengan pahala ibadah satu tahun shalat dan puasa.

Dari Aus bin Aus ra menerangkan bahwa Rasul bersabda, “Siapa yang mandi pada hari Jum’at, kemudian bersegera berangkat menuju masjid, dan menempati shaf terdepan kemudian dia diam, maka setiap langkah yang dia ayunkan mendapat pahala puasa dan shalat selama satu tahun, dan itu adalah hal yang mudah bagi Allah”. (HR Ahmad dan Ashabus Sunan, dinyatakan shahih oleh Ibnu Huzaimah)

Rasulullah bersabda, “Hendaklah kaum-kaum itu berhenti dari meninggalkan shalat Jumat. Atau (jika tidak) Allah pasti akan mengunci hari mereka, kemudian mereka pasti menjadi orang-orang yang lalai.” (Muslim)

Dalam riwayat lain Rasulullah menyebutkan, “Shalat Jumat adalah hak yang diwajibkan kepada setiap Muslim kecuali empat orang; budak atau wanita, atau anak kecil, atau orang sakit.” (Abu Daud)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (٩)

“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli, yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”  (QS: Al-Jumu’ah:9)

مَنْ غَسَّلَ يَوْمَ الْجُمْعَةِ وَاغْتَسَلَ ثُمَّ بَكَّرَ وَابْتَكَرَ وَمَشَى وَلَمْ يَرْكَبْ وَدَنَا مِنَ اْلإِمَامِ فَاسْتَمَعَ وَلَمْ يَلْغُ كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ عَمَلُ سَنَةٍ أَجْرُ صِيَامُهَا وَقِيَامُهَا

“Barangsiapa yang bersuci dan mandi, kemudian bergegas dan mendengar khutbah dari awal, berjalan kaki tidak dengan berkendaraan, mendekat dengan imam, lalu mendengarkan khutbah dan tidak berbuat sia-sia, maka baginya bagi setiap langkah pahala satu tahun baik puasa dan shalatnya..”.

 

4. Wafat pada malam hari Jum’at atau siangnya adalah tanda khusnul khatimah, yaitu dibebaskan dari fitnah (azab) kubur.

Diriwayatkan Ibnu Amru, Rasulullah saw bersabda bahwa Setiap muslim yang mati pada siang hari Jum’at atau malamnya, niscaya Allah akan menyelamatkannya dari fitnah kubur”. (HR Ahmad dan Tirmizi, dinilai shahih oleh Al-Bani)

5. Hari Pembeda antara Islam dan Non-Muslim.

Hari Jumat adalah hari istimewa bagi kaum Muslim. Selain itu diberikan Nabi untuk membedakan antara harinya orang Yahudi dan orang Nashrani.

Abu Hurairah meriwayatkan, Rasulullah bersabda: “Allah telah memalingkan orang-orang sebelum kita untuk menjadikan hari Jumat sebagai hari raya mereka, oleh karena itu hari raya orang Yahudi adalah hari Sabtu, dan hari raya orang Nasrani adalah hari Ahad, kemudian Allah memberikan bimbingan kepada kita untuk menjadikan hari Jumat sebagai hari raya, sehingga Allah menjadikan hari raya secara berurutan, yaitu hari Jumat, Sabtu, dan Ahad. Dan di hari kiamat mereka pun akan mengikuti kita seperti urutan tersebut, walaupun di dunia kita adalah penghuni yang terakhir, namun di hari kiamat nanti kita adalah urutan terdepan yang akan diputuskan perkaranya sebelum seluruh makhluk.” (HR. Muslim)

6. Hari Allah menampakkan diri.

Dalam sebuah riwayat disebutkan,Hari Jumat  Allah menampakkan diri kepada hamba-hamba-Nya yang beriman di Surga. Dari Anas bin Malik dalam mengomentari ayat: “Dan Kami memiliki pertambahannya” (QS.50:35) mengatakan: “Allah menampakkan diri kepada mereka setiap hari Jumat.”

Masih banyak keistimewan hari Jumat. Di antaranya adalah; Dalam “al-Musnad” dari hadits Abu Lubabah bin Abdul Munzir, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, beliau bersabda:

“Penghulunya hari adalah hari Jumat, ia adalah hari yang paling utama di sisi Allah Subhanahu Wata’ala, lebih agung di sisi Allah Subhanahu Wata’ala dari pada hari Idul Fitri dan Idul Adha. Pada hari Jumat tersebut terdapat lima keistimewaan: Hari itu,  bapak semua umat manusia, Nabi Adam ‘Alaihissalam diciptakan, diturunkan ke dunia, dan wafat.  Hari kiamat tak akan terjadi kecuali hari Jum’at.

Karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, sangat memuliakan hari ini, menghormatinya, dan mengkhususkannya untuk beribadah dibandingkan hari-hari lainnya.

 

Apa yang kutulis ini sama sekali tak ada sisipan merasa paling tahu dalam hati. Semata berbagi demi mempererat ukhuwah holaqoh kita. Dari berbagai sumber tersarikanlah apa yang telah dipaparkan.

Ukhti, tahukah engkau bahwa Rasulullah saw juga pernah bersabda :

Sesungguhnya hari yang paling utama bagi kalian adalah hari Jumat, maka perbanyaklah sholawat kepadaku di dalamnya, karena sholawat kalian akan ditunjukkan kepadaku, para sahabat berkata: ‘Bagaimana ditunjukkan kepadamu sedangkan engkau telah menjadi tanah?’ Nabi bersabda: ‘Sesungguhnya Allah mengharamkan bumi untuk memakan jasad para Nabi. (Shohih. HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, An-Nasa’i)

*     *     *     *

Bersumber dari situs Hidayatullah.com terdapat satu lagi tambahan pengetahuan dalam hal etika menyambut hari Jum’at. Sebagai berikut :

Mandi Jum’at [jenabat]

Mandi pada hari Jumat wajib hukumnya bagi setiap muslim yang baligh berdasarkan hadits Abu Sa’id Al Khudri, di mana Rasulullah bersabda, yang artinya, “Mandi pada hari Jumat adalah wajib bagi setiap orang yang baligh.” (HR. Bukhori dan Muslim). Mandi Jumat ini diwajibkan bagi setiap muslim pria yang telah baligh, tetapi tidak wajib bagi anak-anak, wanita, orang sakit, dan musafir. Sedangkan waktunya adalah sebelum berangkat sholat Jumat. Adapun tata cara mandi Jumat ini seperti halnya mandi jenabat biasa. Rasulullah bersabda yang artinya, “Barangsiapa mandi Jumat seperti mandi jenabat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Berpakaian Bersih dan Memakai Wangi-Wangian

Rasulullah berkata, “Siapa yang mandi pada hari Jumat, bersuci sesuai kemampuan, merapikan rambutnya, mengoleskan parfum, lalu berangkat ke masjid, dan masuk masjid tanpa melangkahi di antara dua orang untuk dilewatinya, kemudian shalat sesuai tuntunan dan diam tatkala imam berkhutbah, niscaya diampuni dosa-dosanya di antara dua Jum’at.” [HR. Bukhari]

Menghentikan Aktivitas Jual-Beli dan Menyegerakan ke Masjid

Anas bin Malik berkata, “Kami berpagi-pagi menuju sholat Jumat dan tidur siang setelah sholat Jumat.” (HR. Bukhari). Al Hafidz Ibnu Hajar berkata, “Makna hadits ini yaitu para sahabat memulai sholat Jumat pada awal waktu sebelum mereka tidur siang, berbeda dengan kebiasaan mereka pada sholat zuhur ketika panas, sesungguhnya para sahabat tidur terlebih dahulu, kemudian sholat ketika matahari telah rendah  panasnya.” (Lihat Fathul Bari II/388)

 

 

 

Sholat Sunnah Sebelum dan Sesudah Shalat Jumat

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu menuturkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa mandi kemudian datang untuk sholat Jumat, lalu ia sholat semampunya dan dia diam mendengarkan khotbah hingga selesai, kemudian sholat bersama imam maka akan diampuni dosanya mulai Jumat ini sampai Jumat berikutnya ditambah tiga hari.” [HR. Muslim]

Membaca Surat Al Kahfi

Nabi bersabda yang artinya, “Barangsiapa yang membaca surat Al Kahfi pada hari Jumat maka Allah akan meneranginya di antara dua Jumat.”

Memperbanyak Shalawat

Dari Anas ra,  Rasulullah  bersabda: “Perbanyaklah shalawat pada hari Jumat  dan malam Jumat.” [HR. Baihaqi]

Dari Aus Radhiallahu ‘anhu, dia mengatakan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, bersabda: “Sebaik-baik hari kalian adalah hari Jumat: pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu beliau diwafatkan, pada hari itu sangkakala ditiup, pada hari itu manusia bangkit dari kubur, maka perbanyaklah shalawat kepadaku pada hari itu, karena shalawat kalian akan diperlihatkan kepadaku”, para shahabat bertanya: “wahai Rasulullah, bagaimana diperlihatkan kepada engkau sedangkan tubuh engkau sudah hancur (sudah menyatu dengan tanah ketika sudah wafat), Beliau menjawab: “sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’ala mengharamkan kepada bumi untuk memakan (menghancurkan) jasad para Nabi.” [HR, “al-Khamsah]

Mencintai Apa yang Dicintai Nabi

Rasulullah Muhammad adalah orang pilihan dan kekasih Allah SWT. Apapun amalan yang disukai Nabi adalah hal yang paling disukai Allah dan setiap amalan yang dibenci Nabi juga dimurkai Allah.

Bentuk kesungguhan kita mencintai Rasulullah Saw adalah berlomba-lomba dan bersungguh-sungguh mengikuti dan meneladani apa yang telah beliau lakukan. Sebagaimana firman Allah SWT, وَمَا ءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا. Artinya, Apa saja yang dibawa oleh Rasul untuk kalian, ambillah, dan apa saja yang dilarangnya atas kalian, tinggalkanlah.” [QS. al-Hasyr [59]: 7]

Dalam ayat lain disebutkan, Katakanlah, “Jika kalian benar-benar  mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mengasihi kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.” [Qs. Ali-Imran [3]: 31].

Karena itu, apapun yang sudah ditetapkan Nabi –termasuk memuliakan hari Jumat– adalah sesuatu yang sudah pasti disukai Allah SWT. Sangatlah tidak pantas bagi kita sekalian mengada-adakan dan mengarang-ngarang sesuatu yang sesungguhnya tidak ada dan tidak pernah dilakukan Nabi kita.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s