KARATISME

 

Oleh Dinihari Suprapto


Aku tengah duduk di bus kota. Sumpek sekali di sini. Tak hanya harus berbagi kursi dengan seorang wanita gendut berkulit putih yang asik ngobrol dengan seseorang lewat telpon genggam. Tapi juga harus menahan diri untuk tidak mengeluarkan sepeserpun uang selain untuk membayar ongkos.

Mau tidur sulit sekali, kepala miring ke kanan ada orang. Miring ke kiri wajah jadi nemplok di lengan sebesar pahaku milik wanita itu. Bahkan, ingin terjaga pun aku tidak nyaman. Saat sopir memutar stirnya ke kiri, maka aku harus mati-matian menahan berat badanku sendiri yang rasanya mau merosot. Bayangkan saja separuh kursi dihabiskan perempuan ini. Sekitar seperempat bagian baru disisakan untukku.

Aku duduk di sisi bus kota yang baris kursinya semestinya diisi untuk dua orang bukan satu setengah orang. Bus kota dengan besi-penopang-tangan-khusus-penumpang-berdiri yang sudah reot. Kursi-kursinya memuntahkan busa kemana-mana. Jendelanya akan berbunyi seperti orang kesetrum bila si sopir terlalu kencang menekan pedal gas. Dari sela-sela daun jendela akan meneteskan air saat diterpa hujan. Dinding-dindingnya berkarat.

Itulah karat. Zat yang tak kutahu berasal dari mana. Sejatinya ia selalu nongol pada besi-besi tua lapuk yang silih berganti diterpa panas dan lembab. Karat-karat itu hari demi hari menggerogoti si besi maka besi yang awalnya kokoh tak terpatahkan perlahan berubah jadi benda yang menjijikan, tak berguna, dan mudah dihancurkan.

Namun karat agaknya masih punya posisi berharga. Hal itu akan terjadi bila nama karat dituangkan dalam kalimat, Ibuku menyimpan emas batangan 24 karat. Waah.. bila hal itu benar dilakukan ibuku, kujamin aku tidak akan merasakan pahit-getir cobaan hidup macam ini. Karat sangat berharga: emas, semakin besar kadar karatnya akan semakin mahal harganya. Ya, seburuk apapun karat akan tetap berharga pada posisi dan kalimat yang tepat.

Tapi aku bukan karat, aku ini manusia. Manusia yang berkarat. Di saat kawan-kawanku semasa kuliah dulu sudah bisa menikmati uang berlimpah dan omzet miliaran rupiah perbulan di usia mereka yang hampir menginjak setengah abad.

Di antaranya pun banyak yang kini justru back to campus, menjalani hari-hari mereka sebagai dosen. Atau ada yang terjun di dunia politik, namanya beberapa kali kulihat terpampang pada pamflet-pamflet di tiang listik, PILIH NO. 3: LINTANG ISKANDAR, S. Sos. CALON ANGGOTA DPD-RI PROVINSI BANTEN PERIODE 2008-2009.

Pria yang usianya tak jauh beda dariku itu kini sudah jadi calon dewan. Padahal, dulu dia koordinator lapangan demo menentang sebuah parpol. Tekadnya, ia tidak akan masuk partai, sebelum parpol di negeri ini bisa kembali pada empat fungsi dasarnya. Akh.. itu dulu. Atau mungkin menurutnya parpol saat ini sudah kembali pada jalan yang lurus.

Kampusku adalah kampus ternama, tak perlu diragukan lagi citranya. Ketika kutemukan namaku terpajang di antara ratusan siswa yang lulus UMPTN dulu, aku begitu bangga. Meski harus demo mengenakan almamater berwarna seperti ‘tai’ itu aku tak malu, walau tak ayal warna itu sangat kontras di kulitku. Tapi tanpa perlu menebak, orang pasti tau dari mana asalku, di mana kampusku, apa namanya.

Demi memenuhi semangat dan idealisme sebagai kaum muda yang meluap-luap, sampai-sampai aku tak menyadari kalau tugasku yang utama sebagai mahasiswa telah kubuat jadi nomor yang kesekian. Aku sibuk menyuarakan pendapat kaum muda pada pemerintah, aku terbenam dalam kehidupan pegerakan mahasiswa yang berlomba-lomba ingin disebut idealis. Haha.. ya.. aku sibuk dengan diskusi-diskusi mahasiswa, kampanye ketua Senat, copot sana pasang sini berbagai pamflet dan selebaran yang isinya seruan untuk aksi.

Indeks prestasi pun perlahan turun, dari nilai yang bagus, tak terlalu bagus, sangat kurang bagus, dan sama sekali memalukan. Setelah selesai kuliah, aku pensiun dari pekerjaan penggali terowongan bawah tanah untuk stasiun Gerakan Pemuda.

Melamar ke sana gagal, ke sini tak diterima, ke sana-ke sini ditolak semua. Akhirnya aku diterima mengajar di sebuah sekolah swasta yang orang bilang ‘ecek-ecek’ di pinggiran ibu kota. Sampai hari ini aku belum lolos jadi PNS. Sampai pada masa istriku sudah tiga kali melahirkan, aku masih begini-begini saja.

Pertama kali menjejakkan telapak kaki di SMA swasta pinggiran, yang belum pernah tersentuh internetarisasi sekalipun sampai hari ketika aku datang, itu semangat idealisku langsung mencuat. Seperti mencubiti sekujur tubuhku hingga hatipun ikut sakit rasanya. Melihat di depan mata ketidakmerataan pendidikan benar-benar terjadi. Maka ketika itu aku bertekad untuk sepenuh jiwa membagi ilmuku pada murid-murid di sana.

Tapi lama terasa, pedih kurasa. Gaji tak seberapa, namun kebutuhan terus menguntitku di belakang. Aku lari kesini, tuntunan jasmani dan rohani keluargaku itu ikut kesini. Aku sembunyi kesana, ia pun setia mengiringi. Harus kemana lagi aku bersembunyi di kolong langit-Mu ini Tuhan?

Aini Binti Kuswari, istriku. Istri yang tak akan pernah kuganti dengan uang berapapun. Wanita yang tak hanya ’menutupi’ tubuhnya tapi juga hati sampai pada ruhnya. Ai, panggilan akrabku padanya. Entah apa yang ia lihat dariku yang bila diberdiri di pinggir lapangan upacara nampak seperti pohon lamtoro: kering kerontang, berkulit gelap mengilap, tak memesona sama sekali.

Aku tak bermodal apa-apa saat menikahinya dulu. Hanya bermodal niatan tulus untuk mempersuntingnya. Bila boleh kupinjam salah satu bait puisi dalam cerpen Setetes Embun Cinta Niyala karangan Kang Abik, mas kawinku untuk bidadariku adalah sekuntum bunga melati yang aku petik dari sujud sembhayangku setiap hari.

Galih, Albi, dan Langit. Seiring tumbuh kembang mereka hari demi hari, rumah kami semakin riang, riuh suara tawa dan gemercik derap kaki mereka. Ketiga pahlawanku. Merekalah Supermanku, Batmanku, Kartiniku, Abu Bakarku, Tan Malakaku, mereka tempatku menggantungkan doa.

“Islamic, ‘Lamic, ‘Lamic, ‘Lamic..” kernet berteriak buyarkan lamunan.

Aku turun dari bus.

*     *     *     *

 

“Nampaknya mas lelah sekali? Bagaimana anak-anak di sekolah? Sudah solat dzuhur?” Ai segera memberondongku dengan pertanyaan tanda kasihnya seraya melipat pakaian yang baru diangkatnya dari jemuran.

Kutatap bidadariku ini dari samping. Rambut ikal panjangnya yang begitu indah. Hidungnya mancung sempurna (bagiku), pipinya seolah bersinar dan memantulkan aurora yang menyejukkan jiwaku yang resah dan mulai tandus. Seraut wajah yang bersih dan manis serta terjaga kesehatan kulitnya karena selalu ia basuh lebih dari lima kali sehari.

“Tidak. Aku sudah sholat dan makan tadi. Sekolah hari ini sama saja seperti dulu-dulu. Anak-anak yang daya tangkapnya kurang itu selalu membuatku harus ekstra saat menerangkan. Bebal sekali otak mereka.”

Agaknya jawabanku menyulut ketidaksetujuan Ai. Ia tak menjawab hanya menatapku dengan segaris tatapan dingin. Artinya, ia tak senang dengan pernyataanku.

“Justru tugasmulah membantu mereka mencapai taraf intelektualitas yang lebih tinggi,” sahutnya dalam tetap disertai senyuman.

“Makanlah dulu. Ada yang mau kusampaikan padamu.” sambungnya.

“ Aku masih kenyang. Bicarakan saja sekarang, kenapa harus ditunda?”

“Yakin?”

Aku menggangguk mantap.

“Ada tiga hal yang ingin kusampaikan. Pertama, ada surat dari seseorang untukmu. Kuletakkan di samping telpon, lihatlah.”

Kuraih amplop berwarna cokelat yang Ai maksud.

“Kedua, WOM Finance mengutus orangnya lagi hari ini. Mereka nampaknya sudah tak percaya pada janji kita untuk melunasi kredit motor itu. Dan yang ketiga, bolehkah aku bekerja Mas?”

Mendengar kalimat yang terlontar dari Ai aku terperanjat kaget. Kenapa tiba-tiba ia berujar seperti itu. Apa ia tak lagi percaya pada kemampuanku menafkahinya. “Mengapa kau bertanya seperti itu?”

“Aku sungguh tulus ikhlas ingin membantumu. Aku tak tega melihatmu membanting tulang. Terutama setelah kehilangan motor yang baru kita cicil tiga bulan itu, kau nampak lebih sering murung. Malampun kau tertidur pulas sekali, tak tega membangunkanmu untuk qiyamul lail. Aku merasa, hanya ketika tidurlah kau bisa mengistirahatkan otakmu, maka aku segan sekali memaksa kau bangun.”

“Kau tidak percaya padaku Ai? Aku masih sanggup menafkahi keluarga ini. Aku tak mengizinkan kau bekerja. Tinggalah di rumah dan rawat ketiga pahlawanku dengan baik. Memang sudah tiga bulan belakangan aku tak kunjung membayar cicilan motor yang hilang itu, namun aku pasti akan membayarnya. Mengapa Tuhan harus membuat motor itu hilang? Taukah Ia motor itu sungguh berarti untukku?” omonganku semakin melantur.

Aini menghentikan tangannya, ia meletakkan baju yang baru ia lipat. “Nikmat apa lagi yang kurang?! Fa bi ayyi Rabbikuma tukadzdibaan[1]!” Ai melenggang masuk ke kamar.

Aku tersentak mendengar perkataan Ai. Aku begitu tertekan dengan utang-utang ini! Kusingkirkan sejenak hal itu, kuambil dan kubuka amplop coklat tadi.

 

Yth. Bapak Garindra Sastrawiguna

Saya Zulkifli Rozak orang tua murid yang bapak asuh sebagai wali kelasnya, yaitu Fazrin Zulfikar kelas 1-3.

Mengetahui betapa besarnya minat anak saya tersebut di atas untuk mengambil jurusan IPA, saya sungguh senang. Oleh karena itu, saya ingin bapak selaku wali kelas dapat membantu Fazrin agar lebih ekstra saat belajar di kelas dan untuk meningkatkan nilai-nilainya.

Sebagai seorang guru sesungguhnya saya amat memahami bagaimana kesejahteraan anda dari segi finansial. Karena itu kiranya bapak dapat menerima sedikit pemberian ini sebagai tanda terimakasih saya atas kesediaan bapak.

Demikian maksud surat ini saya sampaikan. Terima kasih.

Zulkifli R.

Pemberian apa? Aku bingung maka kucoba mencari-cari apa yang dimaksud orang ini dalam amplop tadi. Aku dapati selembar kertasCek! Orang ini ingin menyogokku?! Apa yang harus kulakukan? Jawabnya mudah saja, tidak dan tolak. Ya, aku tidak akan menerima sogokkan ini. Karena aku tidak hanya akan menipu diriku, tapi juga keluargaku bahkan bangsaku sendiri!

*     *     *     *

 

Aku tidak bisa mengajar dengan tenang selama di kelas pagi tadi. Pikiranku melayang pada dua buah kejadian yang saat ini sedang menimpaku. Menguji kesabaran, keikhlasan, dan idealisme yang selama ini kudegung-dengunkan dalam hati. Tapi yang pasti ini menyiksa hati dan mehabiskan waktuku. Merusak ibadahku.

Bagaimana ini? Kedatangan WOM Finance tinggal hitungan jam. Sejujurnya aku tak punya uang sebanyak 2 juta rupiah, begitupun Aini. Tabungan kami habis untuk memasukkan Albi ke SD dan Langit TK. Uang yang tersisa di tabungan kami paling banyakpun tak sampai satu juta. Apalagi bila aku memikirkan cek itu. Rasanya malah membuat idealismeku makin gentar!

Bukan aku munafik aku memang butuh uang itu. Tapi.. bukan begini caranya. Ai pasti akan marah sekali padaku. Tapi mengapa aku harus bicara padanya? Bagaimana bila aku berdiam diri saja? Bila ia bertanya dari mana uang itu, bilang saja ada teman yang meminjamkannya, beres.

“Pak Garin ada orang tua murid yang mencari bapak, ia menunggu di ruang piket. Katanya sudah buat janji.” Seorang staf Tata Usaha pecahkan spekulasiku tentang pembayaran cicilan motor itu.

Keringat dingin mulai mengucur. Aku yakin betul siapa yang akan menemuiku. Kulihat jam, baru lima belas menit jam istirahat berlalu, masih tersisa 30 menit lagi. Kakiku rasanya gemetar ingin melangkah, namun aku harus menemui orang ini. Nekat sekali dia menemuiku di sekolah, batinku.

“Selamat pagi Pak Garin, saya Rozak.”

Sesosok pria berkulit sawo matang. Perutnya sedikit buncit hingga gespernya tak cukup untuk melingkari perutnya. Alhasil ia harus mengancingkan ikat pinggang plastik itu di bawah pusar. “Pak?”

Aku bengong, “Ah? I-iya..” ku segera meraih jabat tangannya.

Tanpa kupersilahkan ia kembali duduk, aku juga mengikutinya. Ia senyam-senyum melihatku. Wajahnya sama sekali tidak mencerminkan tindakannya. Raut itu khas seorang ayah yang bijak yang selalu menanamkan nilai kejujuran pada anak-anaknya. Tapi orang ini memang serigala berkepala manusia. Namun apa bedanya pula aku dengan dia?

“Tidak usah khawatir Pak Garin, saya akan menyimpan semua baik-baik. Saya datang hanya untuk memastikan anda setuju dengan tawaran itu.” Aku salutkan keberanian ayah ini. Demi anaknya ia tak gentar memperjuangkan apa yang jadi kebahagiaan anaknya.

“Oh soal itu. Maaf sebelumnya boleh saya permisi ke kamar mandi sebentar?”

“Silahkan.”

Ya Tuhan ujian apa lagi yang kau hujamkan hingga menghunus tepat kejantung kemanusiaanku. Aku tak mengerti mana yang harus kupilih.

Aku berjalan cepat menuju kamar mandi. Kumenghadap kaca wastafel. Kubuka dompet yang selalu terselip di saku belakang celanaku. Kutarik lagi kertas cek yang tadi pagi kuselipkan di dompet. Bayangan wajah Ai, Galih, Albi, dan Lintang berjejal-jejal memasukki otak.

Sesuatu ikut terjatuh saat aku menarik kertas cek itu. Kuambil kertas yang jatuh itu. Apa ini? Ini kan sepucuk surat cinta yang dibuat Aini untuk suaminya dan orang itu aku. Ia membuat ini saat masih SMA dan belum tahu siapa yang akan jadi suaminya.

Perlahan kubuka kertas itu, bukan ceknya tapi surat milik Aini yang selalu tersimpan rapi di dompet.

Sampai hari ini aku masih dan tetap tidak tahu keberadaanmu, pendampingku. Tapi satu hal yang aku tahu, bahwa kau ada, bahwa kau nyata. Aku tinggal menunggu waktu, dan kau pasti akan ku temukan. Kaulah orang yang akan mengatakan padaku, “I love you however you are..”

Sayang.. seandainya nanti kita telah bertemu, beritahu aku untuk tiada sekalipun menyia-nyiakan keberadaanmu. Dan lukai saja kakiku, saat aku ingin meninggalkanmu. Robek saja bibirku saat terdiam ketika mengetahui kau sedang bahagia. Atau butakanlah mataku ketika masih saja meneteskan airmata, saat kau harus melangkah pergi demi hal jauh lebih berharga.

Aku ingin kau selalu ingat, ketika tanganmu tak bisa berhenti menyentuh dan meraba, itu bukanlah cinta atau kasih sayang, tapi itu birahi. Dan aku ingin kau ingatkan aku, ketika aku sangat menyayangimu karena kau selalu ada di sampingku, itu bukan sayang tapi kesepian.

Aku ingin selalu meyakini satu hal, bahwa kau tidak akan merampas keyakinanku. Merampas prinsip-prinsip dan idealisme hidupku. Kau akan berjalan tepat disampingku dan beriringan dengan tujuan hidupku.

Berjanjilah untuk tidak menjadi seperti kebanyakan laki-laki yang menganggap perempuan tidak lebih dari tempat pelampiasan nafsu mereka. Berjanjilah bahwa kau tidak hanya akan menyayangiku, tapi juga akan menghormatiku. Dengan begitu aku akan semakin mudah untuk menghargaimu.

Tapi Sayang.. aku hanya ingin kau untuk bersumpah satu hal. Seandainya di antara kita ada yang terjatuh, salah satu dari kita tidak boleh ikut terjatuh dalam lubang hitam itu bersama. Karena salah satu dari kita harus tetap kokoh berdiri, untuk menarik yang lain bangkit dari kejatuhan itu.

Aku yang begitu tulus untukmu,

Aini

Dosa apa yang aku perbuat hingga terlintas untuk mengkhianati kasih sayang tulus dari wanita macam ini. Inilah ujian idealisme terberat yang pernah aku rasakan sampai detik ini. Seluruh demonstrasi yang pernah aku lakukan tak ada artinya dibanding ujian iman dan idealisme yang satu ini.

Aku memang manusia berkarat. Telah kumantapkan pijakanku pada kejujuran dalam hidup. Akan kubuat prinsip-prinsip itu menempel pada hatiku hingga berkarat di sana. Semakin tinggi kadar karatnya semakin mahal harganya, maka semakin terjal jalannya.

Sudah kedapat jawabannya. Aku melenggang keluar dari WC dengan mantap.

“Sudah selesai ke WC-nya Pak Garin?”

“Sudah. Saya pun sudah selesai memutuskan. Silahkan sampaikan pada anak anda, apakah manusia akan mencapai segala apa yang dicita-citakannya[2]?” kusodorkan kembali cek itu lalu segera meninggalkan Bapak Rozak.

*     *     *     *


[1] Artinya: “Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?”

[2] An-Najm 24-25

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s