Kesepakatanku dan DIA

Oleh Dini Hari

 

Banyak sekali hal yang tak kumengerti di jagad ini. Ada pula perkara yang sesungguhnya tak perlu untuk dipahami. Misalnya, kenapa kecoak senang sekali beranak-pinak di selokan atau tempat yang setara dengan itu. Atau kenapa kucing dan anjing sulit sekali dibuat akur.

Tapi, di sini (menunjuk ke dada) ada hal yang ingin kumengerti, namun justru tak bisa. Satu-satunya perkara yang kian mengerat dalam cerebrum otak dan tak kunjung enyah itu adalah, “Kenapa Tuhan senang sekali membuatku serasa di ujung tanduk?”.

Akh… sok puitis benar istilah ujung tanduk itu. Mudahnya begini –tapi aku tak tau apakah kalimat yang kususun ini benar atau tidak)– sederhananya, Kau sudah memaksaku merelakan bapakku untuk kembali ke sisiMu. Yaah.. walau aku tak begitu mencintai bapak, tapi tak bisa dipungkiri kepergiannya membuat hidupku pincang. Dan sekarang, lagi-lagi Kau buat sport jantung untukku dengan kesehatan ibu yang fluktuatif. Hah, Kau… Kau itu!

Oke, begini saja Tuhan, kutawarkan kesepakatan baru antara kita. Kau beri aku waktu barang beberapa tahun lagi. Tunggu, bukan waktu untukku, tapi buat ibu, beberapa tahun lagi (karena kalau kuminta selamanya Kau pasti akan menolak tawaran ini mentah-metah, iya kan?). Selama itu aku akan berusaha keras mengumpulkan kesuksesan dan keping-keping kebahagian dari kristalisasi keringat demi kupersembahkan pada ibu yang penuh pesona itu. Aku akan berjuang hidup-hidupan agar bisa membahagiakan beliau, aku juga akan berusaha selalu menjadi hambaMu yang tak lalai. Bagaimana? Sounds good?

Bila Kau setuju, maka kucingku Si Bau Ketek melahirkan empat ekor anak kali ini (jumlah itu adalah angka rata-rata anak yang dilahirkan Bau Ketek). Oke? Setuju? Baik, kutelpon ponakanku sekarang, akan kutanyakan berapa anak yang baru lahir.

“Ujang?”

“Bibiiiii…..” wuaah, panjang benar sahutannya.

“Bau Ketek udah lahiran belum?”

“Udah Biiii… anaknya lima!!!”

Apa?? Oh, oke… jadi Kau tidak setuju? Belum sampai kutanyakan berapa anaknya, Ujang sudah memberitahunya. Tawaranku agaknya gagal!

“Ooo..” komentar terbaik yang bisa meluncur dari mulutku.

“Iya Biii, anaknya coklat semua kaya emaknya. Tapi yang satu warna kuning. Nggak tau tuuu warna dari mana. Bapaknya warna kuning kali ya Biii??”

Penting benar aku menyelidiki siapa bapak anak-anak kucing itu! Hah! “Iya, kali. Udah ya, Jang, bibi lagi di jalan. Nanti telpon lagi. Daaa..” kumatikan telpon tanpa ragu.

Kerterlaluan Kau!

….. (air mata menetes)

Ma-maaf Tuhan, tak maksud mernghardikMu. Tapi…

…. (air mata menetes lagi)

Kau lihat? Kau lihat, aku bahkan tak kuasa membendung air mataku.

Ya Rabb – Gusti – My Savior – Sang Hyang Widi,. sungguh aku tak tahu mesti bertingkah bagaimana. KANKER! Kalau saja aku diberi kecerdasan di atas rata-rata, aku sudah ambil jurusan kedokteran. Agar ibu tak perlu repot mencari dokter. Cukup aku, anaknya, yang mengobati. Jika saja bisa kutukar raga ini, itupun sudah kulakukan terhadap ibuku.

….

….

….

(Menyeka air mata) Sudahlah tak guna aku meneteskan tangisan. Tak akan merubah apapun.

(Beranjak dari sofa. Menuju jendela. Menyibakkan gordyn. Menoleh kekanan)

Bila kulihat lagi selang-selang itu bergelayutan seperti tali jemuran di tubuhnya, rasanya tak sabar ingin kupreteli saja semuanya. Kala kutatap mangkuk transparan yang menutupi hidungnya selama lebih dari seminggu belakangan, ingin kuganti dengan piring sekalian! Nah satu lagi, setiap kali bunyi ‘tiit’ itu terdengar dari computer tidak jelas itu, ingin aku ganti dengan irama merdu komposisi not-not indah milik The Cranberries. Tapi itu tak mungkin. Hah, nonsense!

(Kembali memandang ke jendela)

Di luar sana banyak ibu yang bisa bercengkrama sesuka hati dengan anak-anak mereka. Bahkan ada yang terang menyia-nyiakan anak salih mereka. Mereka sehat-sehat saja, Rabb. Paling banter masuk angin, diabetes, darah tinggi. Bukan kanker seperti yang bersarang di tubuh ibu.

Para ibu di luar sana bisa leluasa ke salon bersama anaknya. Mereka juga dapat datang setiap pergantian caturwulan guna menghadiri pengambilan rapot anaknya. Tapi, kenapa ibuku tidak bisa? Jangankan untuk bepergian, berdiri menopang badannya saja tak mampu dijuangkan sendiri.

(Kembali menceplokkan pantat di sofa)

Maaf Ya Rabb atas pikiranku yang agak meracau tadi. Sungguh, tak bermaksud mengkufuri nikmat maupun ujianMu. I just feel, it seems to be a solitary life for me. But, overall, I am still a human who trust that the most important thing is not about how life treating me, but how I treating life. Trust me God!

Daripada mataku harus berkaca-kaca lagi. Lebih baik kucontoh ibu yang tengah terlelap pulas di tempat tidurnya dan bergeming. Tenggelam dalam lelapnya pejaman mata. Nanti, tengah malam, aku akan kembali terjaga. Aku ingin bercinta denganMu lagi dinihari nanti…

(Sekali lagi bertutur dalam hati)

Oh iya, Taukah Kau, aku masih sulit mengerti, kenapa Kau menempatkanku dalam situasi ini. Kau telah menjadikanku ‘pincang’. Mmm, Kau bukan bermaksud membuatku benar-benar ‘lumpuh’ kan, Rabb (?).

*     *     *     *

‘Tiiiiiiiiiiiiit’ – kotak monitor aneh itu melengkingkan suara aneh nan nyaring pula. Aku tak tahu bunyi Sangkakala kelak saat malaikat mengumandangkannya. Tapi bagiku inilah bunyi Sangkakala itu, awal kiamat dalam hidupku. Tamat! Selesai sudah mimpi-mimpi indah untuk menjalani hidup, di bumi tempat Alexander Grahambel, Mao Tze Tung, Lao Tze, Ibnu Kalsum, Khadijah, dan Tan Malaka pertama kali lahir, ini.

Yang aku rasakan hanya sebuah tangan sejak beberapa menit lalu menggegam bahuku. Ia berbakaian serba putih, sebut saja suster.

“Sabar ya, sabar. Kamu pasti kuat!” bisiknya berkali-kali di daun kuping.

Responku? Diam saja! Tak kujawab sepatahpun.

Mataku tak bergeser dari sekujur jenazah di depanku ini sedikitpun. Oke, gamblangnya, ibu meninggal! Aku tak ingin melukiskan dengan metafora, ataupun eufimisme apapun tentang kondisi ini.

Akupun tak bertindak tolol seperti di film-film: meraung-raung di samping jenazah ibu, mengoyak-ngoyak bahunya, menepuk-nepuk pipinya, berharap ia bangun lagi. Hah, justru bisa ngibrit kalau itu sampai terjadi. Ibuku bukan vampir yang bisa hidup lagi setelah mati!

Aku berdiri layu, sejak tadi tak berubah posisi. Mematung seperti balok es. Ku pandangi wajahnya yang penuh dengan bulatan-bulatan biru dan merah, lebam. Leukemia menggerogoti semuanya. Kemoterapi menandaskan ribuan akar rambut yang bercokol di kepala. Seperti hutan hujan gundul kepala ibuku itu.

Dokter dibantu seorang suster terus merapikan segala macam dunia perselangan yang menhujam segala lubang di tubuh ibu; hidung, mulut, dubur. Kecuali telinga dan lubang air mata. Lamat-lamat kurasakan seseuatu yang asin merambati pipiku yang mulai penuh dengan jendol-jendol jerawat batu. Pandanganpun kian membayang. Hah, bahkan kulihat ibu jadi tiga. Itu karena air mata yang menggenang kucoba sebisa mungkin agar tak jatuh.

Dengar ini, tahik kucing segala macam teori tentang dunia setelah kematian. Persetan dengan teori –lupa– Quantum. Bahwa, tubuh manusia terdiri dari atomlah, neutron, proton, atau apalah itu nama ilmiahnya. Pernyataan-pertanyaan ilmuwan yang mendogmakan jiwa seorang yang mati itu tak lantas ikut hancur. Aku tak peduli! Yang kumengerti, ibu sudah tak mungkin lagi bangun. Ibu sudah mangkat!

Aku tak tahu apa setelah ini ada lagi kiamat, karena bagiku sekarang ini aku sudah merasakan kiamat!

Jangan… jangan… kumohon jangan! Teriakku dalam hati.

Dengan rahang yang makin terkatup rapat, tangan yang sedari tadi menggenggam bahuku pun kian mengencang. Air asin ini juga makin deras seperti waduk bocor.

Jang…. – aku langsung memalingkan wajah, bersamaan dengan ditariknya ujung selimut di atas perut ibu hingga menutupi ubun-ubunnya.

“Kamu harus tabah ya….” ujar Mbak Perawat lagi.

Aku merasa lumpuh layu mendadak. Tubuhku seperti tak bertulang.

—————

Pikiranku perlahan merambati kenangan lima tahun lalu manakala ibu masih nampak segar bugar. Di hari minggu siang ia sekali duduk di teras rumah, dengan jemari menggegam sebilah pisau. Dengan telaten diraihnya bawang-bawang yang paginya ia beli di pasar. Biasanya ibu memberi dalam satuan sekian kilogram. Dikupasnya seluruh bawang itu, baik yang putih maupun merah.

“Biar kalau mau masak ndak repot ngupas, Ndo..” begitu katanya.

Nanti kalau sudah selesai bawang-bawang itu disimpannya di lemari es supaya tahan lama. Kadang bawang-bawang itu sudah sampai bercabang lagi karena dingin dan lembab di dalam kulkas.

Akupun melakukan itu siang ini. Beberapa hari sudah berlalu. Rumahku sepi, sangat sepi. I feel, so quite here. Bawang di tanganku kian lama kian memeras air mata. Antara kesedihan murni dan efek bawang merah, campur aduk semuanya. Tangisku kembali pecah dalam bisu.

Dunia ini selalu di awali dengan kedatangan dan diakhiri dengan kepergian. Ada yang seketika muncul dan detik berikutnya tenggelam. Sekarang terang sesaat setelahnya gelap, kelabu. Barusan terasa sejuk hawa di sekitar tapi kian lama dingin malah makin makin menusuk. Semua berubah, berganti, patah, tumbuh, hilang, hadir, begitu saja. Tak pernah menunggu persetujuan kita lebih dulu. Bahagia dan duka berawal dari titik nisbi yang sama. Bedanya setipis bikini.

Kita datang ke muka dunia ini sendirian, telanjang. Dan kita akan meninggalkan apa-apa yang kita benci, atau justru cintai, sendirian tak berkawan pula.

Sekali lagi yang bisa kuucap, “Di sini sepi sekali..” lirihku di sela-sela hela nafas menarik ingus.

Tiba-tiba.. “AAWW!!” pekikku spontan memegangi jari yang teriris pisau.

—————-

“AAWW!!” aku terhentak.

Lho.. kok?? Aku jadi bingung sendiri, mana jariku yang berdarah barusan??

Satu kata; mimpi!

(Menatap berkeliling)

Semua masih sama. Ibu masih dalam lelapnya. Monitor bodoh itu juga masih mengeluarkan bebunyian yang sama. Kalau kecerdasan otakku di atas rata-rata sudah kumodifikasi komputer aneh itu sehingga suaranya tak lagi ‘tiit-tiit’. Namun jadi alunan lagu, malahan bisa pilih sendiri lagunya. Tapi sayangnya aku tak sepintar itu.

(Telapak tangan membasuh air muka) Semoga hanya mimpi! batinku.

Indonesia tanah airku, tanah tumpah darahku.. – dering telpon selularku.

“Halo, Ris?” sapaku datar.

“Lea… kamu udah tidur belum?”

“Kalau sudah, lalu siapa yang sekarang sedang mengangkat telponmu?”

Terdengar tawa singkat dari seberang, “Maaf kalau aku ganggu ya Le. Kamu masih di rumah sakit?”

“He’emh.” jawabku.

“Ada apa jeng, telpon jam segini?” aku melirik jam dinding yang sedang berputar di poros 02.30 dinihari.

“Sebenernya mau telpon udah tiga jam yang lalu. Tapi baru sekarang akhirnya aku berani. Maaf ya kalo ganggu…”

Nggak apa-apa. Telpon tinggal telpon, susah banget..”

“He.. he.. he.. iya..”

“Oh iya, gimana kabar kampus? Kayaknya udah lama nggak masuk…” jelas saja, kalau aku kuliah lalu ibu dengan siapa (?).

“Tepatnya dua minggu kamu nggak masuk. Tapi tenang absen aman kok!”

Aku tersenyum, tipis.

“Le sebenarnya ada yang mau kusampaikan ke kamu. Tapi.. gimana ya ngomongnya… aku bingung Le. Takut salah ngomong..”

Yah ampun kayak sama siapa aja,” – penasaran juga apa yang mau dibicarakan Riska selarut ini.

“Byan suka jenguk ke rumah sakit, Le?”

Byan? Tentu saja, dia kan sahabat lekatku. Masa iya, orang tua sahabatnnya sendiri sakit dia nggak jenguk. “Sering kok. Tapi seminggu ini aku belum ketemu lagi. Dia juga agak susah dihubungin, mungkin kerjaannya lagi padat banget kali. Memang kenapa dengan Byan..?”

Hah? Ng-nggak apa-apa. Tanya aja. Oh iya, Bayu masih hubungin kamu?”

Oke, mendengar nama itu seolah ada yang berdesir dalam hatiku. Bayu, pacar, maksudnya mantan pacar, ku itu tiga minggu ini sama sekali tak pernah menghubungiku. Okelah, kami putus dengan sangat aneh dan tidak bagus kejadiannya. Tapi… kadang ia masih sering mengirimi kata-kata penyemangat d isms. Namun, beberapa hari belakangan… aku sms pun hanya dijawab seperlunya.

“Le?”

“Hah? Ma-maaf jadi melamun. Bayu… beberapa hari belakangan nggak ada kabar juga tuh. Tapi ya.. sudah nggak ada apa-apa lagi juga di antara kita. Diapun nggak ada kewajiban untu hubungin aku secara intens, ya nggak?”

Iya sih.”

“Sebenernya kamu mau ngomong apa Ris? Dari tadi jadi nanyain orang terus.. ada apa hayoo??”

(tidak ada jawaban)

“Ris?”

“I-iya.. sebelumnya, apapun yang akan aku sampaikan ini, kamu harus janji sama diri kamu sendiri untuk nggak sedih ya Le. Jangan kamu pikirin juga, tapi bagiaimanapun kamu harus tau. Janji?”

Kok pakai janji segala? Iya, janji..” seraya melayangkan tanda PISS dengan jari tengah dan telunjukku.

Riska seperti bersiap mengamil nafas panjang. “Mungkin kamu pernah berpikir alasan hubungan kamu dan Bayu selesai itu aneh banget. Hanya karena mau konsentrasi skripsi. Hal pertama yang perlu kamu tahu, Bayu dipastikan pending skripsinya. Atau malah dia cuti kuliah… nggak tahu deh! Yang pasti, Bayu sudah jarang ke kampus, sama halnya dengan Byan. Awalnya aku nggak percaya dengan yang dibicarakan anak-anak. Tapi, empat hari lalu aku ketemu dia. Aku paksa dia untuk nggak langsung pulang. Aku tanya, ada apa yang sebenarnya. Dan semua isu itu benar, Le. Setelah ini aku nggak tahu apa masih bisa mengganggap kita bertiga sahabatan atau nggak

Aku memotong pembicaraan Riska. “Tunggu dulu, Ris. Nggak usah berbelit-belit deh. Sebenarnya ada apa?”

“Beredar isu kalau Byan hamil, Le! Aku nggak percaya, tapi setelah dengar semua dari Byan langsung.. rasanya aku juga masih sulit percaya! Belakangan ini Byan nggak jenguk  ke rumah sakit, bukan karena sibuk kerja. Tapi karena dia ketahuan hamil. Dan dia hamil karena….”

Tuhan, tolong jangan nama itu yang harus Riska sebut, Bayu maksudnya. Aku berdoa dalam hati.

“Karena Bayu, Le. Sekarang kamu ngerti kan alasan sebenarnya kalian putus. Mereka berdua nggak mau ketemu kamu, Le. Mereka sangat merasa bersalah…

Tuuuuutt… – telpon langsung kuputus.

Detik berikutnya… aku hanya termangu di sofa. Pikiranku kosong. Inilah hal kedua yang muncul sebagai sesuatu yang sulit kupahami.

Lebih baik aku segera melaksanakan bercintaku denganMu Rabb!

Aku bangkit, dan mengambil wudhu.

*    *    *    *

“Pagi, maa” kusajikan senyum termanisku menyambut mama pagi ini.

Tak banyak yang bisa mama lakukan. Ia hanya membalas dengan segaris lengkungan bibir.

“Mama hari ini harus semangat ya! Jam sebelas nanti kemo lagi. Pokoknya, mama harus semangaaat!!” aku berpose seperti atlet angkat besi yang sedang menunjukkan otot lengannya.

Mama nyengir dan mengangguk.

“Makanannya sudah dingin. Susternya sudah antar dari jam delapan pagi. Sejam yang lalu,” kemudian aku beralih pada makanan-makanan di atas meja. Kubuka plastiknya satu persatu.

Tiba-tiba tangan mama meraih lenganku yang hanya berjarak 20 senti dari pembaringannya. “Kenapa, ma?” aku menunduk. Meletakkan telingaku dekat bibir mama. Nampaknya, ia mau mengatakan sesuatu.

“Kkkh… kkhamu… harus kuat ya LLe. Sssaatuu.. kess.. kesulittan.. nggaak kkalahin ddua.. kkem.. kkemudahann,” tutur mama terbata.

“Iya, ma.. Lea nggak akan kalah dengan keadaan. Allah loves us!” jawabku.

*     *     *    *

Lima tahun kemudian…

Satu kesulitan tidak akan mengalahkan dua kemudahan! Aku pegang teguh kata-kata mama itu. Seumur hidup tak akan aku lupa.

Pagi itu adalah pagi terakhir Sang Jurnalis sejati melihat mentari. Dalam perjalanan menuju ruang kemoterapi mama mengembuskan nafas terakhir. Tak pernah berlaku kesepakatan apapun dalam urusan hidup-mati.

Tidak! Kiamat dalam mimpiku tak pernah terjadi. Itu hanya mimpi. Kesulitan yang sesungguhnya tak seasam yang pernah kubayangkan. Aku tak pernah menjadi pincang. Justru sejak ketiadaan ibu, saat itulah awal kali pertama aku mulai berdiri dengan kakiku yang sebenarnya.

Aku menyelesaikan pendidikan sarjanaku dengan baik. Meski tak ada wajah ibuku di antara bangku orang tua dan undangan ketika wisuda. Tapi… ibu toh sudah bersemayam dalam diriku. Ia menjadi molekul tak terpisahkan denganku.

Sebulan setelah meninggalnya beliau, aku menemukan sebuah buku agenda milik beliau. Berisikan nomor telpon narasumber yang pernah ia wawancara. Oh iya, lupa kubilang, mamaku itu seorang wartawan. Tapi profesi itu sudah lama sekali ia tinggalkan. Tepatnya, hanya sempat ia jalani selama dua tahun. Karena setelahnya, kanker mulai menggerogoti.

Pada sebuah halaman, kulihat sebuah foto. Foto pemandangan suatu kota di sebuah negeri ratusan ribu kilometer dari Jakarta. Indah nian kota dalam foto itu. “Aku akan menjamah tempat ini!” tulis mama di bawahnya.

Belakangan kutahu kota itu bernama Bayern, ibukota München, salah satu wilayah di Jerman. Dan saat ini aku tengah memandang bangunan yang sama dengan yang ibuku lihat di dalam foto itu dulu. Ia benar-benar menjamahnya!

*   *   * TAMAT *   *   *

Tangerang, 15 Januari 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s