KOMPAS DAN POLITIK WACANANYA…

Roger Fowler, sebagaimana dikutip Eriyanto (2001, h. 2) berpendapat, ”Wacana adalah komunikasi lisan atau tulisan yang dilihat dari titik pandang kepercayaan, nilai dan kategori yang masuk di dalamnya, kepercayaan di sini mewakili pandangan dunia; sebuah organisasi atau representasi dari pengalaman.”

Maka penulis mengerti wacana tidak lain merupakan bentuk komunikasi lisan ataupun tulisan. Komunikasi ini dilihat dari sisi kepercayaan, nilai, serta kategori yang ada.

Dan saat ini, pemahaman tentang wacana sudah tidak bisa dilepaskan dari mereka yang hendak menguasi atau mendominasi jalannya arus informasi yang ada. Menggunakan wacana, seseorang dapat menyampaikan gagasannya hingga terangkai dalam sebuah kesatuan yang utuh. Lewat wacana itu sendiri pula seseorang bisa mengakses informasi yang utuh di dalam sebuah berita.

Yoce Aliah Darma (2009, h. 2) mengutip yang disampaikan Tarigan mengemukakan, ”Bahwa wacana adalah satuan bahasa terlengkap dan tertinggi atau terbesar di atas kalimat atau klausa dengan koherensi dan kohesi tinggi yang berkesinambungan, yang mampu mempunyai awal dan akhir yang nyata, disampaikan secara lisan atau tertulis.”

Sejalan dengan Tarigan, penulis menilai bahwa wacana merupakan satuan bahasa yang mengandung koherensi serta kohesi yang tinggi, baik dikemukakan secara lisan maupun tertulis.

Mengutip pendapat Ismail Marahimin, Alex Sobur (2009, h. 10) mengartikan wacana sebagai ”Kemampuan untuk maju (dalam pembahasan) menurut urut-urutan yang teratur dan semestinya . . . dan komunikasi buah pikiran, baik lisan maupun tulisan, yang resmi dan teratur.”

Penulis mengerti bahwa wacana juga merupakan cara guna mengkomunikasikan buah pikir seseorang dengan resmi dan tertata secara teratur.

Dengan beberapa penjelasan di atas, penulis dapat mengerti yang dimaksud dengan wacana adalah bentuk komunikasi, baik lisan ataupun tulisan. Komunikasi ini dilihat dari sudut pandang kepercayaan, nilai, dan kategori yang ada. Di dalam komunikasi itu, wacana menjadi satuan bahasa terlengkap dan tertinggi atau terbesar di atas kalimat atau klausa dengan koherensi dan kohesi yang berkelanjutan. Dan wacana mampu membahas sesuatu dengan berurutan dan teratur.

Yoce Aliah Darma (2009, h.4) juga memaparkan ciri-ciri wacana, sebagai berikut :

1)      Wacana dapat berupa rangkaian ujar secara lisan dan tulisan atau rangkaian tindak tutur.

2)      Wacana mengungkapkan suatu hal (subjek).

3)      Penyajiannya teratur, sistematis, koheren, dan lengkap dengan semua situasi pendukungnya.

4)      Memiliki satu kesatuan misi dalam rangkaian itu.

5)      Dibentuk oleh unsur segmental dan nonsegmental.

 

Penulis memahami bahwa sebuah wacana bisa diidentifikasi cirinya, yakni terdiri dari bahasa lisan maupun tulisan, bahasa tersebut mengungkapkan suatu subjek, disampaikan dengan teratur, sistematis, dan lengkap, memiliki misi di dalamnya dan dibentuk dari unsur segmental dan nonsgemental (berhubungan dengan waktu, situasi, gambaran, tujuan, makna, intonasi, dan tekanan dalam pemakaian bahasa).

Salah satu Suratkabar tersohor di tanah air, KOMPAS, penulis menempatkannya  sebagai institusi yang memiliki andil dalam memberikan pemaknaan terhadap suatu peristiwa atau masalah lewat isi berita yang disajikan kepada khalayak. Karenanya, wajar bila KOMPAS selain berperan sebagai elemen jembatan informasi ternyata juga menjadi instrumen dalam mengkonstruksi berbagai realitas dalam kehidupan masyarakat.

Konstruksi realitas yang dilakukan KOMPAS itu umumnya terwujud dalam sebuah wacana atau diskursus. Wacana yang disebarkan media massa dipandang sebagai suatu yang memiliki arti dan pemahaman sebagai sebuah konstruksi realitas sosial yang ditampilkan melalui bahasa, gambar, ucapan, musik, efek suara, citra maupun ekspresi komunikasi. Artinya, dalam hal ini media massa memiliki bobot pengaruh yang sangat besar untuk mengkonstruksi dan mendefinisikan realitas atas berbagai peristiwa atau masalah yang menyangkut kehidupan sosial masyarakat lewat pemberitaannya.

Konstruksi realitas ini biasanya dilakukan oleh media massa lewat sebuah deskripsi konseptual atas peristiwa atau keadaan tertentu yang disusun lewat sebuah narasi cerita yang mengakibatkan terciptanya sebuah diskursus atau wacana. Dengan demikian seluruh isi media tidak lain adalah realitas yang telah dikonstruksikan dalam wujud wacana yang bermakna.

Giles dan Wiaman (1987, h. 350) :

”Bahasa (teks) mampu menetukan konteks, bukan sebaliknya teks menyesuaikan diri dengan konteks. Dengan begitu, lewat bahasa yang dipakainya (melalui pilihan kata dan cara penyajian) seseorang bisa mempengaruhi orang lain )menunjukkan kekuasannya). Melalui teks yang dibuatnya, ia dapat memanipulasi konteks.”

Penulis mengerti, peran wacana yang begitu hebatnya berangkat dari fungsi sebuah bahasa (teks). Sebab, bahasa bisa menciptakan konteks dan kondisi sosial tertentu sebagaimana yang dipaparkan dalam bahasa tersebut. Sehingga, bukan lagi bahasa (teks) yang menyesuaikan diri dengan konteks sosial yang ada.

Tak pelak, dalam setiap praktik sosialnya, suratkabar cenderung memiliki kewenangan dalam membentuk, mengontrol dan menentukan makna sesuai dengan sistem kerangka berpikirnya. Terkait dengan hal tersebut, maka dalam praktik penyebaran wacananya, suratkabar akan cenderung melibatkan suatu pandangannya tersendiri dalam mendefinisikan realitas yang akan disajikan. Hasilnya, persoalan atau peristiwa yang ditampilkan akan cenderung menonjolkan basis penafsiran tertentu.

Wacana yang penulis ulas dalam penelitian ini mendasarkan pandangannya searah dengan paradigma kritis. Berdasarkan pengetahuan dan pemahaman penulis atas paradigma ini, wacana dalam penelitian ini dinilai bagus jika penulis mampu memperhatikan konteks sosial, ekonomi, politik, dan analisis konprehensif yang lain. Karenanya, penafsiran subjektif yang dilakukan oleh penulis bisa kuat berkat interpretasi yang dilakukan sehingga mampu menutup kemungkinan adanya interpretasi yang lain.

Selaras dengan penyataan Eriyanto (2001, h. 56), ”Dalam pandangan kritis, realitas bukan ada dalam suatu tatanan (order), tetapi berada dalam suatu konflik, ketegangan, dan kontradiksi yang berjalan terus-menerus diakibatkan oleh dunia yang berubah secara konstan.”

Artinya, paradigma kritis mengungkapkan arti sesungguhnya dari realitas dan wacana yang tadinya samar dan terselubung dalam struktur media yang tumpang tindih. Sebab media menggunakan posisinya sebagai bentuk pertarungan kekuasaan dengan melegitimasi pernyataan yang diinformasikan kepada khalayak.

Sejalan dengan hal tersebut, lantas penulis memiliki pamahaman sama dengan yang diungkapkan Dedy N. Hidayat (1999, h. 47) mengenai politik bahasa dalam paradigma kritis sebagai, “Penggunaan simbol-simbol bahasa dalam suatu struktur ideologi tertentu, oleh kelas sosial tertentu, untuk melanggengkan dominasi atau hegemoni mereka, terhadap kelas sosial lainnya.”

Penilaian penulis atas tindak pewacanaan oleh KOMPAS dalam pemberitaannya didasarkan pada pemahaman penulis mengenai teori wacana. Alex Sobur (2009, h. 12) mengutip Heryanto  memaparkan :

Secara ringkas dan sederhana, teori wacana menjelaskan sebuah peristiwa terjadi seperti terbentuknya sebuah kalimat atau pernyataan. Karena itulah ia dinamakan analisis wacana. Sebuah kalimat bisa terungkap bukan hanya karena ada orang yang membentuknya dengan motivasi atau kepentingan subjektif tertentu (rasional atau irasional).

Karenanya penulis memahami bahwa, teori wacana ini menerangkan tentang sebuah realitas yang ada lewat terjalinnya sebuah kalimat atau pernyataan. Sebab, sebuah kalimat bisa terungkap bukan hanya karena ada orang yang membentuknya dengan motif subjektif, entah itu yang rasional maupun irasional.

Lebih jauh Alex Sobur (2009, h. 13) menerangkan, ”Dalam linguistik, khususnya dalam analisis wacana, wacana digunakan untuk menggambarkan sebuah struktur yang luas melebihi batasan-batasan kalimat.”

Penulis setuju bahwa dalam analisis wacana, wacana dipakai guna mendeskripsikan sebuah struktur yang luas lebih dari batasan-batasan di dalam kalimat.

Seperti yang dikutip Alex Sobur (2009, h. 13) berdasarkan pemaparan Ariel Heryanto, ”Hanya dibentuk, hanya akan bermakna, selama ia tunduk pada sejumlah ’aturan’ gramatika yang di luar kemauan atau kendali si pembuat kalimat. Aturan-aturan kebahasaan tidak dibentuk secara individual oleh penutur yang begaimanapun pintatnya. Bahasa selalu menjadi milik bersama di ruang publik.”

Jadi, setiap teks berita yang ada di media massa, termasuk suratkabar, dianggap mewakili kelompok tertentu ketika memperjuangkan pandangannya dalam pertarungan wacana. Serta dapat memarjinalkan kelompok lain dalam masyarakat.

Sobur (2009, h.13) mengemukakan lebih jauh :

Bagi teks tertulis, analisis wacana yang dilakukan bertujuan untuk mengeksplisitkan norma-norma dan aturan-aturan bahasa yang implisit. Selain itu, analisis wacana juga bertujuan untuk menemukan unit-unit hierarkis yang membentuk suatu struktur diskursif.

Maka penulis memahami bahwa lewat teks tertulis yang ada analisis wacana bermaksud mengungkap aturan dan norma yang ada dalam bahasa teks tersebut yang membentuk suatu struktur pewacanaan.

Secara argumentatif, penulis memandang setiap topik permasalahan yang diberitakan Suratkabar KOMPAS berpotensi menjadi wacana.  Permasalahan dalam tiap pemberitaan tak lain merupakan hasil konstruksi realitas Suratkabar Harian KOMPAS.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s