KWARTET

Sederet tulisan di layar televisi beruntun menampilkan kalimat : Kwartet Community dengan bangga mempersembahkan “K.w.A.R.t.3.T”. Di balik Layar… Sutradara Ragas Adhiyaksa, Efek Suara Gharindra Damarjati, Ide Cerita Lintang T. Satrawiguna, Tata Gambar Mahardika Guntara.

Beberapa saat kemudian layar hitam muncul selama empat detik. Lamat-lamat nampapak sederet kalimat bertinta putih. Ibaratkan saja pembuka sebuah film. Begini katanya :

“Ada yang bilang kalau orang yang hebat dan memiliki segalanya dalam hidup ini, bukan orang yang banyak duit, selebriti, atau Presiden. Tapi orang yang memiliki semuanya adalah orang yang masih memiliki mimpi, masih punya harapan, dan selalu setia atas mimpi-mimpiny!”

 

Film ini didedikasikan untuk seorang pemimpi dan pewujud mimpi Alea Sakha yang di keluarkan dari pendidikan formal karena berjuang demi kejujuran.

 

Usai menonton ulang sebuah film pendek hasil peluh mereka sendiri, tanpa sadar keempat anak manusia itu sama-sama tersenyum damai. Dalam hati mereka sama-sama berterima kasih pada Tuhan, juri, dan tentunya sebuah nama yang sempat disebutnya dalam film berjudul Kwartet itu.

*     *     *     *

 

“Woi-woi, lihat itu siaran ulang kita,” seorang laki-laki dengan wajah ganteng, kulit putih, sedang duduk santai sambil selonjoran di sebuah sofa panjang di depan TV.

Teman-temannya yang sejak tadi sibuk dengan urusannya masing-masing, ada yang sedang main catur dan ada yang sedang sibuk menulis pada sebuah buku agenda tebal, langsung konsen pada acara di layar televisi yang disetel oleh laki-laki ganteng itu.

“Gila gue nggak percaya, yang ada di atas panggung di Balai Sarbini itu kita berempat.” Sahut yang lainnya.

“Jangankan elo, gue nih yang jadi sutradaranya,” satu orang lagi membusungkan dadanya (menyombong), “nggak nyangka kalo kita yang bakal menang!”

Dan satu orang cewek yang sejak tadi sibuk melakukan sesuatu dengan agendanya mulai mengeluarkan suara, “Lo liat dulu dong apa yang barusan gue tempel di agenda gue,” dia menyodorkan agenda hitam polos di tangannya.

“KWARTET Menerbangkan Angan Para Punggawanya di Kompetisi Film Independen 2006”

Sebuah guntingan judul dari satu artikel terpampang di sana. Dan di bawahnya baru terpajang serentetan artikel panjang yang berkaitan dengan judul tersebut. Dan yang menarik pada salah satu alinea ada sebuah garisan stabilo berwarna kuning, warna yang sama dengan stabilo yang di pegang cewek itu sejak tadi.

Dengan disodorkannya agenda tebal itu barusan, tiba-tiba ketiga kepala yang lainnya memusatkan matanya tidak lagi pada layar televisi, tapi pada apa yang terpajang di atas sebuah halaman pada agenda itu.

“Widiih.. liat tuh ada nama kita, man. Kerenkan!” tunjuk seorang cowok, dengan rambut sedikit gondrong dan sebuah tindikkan lidah, pada satu baris yang berisikan kalimat, ‘Dika, Lintang, Ragas dan Gharin, berhasil menjadi juara pertama, serta nyaris membawa pulang semua penghargaan dari hampir setiap kategori yang ada pada Kompetisi Film Independen tahun ini. Dengan film berjudul Kwartet.’

“Artikel itu gue gunting dari koran tadi pagi. Dan itu jadi cover story-nya lho.” Jelas si perempuan tadi.

“Lihat dong nama gue ditulis pertama. Itu menandakan kalau gue memang ganteng dan beken!” celetuk laki-laki ganteng yang sejak tadi masih memegang remote televisi.

“Elo tuh dari dulu emang berasa paling ganteng sejagad!” ceplos temannya yang lain, rambutnya keriting.

“Eh liat tuh pas kita lagi dikasih pialanya,” kali ini si perempuan justru membuat ketiga sahabat-sahabatnya kembali fokus ke layar kaca.

Si rambut keriting menunjuk layar televisi, “Itu pas bagian itu, tadinya gue sempet jiper banget! Gue pikir kita kalah”. (Jiper = takut berlebihan)

Cowok berlidah tindik tadi melanjutkan, “Iya.. bener. Gue kira, pas pengumuman juara dua dan nama kita nggak disebut, kita memang sudah kalah. Tapi nggak tahunya kita juara pertama.”

“Lea benar,” kali ini si perempuan kembali angkat suara. Ucapannya bahkan membuat ke tiga cowok yang ada di dekatnya terdiam, tersentak, dan memandanginya lekat-lekat. Hanya dengan dua kata itu.

Dan mereka berempat saling berpandangan. Nama itu, nama yang disebutkan itulah yang membuat mereka semua terpaku. Lea… Alea.

“Iya. Semua yang Lea bilang memang benar,” sahut salah satu di antara ke tiga laki-laki itu.

Seketika keempatnya melantunkan kalimat bersama-sama, “Orang yang hebat dan memiliki segalanya dalam hidup ini bukan orang yang banyak duit, selebriti, atau Presiden. Tapi orang yang memiliki semuanya adalah orang yang masih memiliki mimpi, masih punya harapan, dan selalu setia atas mimpi-mimpinya!”

Kisah ini merupakan serangkaian perjalanan yang begitu luar biasa buat kami. Menjadi sepenggal kisah menakjubkan yang terkenang secara ekslusif dalam dunia kehidupan kami berempat, aku, Gharin, Dika, dan Ragas, yang begitu mengagumkan. Sepenggal kisah dalam satu potong drama kehidupan kami. Sebuah anugerah yang begitu hebat dan selalu terpatri di hati.

*     *     *     *

 

Attention please! Gue mau kasih tahu nama gue dulu, gue Lintang T. Sastrawiguna. Kebanyakan orang manggil gue Lintang. Gue siswi cupu, jelek, aneh, dan benar-benar susah bergaul. Memang gue sedikit bermasalah dalam bergaul dengan guru. Hampir satu sekolah tahu nama gue, termasuk orang-orang yang nggak gue kenal sekalipun. Di kalangan guru-guru mereka selalu mengenal gue dengan sebutan ‘Terpoin.’

Jadi begini, setiap 3 bulan majalah sekolah gue terbit dan di sana ada satu rubrik khusus, namanya ‘Ter- Of The Month’. Rubrik itu sekumpulan nama-nama guru dan siswa yang punya julukan Ter-.

Ter- untuk murid ada Ter-bokis, Ter-jutek, Ter-bokep, Ter-laku, Ter-cantik dan salah satunya Ter-poin. Jadi artinya gue adalah siswa paling banyak mengumpulkan poin pelanggaran tiap bulannya. Saingan berat gue di sekolah satu-satunya, dan memang cuma ada satu, namanya Gharin.

Ter-poinnya Si Roker Kelas Menengah ini memang berbeda jenis dengan gue. Kalau dia Ter-poinnya di rekomendasikan guru konseling. Sedangkan gue oleh guru piket dan Satpam sekolah. Walau begitu gue dan Gharin tetap saja solid. Kita nggak pernah saling rebutan gelar kok!

Kita berempat memang sahabatan! Tapi bukan berarti apa yang ada dalam batok kepala kita sama. Misalnya teman gue yang lain, Ragas. Dia itu ketua OSIS, maksudnya mantan. Dia dikeluarkan dari OSIS karena dia dianggap menetang sekolah, dan sempat nyaris di DO. Makhluk keriting itu mulai dari orok sampai keriting kayak sekarang cuma punya satu mimpi, bisa jadi Sutradara.

Nah yang paling terakhir inilah yang paling digemari. Biarpun banyak siswi-siswi sudah tahu dia itu ‘pemangsa’, mereka masih juga mau jadi mangsanya. Wajah Dika cukup sering ada di majalah. Dua tahun lalu dia pernah jadi runner up pemilihan cover boy suatu majalah remaja. Dan pernah beberapa kali masuk dalam reality show di tv.

Kami sekolah di SMA Dian Kencana. Gue, Gharin, Dika dan Ragas, punya nama julukan untuk kita berempat namanya KWARTET. Orang lain banyak yang bilang Kwartet itu kumpulan orang frustasi. Salah banget tuh! KWARTET itu kumpulan orang-orang keren tiada duanya.

Bayangin aja salah satunya Gharin, di sekolah gue yang Se Rock and Se Cadas dia. Si Boski alias botak seksi itu sudah sepuluh kali masuk ruang BP karena masalah yang sama. Yaitu, tindikan dan piercingan yang hampir memenuhi wajahnya. Sampai tidak ada tempat untuk jerawat mampir.

Kalau Ragas, sepertinya dia masih punya hubungan darah dengan Ahmad Albar. Sejak lahir Ragas sudah keriting. Dia suka banget nonton film. Mulai dari action, komedi, romantic movie, horror, mandarin, Korea, barat, Indonesia sampai India dia suka, dan nggak ketinggalan dia juga punya beberapa koleksi dan minat pada film-film bokep. Sesuai dengan cita-citanya untuk jadi sutradara.

Nah, kalau Dika, okelah gue akui bibirnya merah kayak pantat babi, hidungnya mancung kayak Josh Harnet, matanya bening kayak plastik, dan kulitnya putih kayak tepung sagu cap gunung merbabu. Gila! Yang satu ini sekilas paling normal di antara kita. Dia itu memang paling stylish, rapi, wangi dan paling good looking alias paling bening. Dia memang paling beres deh! Sudah begitu dia juga ketua ekskul teater. Hebatkan?! Di bawah naungan nama Mahardika Guntara ekskul teater bisa dapat juara di mana-mana.

Keburukannya cuma satu, Dika itu oportunis banget. Kalau sudah lihat cewek BMW (Bahenol-Montok-Waduuh) bawaannya pengen memangsa aja, dan mengambil kesempatan dari cewek-cewek itu dalam kesempitan. Dan otak mesumnya terkadang benar-benar bikin gue jijay banget deh sama dia.

*     *     *     *

 

Kantin Sekolah, Kamis 22 April 2004

Terduduk tiga orang siswa di antara kerumunan siswa-siswa lainnya. Tiga orang makhluk hidup dengan obsesi selebriti, maksudnya hanya Dika yang punya obsesi itu. Tiga orang itu adalah gue, Dika, dan Gharin. Kami sibuk memberi tanda tangan yang antre di depan kita. Di atas sebuah kertas kecil polos dengan judul, “Silahkan Ceklis Menu yang Anda Pesan”. Bukankah memberi tanda ceklis termasuk tanda tangan?

“Lihat itu, Ragas sedang menuju ke sini. Mukanya ditekuk banget.” Sela gue sambil menatap ke arah Ragas.

“Kesel gue! Masa kepala sekolah bilang proposal gue ini nggak bagus? Masa gue mau mengikutsertakan sekolah kita ke festival film independen dibilang usul nggak bermutu? Otaknya Pak Marsum itu yang nggak berkualitas. Ide brilian begini ditolak!” semprot Ragas tanpa jeda usai membanting pantatnya di bangku plastik.

Kami diam.

Seketika ia melanjutkan, “Waah kalian nggak soldier sama gue. Sudah makan duluan aja.” Ragas mencomot sepotong kerupuk dari piring gue.

Tangan gue reflek terangkat mengikuti ke mana arah perginya kerupuk itu. Ternyata kerupuk itu terbang mengarah ke lubang mulut. Dan, ‘Hap!’ gue segera merebut kerupuk itu lagi dari tangan Ragas. “Dasar pengutil. Kerupuk aja diklepto.  Beresin dulu deh lidah lo. Solider bukan soldier!”

Usai kami makan suasana di kantin sudah sepi. Tiba-tiba mata gue dan Gharin sama-sama mendapati Ragas yang terdiam sambil meremas-remas proposal lomba film independen itu. Kami saling mengangkat alis dan memberi kode.

Gue ambil inisiatif lebih dulu. “Gas, kenapa? Tiba-tiba diam seribu bahasa. Kayak kebo diare aja!”

“Lo semua itu kebangetan tahu nggak!” Ragas menjawab lantang.

Kami kaget mendengar suara Ragas yang meninggi. Tapi kami enggan terpancing emosi. Karena Gharin membisikkan sesuatu yang konyol. “Tang, tadi dia diam aja, kayak kebo diare. Sekarang teriak-teriak seperti kebo disodomi.” Gue saja hampir terbahak-bahak. Betapa bodohnya perumpamaan Gharin. Masalahnya mana ada yang mau sodomi kebo.

“Katanya, kalau ada temen kalian susah kalian ikut susah juga. Tapi mana buktinya? Kalian itu cuma bisa diajak senang. Nggak bisa diajak susah dan mikir,” imbuh Ragas.

Begitulah Ragas. Waktu datang pertama-tama marah-marah. Selanjutnya tertawa, bercanda, saling ejek. Sekarang, setelah makanannya habis marah-marah lagi. Sulit mengerti alur luapan emosinya. Nggak jelas. Persis seperti rambutnya, nggak jelas bentuk dan modelnya. Entah apa sebutan model rambut antara lurus, keriting dan kribo itu.

Kali ini umpatan-umpatan Ragas barusan justru buat Gharin naik haji, maksudnya naik pitam. “Sialan banget lo! Main bentak aja. Apa salah kita? Kalau lagi suntuk jangan diluapkan ke orang lain. Tinggal cerita susah bener. Lo mau ribut?!” Gharin menunjuk wajah Ragas.

Ragas menatap Gharin tidak kalah tajam dari tusuk gigi. Kemudian membuang pandangan ke arah lain, tapi bukan ke tong sampah. Dika langsung mengambil inisiatif cerdas. Ini karena Dika satu-satunya yang sadar semua orang yang tersisa di kantin memperhatikan kami. “Sudahlah Ghar, nggak pake urat berapa sih? Duduk dulu lah. Nggak enak dilihat orang, kita seperti artis aja,” ceplosnya.

Gharin duduk kembali.

Semuanya diam. Sepi. Kayak Gharin ketika sedang nonton film porno.

Gue tepuk bahu Ragas, “Kalian tenang dulu lah. Sabar Gas. Coba lo cerita dengan santai biar kita juga enak dengerinnya.”

Ragas menghembuskan nafas,  “Tadi gue dimaki-maki dan di ruang Kepsek. Dibilang anehlah, usul gue nggak pentinglah, nggak ada hubungannya sama kegiatan belajar mengajarlah. Padahal keinginan gue untuk mengikutsertakan sekolah kita ke festival film independen antar SMA Se Jabodetabek ini kan buat angkat nama sekolah juga.” Ragas benar-benar menggunakan semangat ’45 menjelaskannya.

Memang ada alat untuk mengangkat nama? Mau angkat nama saja susah banget, pakai lomba segala. Sewa traktor saja, beres!

Gharin tanpa dikomando langsung bangkit dari duduknya hendak ngeloyor pergi.

Ragas berkoar lagi, “Lo mau apa lagi?! Mau bikin Kepsek babak belur terus buat gue tambah jelek karena mereka tahu, lo adalah teman gue? Sudahlah nggak usah sok pahlawan, Ghar! Basi banget!” lalu gantian Ragas yang berjalan meninggalkan kami.

“Sialan! Kenapa lo jadi marah sama gue? Mau dibantu salah, dicuekin juga salah. Kayak anak TK! Betina lo! Mau lo apa, huh?” Gharin mendadak kembali meladeni Ragas.

Gue dan Dika berdiri mematung dan terus mendengarkan percakapan Gharin kontra Ragas.

“Terserah mau bilang gue apa. Betina kek, banci kek. Mau gue  kalian nggak usah sok peduli. Coba tadi gue gak cerita. Apa kalian semua,” Ragas menunjuk kami dari jarak empat meter di depan, “masih mau peduli atau bantu gue?!”

*     *     *     *

 

Yang gue ingat itu awal, cikal bakal film ini bisa digarap. Usai kemarahan Ragas yang sempat membuat pertemanan kami kaku selama beberapa hari, akhirnya gue, Gharin, dan Dika, melakukan sesuatu.

Kami nekat merogoh tabungan masing-masing. Ya… sambil jual beberapa barang kami, semisal gitar, tape recorder, dan sepatu basket Nike terbarunya Dika. Hasilnya kami kumpulkan guna membeli sebuah handycam. Dan langsung kami serahkan pada Ragas. Sejak itu kami bertekad membuat film independen tanpa persetujuan sekolah.

Ternyata ketidaksetujuan pihak sekolah karena pertimbangan dana. Demi membuat film dibutuhkan banyak peralatan, minimal handycam. Ditambah tetek-bengek  peralatan pembuatan film lainnya, mulai kamera sampai dubbing suara, pasti bakal mengeluarkan kocek. Dan ternyata OSIS sedang mengalami sebuah permasalahan keuangan dengan pihak sekolah.

Berdasarkan yang diketahui Ragas, terdapat penyelewengan dana OSIS di sekolah. Ada penyedotan anggaran OSIS untuk kepengurusan selanjutnya oleh kepengurusan sebelumnya. Kkarena defisit itu, makanya OSIS dan sekolah menolak semua usulan Ragas, mulai ekskul sinematografi sampai lomba film, karena nggak punya anggaran buat membiayainya. Sekolah berdalih, mereka menolak ini karena usul ini kurang penting. Tapi yang bikin Ragas emosi, ia menyesal sudah tidak dalam kepengurusan OSIS lagi. Jadi dia nggak bisa tahu tentang duduk perkara yang sedetailnya.

Dan mengetahui masalah ini. Justru inilah yang kami angkat. Kami mengangkat sosok Ragas sebagai pemeran utama pula. Tapi kami mengemasnya bukan sebagai film dokumender. Butuh bantuan sebagai kontributor fakta di lapangan? Tentu saja.

Dialah Lea, teman sekelasku. Bendahara OSIS. Dua minggu sebelum pengumuman juara diberitakan, Lea di keluarkan secara resmi dari sekolah. Kami tidak? Jelas, bila itu sampai terjadi, kami bisa membentuk pemberitaan baru bahwa itu adalah kejadian nyata di sekolah kami. Habis sudah SMA Dian Kencana.

Betapa pintar dan muaknya kami pada Kepala Sekolah. Ia mengembangkan wacana publik, justru Lea yang menggelapkan pembukuan anggaran OSIS. Terakhir kami bertemu Lea, itulah hari terakhirnya di sekolah sebelum ia keluar. Yang dikatakannya adalah serentet kalimat yang kami kutip di film ini. Setelah itu Lea menghilang. Tanpa jejak. Kami masih mencarinya. Entah kemana ia dan keluarganya pergi.

Kami berdoa semoga jiwa-jiwa pemuda macam Lea, sekalipun ia seorang perempuan, akan terus terlahir penggantinya.

*     *     *     *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s