Menangislah Sebelum Dilarang

BAGI sebagian orang mendapati dirinya sekian lama tak pernah menangis akan jadi sesuatu yang ‘membanggakan’. Mereka menilai bahwa frekuensi menangis yang minim merupakan manifestasi ketegaran jiwa. Benarkah demikian?

Pada sebuah masa, hiduplah seorang pria yang begitu mulia dan dimuliakan. Nyatanya, pria yang terkenal tangguh itu lebih sering menangis daripada tertawa. Bahkan ia berkata, “Andaikan kalian mengetahui apa yang aku ketahui, tentu kalian akan lebih banyak menangis dan sedikit tertawa.” Dialah yang namanya diabadikan Al-Quran sebagai penyeru kepada kebenaran, dialah Muhammad saw.

Kerap kali tangisan dianggap sebagai kalkulasi kesedihan jiwa. Menangis terlanjur diindentifikasi sebagai milik mereka yang lemah hati. Padahal tidak demikian adanya. Seandainya tangisan tersebut berasal dari hati yang mengalami kesedihan dan duka lara, ini bukan berarti mereka yang menangis tengah mengalami sakit di kedalaman jiwanya.

Kemudian pertanyaannya, Menangis seperti apa yang dapat mencerahkan jiwa? Dan apakah setiap tetes air mata yang mengalir sama dengan tangisan?

Tak bisa dipungkiri bahwa tawa dapat memiliki sejuta manfaat, terlebih dari segi kesehatan. Begitu banyak literatur soal ’keajaiban’ tawa yang diteliti para ahli. Sebaliknya, kajian mengenai signifikansi tangis sangatlah jarang. Mungkin disebabkan karena persoalan menangis dan air mata lebih sering dipandang dan dibaca secara pesimis. Islam cenderung mengajarkan agar lebih banyak menangis dan mengeluarkan air mata ketimbang humor dan tertawa berlebihan.

Hal terpenting untuk digaris bawahi adalah semua memiliki waktunya masing-masing. Ada masa di mana kita harus menyunggingkan senyum, terlihat riang, bahagia, tersenyum, dan tertawa. Namun, ada waktu pula di kala kita justru mesti mencampakkan dulu segala hal simbol kebahagiaan itu. Yakni, di saat kita harus merenung, mentafakkuri diri, dan menumpahkan air mata.

Bermanfaat atau tidaknya menangis adalah dari pilihan individu bersangkutan. Dr. W.M. Roan berkata, ”Jadi dalam hal ini menangis dan tertawa masing-masing bisa dibedakan secara nuansa yang asli, naluriah, spontan, menuju ke yang tidak spontan, dibuat-buat, sampai yang palsu. Kalau seseorang tertawa dalam proporsi yang benar itu artinya sehat. Tapi kalau terlalu banyak tertawa, justru sebaliknya.”

Dalam surat At-Taubah (ayat 81-82) diutarakan, ”Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut berperang) itu, merasa gembira dengan duduk-duduk diam sepeninggal Rasullulah, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, dan mereka berkata : ’Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini.’ Katakanlah (Muhammad): ’Api neraka jahannam itu lebih panah,’ jika mereka mengetahui. Maka biarkanlah mereka tertawa sedikit dan menangis banyak, sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan.”

Tentu tak semua tangisan bernilai. Tangis yang berakar dari ruhani adalah salah satu yang bernilai sebagaimana yang dimaksud dalam tulisan ini. Wujud tangisan yang berasal dari ruhani ialah tangis penyesalan dan mohon ampunan. Air mata macam ini sepatutnya kerap kita lakukan sebagai kompensasi atas segala keburukan yang sering dilakukan. Sebagai gantinya kita wajib senantiasa memohon ampunan atas hal tersebut dengan merenungi diri hingga tak terasa air mata telah berjatuhan.

Sejatinya, perenungan diri hingga menghasilkan butiran air mata tidak serta merta dapat terjadi begitu saja. Jika ’rasa’ kita sebagai manusia tak sampai menghendaki untuk menangis maka tangisan itu pun takkan pernah terjadi. Sekeras apapun dipaksa tidak akan pernah terjadi jika emosi tidak mendorongnya. Perasaan hanya bisa dikendalikan diri sendiri.

Pada dasarnya sekeras apapun hati seseorang pastilah ia pernah menangis di dalamnya. Bahkan kerap kali tangisan di dalam hati lebih dahsyat daripada keluarnya air mata.

Tapi nyatanya banyak orang bisa berbicara tentang Tuhan namun tak mampu menghadirkan cinta Tuhan ke dalam dirinya. Banyak manusia bisa mencintai materi, jabatan, dll tetapi mereka tidak bisa mencintai Tuhan. [*]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s