Menyentuh Langit (Chapter 1)

Chapter 1

“Menurut lo Tuhan itu ada di mana?” tanyaku sambil menyeruput teh melati hangat dalam gelas di tangan.

Ini dia rutinitas yang sebentar lagi bakal selalu kurindu untuk melakukannya di waktu senggang: minum teh di warkop samping kampus. Namanya Warkop alias Warung Kopi, tapi yang selalu kupesan di sini ialah teh melati hangat dicampur gula batu dengan perpaduan imbang air panas dan dingin 50 % : 50 %. Seandainya skripsiku dapat kelar dalam kurun waktu empat bulan ke depan tentu setelahnya aku tak akan lagi bisa sering ngaso di sini.

Teman yang duduk di sampingku terlihat kebingungan, sesaat, memikirkan pertanyaanku barusan. Kiranya ia sibuk menggali zona abu-abu dalam otaknya guna mencari jawaban. Buktinya dia, yang sejak tadi sibuk memberi makan semut peliharaan dalam Tamagochi, sontak menghentikan permainannya.

“Mmm…Tuhan? Tuhan selalu menyertai hambanya kan? Di mana pun dan apa pun yang kita kerjakan, Tuhan pasti tahu. Dia ada di mana pun kita berada. Dia dekat dengan kita,” sejatinya ia sendiri tak yakin jawabannya memuaskan, aku yakin betul soal ini.

Benar dugaan tersebut. Sebagai si penanya, aku malah girang mendengar jawaban itu. Seperti dapat pertanyaan lanjutan.

“Kalau menurut lo Tuhan ada di mana pun kita berada berarti Tuhan di mana-mana. Kalau begitu Tuhan lo banyak dong? Kalau Tuhan lo ba…”

Sebelum kalimatku, Sang Penikmat Teh Melati, kian liar dengan alur pikir yang semerawut, kawanku itu lantas memotong, “Udah-udah. Jangan mulai karakter lo yang suka dikte orang itu deh. Sebel gue. Mending kita cabut aja yuk! Ada acara bagus nanti malem di Teater Salihara, sekalian liputan kita.”

Kawanku tersebut langsung menyampirkan jaket ke bahu kemudian melepaskan tempelan bokongnya dengan kursi. Sedangkan aku cuma bisa menerima ajakannya.

Heran, jadi orang kok anti diskusi? – batinku.

“Ce’ teh manis hangat satu sama kopi satu. Nih duitnya goceng ya. Kembalinya tabung aja buat besok jajan lagi. Makasih,” kami lantas ngacir menuju Jupe, nama motor Jupiter MX kawanku ini.

*    *     *     *

 

Katanya populasi di dunia ini ada sekitar miliyaran manusia. Saya, Anda, ibu saya, bapak saya, guru ngaji saya sewaktu kecil, tukang ledeng di kampus, Ece’ Warkop, Paung tukang jaga warnet, Raka, Saga, dan Firman (pemilik motor Jupiter MX yang kerap saya tumpangi ini) serta manusia-manusia lain di sekeliling kita merupakan bagian dari populasi itu pula.

Ada yang dapat julukan born to be famous also to be rich. Ada pula yang mendapat achievement role, pula mereka yang hidupnya datar (lulus sekolah, kerja, jadi PNS, menikah, punya anak, pangkat tak kunjung naik, pensiun, punya cucu, dan berakhir di liang lahat). Saya sendiri termasuk yang mana? Entahlah, masih suram.

Umur sudah masuk tangga ketiga di masa duapuluhan. Tapi belum ada sesuatu hebat yang pernah saya hasilkan. Padahal di televisi, koran, majalah, buku pelajaran, bahkan poster-poster di pinggir jalan sepertinya banyak anak muda yang telah bisa mencapai ‘sesuatu’ di usia muda. Entah itu jadi artis, pengusaha muda, juara olimpiade, penulis, bahkan calon anggota legislatif.

Tapi saya… masih begini saja. Flat.

Pernah, pada suatu hari saya coba membayangkan lima belas tahun kemudian sudah saya menjadi sosok hebat seperti yang ada di rubrik Sosok Harian KOMPAS. Entah apa yang saya lakukan hingga bisa mewujudkan itu. Kata Firman, ‘Ah, itu sih impian babu namanya!’. Sarkasme yang sangat pedih! Menusuk! Dasar anti diskusi!

Di lain hari saya merasa sungguh bangga. Ketika tengah membuka buku pelajaran fisika sewaktu SMA –lupa bab berapa– saya menemukan sosok laki-laki dalam sebuat foto. Namanya Max Karl Ernst Ludwig Planck, susah melafalnya. Bangga bukan kepalang melihat pria-botak-tanggung berkumis subur itu. Dia hebat!

Dia orang Jerman. Saya membayangkan dirinya waktu muda mungkin setampan Miroslav Klose. Tepatnya dia adalah sarjana Fisika. Ia tersohor berkat hukum pancaran yang dikemukakan. Isinya menyoal suhu yang dihubungkan dengan panjang gelombang dan laju radiasi. Yang menakjubkan, berbekal bantuan hukum ini akhirnya bisa diketahui suhu permukaan bintang. Superb!

Tahu tidak kenapa aku bangga nian pada orang ini? Karena tanggal lahir kami sama. Adalah 23 April 1858 (tapi tahunnya beda). Sayangnya, beliau sudah wafat pada 4 Oktober 1947, dua tahun setelah Indonesia merdeka.

Perbedaan kami paling tidak hanya seputar lokasi menyambung hidup. Dia terlahir sebagai orang Jerman, tepatnya di Kiel. Sedang diriku keturunan asia dengan kulit sawo matang yang lahir di Bogor. Yaaah.. setidaknya ternyata di luar sana ada orang sukses nan luar biasa yang tanggal lahirnya sama denganku. Hebatkan? Nanti, suatu hari kelak aku akan ke makamnya di Jerman.

 

“Tanda tangan dulu Lang,” Firman menyikutku.

Aku tersentak beberapa saat. Pria krisye (keriting syebel) satu ini memang kenal beberapa orang penting di Teater Salihara, markas komunitas Salihara, yang bernaung di jalan Salihara, Pasar Minggu.

Sejak tiba aku asik menyimak tiap sudut bangunan di sini. Sangat nyaman dan cukup artistik. Aku suka!

Kuturuti perintahnya menandatangani daftar hadir.

“Kita nggak bayar?”

“Acara di sini banyak yang gratisan. Mana mungkin gue ngajak elu ke acara yang ada HTM-nya. Udah elu anak jurnalis amatir kere, gue juga gak jauh beda,” ujarnya bisik-bisik.

“Dasar manusia anti diskusi!” cibirku. “Ngomong-ngomong kita mau ke acara apa sih?”

Kami terus menyusuri tangga ke lantai dua. Menuju galeri Pointilisme. Aku tahu nama itu dari Firman yang menunjuk papan arah di depan tadi.

Setahuku, Pointilisme itu berasal dari sebuh sebutan teknik melukis. Karena dalam cara melukis pointilisme ini warna yang dipakai berbentuk titik-titik, point = titik.  Tapi kenapa nama itu yang dipakai? Entah.

“Ada pementasan opera sama pameran foto,” jawabnya sambil mengeluarkan Canon D40.

Sepertinya acara ini akan membosankan. Buktinya tidak ada orang sama sekali yang berlalu-lalang di sekitar kami demi menuju lokasi yang sama. Sepi!

Sesampainya kami di depan pintu cokelat bergagang dan bersisi dua, ada seorang keamanan mengenakan baju hitam menghadang. Ia menunggui meja daftar hadir.

“Absen dulu, Mas,” sambutnya pada kami.

Secara alamiah aku mengikuti perintah dia.

Saya salah kaprah! Di dalam ruang ini sudah penuh. Kursi padat nyaris tak ada yang kosong. Sudah ada ramai-ramai di panggung. Saya menangkap sesuatu: kami datang terlambat. Pantas di luar sudah sepi.

Kami sempat celingukan beberapa detik. Pandangan cukup terbatas di dalam ruangan remang ini. Hanya sorot cahaya dari pentas yang menyala. Sisanya gelap. Di antara jejeran kursi penonton yang bentuknya menurun seperti dalam bioskop ini, aku dan Firman keteteran mencari dua tempat kosong untuk kami jajah.

“Di sana, Man!” Raka mengikuti arah tanganku.

“Permisi, permisi, permisi, permisi…” aku dan Firman terus mengucapkan itu sambil menuju tempat kosong incaran kami.

“Untung masih sisa kursinya,” gumam Firman.

Lima menit berlalu dan aku belum menemukan titik koherensi saraf otak dengan jalan cerita yang dimainkan. Aku tak pernah selemot ini menonton film sejauh apapun ketinggalannya. Tapi ini opera! Selama ini yang kutahu cuma Opera Van Java yang isinya Sule, Parto, dan Andrei Taulani.

“Lo ngerti kagak?” bisikku pada Firman.

Tak ada jawaban.

Satu menit..

Dua menit..

Lima menit..

“Man, ini ceritanya apaan sih?” kuulangi dengan pertanyaan lain.

Kutengokkan kepala pada Firman. Dalam keadaan remang aku masih dapat melihat dengan cukup jelas apa yang dilakukan rekan sejawatku ini. Firman tengah bersandar pada kursi. Tangannya bersedekap didepan dada (mungkin suhu ruang ini terlalu dingin baginya). Kameranya dengan manis bertengger di depan dada. Yang paling parah: matanya terpejam.

Sialan manusia ini! Kenapa dia malah tidur? Jauh-jauh datang dan yang dikerjakannya justru tidur? Dasar manusia paling anti dialektika!

Aku bersungut-sungut. Secara otomatis bibirku manyun dengan sendirinya. Berkali-kali kucoba mengikuti alur cerita, tapi tak satupun yang bisa kupahami. Opera klasik, itu nama jenis pementasannya. Raka hanya menjelaskan sebatas itu.

Arti opera saja aku tak tahu. Apalagi bedanya opera modern dengan yang klasik?

Sepertinya cerita di panggung sana mengambil latar jaman kerajaan nusantara kuno. Agaknya, menyangkut kerajaan di tanah jawa. Entahlah, aku sudah putus asa. Jam di sudut layar ponsel menunjukkan pukul setengah empat sore. Tahu begini lebih baik cari bahan skripsi saja di perpus. Firman akan kucincang nanti! Lihat pembalasanku kisanak!

Sesekali orang tepuk tangan. Aku jadi pengekor, semoga tak nampak seperti alien.

 

 

“Kok nggak membangunkan gue, Nyet? Tega banget lo. Gue kan jadi nggak nonton ceritanya.”

Aku tak menjawab. Makin mempercepat langkah.

“Lang, Langit, tunggu! Lo haus? Kok diam saja? Beli minum yuk.” Firman mengikuti irama kakiku yang kian cepat.

Aku tetap tutup mulut.

“Halo?” dia menerima telpon.

“Ente di mana?”

“Oke. Tunggu di sana ya. Ane ke sana sekarang,” percakapan ditutup.

 

Aku terus berjalan menuju lantai dasar tanpa sepatah kata keluar. Tiba-tiba Firman melingkarkan lengannya di leherku. “Ikut gue dulu yuk!” katanya.

Kali ini aku terpaksa buka suara. “Mau kemana sih?”

“Sudah.. ikut saja!”

Rupanya ia membawaku menuju halaman belakang gedung ini. Ada sebuah kantin. Mmm…. Sepertinya lebih tepat disebut kafe mini. Beberapa meja terisi penuh. Ada yang hanya sekedar menghabiskan puntung rokok. Ada pula yang berbincang sekaligus makan sore.

Aku mengikuti Firman menuju sebuah meja di sudut kanan kafe ini. Seorang laki-laki tengah asik menatap layar laptop. Bisa kutebak, paling juga dia tengah asik hotspot. Beberapa orang lain kuperhatikan juga melakukan hal yang sama. Asik sekali punya laptop, ada area hotspot di mana saja bisa langsung terkoneksi dengan jagad internet.

Firman menatapku sejurus memberi sinyal agar mengikuti apa yang dilakukannya: duduk. Pas sekali. Ada dua kursi kosong di sini, setidaknya si krisye ini tak perlu memangku beta.

“Serius banget,” Firman memulai obrolan.

Laki-laki di depanku, berambut ikal dengan kaca mata persegi empat membingkai di atas tulang hidung. Ia mengenakan kaos merah marun bergambar wajah Che Guevara. Ia spontan mengalihkan konsentrasi pada orang-orang di depannya. Dan mengulurkan tangan pada Raka. “Hai, Man.. Akhirnya kita ketemu lagi ya,” sapanya.

Firman tersenyum. Ia tenyata masih cukup pintar untuk menangkap keadaan yang ada. Selanjutnya dia memperkenalkanku.

“Kenalkan.. ini langit mendung.”

Tak perlu komando langsung kutinju perut Firman. Aku mengulurkan tangan pada Mas-mas ini.

“Nama saya Langit Senja Pristiwa. Panggil saja Langit atau Elang,” ralatku sigap.

Kena kau nanti Krisye!

“Haa… ha.. haaha…” orang ini tertawa riang. Sebelah mana lucunya?

“Saya Pram,” imbuhnya seraya menjabat kembali tanganku.

Kami seling lempar senyum perkenalan.

Firman, lantas orang ini siapa?

“Lang, Pram ini yang jadi pemeran utama di pertunjukkan tadi. Inget kan?”

Pertunjukkan yang mana? Aku saja tidak mengerti ceritanya. Mana mungkin ingat para pemerannya. Heh, lupa ya.. lu sendiri kan tidur?! – protesku dalam hati.

Aku mengangguk. Semoga saja tak ada tulisan bohong di jidatku.

“Tadi permainannya bagaimana, bagus nggak?”

Awesome!” tukas Firman.

Dasar kau pembohong ulung!

Pram tersenyum. “Terima kasih,” katanya.

“Pram, nama lo sama dengan nama temen saya.” Pernyataan barusan namanya trik jitu mengalihkan pembicaraan.

“Masa?”

“Iya.. tapi saya rasa lebih intelek situ ketimbang temen saya itu.”

Kami tertawa. Terima kasih Tuhan..

Anyway, jadi ada apa ini sampai ane diburu-buru ke sini?” sambung Firman.

Aku menyibukkan diri memperhatikan sekeliling. Hah, mau pulang rasanya. Firman hampir buatku mati garing.

“Saya punya undangan pameran fotonya Rahmat Kuncoro. Ingat nggak, teman yang saya kenalkan ke ente waktu di Jogja itu?”

Raka mengangguk.

“Nah, dia buat pameran foto. Bukan pameran tunggal sih. Tapi fotonya cukup banyak juga. Kebetulan kali ini pamerannya di Jakarta. Jakarta kota terakhir, sebelumnya dipajang juga di Bandung dan pastinya di Jogja. Kalian datang ya.”

Sepertinya makhluk di sampingku ini antusias sekali. “Pasti. Kita pasti datang, iya kan, Nyet?” (Sapaan akrab Firman padaku adalah Monyet. Katanya semakin dimonyet-monyetin artinya semakin sayang)

“i.. iya, pasti!” memaksakan senyum.

“Terima kasih banyak Pram. Sudah diundang kemari, diajak lihat pameran foto pula. Tapi mohon maaf banget, kita nggak bisa lama-lama nih. Dia,” Firman menunjukku pada hidung, “mesti siap-siap sebelum ‘mangkal’”.

Aku cuma mampu nyengir kuda. Perjalanan yang sangat tidak berguna.

*     *     *     *

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s