Menyentuh Langit (Chapter 2)

Chapter 2

Aku baru menginjak usia tiga belas kala itu. Masa saat baru mulai belajar dan mempelajari hidup. Aku belajar dan berusaha mengerti bahwa kerap apa yang kulihat tak selalu yang sebenarnya.

Aku juga mempelajari bagaimana hidup berkompromi dengan keadilan dan kebenaran. Tidak ada keadilan yang mutlak kecuali peradilan Tuhan dan kebenaran yang paling hakiki hanyalah ketidakbenaran itu sendiri.

Rasanya ingin berteriak sekeras mungkin sampai pita suara dan leher putus. Bak dikelilingi kegelapan, karena aku tak bisa melihat apapun. Yang nampak di hadapan hanya kegelapan tiada berujung.

Pengap! Seperti berjalan dalam ruang hampa udara. Tak ada sedikitpun kebisingan merambat lewat angin hingga sampai di gendang telinga. Aku seperti orang tuli. Tak mampu mendengar apapun, kecuali kalimat makian. Itupun hanya di dalam hati. Lidah dan tenggorokan seolah baru menelan air raksa, seluruhnya kelu.

Kala itu aku baru pulang sekolah. Seingatku waktu itu hari terakhir MOS (Masa Orientasi Siswa). Akhirnya kurasakan nikmatnya eforia jadi remaja. Waktu yang kutunggu-tunggu.. masa saat kutanggalkan seragam putih-merah sebagai kenangan dan mengenakan putih-biru sebagai pakaian resmi. Kebahagiaan makin lengkap karena aku dapat lolos seleksi di SMP impian.

Aku berjalan dengan penuh semangat, abai pada kumparan jarum mesin waktu sakudi tangan. Lelah yang menimpa tubuh selama tiga hari belakangan hilang tak bersisa. Langkah kaki dipercepat agar selekas mungkin tiba di rumah dan segera memamerkan seragamku ini pada Mba Alia.

Tak peduli dengan tatapan aneh –dan sesekali mengejek– yang dilemparkan hampir tiap orang yang sore itu berpapasan di jalan. Mereka pasti pikir aku orang gila. Betapa tidak, kostum ini lebih membuatku mirip ondel-ondel ketimbang pelajar SMP.

Mulai dari sepatu yang beda warna hingga kaki diselimuti kaos kaki bola yang sempurna melapisi sampai betis. Kalau kurang aneh, bahkan ada jengkol, wortel, dan ketimun yang dirangkai dengan tali raffia hingga menyerupai kalung dan kugantung di leher. Ikat pinggangku tak kalah nyentrik karena terbuat dari tali raffia dan kedua ujungnya digantungkan kaleng bekas susu kental manis yang di dalamnya terisi batu, sehingga kalau jalan akan mengeluarkan bunyi lonceng. Tak cukup sampai di situ, kedua tangan pun dibalut sarung tangan khas pekerja bangunan. Terakhir, karung goni menggandul di punggung berperan sebegai tas.

Perjalanan sore itu hampir tuntas tatkala memasuki portal komplek perumahan. Aku tak langsung pulang. Kaki beralih menuju rumah sederhana bercat cokelat yang  mengelupas di sana-sini. Pagarnya berkarat sehingga kalau dibuka akan  mengeluarkan derak yang bikin ngilu.

“Raraas!” teriakku di depan pagar.

Keluarlah seorang ibu mengenakan daster dengan rambut separuh beruban yang diikat tusuk konde.

“Rarasnya nggak ada Lang, lagi main sama Mba Alia,” balas ibunda Raras dari depan pintu rumah.

“Kalau begitu aku langsung pulang aja deh. Daaa ibu..”

Seketika itu kupalingkan tubuh, segera menuju rumahku.

Raras adalah sahabatku. Rumah kami berdekatan namun beda gang. Ia anak perempuan kurus, berambut seperti ijuk. Kulit Raras coklat sepertiku namun matanya sipit. Ia keturunan Tionghoa-Manado. Dia sebenarnya manis seandainya dia tidak dekil seperti waktu itu. Walau begitu aku sangat menyayanginya.

Raras dan ibunya adalah orang yang sangat berjasa dalam proses mengeluarkanku dari keterpurukan saat berumur delapan tahun silam. Masa-masa setelah kusaksikan kecelakaan yang merenggut nyawa ibuku. Ia tertabrak mobil saat hendak menyeberang bersamaku di depan portal tadi.

Tubuh ibu terseret beberapa meter dari tempatku berdiri. Sejak itu aku jauh lebih pendiam. Sewaktu bapak kerja dan Mba Alia sekolah, aku dititipkan di rumah Raras. Begitulah singkat cerita.

Sesampainya di rumah kuniati untuk mengagetkan Mba Alia dan Raras. Karenanya aku masuk ke dalam rumah dengan mengendap. Dan seperti biasa.. pintu tidak dikunci. Kubuka pintu perlahan. Seluruh pernak-pernik aneh tadi sudah dilepas dan kutinggalkan di teras. Aku masuk ke dalam hanya mengenakan kaus kaki.

Ruang tamu kosong begitu pula ruang tengah, tapi tv menyala. Berarti mereka sedang bermain di kamar, pikirku. Aku masuk ke kamarku di samping ruang tv tapi di sana tak ada siapapun. Pasti mereka main di lantai dua tepatnya di kamar Mba Alia, kata batinku lebih lanjut. Kaki ini segera menyusur tangga. Sebisa mungkin langkahku tak mengeluarkan suara.

“Ah.. Mba..” aku dengar suara Raras tepat dari dalam kamar Mba Alia.

Aku mendekati kamar itu, pintunya seperempat terbuka. Dalam otakku aku akan segera berteriak di depan pintu kamar, “Horee MOS sudah selesai!”. Tapi sekali lagi, itu hanya ada direkaman otakku.

Saat mulut telah menganga hampir meneriakkan kalimat tadi, seketika itu pula aku tak mampu bersuara. Hanya mematung di depan pintu. Tanganku reflek mendorong pintu kamar itu agar terbuka seutuhnya.

Bila seorang laki-laki dewasa melihat apa yang kulihat waktu itu mungkin dia bisa langsung mengerti apa yang sedang terjadi dan memberi penjelasan mengenai itu dengan gamblang. Tapi saat itu umurku baru tiga belas tahun.

Sampai detik  ini, saat mengenang kejadian itu lagi masih sulit bagiku untuk menjelaskannya. Bingung kata-kata apa yang harus kupakai untuk menggambarkan.

“L.. L.. Lang?” Raras mengucapkan namaku lirih.

Mba Alia menoleh dan ikut memandang apa yang tengah ditatap Raras. “L.. Langit?” ucap Mba Alia kemudian.

Mereka berdua ada di atas tempat tidur. Mba Alia yang tadinya membelakangiku sekarang menghadapkan tubuhnya padaku. Aku bisa dengan sangat jelas melihat dirinya. Mba Alia hanya mengenakan pakaian dalam wanita tanpa baju sedikitpun, namun ia.. ia tak mengenakan pakaian dalam bagian bawah sama sekali. Sedangkan Raras hanya dibungkus kaus singlet. Sama seperti Mba Alia, ia tak memakai pakaian dalam bagian bawah.

Mereka terperangah menyadari kehadiranku. Tapi aku yang lebih terperanjat. Bibirku gemetar. Tak mampu bicara sepatah huruf pun. Sempat kulihat keduanya tengah… Tuhan, aku tidak sanggup untuk melanjutkannya!

Mba Alia menarik selimut dan hendak menghampiriku. Ketika ia sedang membalut tubuhnya, aku segera berpaling muka. Tak berlari, aku cuma berjalan normal. Masih tidak mengerti apa yang barusan kusaksikan. Kaki gemetar seolah tidak menyentuh tanah.

“Langit!” Mba Alia menarik lenganku. Mata kami beradu dalam jarak 100 cm.

Tak kujawab. Aku menatap kosong. Kulepaskan genggaman Mba Alia lantas melanjutkan langkah menuju tangga. Saat menginjakkan kaki di anak tangga, Raras menarik bahuku.

“Lang!” dan aku masih memberi respon sama seperti yang kulakukan pada Mba Alia, menatap Raras datar.

Kejadian berbulan-bulan setelah itu nyaris sulit kuingat lagi. Aku seperti mayat hidup, sadar tapi isi otakku koma. Sekian bulan kemudian aku tahu sesuatu. Dalam usia yang masih belia aku telah berkawan dengan kata ‘Lesbian’.

Mba Alia memiliki sahabat yang sejak SMP di kenal, namanya Kak Risty. Mula-mula kupikir mereka benar teman dekat tapi belakangan aku tahu mereka berdua pasangan sesame jenis. Karena sedang tak bisa melampiaskan dorongan seksnya pada Kak Risty, ia melakukannya dengan Ra-Raras, sahabatku!

Mengetahui hal tersebut tentu Ayahku sangat terpukul. Beliau meninggalkanku tiga bulan setelah kejadian itu kusaksikan. Sempurnalah seorabg langit menjadi sebatang kara.

Masa remaja keras yang mesti kuhadapi tak berhenti sampai disitu. Mba Alia pada akhirnya menderita gangguan jiwa, terlebih setelah menghilangnya Risty usai kejadian tersebut.

Sedangkan Rarasku… mula-mula kutemukan ia sedang membakar foto Mba Alia di halaman belakang rumah. Sejak saat itu ia setiap hari pasti ada saja kertas yang dibakarnya. Di benaknya semua kertas itu berisi potret wajah Mba Alia. Makin lama jiwanya makin kacau. Yang terparah ialah waktu Raras nekat membakar kamar tidurnya yang menghanguskan separuh isi rumah.

Belakangan dokter memvonisnya menderita penyakit Piromania. Nama lainnya ‘gila api’. Adalah, kelainan jiwa yang menyebabkan penderitanya selalu merasa ada dorongan untuk membakar rumah, dll. Dengan melakukan hal itu ia seperti merasakan kenikmatan seksual. Hingga kini Raras mendekam di balik teralis rumah sakit jiwa. Rarasku bak bunga layu..

*     *     *     *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s