Menyentuh Langit (Chapter 3)

Chapter 3

Mentari belum terasa menusuk kulit. Masih cukup segar dipakai jemur baju, olahraga, cuci piring, atau sekedar berjemur (khusus bagi para bule). Pagi ini cuaca kurasa cerah.

Awan biru terhampar luas selimuti langit. Tak hanya langit yang menaungi Jakarta, kotaku, melainkan pula yang tengah berdiri menanti angkutan umum di kolong flyover di bilangan Pasar Rebo, Jakarta Timur.

Langit yang ini sedang berdestinasi ke sebuah universitas di sekitaran LA. Daerah itu disebut LA tapi bukan Los Angeles melainkan Los Angeles-nya Indonesia alias Lenteng Agung.

Seperti nama Benhil. Pertama kali dengar nama tersebut, kupikir itu nama kota di luar negeri. Tak tahunya kependekan dari Bendungan Hilir.

Langit yang ini kulitnya tidak berwarna biru melainkan sawo matang. Matanya seperti kacang almond. Dan ia tak lain adalah laki-laki, 22, dengan rambut ikal yang menyertai sejak lahir.

Akulah orang yang dibicarakan itu. Saat ini masih terdaftar sebagai mahasiswa di Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) jurusan Jurnalistik semester akhir. Aku adalah salah satu produk ciptaan Tuhan yang selain menjadi akademisi juga tercatat sebagai anggota Lembaga Pers Mahasiwa (LPM) serta pengajar di rumah singgah anak jalanan. Trotoar Foundation, nama LSM sekaligus rumah singgah anak jalanan tersebut.

Di samping itu, akupun freelancer pianis di De’ Qhoranz Café. Termasuk juga sebagai reporter magang di Majalah Bingkai Keadilan sekaligus merangkap  sebagai Dewan Penasihat salah satu bulletin kampus, AKSARA.

Kota Bogor pada 23 April 1986 silam jadi tuan rumah kelahiranku. Waktu itu sepasang pasutri muda, Herman Lantang dan Aisyah Lintang Tenggara, merayakan kelahiran anak kedua mereka penuh syukur. Segenap doa dan harapan dihibahkan ke bahu bayi laki-laki mungil tersebut. Tepat pukul satu dinihari akhirnya aku menghirup udara dunia.

Mengenang kejadian traumatis pada waktu subuh, sehari sebelum persalinanku, kala itu rumah kami digusur, kemudian Herman dan Aisyah manamaiku Langit Senja Pristiwa. Kuketahui itu bukan dari bibir keduanya tapi dari cerita kakakku, Alia.

Kini mereka semua sudah mangkat. Tapi setiap kali kudengungkan nama Herman Lantang, aku jadi bangga. Namanya sama dengan salah satu kawan Soe Hok Gie, aktivis tahun 1960-an. Tapi Herman, ayahku, tentu orang yang berbeda.

Masa-masa remaja yang keras membuatku jadi pribadi yang lebih irit kata dibandingkan orang lain. Selalu kuterapkan prinsip tentang kepemimpinan dalam hidup, akulah pemimpin bagi diri sendiri. Takkan pernah kukorbankan hal-hal prinsipil untuk sesuatu yang kacangan.

Memoar mengerikan yang telah lalu itu buatku jadi menganggap perempuan layaknya parasit. Bukankah hidup adalah kompleksitas satuan-satuan pemikiran?

Kukenakan kaos lengan pendek berkerah putih diselingi garis-garis hitam, dan celana jeans biru dongker lengkap dengan sepatu kets buluk. Di punggung ada ransel dengan tulisan NIKE yang cukup besar di bagian depannya. Tas yang kubeli seharga 35 ribu sebulan lalu di Blok M.

Pagi ini aku menjelma jadi pribadi lain. Jarang sekali akut mengerutkan alis dan kening, merasa gusar. Seperti ada orang yang kutunggu namun tak kunjung tiba.

Oke, sejujurnya aku memang sedang menunggu seseorang. Sosok yang sama sekali tidak kukenal dan tidak pernah kutahu siapa namanya atau di mana rumahnya. Tapi yang kutahu, kami satu kampus.

Sekitar 15 menit di sudut perempatan jalan tempatku biasa menunggu angkutan umum. Spot kecil yang awalnya padat kini tinggal diisi tiga orang bapak-bapak, dua pengamen, satu orang penjual koran yang biasa mangkal, serta seorang penjual gorengan yang kebetulan mampir.

“Ck!” ini kali kedua mendecakan lidah sambil melirik jam tangan. Dan dilanjutkan dengan kepala yang kembali menoleh ke kanan-ke kiri.

Yang pasti sikapku hari ini bukan karena angkutan yang biasa kunaiki belum kunjung tiba. Bahkan, dua menit yang lalu sudah ke tiga kalinya mobil umum bercat merah yang biasa kunaiki itu, berlalu.

Kumundurkan kaki satu meter ke belakang.

“Belum berangkat?”

Nyaris tersedak mendengar pertanyaan tiba-tiba di gendang telinga itu. Spontan menengok pada sumber suara. Seorang remaja, sekitar 18 tahun, tengah duduk di kursi plastik. Matanya sekejap kembali pada koran yang sedang dijajakkannya.

Namanya Ujang. Entah siapa nama aslinya tapi orang-orang memanggilnya Ujang. Dialah penjual koran yang selalu mangkal di sekitar sini.

“Iya..” jawabku seadanya.

“Masuk jam berapa?” sambung Ujang.

Untuk ketiga kalinya kulihat jam tangan, “Jam sepuluh,” kataku.

Ujang balas mengangguk. Lantas ia kembali pada kesibukannya. Kuhampiri Ujang yang sedang duduk santai dengan bangku plastik di samping jejeran koran-korannya.

“Jang..” kataku lirih.

“Kenape?”

“Suka liat perempuan tunggu bis di sini? Nunggunya sering bareng saya. Rambutnya lurus sebahu, sering pakai tas slempang warna coklat,” entah siapa nama orang itu.

“Yang mana?” Ujang nampak memutar bola matanya.

“Yang sering bareng saya tunggu bis di sini,” kucoba beri penjelasan lebih lanjut.

Mungkin Ujang sedikit bingung, atau malah tambah bingung, saat kukatakan perempuan itu sering menunggu bus bersamaku. Biasanya ada lebih dari lima orang yang berdiri disini bersama saya. Tapi kalau seorang puan terlebih dengan ciri-ciri tadi mungkin Ujang dapat mengingatnya lebih mudah.

Ujang memutar-mutar bola mata. “Ooh yang kadang-kadang suka numpang baca majalah di sini?” tebak Ujang.

Sekarang malah aku yang bingung. Mencoba lebih mengingat tentang ‘kadang-kadang; yang disebutkan Ujang. Mungkin saja itu salah satu kebiasaannya yang luput dari ingatanku.

Selang empat detik, “Iya, yang sering numpang baca majalah cewek tapi yang dibeli koran bola. Iya Jang, dia!” seruku bersemangat.

“Kalau dia gue nggak tau dah. Sudah beberapa hari nggak nongol. Selama lo libur kuliah, kalau nggak salah dia juga nggak nongol ataupun beli koran. Biasanya sih dia beli koran setiap hari,” jelas Ujang.

“Memang kenapa?” imbuhnya.

“Ng-nggak apa-apa.”

Pandangan mata ini menerawang ke mana-mana, sama halnya dengan otak. Jika ada yang menatap wajahku dari jarak 25 senti akan terlihat jelas betapa diriku tengah memikirkan sesuatu. Aku cuma bisa kembali memandang berkeliling, memastikan apa yang dicari dan ditunggu memang tak datang.

“Lenteng, Depok, Lenteng, Depok…!” teriakkan seorang kondektur metromini yang berhenti di hadapan buyarkan lamunanku.

Segera kukejar bus itu sebelum terlambat sampai kampus. “Tunggu Bang! Tungguu!!” pekikku seraya berlari mengejarnya.

Nelangsa.

 

Kuliah pertama sudah rampung. Kususuri koridor kampus yang panjang ini. Melintas dan bersisipan dengan berbagai jenis mahasiswa/i. Satu jam lagi ada kuliah kedua tapi lebih dulu ada rapat AKSARA.

Buletin ini sudah ada sejak empat tahun lalu. Pertama aku masuk kuliah, AKSARA baru merintis karir. Waktu baru gabung aku menduduki jabatan kontributor. Setelah UTS (Ujian Tengah Semester) semester 3, aku menjadi reporter yunior. Hingga kini sudah empat kali aku ganti jabatan. Mulai dari reporter lapangan, penyunting, pemimpin redaksi, dan sekarang Dewan Penasihat artinya aku tak lagi berwenang mencampuri dapur redaksi, hanya memberi masukan.

Di awal karir AKSARA kurang dapat respon. Setelah dua tahun terakhir, diawali keberanian kami menampilkan kritik dan pertanyaan pedas pada petinggi-petinggi kampus, akhirnya bulletin ini mulai diperhitungkan. Pernah ada satu masalah yang dulu selalu ditutup-tutupi dan berhasil kami ungkap. Adalah, manipulasi nilai ujian semester yang dilakukan satu fakultas.

AKSARA bukan satu-satunya penerbitan pers di kampus. Ada sekian media lain baik yang berbeda genre juga yang sejenis. Tak ada penerbitan pers resmi yang dinaungi kampus. Karenanya Lembaga Pers Mahasiswa di kampusku berlenggang sebagai payung bagi media-media tersebut. Sederhananya, LPM berlakon seperti Dewan Pers.

 

“Langit!” ada satu suara yang cukup familiar di telinga ini, memanggil.

Aku menoleh. Mahasiswi mengenakan t-shirt bergambar Elmo berlari menghampiri.

“Cepetan yuuk!” cewek itu meraih lengan tangan kananku, “redaksi sejak tadi tunggu kamu,” kemudian menariknya.

“Bisa, nggak tarik tangan saya? Ganjen banget jadi perempuan,” sentakku.

Benci sekali jika ada perempuan yang sok akrab! Oke, dia memang tergopoh tapi apa harus pakai menarik tanganku? Namanya Andhara, panggilannya Andha.

Mendengar ucapanku Andha langsung mencabut kasar tangannya dari lenganku.

“Sori. Tapi tolong jaga mulut kamu! Apa yang harus buatku jadi ganjen terhadap laki-laki seperti kamu?”

Pertanyaan mendikte.

Andha melanjutkan, seperti wanita pada umumnya, “Ngaca dulu sana! Atau nggak punya kaca? Pakai aja kaleng sarden,” ia mendengus, “kamu pasti menderita virus pangeran.”

Kemudian ia melenggang pergi.

Dia pikir aku bakal merasa salah. Seperti lelaki tolol kebanyakan, pura-pura minta maaf saat seorang perempuan cantik marah padanya. Ujung-ujungnya ‘pdkt’ (baca: ‘pendekatan’). Maaf! Saya tidak tertarik bergumul lebih jauh dengan perempuan seperti itu.

Andha pergi. Ya, menginggalkanku. Lantas? Dia bukan siapa-siapa. Sebagai teman aku hanya kenal nama dan muka saja. Siapa suruh pakai acara tarik tangan?! Aku bukan balita yang harus dituntun kan?

Aku menuju ruang redaksi sendirian. Tepatnya berjalan sendirian di belakang Andha.

“Heh Pak Dewan, nggak lihat jam?” sapa Firman, Pemimpin Redaksi (baca: Pemred), sambil menunjuk jam di pergelangan tangan kirinya saat aku baru datang.

Wilayah sepi di belakang perpustakaan ini jadi teritori kami secara tak tertulis. Sejak berdiri, tim AKSARA selalu berkumpul di sini. Tak ada dinding yang dicat apik seperti kantor redaksi media pada umumnya. Pula tak ada satu lemari pun tempat menyimpan benda-benda terkait penerbitan AKSARA. Ataupun loker dan komputer guna menyimpan dokumen. Apalagi benda lain semisal dispenser.

Ini kantor kami. Kantor redaksi AKSARA di ruang terbuka. Tempat kami menuangkan ide, khayalan, konsep konyol, sampai debat kusir. Seperti ruangan ini yang menyatu dengan alam, pikiran kami juga demikian: bebas, merdeka!

“Maaf, di jalan macet,” jawabku.

“Kita mulai sekarang,” lanjut Firman.

Aku duduk kemudian membuka buku agenda, mencari halaman kosong baru untuk mencatat. Andha sudah bertengger di samping Firman. Dasar amplop dan perangko! Rapat ini biasa dilakukan satu minggu menjelang penerbitan edisi terbaru AKSARA yang terbit 3 minggu sekali.

“Begini Lang, seperti yang sempat gue sms kemarin malam. Teman-teman mengajukan wacana untuk mengubah tampilan media kita. Dari ukuran booklet seperti sekarang menjadi seukuran separuh kertas A3. Jadi seperti tabloid mini dengan alasan biar lebih eye catching. Menurut lo bagaimana?”

Bagianku beraksi.

“Setelah jadi eye catching, lantas mau diapakan?”

“Nggak lain agar pembaca tertarik untuk membaca dan membelinya,” sergah Andha.

“Oke. Apakah dengan mengubah tampilan jadi besar seperti tabloid merupakan jaminan kita akan lebih laku?”

Mendadak hening.

“Memang nggak. Tapi setidaknya itu dapat menaikan gengsi kita. Kita tahu sendiri, AKSARA hanya media yang isinya adalah foto kopi bukan cetak warna. Jadi kalau ukuran kita besar.. gambar, tulisan, dan foto kelihatan lebih jelas dan lebih enak dibaca,” papar Andha meyakinkan.

Masuk akal argumennya. Tapi…

“Apakah kendala itu tidak bisa ditanggulangi seandainya kemasan kita tetap seperti booklet?”

“Sejujurnya nggak juga sih,” penata letak andalan kami, Adit, menjawab cepat.

“Itu dia. Yang mesti kita pikirkan lebih jauh adalah soal inkonsistesi. Bagaimana kalau yang terjadi justru AKSARA dianggap nggak konsisten. Dari kecil sekarang besar, seperti nggak mau kalah saing dengan Dialektika, koran dwi mingguannya anak-anak politik. Kalau yang terjadi justru penurunan citra, apa teman-teman sudah pikirkan solusinya juga?” terangku sedikit panjang.

Kutatap Firman sejurus. Ia hanya tersenyum simpul sambil mengangkat bahu.

*     *     *     *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s