Menyentuh Langit (Chapter 4)

Chapter 4

“Hai ladies..” seorang pria tampan menyapa sederet wanita yang berpapasan dengannya lengkap dengan segaris senyum flamboyan.

 

Namanya Mahatma Raka Pramudya. Bukannya hendak meninggikan citra teman sendiri, tapi laki-laki satu ini memang tampan; ganteng; handsome; good loking; charming; cute; sweet, pokoknya sejenis itulah.

Raka bilang, setiap ia tanya siapa mantan pacar dari mantan-mantan pacarnya yang paling ganteng, pasti jawabnya Raka.

Bahkan konon katanya gaya Raka menutup pintu mobil, cool banget. Kulkas kali! Apalagi, kalau melihatnya tengah berdiri menunggu pintu lift terbuka, they say he is so cool! Secara, muka Raka tak beda jauh dengan Komeng (Hloh?) Maksudnya, tak jauh beda dengan Mark ‘Westlife’. Raka memang indo (Indonesia).

(Apa yang aneh dari orang yang tengah menunggu pintu lift terbuka? Katanya dia menggoda iman.  Setan kaliii!)

“Padahal gue biasa aja. Seperti kemarin-kemarin, paling kalau ke kantor cuma pakai celana jeans dan t-shirt didobel kemeja panel. Topi, kacamata hitam, dan kamera canon yang hampir 18 jam dalam sehari menggantung di leher, ditambah tas slempang nggantung di bahu. Dan yang gue pakai di kaki, cuma sepatu kets tali atawa sepatu capung. That’s it! Ini memang karunia Tuhan,” begitu khotbah Raka menyoal sisi kenarsisannya.

Mungkin ketampanannya memang takdir Ilahi. Kalau dibandingi Gareth Hudland dalam film Four Brothers, lebih jelekkan Hudland sedikit (Raka yang banyak).

Raka dua tahun lebih tua dariku. Dari bejibunnya tukang potret yang ada di planet ini, ia salah satunya. Ya, Raka seorang fotografer. Semua bisa berkunjung ke rumah cyber-nya di alamat: raka_ladybastard@yahoo.com.

Benarkah segala pemaparan di atas soal ketampanan pria ini?

Begini saja, jika Anda perempuan bayangkan saja seseorang dengan ciri berikut: rambut lurus, kulit sawo matang (kuning langsat terang), mata indah (bola mata coklat terang) plus alis tebal, ditambah kamera Canon D400 di leher.

“Lo pasti akan bilang kalau gue ganteng,” begitu pembenaran paling lazim yang dilontarkan Raka tiap kali aku memperhatikannya tengah berkaca.

Ia merupakan mahasiswa jurusan fotografi dari Santolucas School Of Photography di Canberra, Australia. Raka dapat beasiswa. Karena nilai memuaskan dan bakat cemerlang, ia mampu lulus dalam tempo 3,5 tahun. Bahkan, dirinya menjadi perserta termuda dalam Photography Expo di Italia, tahun lalu. Sekarang ia bekerja di sebuah advertising agency. Baru setahun Raka gabung di sana.

Raka asli Batam dan merantau ke Jakarta. Baik sewaktu masih tinggal di Batam atau setelah hijrah ke metropolitan town ini, tetap saja ia berpenilaian bahwa perempuan bukan apa-apa.

“Apa sih cewek? Nggak penting dan ANEH?!”. Tolong beri garis bawah, kasih tanda petik, tanda seru, cetak miring, tanda tanya, cetak tebal dan huruf besar pada kata ‘aneh’ tadi. Perempuan itu makhluk ciptaan Tuhan yang paling nggak gue mengerti. Kok mereka bisa dengan gampangnya diperdaya laki-laki? Awalnya sih cuma saling pandang, trus balas-balasan senyum, kenalan sambil basa-basi tanya nama, tukeran nomer telpon, telpon-telponan, ajakin ketemuan lagi, abis itu PDKT, jadian, puji-pujian, trus bunga, cokelat, dinner, nonton sambil pegangan tangan, abis itu peluk-peluk dikit, and then cium pipi, cium jidat, finally kissing, the last is check in? Ya Tuhan.. mereka bodoh banget ya?” itulah penjelasan terpanjang yang dilontarkan Raka tentang wanita.

Menurutnya, tidak bisa disalahkan cowok saja tentang pelecehan terhadap kaum hawa. Habis perempuan juga yang tindak-tanduknya memang minta diperlakukan macam itu.

Bayangkan, nyuruh pacarnya datang ke rumah pas lagi kosong. Kedatangan sang pacar disambut hot pants plus tank top serta plus-plus yang lain. “Birahi pria mana yang nggak membara mendapati keadaan seperti itu? Bego kan kalau kucing dikasih sosis malah buang muka!” dalihnya.

Gara-gara ayahnya kecantol ‘serigala betina’, ibunda Raka jadi… (sudahlah malas mengumbar memair buruk kawan sendiri). Pokoknya Raka tak pernah serius pada perempuan!

Bagi dia, saat seorang wanita bersedia menjalin hubungan dengannya berarti harus siap terima konsekuensinya pula. Jika menurut Raka mereka sudah butut maka Raka akan pakai lem biru (lempar! beli yang baru). Nggak rela diperlakukan macam itu? Jawaban Raka, “Ya jangan main kompor gas kalau nggak mau nyium aroma elpiji atau bahkan kena ledakkannya!”.

Setidaknya cuma mendiang ibunya saja, yang mati dengan cara menyedihkan itu, yang menurutnya perempuan sejati.

Parahnya, Raka tak ingat berapa kali pacaran atau mencium cewek. Seingatnya sedari jaman kuliah sampai sekarang, baru 72 kali. Tapi kalau cewek yang pernah dicium? Entahlah. Pastinya, Raka tak pernah mencatat nama mereka satu per satu.

Tapi sejatinya kaum hawa di muka bumi ini cukup penting buat dia. Seenggakya, buat objek orgasme dia. “Buat bahan gue ‘berfantasi’,” begitu katanya.

Mmmm… sesudahnya, maaf untuk seluruh wanita di seantero negeri atas pemaparan kurang beretika ini.

 

Pagi ini gue bangun seperti biasa. Menggas santai mobil Suzuki Aerio ini sampai ke kantor. Begitu sampai di kantor, seperti biasa pula gue sibuk membalas senyum dan sapaan orang-orang di sekeliling, termasuk mereka yang nggak gue kenal.

Sejak pukul tujuh gue sibuk mengedit begitu banyaknya foto. Sesekali ngobrol juga saling melempar joke dengan teman-teman yang lain sampai terbahak-bahak.

“Tau nggak lo bedanya balon gas sama celana kolor?” kataku sambil duduk di atas meja.

Kawan-kawan di sekeliling meja gue nampak tertarik, mereka langusng alihkan perhatian dari layar computer ke air wajah gue. Khususnya Beni, “Balon gas sama kolor? Mmm.. apa ya?” pikirnya.

“Sama-sama berisi gas beracun!” celetuk Agus, di belakang meja gue.

Agaknya saat pembagian otak dulu, Agus ada di antrean buncit sehingga jatah otaknya minim. “Bego, itu persamaan. Yang jadi pertanyaan gue adalah perbedaannya..” kusudahi sambil menunjukkan jari ke kepala.

Semua menggeleng serempak.

Ekspresi gue serius kali ini, “Kalau balon gas, ditarik talinya.. naik ke atas. Nah sedangkan celana kolor, tarik talinya.. turun ke bawah!”

Ha ha ha ha *ketawa Tukul.

Gue memang pencair suasana. Buktinya ruang besar yang tadinya hening ini kini jadi semarak. Semua terpukau dengan lelucon gue barusan. Siapa dulu.. Raka! Tapi sesuatu yang lain terjadi saat Si Bos melintas di hadapan kami. Seketika suasana yang tak kalah membosankan dengan film India (menurut gue film India itu nge-BT-in banget. Ceritanya kalo nggak nangis ya joget) langsung terasa di dalam gedung ini.

“Mas Raka, dipanggil Bos! Suruh ke ruangannya,” seorang perempuan  menggenggam dua buah map serta ID Card yang menggantung di leher atas nama Ersa Malo, menghampiri gue yang tengah memutar-mutar lensa kamera.

“Fatta?” sahut gue.

“Siapa lagi?”

“Oke.”

Ersa pun pergi berlenggang menuju mejanya yang berada dua meja di belakang meja gue.

Gue meletakkan kamera yang sejak tadi selalu melekat di tangan, kemudian berdiri dan berjalan menuju sebuah ruangan tertutup yang letaknya 6 meter di hadapan.

Tok.. tok.. tok.. gue mengetuk sebuah pintu kaca.

“Masuk,” jawab suara dari balik pintu.

Gue buka pintu perlahan dan masuk.

Seorang pria, 28, mengenakan kemeja biru muda, dasi biru tua, duduk di balik meja berukuran 1,5 x ½ meter dalam ruangan ini. Gue duduk di salah satu kursi yang terpajang di depan mejanya.

“Manggil gue, Fat?”

Pria yang gue sebut-sebut bernama Fatta itu mengangguk.

“Ada apa ya?”.

Fatta, hingga pertama kali gue menyapa tadi, terus mengetuk-ketukkan jari jemari di atas meja. Kini ia mendongakkan wajah. Ditatapnya gue dengan begitu dingin (lebih dingin dari mata gue waktu menatap Dian Sastro di film AADC).

Tiba-tiba lengkingan suaranya memenuhi ruangan. Kalau gue nggak kuat-kuat nahan pantat supaya tetap pada posisinya pastilah gue sudah loncat terkaget-kaget sewaktu dengar teriakkannya: “RAKA PRAMUDYA! Lo masih tanya ada apa?!”.

Ya iyalah, dipanggil dan nggak tahu kenapa kita dipanggil pasti jawabnya ‘ada apa?’ masa mau gue jawab ‘aya jelma enteu?’ dikira gue lagi mertamu ke rumah Si Doel Anak Sekolahan?

Diri ini cuma bisa mengangkat alis.

Kasar, Fatta membuka laci meja lalu mengeluarkan amplop cokelat dan membantingnya di atas meja. “Soal ini!” sentaknya.

Gue diam menatap benda yang dia keluarkan itu. Jangan-jangan isinya duit bonus? Tapi, kayaknya kerjaan gue bulan ini lagi nggak bagus. Kok Fatta pakai kasih bonus segala?

“Ini hasil kerja selama seminggu lo cuti? Ini?!” bentaknya sambil menunjuk amplop tersebut.

“Kalau begini caranya lo bisa bikin perusahaan kita mati, Pram! Nggak cuma karir lo, tapi perjalanan perusahaan ini juga! Untung lo nggak ada kemarin, sebab Buana Internasional datang maki-maki gue. Lo tau alasannya? Karena, foto-foto yang kita janjikan jatuh tempo hari Senin kemarin, belum sampai ke tangan mereka. Dan gue nggak bisa berbuat apa-apa, karena si fotografer yang nanganin foto-foto itu nggak masuk kerja, dan telponnya nggak aktif. Bisa saja gue serahin foto-foto dalam amplop ini. Tapi gue masih waras. Sekalipun foto-foto ini dikasih pada waktunya, gue yakin reaksi mereka akan tetap sama!

Fatta masih menyambung ocehannya, “Pram, lo yang bener dong kalo kerja. Memang ini perusahaan moyang lo? Cuma begini kerjaan fotografer lulusan luar negeri?” latar belakang pendidikan pun dibawa-bawa.

“Ngakunya fotografer andal tapi dikasih job buat nyari model saja nggak becus. Lo minta waktu seminggu lebih. Fine, gue kasih. Cuma begini hasilnya? Kalo kayak gini terus klien bisa kabur semua. Buat apa lo cuti kalo ujung-ujungnya hasil jepretan lo cuma beginian? Buana Internasional itu perusahaan sepatu, bukan supermarket. Kok bisa lo ngambil foto yang sama sekali nggak nyambung sama proyeknya?!”.

Ya.. gue sendiri mengakui foto-foto hasil jepretan kamera gue memang nggak nyambung dengan apa yang seharusnya gue foto. Hmmpfh, apes!

“Kok bisa lo malah foto ibu-ibu lagi belanja di tukang sayur sambil ngegosip? What is the meaning?!”.

Fatta mengeluarkan foto itu dari amplopnya. “Silahkan lihat kembali foto lo,” dia menjejerkan tiga buah foto yang ada di amplop itu.

Foto gue? Nggak ada gue padahal dalam foto itu. Kok Fatta bilang foto gue? Itu namanya foto yang gue ambil, bukan foto gue. Yang bego siapa sih? Yaah.. gue cuma lirik foto itu dari jauh.

“Memang benar yang harus lo foto itu cewek yang sama sekali bukan model dalam framing yang unik. Tapi bukan ini..”

Dahsyat! Sejak tadi gue belum bicara sepatah pun. Alamak.. rekor ini. Patut dicatat Brury, maksudnya MURI.

“Pramudya, apakah Anda tahu? karena mereka anggap kita nggak professional lantas mereka telah putuskan tarik proyek ini dari kita. PUAS Anda sekarang?!”

Oke, gue tau lo marah Fat.. tapi jangan sampai muncratan ludah Anda sampai di bibir gue bro. Untung cuma di bibir. Bayangkan, kalau gue sedang bengong dengan mulut menganga, pastilah muncratan itu akan sampai dari mulut ke mulut. No…!!!

Sebenarnya gue juga nggak tahu kenapa belakangan ini, kerjaan gue berantakkan terutama kalau harus ngambil objek cewek. Habis bukan Ayu Azhari atau Julia Perez sih modelnya! Coba kalau yang difoto itu cewek bugil, Fatta bahkan pasti langsung bilang ‘Gue aja Pram yang foto sendiri!’

“Sori Fat gue bikin lo kecewa”. Cuma itu yang berhasil meluncur dari mulut beta.

Biasanya gue menjelma jadi makhluk angker kalau dimaki orang. Pasti gue balas dengan serentetan kalimat-kalimat panjang yang lebih panjang dari trayek Patas 45 tapi kali ini hanya mampu ucapkan kata maaf.

“Basi! Emang pake maaf bisa ngembaliin klien yang sudah kabur? Gue capek sebulan ini bolak-balik nyerocos sama lo. Gue yakin di Jakarta masih banyak fotografer yang jauh lebih bagus daripada lo, Pram. So, gue nggak bisa mempertahankan terus-terusan fotografer kurang kompeten kayak macam lo ini. Besok pagi lo terima surat pemecatan, Pram!”

Gue melotot lebar mendengar ucapan terakhir Fatta.Wah kalau gue sampai dipecat gue nggak punya gaji dong! Ga bisa ngerayu cewek-cewek pakai barang-barang mahal lagi dong? No! Bagaimana ini?

“Gue mohon jangan pecat gue! Kita sudah lama berteman, Fat. Gue tahu sudah tiga proyek yang gagal gue handle. Tapi kasih gue kesempatan terakhir. Gue mohon…”

Seorang Raka benar-benar memohon.

Gue tatap terus kakak kelas saat SMA yang sekarang jadi atasan gue ini. Tak peduli kalau tatapan ini lebih mirip tatapan homo, yang penting gue nggak dipecat.

“Berhenti kasih liat tatapan macam itu, Pram!” sentak Fatta.

Spontan gue langsung membuang pandang ke arah lain.

Fatta membuang nafas. “Oke.. gue kasih kesempatan terakhir. Tadi pagi ada perusahaan yang minta model untuk produknya. Daaan..” Fatta terhenti bicara sejenak.

Kembali membuang nafas. “Gue percayain proyek ini pada Raka Pramudya,” Sampai ucapannya di situ gue langsung tersenyum, “tapi ingat, kalau kali ini hasil jepretan kamera Anda tidak lebih baik sebaiknya Anda jadi freelanceer saja. Itupun tidak di sini.”

Gue langsung melejit pergi dari sana. Kembali ke kandang. Menyalakan rokok, Mozilla, Yahoo, buka e-mail. Gue tulis sebuah alamat email pada kolom ‘To’. Ialah, aris_adishwara@yahoo.com. Tapi kejadian beberapa hari lalu buat gue memutuskan mengganti alamat tersebut dengan hanung.sagari@ai.casta.co.id.

*     *     *     *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s