Menyentuh Langit

PERNAH, pada suatu malam aku bermimpi tentang sebuah dunia. Dunia yang setiap kali ingin kutatap langitnya membuat mata kontan kehilangan daya akomodasi. Langit yang aku bahkan tak bisa menyebutnya langit. Aku tak pernah melihat langit yang lebih baik dari itu.
Tak ada awan.. tak ada hujan.. tak ada kelabu.. tak ada mendung.. tak ada cahaya menyengat yang menghanguskan. Langit di sana bahkan warnanya bisa dipilih.
Apa warna kesukaanmu? Sebut saja dan seketika langitnya berubah seperti apa yang kita inginkan. Rasanya seperti melihat lautan cat minyak. Tinggal kusapu dengan kuas. Arahnya tak soal meski kesana-kemari tak beraturan. Hasil sepuhan kuasku berakhir dengan sebuah hamparan langit biru muda terlapis warna tosca diselingi goresan-goresan hijau metalik.
Tapi sekeras apapun ujung jemariku berusaha menyentuhnya, barang sepucuk saja. Tak pernah sampai, tak pernah tersentuh, tak pernah! Aku cuma bisa lihat dari jauh, dari tempatku yang tak ada di peta daftar kediaman manusia mulia di muka bumi.
Lalu sekejap mata ini terjaga segalanya kembali normal. Aku masih ada di tempat tidur bapuk yang pernya mulai berderak setiap kali pantat besarku menindih. Perempuan sepertiku masih bergeming dalam kamar bercat hijau yang sejatinya kini bukan punyaku lagi, alias aku sedang numpang!
Aku kembali lagi pada dunia real yang isinya di mana-mana pertanyaan. Kenapa aku begini? Kenapa dia begitu? Kenapa ibuku harus keras hati dan nyaris membatu? Kenapa aku tak ditakdirkan tumbuh normal seperti perempuan lain yang merasakan nikmatnya senyuman tulus? Kenapa keegoisan merenggut duniaku yang diisi bapak, ibu, dan adik tiriku dari kata bahagia?
Beginilah rutinitasku: bangun tak tentu waktu, cek hp (kali aja ada sms), termenung mempertanyakan hari-hari konyol yang tak kunjung berakhir indah (seperti dalam kisah Cinderella), menatapi plafon kamar kosan, lalu bertanya lagi; “Tuhan, apa kita bisa sedikit kompromi?”
Aku tahu Tuhan pasti bilang, “Nggak!”
Tapi, kenapa ada sebagian golongan yang hidupnya nyamaaaaan sekali, NORMAL, penuh kebaikan, penuh rahmat, cinta, rezeki.
Pasti Tuhan akan bilang begini, “AKU tak pernah sekalipun salah memberi jalan kehidupan bagi hambaku apa lagi sampai tertukar satu sama lain!”
Hhhft!
——————-

Tadi malam kuputuskan untuk menghubungi seseorang. Dia yang kuharap bisa membantuku sedikit keluar dari penat nan tak kunjung padam ini.
Dia bersedia menemuiku. Bahkan dia malah membawaku ke sebuah tempat yang aku tak terpikir bakal kesana.
Pantai..
“Apa akan datang pasangan yang akan menyayangiku dengan semulia-mulianya hakikat kasih sayang?” tanyaku sambil menatap hamparan laut.
Laki-laki di sampingku kemudian duduk, aku mengikutinya. Kami duduk berdampingan menghadap lautan air yang luar biasa dahsyat sekaligus indah. Seperti memancarkan emas karena memantulkan cahaya matahari terbenam.
Ia kemudian berkata, “Kamu percaya pria yang baik diperuntukkan kepada wanita baik pula? Dan hidup yang mulia dihamparkan kepada mereka yang juga baik pekerti?”
“Percaya sih. Tapi nyatanya banyak juga laki-laki baik tapi istrinya kebalikan 360 derajat dan begitu sebaliknya. Juga tak sedikit orang baik tapi hidupnya melarat dan susaaah banget,” tukasku.
“Kamu tahu indikator baik itu bagi siapa? Bagi DIA, bukan kita: manusia. Karena sering kali ketidaksukaan atas sebuah keadaan hanyalah bagian dari ketidaktahuan kita. Karena kita nggak pernah cukup berani me-tafakuri.. merenungi diri, berapa banyak kebodohan yang kita buat tanpa benar-benar pernah minta ampun. Kita terlalu sombong untuk bisa jadi manusia yang dimuliakan..”
Abi bicara seperti khotbah. Aku sukar mencernanya. Kalau saja bisa kuhapus semua catatan kelakuan buruk di masa lalu dan kuganti dengan segala kebaikan sebagai seorang perempuan, aku pasti sudah berani mengajukan diri sebagai istrinya. (Ngarep!) Sayang, Abi terlalu bagus untuk wanita sepertiku –yang menjaga kehormatannya saja sulit.
Aku tidak jawab.
“Menurut kamu mana yang lebih baik, foto kita yang lebih bagus dari pada aslinya atau asli yang lebih bagus daripada foto?” imbuhnya.
“Mmm…” gumamku bermakna tengah berpikir. “Asli yang lebih baik daripada foto,” jawabku.
“Itulah bukti kalau kita adalah makhluk yang sombong. Yang baik adalah nggak usah dipikirkan. Mau lebih bagus yang mana biar Tuhan yang menilai. Cukup semata-mata jadikan Tuhan sebagai alasan segala yang kita lakukan dalam hidup. Kita bersabar, kita berjuang, bertahan, jatuh cinta, berbuat baik, dan lain-lain biarkan Tuhan jadi satu-satunya alasan..”
“Kenapa segalanya harus dikaitkan dengan Tuhan?”
“Karena memang hanya DIA penguasa kita yang satu. Coba saja kamu jatuhkan seorang yang tak percaya eksistensiNya, di pinggir jurang. Saat dia hampir mati, insting keTuhanannya pasti baru terasa. Maksudnya, karena semua ini memang berawal dan berakhir dari dan kepadaNya.”
“Apa lantas ibuku akan sadar dari perselingkuhannya? Atau tante Irna akan meminta maaf atas segala ketidakpeduliannya terhadap saudara sendiri? Atau mungkin, apa bapakku akan lantas punya pekerjaan mapan, seandainya aku menyebut-nyebut namaNya terus menerus seperti itu?”
“Ya nggaklah. Tapi kalau itu kamu lakukan dengan tulus, pasti akan mendapat ketenangan dalam sesempit-sempitnya keadaan. Sebab kalau segalanya cuma karena DIA ketika kita mendapatkan hasil sesudah kesabaran, doa, dan usaha, yang tak memuaskan hati, kita tidak akan marah pada keadaan. Kenapa? Karena kita pasti selalu yakin, keadaan yang kita hadapi sekarang dapat jadi ladang kebaikan yang bisa meningkatkan kemuliaan kita di mataNya. Tuhan selalu seperti yang kita prasangkakan. Kita tak perlu memikirkan bagaimana cara kerja Tuhan, cukup renungi apa yang diciptakannya. Tuhan memberi yang kita butuh, bukan yang kita ingin. DIA tahu kita butuh segala gejolak kehidupan ini, agar kita bisa jadi manusia yang kuat hati.”
“Memang apa yang kamu cari dalam hidup?” aku sudah pusing mendengar gagasan Abi jadi langsung kutanya saja begitu.
“Setidaknya bisa bermanfaat bagi orang lain. Termasuk untuk kamu..”
“Maksudnya?”
“Kamu selama ini kurang membuka hati dan matamu Marya. Pikiranmu selalu tertuju pada kedukaanmu, dengan semangat yang sesekali membara setelahnya padam lagi. Serta, dengan hati yang terlalu lama mengharap cemas pada Langit yang memang tak ditakdirkan untuk bersamamu. Kamu nggak sadar dengan adanya aku..”
“Abi?”
“Marya, kita semestinya bukan mencari seseorang untuk bisa hidup bersama. Tapi, seseorang yang jika tanpanya kita tak bisa melengkapkan diri. Agar kebersamaan kita dengan seseorang itu menjadi perpaduan yang menggenapkan kehidupan keduanya.”
Itulah yang kukenang tentang sebuah masa di sekian tahun lalu. Awal, pertama kali aku yakin bahwa semua akan pas pada waktuNya. Hingga kini aku tak pernah berhenti bersyukur dengan kehadiran pangeran kuda putihku bernama Abi Damarjati, suamiku. Jika tak ada ujian bertubi-tubi dulu (yang tak kusangka bisa berakhir) mungkin Marya yang seperti sekarang tak pernah ada.
Dari berjuta rasa yang ada dalam hidup, rasa syukur memang yang paling patut kita jaga kelestariannya dalam sanubari. Kalau setiap manusia bisa menjadi ahli syukur, tentu segala dilema tak ubahnya ujian bagi seseorang yang mau naik kelas. Aku mencintaimu Abi, karenaNya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s