Pulanglah, Bawang..

Oleh Dinihari Suprapto

 

Belasan pukulan ke dinding tak akan bisa redakan.

Ya, sudah tahu itu!

Sebanyak apapun hujan air asin tak akan mengembalikan.

Ya, sudah tahu itu!

Kantung persediaan oksigen dicuri separuhnya oleh tamu tak sepadan.

Ya, silahkan bawa itu!

Nyawa dalam lembaran mushaf itu ditarik kembali, seakan…

Ya, silahkan bawa itu!

 

Ini, masih tersisa hikmah.

Ini, masih terselip senyum.

Ini, masih tertinggal liur tidur yang tertunda.

 

Empat hari. Bermimpi. Berhibur. Berseri. Berkecamuk. Bersabar. Berontak. Bersedia. Berantah. BERBINCANG. Bertengkar. Berdebat. Berdamai. Bersapa. Berjumpa. BERSIKERAS. Berani. Bersitegang. Bersama. Berbicara. Berduka. BERPISAH…

 

Kalah. Aku harus kalah!

 

Seharusnya lima hari. Seorang pasien RSJ mati, bertemu Tuhan, memohon, diberi waktu. Lima hari. Seharusnya 10 tahun. Seorang Spiderman 3,  menjadi pahlawan, membela, setidaknya mewarnai sekaligus mengajari memakai jaring laba-laba. 10 tahun. Tapi kurang 1 hari lagi. Lumutku pergi. Lumut itu pulang ke tempatnya. Bisa saja kutahan. Namun tak kulakukan.

 

Bertanya. Lagi-lagi pertanyaan baru, hadir!

 

Empat hari ‘kepala bawang’ diberi sisa waktu. Semestinya jadi ganjil, lima. Tapi yang terakhir dikorting, oleh alam.

 

Satu…

Dua…

Tiga…

Empat…

Lima…

 

Sudah lima jarimu yang tercelup hanya dengan empat hari terakhir. Pada akhirnya ‘kepala bawang’ asal Planet Tubil tersebut mesti kembali, pulang.

 

Pulanglah…

 

-Dinihari Suprapto- (02 Januari 2010)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s