Sketsa (cukilan naskah teater)

Oleh Dinihari Suprapto

Sebuah kain hitam menyelimuti teras panggung dengan posisi horizontal. Kanan kirinya dipegangi dua orang dengan balutan kostum dan tata rias wajah hitam-hitam.

Kain ditarik dari arah kanan kekiri.

Lampu sorot lantang menghujani sebuah meja kayu di sudut kanan depan panggung. Meja berukuran sedang itu berdiri kokoh bersama kakinya yang nampak terlalu tua untuk hidup sebagai kayu.

Di atas meja, tergeletak sebuah mesin ketik, disamping mesin pencatat huruf itu tersusun setumpuk file dan kertas-kertas ‘berbicara tanpa nyawa’, yang ditindih seonggok kamera SLR ditumpukan paling atas.

Seorang pemain duduk dibalik meja tadi. Tak tegak namun punggungnya pun tak bersentuhan dengan punggung kursi. Ia memakai kaos ketat khas wanita, dibalut dengan rompi tanpa lengan mirip rompi-rompi penjajak koran di lampu merah. Pemain itu mengenakan sebuah rok abu-abu seragam SMA untuk menutupi separuh kakinya. Dan dikenakan pula sepatu pantovel laki-laki berwarna hitam mengkilat yang menutupi jari kakinya.

Tangannya menari bebas di atas mesin ketik. Tapi arah wajah dan pandangan mata lurus menghadap, menatap audience didepannya. Matanya tajam nyaris tanpa kedip. Ditambahi lingkaran putih dipinggir kedua matanya, serta lingkaran putih disekeliling bibirnya sedang bagian wajah lain bertatariaskan make-up hitam.

Ia terus mengetik tanpa melihat ketikannya. Terus, dan terus..

Jarinya berhenti. Kemudian kepalanya menengok kekanan tanpa kedip mata. Sekilas, dan kembali lagi matanya lurus kedepan. Lalu lantang bicara, “JURNALIS!”

Tangannya kembali mengetik. ‘tek.. tek.. tek..’ bunyi tombol mesin ketik kembali menggema.

Jarinya terhenti. Kemudian kepalanya menengok kekiri tanpa kedip mata. Sekilas, dan kembali lagi matanya lurus kedepan. Setelahnya lagi bicara, “JUJUR!”

Suara mesin ketik kembali terdengar.

Jarinya berhenti. Kemudian kepalanya mendongak keatas tanpa mulut terbuka. Sekilas, dan kepala itu lagi keposisi semula. Lantas bicara, “NAMUN!”

Kembali ia mengetik..

Kembali pula jarinya berhenti untuk keempat kali. Habis itu tangannya pun ia tarik mundur dari atas mesin ketik. Dan disimpan diatas pahanya, dibawah meja. Sontak bicara dengan lebih lantang, “TRAGISS!!” dan air wajahnya ia simpan dengan menundukan kepala.

Kain hitam tertutup lagi. Sejenak saja. Dan lagi terbuka.

Si pemain tadi kini sudah berdiri disamping mejanya.

Tiba-tiba suara backsound desingan peluru, mendeskripsikan suasana ditengah kecamuk perang, mengisi seluruh ruang pementasan. Bom, tembakan, granat, semua mengeluarkan suaranya.

Seorang perempuan mengenakan salah satu seragam kantor sebuah media cetak ternama terbitan ibukota, berlari terbirit-birit dari sisi kiri panggung menuju ketengah. Tangan kanannya menggenggam erat microphone. ID Card bertuliskan PERS yang menggelayut dilehernya ikut naik turun seirama gerakan kaki. Perempuan itu seketika berposisi tiarap ditengah panggung. Tangannya berusaha melindungi kuping dari suara bising peperangan.

Setelahnya disusul seorang pria menggendong kamera ditangannya. Ikut berlari terbirit mendekati si perempuan. Ia ikut tiarap di samping perempuan itu. Dan segera mengarahkan muka kameranya kehadapan perempuan tadi.

Gemuruh suasana perang belum berhenti, malah semakin parah.

“Baik selamat malam pemirsa. Saat ini saya sedang berada di salah satu camp TNI yang berlokasi di Meulaboh. Dapat anda saksikan bagaimana keadaan kontak senjata dalam tubuh TNI dan GAM. Kontak senjata ini telah berlangsung selama hampir satu jam, dan mencederai tiga orang dari pihak TNI. Baik pihak GAM atau warga sipil belum dapat diketahui berapa korban yang jatuh. Namun hampir semua warga sipil disini telah diungsikan sejak tadi siang.”

Reporter itu mengudarakan beritanya. Sesekali laporannya terhenti, karena ada suara peluru dan berbagai senjata lainnya.

“Demikian liputan kami. Dara Leonita, Galih Cipta, langsung dari Nangroe Aceh Darussalam.” Ia mengakhiri reportasenya.

“LOYALITAS KAMI UNTUK ‘MEREKA’!!” Si pemeran utama tadi kembali bicara, namun pandangan mata tetap pada penonton dan tubuhnya tegap tak bergeming. (reporter dan kameramen mematung seketika).

Kain hitam muncul lagi. Dan pergi lagi.

Si pemain utama sekarang duduk bersila di bibir panggung.

Dari sisi kiri panggung (lagi). Keluar seorang laki-laki dengan pakaian necis ala selebritis. Disekelilingnya beberapa wartawan sama-sama menyodorkan recorder mereka kedepan mulut laki-laki itu.

“Mas, bagaimana komentar anda tentang gossip perselingkuhan yang ditujukan kepada anda?” salah satu pertanyaan yang terlontar dari wartawan itu.

Si laki-laki (yang katanya ‘artis’) terus berjalan diiringi para wartawan. Wajahnya tetap ‘cool’, “Anda bilang itu gossip. Yaa tanyakan saja pada yang buat gossip itu.”

Pemain utama yang tadi duduk bersila, kembali bersuara, “JURNALISME INFOTAIMEN, ADAKAH(?!)”

Kain hitam tertutup. Kembali terbuka..

Pemain utama kembali duduk dikursinya, dihadapan mesin ketik. Kini ia tidak mengetik, hanya menarik dan mengembuskan asap rokok dari mulutnya.

Dua orang anak SMA berdiri di tengah panggung.

“Lo liat tindakan Pak Nasir?! Artikel gue yang baru dua hari nongkrong di mading sekarang suruh dicopot. Nih buktinya. Tulisan gue dibalikin!” seru si A.

“Artikel tentang Bu Ami yang paksa siswa beli produk MLM-nya sebagai ganti remedial?!” si B bertanya balik.

“Iya!” sahut si A.

Pemain utama mengembuskan rokoknya dan berucap, “BIAR YANG MUDA YANG BICARA!”(anak SMA mematung)

Kain hitam sekali lagi merentang di atas panggung. Saat kembali terbuka, pemain utama kini duduk di atas mejanya. Kaki yang satu ditekuk di atas paha kaki lainnya.

(lagi) dari sisi kiri panggung: seorang waria masuk ketengah-tengah panggung. Mimik bingung.

“Eke kan nggak sengaja ngerekam ini. Sekarang ini harus eke apain ya?” tuturnya dengan bahasa tubuh khas waria.

Lalu ia menekan tombol play di recorder yang ia genggam.

“Marni itu simpanan saya. Saya bosan dengan istri saya di rumah. Biasanya kalau habis rapat dewan saya langsung kerumah dia. Makanya setiap saya datang, ia selalu memperlakukan  saya dengan eksklusif. Pintu kontrakannya selalu tertutup jika saya ada, bukan? Wajarlah, saya dan Marni bukan sekedar perek dan tamunya.. kenapa? Kamu mau jadi simpanan saya juga?”

Suara seorang laki-laki keluar dari speaker.

“Dewan kok begitu?” Waria tersebut mematikan recordernya. (lalu diam mematung).

Pemain utama untuk terakhir kalinya bersuara.

“JURNALISME TANPA BATAS.., KELAMIN (?!!)”

Terakhir kalinya pula kain hitam tertutup. Inilah akhir pementasan.

*    *    *    *

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s