LINGGA vs SRIKANDI

Rehumanisme. Pertama mendengar kutipan ini aku mencari dan memaknai. Aku mulai mengerti bahwa dari hela pertamaku merasakan nikmat anugerah Pencipta, aku telah me- dan di- manusiakan oleh, dan, bagi manusia lain..

Lalu kumpulan sel-sel ini (yang katanya bermoyang pada bakteria) kembali mengelana.

Ada kala saat tengah malam datang aku menangis, tertawa. Ada kala di mana waktu sepertiga malami menyelubungiku aku terpana.

Andai kau temukan korelasi yang kutemukan. Andai berucap kata semudah merasa..

Demi kulukiskan keindahan yang kutemui yang kini bertahta dalam sukmaku. Izinkan aku wahai Dewi Waktu, pemilik Toserba pribadi yang kini boleh kumasuki, kau..

Kaulah Srikandiku. Kau yang mengagahiku hingga aku jatuh tersungkur dalam kelelahan asmara yang hanya dan memecutku untuk hidup.

Kaulah gemintang yang kuderai-derai dalam nafasku, bukan nafsuku.. yang memanusiakan aku layaknya aku.

Kaulah yang ada untukku, dan izinkan aku sekali lagi berkata, ”Biru.. aku cinta padamu’.

Demikian Nila bertutur tentangku. Ingat betul ia pernah berterus-terang soal kehidupan, kecintaan, kehinaannya sebagai racun.  Katanya, “Love get so many meaning. All i can say is I love you. For all the meaning that  ‘it’ have Srikandiku.. Biruku.”

Biru terus di sampingku dan temani aku, katanya. Setelah kita bersinar, kita bagi-bagi semua yang aku punya ke orang lain. Supaya mereka punya (juga) dan kita makin tahu.

Kamu sangat penting Srikandi.  Sama seperti ketidakmampuan kamu menggambarkanku,  Lingga pun begitu.

Ucapmu, mungkin ada banyak hal yg aku tidak tahu tentang kebiruanmu. Tapi yang kutahu, setelah birumu muncul, racun ini tak jadi mematikan lagi.

Kebiruanmu membuatku makin siap menghadapi apapun, karena ada kebiruanmu.

Terima kasih Srikandiku, biruku.

Birumu mematikan bisaku.

Tak bisa diam sukma yg garuk-garuk rentetan kata meluruhkan itu. Kukembalikan umpanku balik untuknya..

Begini kataku, bermula separuh suara yang terdengar atasmu. Pada hari ketika Dewa Matahari membaur nafas di bumi. Serempak, ratusan juta tahun setelahnya.

Bala tentara kombatan pandita Srikandi kemudian bangkit.

Misi baru, sapa bermuka, cerita dibuka.

Hidup berotasi pada porosnya setiap hari.. persatu tuturan membanjir.

Termaktub dalam garisan: ada puncak yang mesti dihadapi.

Dari malam kembali ke malam. Pada malam hari kita disabdakan untuk terurai.

Mengurai pekat satu sama lain.

Parasmu elok Srikandi di malam tiap kali kau ada, Srikandi terpana.

Bukan indah yang kupunya, tapi aku diperindah oleh beragam hiasan sepertiga malam

Dan yang paling rupawan, kamu purnama…

Kemudian Lingga menjawab, “Terimakasi Srikandi. Aku menujumu.. sekarang, mudah-mudahan sampai nanti.”

2 thoughts on “LINGGA vs SRIKANDI

    • terimakasih🙂
      sebetulnya sudah lama ndak membaca note satu ini. karena ada komen dari Jeanny jadi sejenak terenyuh lagi, mengingat apa yang ada di balik LINGGA vs SRIKANDI🙂. sekali lagi terimakasih..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s