Apa yang Dulu Mungkin…

Hhff… Sepertinya malam ini pernah aku bayangkan. Berdiam di atas kursi besi mengilatkan pantul lampu temaram, mematung menghayati tembang dalam kotak mini elektronik, dan tersenyum.

Malam ini tetap terjadi. Terduduk di kursi pipa besi di pinggir lintas kereta listrik, tak henti menelisik pikir apa yang terjadi di sini.

Aku bukan pengeluh, aku bukan budak cengeng, atau si pesimis yang merana takut tak berkawan. Iya itu bukan aku, dulu.. Karena kini yang muncul adalah si bukan yang mengaku aku.

Aku bertransformasi menjadi punguk yang begitu takut kehilangan dia hingga mengacaukan sampai pada syaraf logis terkecilku. Astaga, aku bukannya kehilangan siapa aku. Tapi aku terperangkap dalam keakuan gadis remaja yang tak mau kawan terdekatnya pergi hanya karena diien kami berbeda. Harusnya ini aku alami ketika aku masih remaja.

Terlambat, ya.. aku terlambat dalam memasuki fase ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s