tuan tanpa huruf besar

dua tahun, sekitar itu lama yang kuperlukan untuk beranjak dari masa yang kini menjadi lalu. mengupayakan apa yang dinamakan dengan pertemanan, sebut saja begitu kalau belum tepat dinamakan sahabat. merajut apa yang menjadi ikrar untuk mencinta.

hingga akhirnya aku tau perkawanan itu mencinta, entah seperti apa yang mereka rajut. aku menyelam lalu tenggelam, nyaris sampai ke dalam. kemudian, pada malam itu segala yang ada terbuka.

aku beranjak, benar-benar menjauh, enyah, lelah. kemudian ia mengetuk usai merampungkan tugasnya di rumah kawan. betulkah kau datang untukku? tapi maaf, tak ada bagian rumahku yang perlu kau perbaiki tuan…

berdenyut-denyut dug, dug, dug. terketuk, tok, tok tok, lalu masuk.

kau bilang rumahku bagus, yang meminta izin untuk tinggal. baik sekali kau tuan datang ke lubuk tak bernyawa macam ini — yang kusebut rumah.

kamu… akh… maksudku tuan. aku tak bisa lanjutkan ini lagi. karna hingga kini tuan di sini, menemani, mewarni, mempelajari, memahami… aku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s