Islam Bukan Agama Anti Kebudayaan

Bismillahirahmanirahiim…

Sebetulnya apa yang hendak saya sampaikan berikut aslinya merupakan tulisan Rudy Gani, Ketua Umum Badko HMI Jabotabeka-Banten. Tulisan Rudy saya baca di sebuah portal berita online [hidayatullah.com].

Tidak bermaksud copy paste tanpa izin, sungguh insyaAlloh niatnya sekedar untuk berbagi dengan masyarakat yang lebih luas. Dan mungkin banyak ketidaksempurnaan atau perbedaan pendapat dari khayalak manapun yang membaca blog ini, afwan…

Rudy menyatakan bahwa tulisannya di portal online tersebut berawal dari pro kontra konser Lady Gaga dan Irshad Manji. Namun saya hanya ingin berbagi seputaran buah bibir Lady Gaga (L).

Menurutnya, Badan koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam Jabotabeka-Banten (Badko HMI Jabotabeka-Banten) perlu memberi respon atas beragam opini yang berkembang di masyarakat, khususnya terkait dengan posisi Islam dalam memandang kesenian.

Perlu ditegaskan bahwa Islam bukanlah agama yang membatasi kebebasan berekspresi seseorang. Alasannya pertama, tutur Rudy, di dalam ajaran Islam tidak ada satupun ayat yang membatasi kebebasan seseorang dalam rangka mengekpresikan sebuah keindahan yang dirinya lihat dan rasakan.

Namun diakuinya, hingga ini memang masih ada persoalan terkait batasan keindahan tersebut oleh beberapa ahli tafsir.  Pada dasarnya, selama sesuai dengan keyakinan dan ajaran Al-quran dan sunnah setiap pribadi muslim diperbolehkan mengeluarkan ekpresi sesuai dengan minat dan bakatnya.

“Bahkan, sejarah Islam sendiri memperlihatkan beragam ekspresi kesenian yang dilahirkan para pemikir Islam di masa kejayaan Islam beberapa abad lalu. Islam sejalan dengan ketinggian budaya yang melahirkan kesenian tinggi yang kemudian ditiru bangsa Barat pada masa Rennaisance,” imbuh Rudy.

Saya sependapat dengan gagasan Rudy dalam tulisannya, sangat disayangkan jika yang terjadi kini adalah (tanpa sadar) propaganda yang digembar-gemborkan oknum tertentu dan pada akhirnya menyudutkan Islam. Khususny terkait sajian media massa yang sedikit banyak menampilkan distorsi fakta karena angle pemberitaan yang dipilih tentu yang paling menarik minat khalayak menyimaknya.

Alhasil, Islam bak kambing hitam diskusi dan terancam batalnya konser Lady Gaga. Saya di sini pun bukan dalam kapasitas yang memiliki pemahaman memadai dan ilmu yang ideal untuk menentukan mana yang benar dan siapa yang salah.

Tapi alangkah menjadi lebih nyaman bila seluruh pihak dapat menghormati perbedaan pandangan dengan cara yang santun dan terukur. “Tidak menggenaralisir salah satu kelompok yang kemudian dikaitkan dengan agama tertentu, apalagi Islam,” ujar Rudy dalam tulisannya.

Sebab penggiringan opini, utamanya yang dilakukan media massa, tentu merugikan citra Islam di mata umat Indonesia. Apalagi, berita pelarangan diskusi dan kemudian pembatalan konser Lady Gaga diiput luas media asing.

Para pihak terutama mereka yang mempropagandakan Islam sebagai agama anti kebudayaan dan kesenian sebaiknya menghentikan segala macam pernyataan yang berujung pada kemarahan umat. Rudy berpendapat, berdasarkan kajian dan pengamatan yang dilakukannya, usaha penyudutan Islam sebagai agama yang tidak toleran, anti kebudayaan/keseniaan— merupakan pekerjaan sistematis yang dilakukan musuh-musuh Islam dengan menggunakan semua isu yang ada guna memancing perdebatan yang ujungnya mendangkalkan umat Islam Indonesia seperti yang terjadi akhir-akhir ini.

Wallohualam…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s