Bangkitlah Industri Perkapalan Indonesia

Batam merupakan salah satu pusat kluster industri galangan kapal nasional.
Selama ini perusahaan galangan kapal di Indonesia sulit berproduksi efisien dan tarifnya masih lebih mahal.
JAKARTA (5/6/2012) – DALAM beberapa tahun terakhir, sejumlah ahli pengelasan (welder) di perusahaan galangan kapal milik industri nasional, memilih hengkang ke perusahaan-perusahaan serupa di luar negeri. Alasannya sangat klasik, seperti pada industri strategis lainnya, bayaran di luar negeri lebih tinggi.

Tetapi apakah sekadar bayaran yang tinggi yang membuat mereka hengkang? Lalu bagaimana nasib industri perkapalan nasional kalau sumberdaya manusia lokal yang berkualitas itu hijrah ke negeri orang? Larinya para ahli welder itu hanya secuil fenomena dalam indusrtri ini. Belum lagi perkara pajak, pengadaan bahan baku, dan komponen-komponen lain yang membuat industri ini di dalam negeri belum beranjak, apalagi berlari kencang.

Sejumlah praktisi coba membandingkan kondisi Indonesia dan Singapura. Di Singapura, tak ada tarif bea masuk, VAT 6%, pemerintah men-support terutama warga lokal yang punya bisnis misalnya pemberian aneka scheme loan, dan semangat warga di sana yang survival karena menyadari hidup dalam negara yang kebanyakan imigran. Adapun di Indonesia, ada bea masuk, VAT 10%, pemerintah belum sepenuhnya men-support bahkan perbankan juga kurang mendukung, birokrasi yang masih berbelit, dan perkara ecek-ecek lainnya.

“Pemerintah memang memberikan insentif untuk meringankan beban pajak melalui bea masuk ditanggung pemerintah (BMDTP). Namun, pengurusan perizinan BMDTP harus melalui proses panjang dan berbelit-belit,” kata Ketua Umum Ikatan Perusahaan Kapal dan Lepas Pantai Indonesia (Iperindo) Tjahjono Rusdianto, kepada Jurnal Nasional.

Benar bahwa dalam rangka mewujudkan Indonesia sebagai negara industri yang tangguh pada tahun 2025, menghadapi tantangan dan kendala yang ada, serta merevitalisasi industri nasional, pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 28 tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional.

Sebagai break down-nya, telah tersusun 35 peta panduan pengembangan klaster industri prioritas. Klaster itu dibagi dalam enam kelompok yaitu Kelompok Klaster Industri Basis Industri Manufaktur, Klaster Industri Berbasis Agro, Klaster Industri Alat Angkut, Klaster Industri Elektronika dan Telematika, Klaster Industri Penunjang Industri Kreatif dan Industri Kreatif Tertentu, serta Klaster Industri Kecil dan Menengah Tertentu.

Bagaimana dengan industri perkapalan? Industri ini masuk dalam kelompok klaster industri alat angkut. Untuk jangka menengah, diharapkan hingga 2014 jumlah dan kemampuan industri perkapalan/galangan kapal nasional dalam pembangunan kapal meningkat sampai dengan kapasitas 150 ribu DWT. Pun dalam persoalan produktivitas industri perkapalan atau galangan kapal nasional ditingkatkan dengan asumsi semakin pendeknya delivery time maupun docking days.

“Untuk jangka menengah kami perkirakan melampaui target. Hingga akhir tahun ini kami prediksi mencapai kisaran 700 ribu DWT,” kata Budi Darmadi, Direktur Jenderal Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi (Dirjen IUBTT).

Adapun untuk jangka panjang hingga 2025, ditetapkan adanya galangan kapal nasional yang memiliki fasilitas produksi berupa building berth/graving dock yang mampu membangun kapal dan mereparasi kapal atau docking repair sampai dengan kapasitas 300 ribu DWT untuk memenuhi kebutuhan di dalam maupun luar negeri (world class industry). Lalu, meningkatnya kemampuan industri perkapalan atau galangan kapal nasional dalam membangun kapal untuk berbagai jenis dan ukuran seperti Korvet, Frigate, Cruise Ship, LPG Carrier dan kapal khusus lainnya.

Selain itu, meningkatnya pertumbuhan dan perkembangan industri komponen kapal nasional untuk mampu mensuplai kebutuhan komponen kapal dalam negeri. Diharapkan pula, Pusat Desain dan Rekayasa Kapal Nasional (PDRKN)/ National Ship Design and Engineering Centre(NaSDEC) semakin berkembang dan semakin kuat dalam mendukung industri perkapalan/galangan kapal nasional.

Selama ini perusahaan galangan kapal di Indonesia sulit berproduksi efisien dan tarifnya masih lebih mahal di banding perusahaan galangan kapal di negara lain. Bahkan, dukungan dari industri komponen juga masih minim. Untuk itu, INSA gencar mengajak sejumlah perusahaan pelayaran asing untuk bermitra dengan perusahaan lokal dalam upaya pendirian industri komponen kapal maupun industri galangan kapal.

“Saat ini, industri galangan kapal membutuhkan banyak dukungan dari industri komponen,” ucap Ketua Umum Indonesian National Shipowners Association (INSA) Carmelita Hartoto.

Selain itu keseimbangan kapasitas galangan dengan kuantitas armada kapal belum sebanding. Menyikapi hal tersebut, Kementerian Perindustrian mendorong pembangunan tujuh galangan kapal pada tahun ini. Galangan tersebut ada di beberapa lokasi, seperti di Batam akan dibangun oleh PT Arpeni Pratama Ocean Line Tbk (APOL). Lainnya berlokasi di Jawa Timur (Jatim) dibangun oleh PT Daya Radar Utama serta PT Dok dan Perkapalan Surabaya. Ada pula yang dibangun di Karimun, Lampung, serta Madura. “Investasi galangan kapal itu bertahap,” ucap Budi Darmadi.

Bagaimanapun juga, industri perkapalan termasuk galangan kapal perlu terus didorong ke arah kemajuan dan perbaikan. Bahwa hingga kini masih ada kendala, perlu dicariakn solusi-solusi terbaiknya. Kebangkitan industri perkapalan nasional termasuk galangan kapal, tentu akan semakin membuka kemungkinan bahwa negeri ini tidak akan lagi sekadar sebagai pasar, tetapi sungguh sebagai pelaku. (Dini Hariyanti/Dion B Arinto)

 

tulisan ini juga dipublikasikan di Suratkabar Harian Jurnal Nasional edisi 5 Juli 2012.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s