Tetap Optimis Kendati Tak Cepat

Industri perkapalan nasional.

PADA Maret 2012 lalu, digelar ajang The Asia Pacific Maritime di Singapura. Dari ajang itu, Negeri Singa tersebut serasa sebagai satu-satunya kampiun industri kapal dan galangan kapal di kawasan Asia Pasifik. Bagaimana dengan Indonesia sebagai negeri yang dua per tiganya adalah lautan yang membentang dari ujung barat ke timur dan utara ke selatan ini?

Ketua Umum Ikatan Perusahaan Kapal dan Lepas Pantai Indonesia (Iperindo) Tjahjono Rusdianto optimistis peluang investasi di sektor galangan kapal makin lebar dan terus tumbuh meski tak dalam kurun waktu cepat. Pasalnya, pengembalian modal investasi galangan kapal prosesnya lamban. Dari sisi kapasitas, ia memprediksi industri galangan akan tumbuh sekitar 20 – 30 persen selama 2012. Saat ini, total kapasitas galangan kapal di Indonesia sekitar tujuh juta DWT per tahun.

Peluang investasi di sektor galangan kapal nasional kian besar utamanya dipacu tingginya tingkat defisit kapasitas untuk kegiatan reparasi armada niaga nasional serta pembangunan kapal baru setelah pemerintah meminta agar bahan baku industri yang berasal dari impor dikurangi.

“Potensi galangan kapal tahun ini sangat potensial dan nampaknya banyak yang tertarik. Selama orang butuh kapal maka butuh galangan, kalau ada galangan yang bangkrut berarti ada kesalahan dalam pengurusannya,” ujar Tjahjono.

Ia menegaskan, potensi pertumbuhan investasi industri perkapalan jangan disangkutpautkan dengan kondisi PT PAL. Artinya, jika PAL sakit tak lantas semua industri galangan kapal nasional juga ikut sakit. Belum banyaknya pebisnis galangan kapal yang besar turut dipengaruhi kurangnya dana dan minimnya dukungan kalangan perbankan.

Karena itu, Iperindo menekankan bahwa yang paling membutuhkan insentif bukanlah perbankan agar mau tertarik kucurkan pinjaman kepada galangan. Melainkan, pelaku bisnis perkapalan itu sendiri. Ia memberikan contoh di Singapura, kredit untuk produksi kapal bisa mendapatkan bungan di bawah normal.

“Seharusnya regulator dan bank bisa melihat ini untuk bisa men-support. Tapi Ditjen Pajak anggap mereka sudah men-support. Mereka tidak paham, support untuk pelayaran tidak sama dengan men-support perkapalan,” kata dia.

Beberapa waktu lalu INSA menyatakan dalam keterangan resminya bahwa tingginya defisit kapasitas galangan untuk reparasi kapal menunjukkan potensi investasi yang besar pada sektor ini. Namun, pemerintah perlu mendorong berkembangnya industri komponen kapal agar akselerasi investasi di sektor ini bisa lebih cepat.

Saat ini tercatat, untuk reparasi saja terjadi defisit hingga 7,5 juta DWT, belum untuk pembangunan kapal baru yang setiap tahun rata-rata terjadi penambahan kapal hingga 700-1000 unit. Karena itu, perlu konsolidasi antara industri galangan nasional dan operator kapal guna menyikapi tingginya defisit kapasitas galangan untuk kegiatan reparasi kapal serta menyusun konsep roadmap industri perkapalan nasional

Tak hanya itu, percepatan investasi kapal laut di Indonesia juga banyak dipengaruhi penerapan kebijakan Domestic Transporter Obligation (DTO) yang pernah diusulkan operator pelayaran kepada pemerintah.DTO diyakini bisa mempercepat peningkatan usaha perkapalan nasional sehingga industri perkapalan nasional lebih bergairah.

DTO adalah program di mana pemerintah mewajibkan minimum 30 persen angkutan ekspor seperti Crude Palm Oil, batu bara dan minyak gas Indonesia dengan mengunakan kapal nasional sebagai kelanjutan program nasional asas cabotage. Jika DTO belum terealisasi maka pertumbuhan jumlah kapal laut tidak akan signifikan karena pendorong utamanya masih pertumbuhan pangsa pasar muatan dalam negeri.

Ketua Umum INSA Carmelita Hartoto menyatakan bahwa per tahun rata-rata pertumbuhan jumlah armada kapal nasional sekitar seribu unit. Maka diperkirakan saat ini jumlah armada niaga nasional telah mencapai kisaran sebelas ribu unit.

Pertumbuhan ini mencerminkan besarnya investasi yang dikucurkan operator pelayaran nasional dan turut dipengaruhi penerapan asas cabotage oleh pemerintah. Berdasarkan catatan INSA, dengan penambahan sekitar 5.000 unit sejak 2005 hingga saat ini investasi anggota INSA diperkirakan menembus US$10 miliar dengana asumsi US$2 juta per kapal.

Cabotage sangat pengaruhi jumlah kapal. Asas cabotage ini bantuan dari pemerintah supaya kita bisa kuasai perairan kita untuk kepentingan domestic. Dan cabotage bukan hal aneh karena di luar negeri juga ada. Maka kita harus perkuat armada laut kita, sebab angkutan laut adalah solusi paling murah dan kita ini negara maritim,” kata Carmelita kepada Jurnal Nasional.

Industri pelayaran diharapkan berkontribusi besar dalam menyediakan kapal khusus di sektor hulu migas sejalan dengan amanat asas cabotage, paling lambat pada 2015. Menurut INSA, industri ini juga harus siap menghadapi pertumbuhan muatan laut yang dalam dua atau tiga tahun ke depan mencapai 1 miliar ton.

Carmelita menjelaskan, saat ini jumlah perusahaan galangan nasional mencapai 250 perusahaan dengan kapasitas untuk membangun kapal baru sebanyak 750.000 DWT dan 10 juta DWT untuk reparasi. Dini Haryanti

sumber Harian Jurnal Nasional edisi 5 Juli 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s