Pertamina Ragukan Efektifitas Pemanfaatan Biofuel

 

JAKARTA (19/07/2012) – PEMANFAATAN bahan bakar nabati (BBN) biofuel sebagai bahan bakar alternatif sulit berkembang jika harga fatty acid methyl ester (FAME) tetap tinggi. Selain itu, BBN pun sulit termanfaatkan maksimal jika uang negera tersita untuk subsidi bahan bakar minyak terus menerus.

“BBN kendalanya itu harga, terutama kalo harga FAME-nya masih tinggi maka BBN tidak berkembang. Supaya berkembang memang harus ada regulasi yang atur jelas,” kata VP Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Ali Mundakir, di Jakarta, Kamis (19/7).

Sejatinya, pemanfataan FAME bermanfaat untuk menekan impor solar demi memenuhi kebutuhan pasokan BBM bersubsidi. Kuota biofuel jenis biodiesel dalam APBN 2012 ditetapkan sebesar 722.000 kiloliter (KL).

Pertamina sendiri mengutamakan pemasok FAME lokal dalam memanfaatkan sumber daya BBN di Tanah Air. Maka secara tak langsung perseroan turut berperan dalam mendukung tumbuhnya industri produsen FAME dan membuka lapangan kerja.

Pasalnya, imbuh Ali, bahan bakar yang berbasis energi baru terbarukan (EBT) kerap lebih mahal daripada yang berasal dari energi fosil. “Lebih mahal dari apa-apa yang konvensional, apalagi premium masih Rp4.500 maka orang tidak tertarik (pakai BBN). Sebab, prinsipnya kalau masih ada subsidi mau dikembangin apa saja sulitlah,” tutur Ali.

Sejak 15 Februari 2012 Pertamina meningkatkan pemanfaatan FAME untuk biosolar dari lima persen menjadi 7,5 persen. Hal ini bahkan melebihi ketentuan normal ditetapkan pemerintah yang hanya mewajibkan 2,5 persen.

Ketentuan itu tertuang dalam Peraturan Menteri (Permen) Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 32 tahun 2008 tentang Penyediaan, Pemanfaatan dan Tata Niaga Bahan Bakar Nabati (Biofuel) Sebagai Bahan Bakar Lain. Mandat untuk mencampur BBN ke dalam bahan bakar minyak (BBM) diberlakukan untuk BBM transportasi yang disubsidi.

Peningkatan FAME yang dilakukan Pertamina merupakan bentuk kepatuhan perusahaan pelat merah ini terhadap kebijakan pemerintah. Tujuannya demi mengoptimalkan pemanfaatan BBN sejalan dengan Kebijakan Energi Nasional untuk meningkatkan porsi penggunaan EBT.

Namun Ali menyayangkan sikap Pertamina demikian kerap dimaknai sebagai pencitraan BUMN saja. “Kadang orang-orang menilai ini kaya pencitraan saja. Artinya, Pertamina tidak benar-benar ingin mengembangkan kebijakan pemanfaatan BBN. Padahal BBN ini harus lebih didorong di samping pemerintah juga mengurangi subsidi BBM perlahan-lahan,” tuturnya kepada wartawan.

Kembali soal harga FAME, Ali menuturkan, ini akan tetap mahal jika terus terkait dengan kelapa sawit alias crude palm. Perlu diketahui, CPO (crude palm oil) diproduksi dari komoditas biji seperti jagung, singkong, kelapa sawit, dan jarak yang diolah dalam proses pengolahan BBN. Nanti hasilnya selain CPO ada pula CJO (crude jatropha oil), molasses, dan lainnya.

Selanjutnya diproses lagi dalam pabrik pengolahan BBN hingga menghasilkan produk berupa FAME, bioetanol dan lainnya. Lalu produk ini di-blending lagi dengan solar dan premium untuk menjadi bahan bakar nabati berupa biosolar dan biopremium dengan persentase yang telah ditentukan. Formulasi biaya FAME ialah harga CPO ditambah biaya produksi (processing cost).

FAME sendiri sebagai komponen blending BBN berasal dari CPO yang diproses secara transesterifikasi dengan metanol. Saat ini, tata niaga CPO sebagai minyak goreng pasarnya telah terbentuk dan harga publikasinya mengacu pada harga Badan Pengawasan Perdagangan Berjangka Komoditi (BAPPEBTI) yang dikelola Kementerian Perdagangan.

Sedangkan sampai kini belm ada harga publikasi FAME yang dapat dijadikan acuan bersama, baik oleh konsumen atau produsen. Karena itu, diperlukan formulasi harga FAME sebagai acuan penentuan nilai komersial yang realistis. Formula harga yang dibentuk berdasarkan pada proses bisnis BBN.

Bagi pelaku bisnis biofuel, penataan pasar dan harga merupakan hal penting. Pasalnya, biofuel harus mampu berkompetisi dengan BBM subsidi. Sedangkan masyarakat tentu lebih memilih harga bahan bakar yang lebih murah. Dampaknya, tanpa penataan pasar dan harga maka biofuel jadi inferior. Kerap kali harga FAME atau biodiesel dari minyak sawit per liternya lebih mahal daripada harga jual setelah di-blending dengan solar.

Di sisi lain, menurut Ali, solusi yang paling masuk akal untuk masalah kebutuhan bahan bakar dengan melakukan konversi ke bahan bakar gas (BBG). “Memang yang realistis kita pakai gas untuk ganti BBM. Karena secara ekonomis memungkinkan tapi harus didukung komitmen pemerintah, terutama untuk infrastruktur SPBG (Stasiun Pengisian Bahan bakar Gas),” ujarnya.

Masalahnya, Ali melanjutkan, untuk mendapat izin pendirian SPBG saja mekanismenya panjang karena butuh persetujuan dari beberapa pemangku kepentingan. “Terkait pendirian SPBG saja butuh beberapa tandatangan. Maka kita butuh bantuan pemerintah dalam hal perizinan. Dan saat ini ada enam mother station SPBG, yang aktif tinggal beberapa tapi tak berkembang,” ucap dia.

Namun, konversi ke BBG juga bukan tanpa kendala. Selain menyiapkan infrastruktur SPBG, juga butuh pengadaan converter kit. Alat ini berfungsi agar kendaraan yang tangki bahan bakarnya masih pakai BBM dapat menerima gas. Rencananya untuk tahap awal pemerintah akan mengimpor converter kit.

Ali Mundakir mencontohkan, jika di Selandia Baru tersedia pinjaman bank bagi mereka yang hendak membeli converter kit. “Bagi orang yang harus beli converter kit juga jadi kendala . Kalau di Selandia Baru orang yang mau pakai BBG converter dipinjami bank, dicicil ke bank.

Selama masih ada premium, ini akan jadi kendala. Makanya pilot project-nya pertama-tama  angkutan yang wajib pakai converter kit, ini kendalanya,” kata dia.

Indeks Harga Biofuel Direvisi

Bahan bakar nabati biofuel yang dipakai untuk mencampur solar terdiri dari dua jenis, yakni biodiesel dan bioetanol. Namun hingga kini revisi indeks harga BBN jenis tersebut belum juga disetujui Kementerian Keuangan (Kemenkeu).

Kendati demikian, tak ada target pasti dari Kementerian ESDM kepada Kemenkeu untuk menyelesaikan pembahasan revisi indeks harga itu. “Kita target keluarnya indeks harga as soon as possible tapi ya tahu sendiri kan Kementerian Keuangan, kasnya negeri, yang selalu mikir untuk mengeluarkan keputusan karena itu terkait dengan subsidi. Jadi, intinya pemerintah sudah memberi subsidi 3.500 untuk bioetanol dan 3.000 untuk biodiesel,” kata Direktur Bioenergi Ditjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kemenerian ESDM, Maritje Hutapea.

Selain itu, hingga saat ini baru biodiesel saja yang diproduksi sedangkan bioetanol belum berkembang akibat indeks harga yang ditetapkan pemerintah pada 2009 tak memberikan margin keuntungan layak bagi produsen. Dampaknya, sejak 2010 lalu para produsen bioetanol enggan memproduksinya.

Berdasarkan rencana strategis Kementerian ESDM, pada 2010 penggunaan bioetanol diamanatkan sebesar 660.980 kiloliter (KL), pada 2011 sebesar 694.000 KL, dan tahun ini sekitar 900 ribu KL. Sedangkan realisasi sampai Juli 2012 mencapai kisaran 437 ribu KL. Pemerintah melalui APBN 2012, menganggarkan subsidi bioetanol sebesar Rp3.500 per liter dengan total dana Rp854 juta.

Revisi indeks harga dilakukan KESDM lantaran harga indeks yang dibuat pada 2009 tak relevan lagi dengan harga sekarang. Pasalnya, jika mengikuti indeks itu maka biaya produksi bioetanol bisa lebih mahal ketimbang harga jualnya ke konsumen maka pengusaha enggan memproduksinya. Seperti yang terjadi saat ini, pasokan bahan bakar nabati (BBN) bioetanol tak kunjung diproduksi.

“Target pemanfaatan biodiesel dan bioetanol tahun lalu itu tinggi, sekitar 1 juta KL tapi tercapainya cuma tercapai hampir 40 persen, itu pun biodiesel doang. Makanya kalau harganya masih segitu ya jujur saja (pengusaha) bilang tidak sanggup, ya siapa yang mau rugi namanya juga bisnis,” ujar Maritje kepada wartawan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s