Loyalitas di Tengah Laut

Head of Production Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO), Djatmiko Mino Sasmito.
Head of Production Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO), Djatmiko Mino Sasmito.

DI Jakarta dan sekitarnya sehari-hari kita menyaksikan para pekerja kantoran berkemeja, mengenakan sepatu pantovel, menenteng tas dan berdesakkan di kendaraan umum. Namun suasana itu takkan Anda temui ketika tandang ke wilayah kerja kantor Pertamina Hulu Energi West Madura Offshoe (PHE WMO) di Jalan Amak Khasim, Desa Sidorukun, Gresik, Jawa Timur.

Seluruh awak yang ada di lingkungan kerja pemboran migas lepas pantai (offshore) itu mengenakan seragam berwarna serupa yakni oranye. Pelindung kepala alias helm yang dipakai pun sama dan mereka pun wajib menggunakan safety shoes yang menutupi ujung kaki hingga betis.

Di sana tak ada yang mengenakan kemeja, parfume menusuk hidung, tas bermerek, satu map yang berisi setumpuk kertas, maupun sepatu pantovel mahal. Ya tentunya safety shoes yang dipakai para kru pemboran minyak harganya lebih mahal. Alat komunikasi yang pakai adalah handy talkie khusus, bukan Blackberry atau Samsung Galaxy.

Produksi dari seluruh wilayah kerja migas PHE WMO di bawah komando satu orang, yakni kepala produksi. Adalah Djatmiko Mino Sasmito (49) yang menduduki jabatan Head of Production Pertamina Hulu Energi di wilayah kerja WMO. Kendati rumah tinggalnya ada di Jakarta namun ia lebih banyak menghabiskan waktu di Gresik utamanya di lepas pantai.

Dalam satu bulan, lazimnya pria berkulit sawo matang itu berada di tengah laut selama dua pekan. Seminggu setelahnya kembali ke kantor PT Pertamina Hulu Energi WMO di PHE Tower Jalan Letjen TB Simatupang, Jakarta Selatan. Baru sepekan kemudian mendapat jatah libur.

“Saya di sini sejak 1991 sejak konsesi Kodeco habis lalu pengelolaan dialihkan ke Pertamina. Dengan bangga ketika itu, saya dan teman-teman secara aklamasi memilih bergabung dengan Pertamina bukannya tetap di Kodeco. Karena kami bekerja untuk bangsa,” ucap Djatmiko kepada Jurnal Nasional di sela perjalanan mengelilingi anjungan WMO bersama Satuan Kerja Khusus Pelaksana Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) pekan lalu.

Selama berkiprah di sektor hulu migas tak jarang ia ditawari kesempatan berkarir di perusahaan minyak lain, baik dalam maupun luar negeri. Tapi sejauh ini ia selalu menolak tawaran-tawaran yang menghampiri. Alhasil sejak 1991 hingga kini, pria yang semasa kuliah di jurusan teknik itu terus mengenakan seragam Pertamina sebuah perusahaan migas pelat merah.

“Sering dapat tawaran baik di luar negeri ataupun di Indonesia. Tidak hanya dari satu perusahaan tentunya. Tapi saya lebih tertantang dengan cita-cita PHE bahwa nantinya perusahaan ini akan menjadi flag carrier di industri migas. PHE akan bawa bendera bangsa di industri perminyakan,” ujar Djatmiko.

Di sisi lain, ia tak begitu nyaman dengan pandangan masyarakat umum terhadap mereka yang bekerja di perusahaan migas asing. Jika bergabung di oil company asing kerap dianggap sama dengan memakmurkan negeri orang. Padahal di perusahaan minyak itu pun sebagian besar awaknya adalah orang-orang Indonesia.

Djatmiko tengah menjelaskan kepada wartawan terkait kegiatan operasional salah satu anjungan minyak lepas pantai di wilayah kerja PHE WMO.
Djatmiko tengah menjelaskan kepada wartawan terkait kegiatan operasional salah satu anjungan minyak lepas pantai di wilayah kerja PHE WMO.

Kecintaan Djatmiko terhadap dunia perminyakan tak semata karena iming-iming pendapatan besar. Awalnya justru berangkat dari kekecewaan ia terhadap dunia kerja di institusi pemerintahan. Dulu ada seorang kawannya lulusan sarjana hukum yang melanjutkan karir di kejaksanaan sebagai pegawai negeri. Mengetahui kawan tersebut harus membayar ratusan juta untuk “masuk” kejaksaan, Djatmiko kecewa dan membuang jauh-jauh minat menjadi pegawai negeri.

“Melihat teman saya yang masuk dengan bayar Rp100 juta itu saya lantas “down”. Karena saya jadi berpikir, berarti kalau mau masuk pegawai negeri harus seperti. Itu langsung membentuk opini saya,” ucap Djatmiko.

Selanjutnya ia mencoba melamar kerja ke perusahaan minyak Vico dan diterima lantas mengabdi sejak 1985 – 1991. Tak lama kemudian dirinya “dibajak” Kodeco yang menjadi operator wilayah pemboran minyak yang ada di timur laut Pantai Madura. Ia menerima tawaran dari Kodeco karena sejumlah keinginannya, termasuk soal pendapatan, disetujui perusahaan asal Korea itu. Pertimbangan pindah ke Kodeco terkait pula dengan lokasi operasi pemboran, Kodeco di Pulau Jawa sementara Vico di Kalimantan Timur.

Kini, imbuh Djatmiko, sudah waktunya melakukan tugas negara dengan bergabung di Pertamina. Di samping itu, kian waktu PHE WMO juga terus menunjukkan peningkatan kinerja. Ia siap mendampingi PHE hingga menjadi perusahaan minyak kelas dunia pada 2017 dan berlevel regional pada 2015. Kalau pun ia sampai pindah “perahu” ke perusahaan migas asing hanya akan membuat ahli-ahli perminyakan di dalam negeri makin sedikit.

“Di perminyakan, khususnya ahli pemboran jumlahnya memang kurang. Banyak faktor yang pengaruhi, bisa jadi dari dalam diri orang itu nasionalismenya kurang atau karena salary di sini kurang. Solusinya adalah yang sekarang dilakukan PHE dengan memberikan kesempatan sepuas-puasnya bagi tiap orang. Jenjang karir selama secara leadrship dan kompetensinya mumpuni silahkan. Ide inovasi akan didengar dan ditampung dengan sangat baik di PHE,” ujar Djatmiko.

Ketika ditanya suka maupun duka bekerja di pemboran minyak, ia menjawab, nyaris tak ada. Kendati harus meninggalkan keluarga namun tak dirasakannya sebagai duka dari pekerjaan yang dijalani. Pasalnya, sejak sebelum menikah pun sang istri, Hermina Novianti (49), paham betul pekerjaan yang digeluti Djatmiko. Sebab sejak masih pacaran pun keduanya jarang bertemu.

“Sejak dari muda waktu pacaran sudah tahu pekerjaan saya, kan waktu masih pacaran diapelinnya sudah jarang,” ucapnya. Mereka akhirnya memutuskan untuk menikah pada 1987 setelah dua tahun menjalin hubungan.

Sebelumnya Hermina adalah wanita karir. Hingga anak ketiga mereka lahir barulah ia memutuskan undur diri dari Badan Urusan Logistrik (Bulog). Keputusan itu merupakan kesepakatan keduanya agar tak saling bersaing mencari uang. Dengan begitu mereka saling berbagi tugas, yakni Djatmiko mencari nafkah sementara Hermina fokus mendedikasikan waktu untuk anak-anak.

Dari pernikahan mereka lahirlah dua putra dan dua putri, yaitu Bagus, Maharani, Panji, dan Lulu. “Lulu paling kecil sekarang masih kelas 3 SMP. Bagus yang tertua sekarang 23 tahun dan baru lulus dari Binus University. Sedangkan Maharani, adiknya, karena lebih displin malah lebih cepat menyelesaikan pendidikan dan sekarang bergabung di ConocoPhillips. Sementara Panji masih kuliah sekarang umurnya 19 tahun,” kata Djatmiko.

Kegiatan usaha hulu migas terkenal dengan besarnya modal yang diperlukan serta tinggi resiko pekerjaan. Bagi kru pemboran minyak utamanya di lepas pantai, kecelakaan dalam berbagai bentuk merupakan konsekuensi pekerjaan mereka. Djatmiko mengaku, tak banyak kecelakaan kerja yang terjadi di WMO. Sebab seluruh manajemen menerapkan dengan ketat prosedur keselamatan dan kesehatan kerja. Kalau pun ada kecelakaan kerja semua akan dicatat jelas.

 

“Tidak ada fatal accident. Paling hanya kejepit lalu tangan berdarah, itu kan normal. Ya kalau berdarah, kulit kita teriris pisau cukur juga berdarah kan. Tapi semua itu tercatat,” ucapnya.

 

Djatmiko hanya salah satu dari ratusan awak pemboran minyak lepas pantai di Tanah Air. Mereka adalah orang-orang yang berada di garda terdepan dalam mencapai target produksi migas yang ditetapkan pemerintah. Seluruh resiko kerja mereka hadapi setiap hari di tengah lautan lepas demi mencapai cita-cita APBN 2013 atas produksi minyak 900.000 barel per hari dan gas 1.360 juta barel setara minyak per hari.

 

Perlu diketahui, PT Pertamina Hulu Energi WMO adalah operator West Madura Production Sharing Contract (PSC) sejak 7 Mei 2011. PHE WMO bergerak di bidang eksplorasi serta eksploitasi minyak dan gas bumi. Kegiatan eksplorasi migas di Blok WMO berlangsung sejak 1984 dan berhasil memproduksikan migas pertama kali pada 1993.

 

Tahun ini Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mematok produksi siap jual (minyak) antara 830.000 – 850.000 barel per hari. Blok migas yang cukup diandalkan untuk mendorong lifting nasional adalah West Madura Offshore. Dalam rencana kerja dan anggaran PHE WMO 2013, ditargetkan dapat memproduksi minyak rata-rata sebanyak 20.443 barel per hari dan gas 143,1 juta standar kaku kubik (mmscfd).

 

Saat ini, produksi minyak dari WMO baru mencapai 13.613 barel per hari sedangkan sekitar 165 mmscfd. Blok migas lepas pantai itu baru mendapatkan tambahan produksi dari Lapangan PHE KE-38B sekitar 5.400 barel per hari dan gas 5 mmscfd. Seharusnya tambahan produksi ini keluar sejak November 2012. SKK Migas ingin WMO mencapai rata-rata produksi minyak di atas target dalam rencana kerja.

 

Tambahan produksi dari PHE KE-38B terdiri atas 2.100 barel minyak per hari dan 5 mmscfd dari sumur PHE KE-38B1, sedangkan 3.300 barel minyak lainnya dari sumur PHE KE-38B2. Seluruh proses eksplorasi yang dilakukan PHE sampai produksi awal migas mampu dirampungkan dalam kurun waktu delapan bulan 21 hari.

Minyak dan gas dari WMO diproses melalui fasilitas lepas pantai di timur laut Pulau Madura dan didukung terminal penerima gas di darat yang berlokasi di Gresik, Jawa Timur.

5 thoughts on “Loyalitas di Tengah Laut

  1. Bapak Djatmiko, Perkenalkan nama saya Ekwan Hardiyanto anggota baru dari PHE ONWJ. Saya baru akan memulai pendidikan saya di PHE April ini, saya sangat terkesan dengan tulisan pengabdian bapak. Semoga saya bisa mencontoh yang bapak lakukan loyalitas untuk negeri.

    Salam.

    • hehe…. selamat bergabung dengan PHE yah.
      aku tulis ini ketika tahun lalu sedang liputan ke anjungan lepas pantai West Madura Offshore..
      terima kasih sudah berkunjung ke blog ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s