Robekan Kertas dan Aku #2

seize the day!
seize the day!

SEIZE the day. Seize; menangkap dengan tiba-tiba, menyita. Contoh kalimatnya, she seized the gun from him. Demikianlah penjelasan yang kudapat dari kamus elektronik. Lantas ketika kurangkai antarkata dalam kalimat itu aku semakin bingung; menyita hari. Maksudnya?

Itu terjadi sekian tahun lalu waktu masih kukenakan seragam putih biru. Kemampuan bahasa Inggrisku ketika itu payah. Oke, nggak berarti sekarang lantas membaik. Tapi setidaknya aku kini tahu, seize the day, bukanya menyita hari melainkan merebut kesempatan.

Siapapun yang menyodorkan kalimat itu untuk pertama kalinya kepadaku, menancapkannya dengan mantap di kepala, membuatku kebingungan mencari makna yang tepat (mungkin bagi sebagian orang sekali baca langsung paham), hingga akhirnya aku memahami dengan [cukup] baik artinya pascatanpa sengaja menonton film Dead Poets Society. Kepada siapa saja yang membuatku sedemikian ingat dengan kalimat seize the day, terima kasih.

Sialnya yang melakukan itu cuma satu orang. Bagi beberapa orang, serentetan kalimat bijak sama dengan sampah. ‘Woi, hidup nggak seenteng yang ditulis kali’ – kata mereka. Sebagian lain, bahkan alasan mereka membuat akun twitter hanya untuk follow akun penebar kalimat motivasi. Aku tidak termasuk di antara keduanya tapi yang pasti orang yang telah menyebutkan “seize the day” kepadaku adalah salah satu dari sekian banyak orang yang tak pernah kutemui lagi (tapi wujud rupanya tetap terekam seperti film dokumenter di otak).

* * * [simak robekan kertas dan aku #1 disini]

Jemari kedua tanganku memegang tali tas punggung. Menggesek-gesekkan telapak jempol pada bagian dalam tali tas yang menyangkut di bahu. Kepala celingak-celinguk memperhatikan setiap angkutan kota yang melintas, wanti-wanti kalau angkot yang kutunggu lewat. Di bawah pohon tanjung di pinggir pertigaan yang berjarak 200 meter dari gerbang sekolah.

“Kamu itu jangan sombong nanti ketika ujian akhir nasional ya, Ndra. Karena nomor mejamu paling depan, nanti ketika ibu masuk ke ruangan ujian dan menyelipkan kertas jawaban ke kamu harus kamu ambil dan segera oper ke teman-teman yang lain. Kita semua harus kerja sama. Tapi kamu jangan cerita ini ke orang tua di rumah lho,” tutur Ibu Thantri, wali kelasku saat SMP.

Sebal sekali mengingat kalimat yang disampaikannya selepas bel pulang sekolah menggema tadi. Aku bukan anak terpintar memang. Tapi kalau aku tidak suka mensontek apa berarti aku anak sombong? Jadi, aku harus ikuti ajarannya agar melalui ujian kelulusan SMP dengan kunci jawaban ilegal? Ya ampun, adakah mesin yang bisa memajukan hidupku sebulan dari sekarang?

Angkot yang kutunggu tak kunjung lewat.

Lho, itu angkotnya. Aku melambai-lambaikan tangan mengisyaratkan si sopir agar berhenti. Dan… whussss… mobil carry bercat putih itu melesat tak peduli. Angkotnya penuh.

“Bang.. Bang.. Berhenti, bang..!” tetiba seorang anak berambut cepak, mengenakan kemeja putih, badge cokelat, dan celana panjang abu-abu berlari ke arahku sembari melambai-lambai ke mobil angkutan kota yang penuh. Larinya sampai membuatku mundur dua langkah dari tempat berdiri semula.

Repot sekali kelihatannya. Tangan kirinya erat memegangi segulung poster karton putih. “Baaang..” teriaknya lebih panjang.

“Percuma, angkotnya penuh. Jadi nggak mau berhenti,” kataku.

Ia menghentikan langkah tergopohnya, berbalik arah sembari menatapku. “Yah, makin lama dong nunggunya ya”.

“Iya. Saya pun sudah menunggu 15 menit,” jawabku sambil kembali celingukkan.

Setelah jawabanku itu tak ada kelanjutan percakapan. Anak SMA berambut cepak pembawa karton putih ini pun sibuk mengarahkan kepalanya ke kanan. Waspada angkot yang ditunggu melintas.

Siswa SMA itu berdiri tepat di samping kananku searah dengan jalur datangnya angkutan kota carry putih yang aku, maksudnya kami, tunggu. Setiap menoleh kekanan otomatis di sudut mata tertangkap sosoknya.

Tak sadar ketika itu perhatian beralih pada poster karton putih yang dibawa kakak-kakak SMA di sampingku ini. S – E – I – . Kepalaku seketika miring mengikuti arah tulisan yang tertera secara vertikal pada poster yang dipeluknya. S – E – I – Z – E mmmm artinya, ukuran (salah mengingat kosa kata, seharusnya “size”). T – H – E D – A – Y.

SEIZE THE DAY… mengukur hari. Keningkku berkerut. Mengukur hari?

“Angkotnya datang tuh,” kata kakak SMA itu.

Aku tak tahu dia siapa. Namanya, usianya, tempat tinggalnya. Aku hanya bertemu dengan dia sekali itu saja. Berkomunikasi di pinggir jalan itu saja. Kendati aku dan si kakak SMA berada dalam angkutan kota yang sama tapi posisi duduk kami terpaut jauh sehingga tak sempat kutanyakan kenapa membuat poster tentang ‘mengukur hari’.

Beberapa waktu setelah itu, aku tengah bermalam di salah satu rumah kawan pada suatu akhir pekan. Tak ada siapapun kecuali kami berdua, kedua orang tua temanku ini tengah ke luar kota. Karena nggak ada kerjaan, kami putuskan untuk nonton VCD saja sampai tertidur. VCD yang ada kuambil secara acak. Aku bahkan saat itu tak sadar kalau yang kuambil adalah salah satu film terbaik yang pernah diperankan Robin Williams, selain Jumanji tentunya, berjudul Dead Poets Society.

Carpe diem, seize the day, raihlah kesempatan. Itu adalah hal pertama yang diajarkan John Keating (diperankan Robin) kepada murid-muridnya di Welton Academy. It a must watch movie!

Meraih kesempatan. Raihlah harimu. Hari yang benar-benar kau tunggu dengan jantung berdebar. Hari ketika kau akan melakukan hal istimewa yang kau tunggu-tunggu sekian waktu. Tak peduli di hari itu orang yang kau sayangi menantikannya atau tidak. Atau mungkin orang lain justru berharap kau tak pernah mencapai hari tersebut. Tak peduli apa yang menghadang. Aku harus tetap meraih hariku, karena itu diperuntukkan Tuhan kepadaku.

Aku tak pernah tahu apa yang dilakukan si kakak SMA itu dengan poster putihnya. Bahkan aku tak tahu persis isi keseluruhan poster tersebut. Aku cuma ingat satu kalimat tertulis secara vertikal: seize the day.

Seize the day, kurapal itu setiap kali merasa kekurangan semangat. Termasuk ketika hari ujian akhir nasional tiba.

“Maaf Bu Thantri, tapi saya tidak bersedia untuk melakukan yang ibu mau. Saya tidak bisa menerima, menyebarkan, apalagi menggunakan kunci jawaban itu. Saya cuma mau lewati ujian ini dengan sebisanya,” ujarku kepada wali kelas satu jam sebelum ujian hari pertama dimulai.

Tentunya wali kelasku marah. Tak terima. Bukan cuma dia, tapi guru-guru lain turut menghujaniku dengan kalimat-kalimat konyol (kalau tidak bisa kusebut menyakiti). “Jangan sok suci Dyandra!” itulah satu kalimat yang paling kuingat dari mulut wali kelasku sendiri.

Ujian pertama adalah matematika. Mata pelajaran yang paling minim kukuasai. Apakah setelah keluar dari ruang guru lantas Tuhan tetiba melimpahi cahaya kecerdasan bertubi-tubi kepadaku? hahahaa.. jangan konyol, tentu saja tidak. Aku bahkan hanya bisa mengerjakan beberapa soal. Berdasarkan perhitungan manual, kalau dapat kujawab 25 dari 40 soal yang ada setidaknya aku tetap bisa lulus. Tentu dengan nilai pas di ambang batas standar kelulusan.

Aku menyelesaikan pendidikan SMP dengan sumpah serapah dari orang-orang. Dari guru, kepala sekolah, adik kelas, bahkan teman sebangku. Mungkin mereka menyumpahi agar hidupku tak pernah lancar selepas dari sekolah ini. Menurut mereka, karena sikap bodohku tiga orang di kelas tidak lulus lantaran tak dapat kunci jawaban.

“Ndra, kamu jahat sekali. Aku nggak lulus, kamu peduli? Aku benci banget sama kamu Dyandra,” seorang teman berbisik ke telinga pada hari pengambilan ijazah.

* * *

Entahlah sihir macam apa yang terkandung dalam kalimat ‘seize the day‘. Tapi setelah mengerti artinya dengan baik aku kerap teringat bahwa aku harus meraih kesempatan. Dari jutaan kesempatan setidaknya aku harus mampu merebut satu diantaranya, satu yang baik.

Oke, aku siap sekarang. Apapun yang ada di sana, seburuk apapun lapangan yang harus kupijak adalah kesempatan untuk mengenal kehidupan agar sedikit lebih kaya. Aku segera mengancingkan sabuk pengaman. Memasang headphone di telinga yang tersambung dengan headphone yang dipakai lima awak lain dalam helikopter ini.

“Selamat siang rekan wartawan sekalian. Saya kapten Lingga Agustinus. Saat ini Anda berada dalam penerbangan SA-754, dari lapangan udara Suzie Air menuju Lhokseumawe, Nangroe Aceh Darussalam. Kita akan segera bertolak menuju wilayah Aceh yang baru saja dilanda tsunami. Suhu di luar mencapai 31 derajat celcius. Suhu di dalam ruangan 24 derajat celcius. Ini adalah penerbangan bebas asap rokok. Penerbangan ini diperkirakan memakan waktu 45 menit. Waktu saat ini menunjukkan pukul 13.15, tidak ada perbedaan waktu dengan Lhokseumawe. Dan diperkirakan kita akan tiba pada pukul 14.00. Silahkan kencangkan sabuk pengaman Anda, tegakkan sandaran kursi. Semoga penerbangan ini berjalan lancar. Terima kasih”.

“Seize the day!” rapalku dalam hati.

One thought on “Robekan Kertas dan Aku #2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s