Robekan Kertas dan Aku #1

TAHU Surat Kabar Harian KOMPAS? Sekitar 23 tahun yang lalu harian umum ini terbit sebanyak 16 halaman. Tepatnya pada Minggu, 24 Desember 1989, berita utama di halaman muka surat kabar itu membahas soal konflik di Rumania. Pada periode itu, kalau tidak salah ingat, Presiden Rumania Nicolae Ceausescu mengakhiri kekuasaannya dengan tragis setelah berkuasa selama 15 tahun dari 1974 – 1989. Ia mati digantung di alun-alun Kota Bukares bersama istrinya.

Halaman depan Kompas hari itu mengambil judul “PERGOLAKAN BERLANJUT DI RUMANIA: Sudah 13.000 Orang Tewas”. Kalau tidak salah, ada seorang jurnalis Kompas bernama Eni Diponegoro yang melaporkan soal konflik tersebut dalam rupa tulisan feature. Sejujurnya, tak bisa kujelaskan detil soal konflik Rumania itu maupun isi feature tersebut. Sebab aku melihat itu hanya dari secarik robekan kertas koran Kompas di rumah. Lembaran yang telah menguning itu tergeletak begitu saja di atas lemari tua di depan kamar mandi. Entah dari mana muasal sebelumnya.

Aku pun bukan hendak membahas tentang revolusi Rumania atau sejarah Surat Kabar KOMPAS. Sejenak terbersit, pada hari Minggu, 23 tahun silam, koran tersebut ada di bagian rumahku yang mana ya? sebab berdasarkan cerita kedua orang tua, keluargaku dulu sempat beberapa kali pindah tempat tinggal. Lebih spesifiknya lagi, apa yang sedang terjadi hari itu? Apa yang ibuku sedang lakukan ya? Atau bapakku? Atau saudara lelakiku? Sebab beberapa hari setelah 24 Desember 1989, terjadi peristiwa penting di rumah kami.

Empat hari pasca 24 Desember 1989, di salah satu rumah sakit bersalin di kawasan Tangerang, Provinsi Banten, seorang bayi lahir melalui operasi caezar. Ya, tepatnya pada 28 Desember 1989. Kini bayi itu sedang mengenang hari ulang tahunnya yang sudah lewat 55 hari. Tentunya sudah tak berbentuk bayi lagi. Usianya 23 tahun.

23 tahun.

Bayi itu adalah aku.

Empat tahun yang lalu kupikir akan menyenangkan jika kedepannya aku bisa bergelut di bidang jurnalistik. Seperti yang dilakoni Eni Diponegoro, si jurnalis KOMPAS tadi. Dan jadilah demikian. Tak sampai empat tahun, cukup 3,5 tahun kemudian aku lulus dari bangku kuliah. Melanjutkan nafas sebagai reporter (kalau belum cocok dikatakan sebagai “wartawan”) pada salah satu surat kabar di ibukota. Hampir dua tahun lamanya aku ada di bidang ini.

Minyak bumi, gas bumi, tambang mineral, batu bara, rasio elektrifikasi, lifting minyak, subsidi BBM, insentif eksplorasi. Istilah-istilah itu akrab denganku selama hampir sepuluh bulan terakhir. Sejak Juni 2012, bos-bos di kantor menggeser desk liputanku ke sektor energi dan sumber daya mineral, sebelumnya di sektor perhubungan, tenaga kerja, kelautan, dan telekomunikasi.

Sampai pada delapan jam lalu aku pun tetap berkutat di sektor tersebut. Menyenangkan. Melelahkan. Seru. Yaah.. macam-macam rasa setiap hari. Mulai dari hal serius sampai yang tolol. Oke, harus diketahui bahwa wartawan ekonomi tak selalu dalam rupa orang yang.. yang.. (apa istilahnya ya?). Kuganti saja kalimatnya: reporter ekonomi itu macam-macam, ada yang setiap liputan tujuan utamanya mengejar narasumber tapi ada juga yang pikiranya tertuju pada makanan yang akan disajikan humas dalam MoU signing ceremony nanti. Hahahaa…

“Nggak laper gue. Nggak jadi laper gara-gara tadi liat ada orang (baca: wartawan) yang masukin tiga kotak nasi ke dalam tasnya,” kata seorang teman tempo hari. Aku ikut terpengaruh seperti yang dialami seorang teman itu? Tentu saja tidak. Setelah liputan dan wawancara, perut terlanjur lapar. Tapi tenang saja, oknum yang memasukkan tiga nasi kotak ke tas tentu bukan aku.

Di lain hari ada lagi peristiwa yang menempel terus di kepala. Ini terkait pernyataan salah seorang pejabat penting di bidang minyak dan gas bumi (migas). Memang di kalangan wartawan sosoknya terbilang doyan cari pencitraan. Mengingat jabatan dia penting jadi suka atau tidak, kami tetap butuh pernyataannya. Ketika ditanya soal perlu tidak mencari mitra investor asing untuk melanjutkan kontrak pengelolaan salah satu blok migas di Kalimantan Timur, ia menjawab,”Ibaratnya Pxxxxxxxx dan Txxxx itu seperi suami istri. Ya kalau cari yang baru kan belum tentu cocok dengan suami baru”.

Oke, jadi menurutnya kontrak kerja sama pengelolaan blok migas yang melibatkan perusahaan pelat merah dengan perseroan asing layaknya perkawinan. Perkawinan… hhmm.. kalau putus kontrak, anggap saja suami istri bertengkar lalu cerai.

Lantas, bagian persetubuhan antara si suami dan istri digambarkan melalui?

One thought on “Robekan Kertas dan Aku #1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s