Berani Ambil Resiko?

COBA kunjungi mesin pencari bernama “Paman Google”. Pada kolom kata kunci ketik: resiko kehidupan mario teguh. Akan muncul beberapa link terkait dengan kata tersebut.

Arahkan kursor mouse ke bawah, tepatnya pada salah satu artikel tentang biografi Mario Teguh. Kalau mau gampang, kunjungi saja link berikut : http://biografi.rumus.web.id/biografi-mario-teguh/

Oke, saya tak bermaksud promosi laman website siapapun atau apapun. Juga tak berniat cerita tentang tokoh bernama Mario Teguh yang jadi narasumber tetap talkshow Mario Teguh Golden Ways di MetroTV.

Dalam artikel yang menyanjikan pemaparan biografi Mario Teguh pada link di atas (ternyata paparannya sangat kurang lengkap), dituliskan pula sejumlah kalimat motivasi ciptaan pria asal Malang itu. Tepatnya di poin ke-15, tertera golden words ala Pak Mario (begitu ia sering disapa) mengenai resiko. Bahasa Inggris-nya risk.

Begini isinya: “resiko tidak seharusnya membuat kita ciut nyali, namun tidak seharusnya juga menjadikan diri sebagai orang yang tidak takut dosa”.

Dalam lingkup yang lebih besar, kehidupan sebuah bangsa, ada banyak resiko dari setiap pengambilan keputusan baik oleh rakyat maupun para petinggi negara. Sebut saja ajang pemilihan umum kepala negara dan daerah. Saat itu, rakyat (baca: masyarakat) bertaruh memilih calon untuk menjadi pemimpin mereka. Ketika itulah mereka harus siap ambil resiko.

Pertama, resiko kalau ternyata pilihannya salah. Kedua, resiko kalau ternyata pilihannya benar (ini termasuk resiko kah? hehe). Ketiga, resiko karena memilih abstain padahal (mungkin) salah satu pasangan calon betul-betul berkomitmen tapi tak menang lantaran kurang suara. Dan lainnya.

Sedangkan di sisi pemerintah ada resiko dari setiap kebijakan publik yang diambil. Termasuk dalam pengelolaan sumber daya alam yang selayaknya diperuntukkan bagi kesejahteraan rakyat. Sumber daya itu salah satunya minyak dan gas bumi (migas).

Untuk menemukan cadangan migas baru diperlukan kegiatan eksplorasi. Tahap ini meliputi penghitungan aspek keekonomian untuk memutuskan cadangan yang ditemukan bakal diproduksikan atau tidak.

Sebelum melakukan pemboran sumur eksplorasi, kontraktor migas terlebih dulu menghitung biaya yang dibutuhkan. Perhitungan itu mencakup kegiatan survei G & G (geologi, geofisika, dan seismik), pemetaan geologi, pemboran, dan seterusnya.

Kembali pada obrolan soal resiko. Perlu diketahui, fase eksplorasi migas mengandung resiko besar. Karena kontraktor harus berani bertaruh dalam melakukan pemboran. Meski sebelumnya dilakukan survei mendalam untuk memperkirakan potensi cadangan di suatu area kerja migas, tetap saja tak ada jaminan cadangan yang ditemukan memenuhi unsur keekonomian untuk diproduksikan.

Sedangkan bagi sektor perbankan, khususnya perbankan nasional, resiko eksplorasi migas bukan hal sepele. Kalau ternyata cadangan yang ditemukan tidak ekonomis (atau bahkan tak ditemukan cadangan sama sekali) maka kontraktor harus siap gigit jari dan “mengikhlaskan” semua biaya yang dikeluarkan selama proses pemboran. Nah, jika di dalam pembiayaan itu sebagian berasal dari perbankan maka bank harus siap menelan ludah juga.

Dalam struktur modal perusahaan migas nasional kebanyakan bersumber dari utang. Berdasarkan data yang saya peroleh dari ReforMiner Institute, porsi utang dalam tubuh enam perusahaan migas lokal sebanyak 54,66 persen. Sisanya sekitar 45,34 persen bersumber dari pendanaan internal perseroan.

Enam perusahaan migas nasional tersebut ialah PT Medco Energi Internasional Tbk, PT Energi Mega Persada Tbk, PT Elnusa Tbk, PT Benakat Petroleum Energy Tbk, PT Ratu Prabu Energi Tbk, dan PT Radiant Utama Interinsco Tbk.

Medco, Energi Mega, Elnusa, dan Radiant punya komponen utang dalam struktur permodalan perusahaan lebih banyak dibandingkan Benakat dan Ratu Prabu. Komposisi utang dalam tubuh keempat perseroan itu di atas 56 persen. Sedangkan Benakat dan Ratu Prabu masing-masing hanya 16,08 persen dan 44,73 persen.

Tapi yang pasti dari enam perusahaan yang berkecimpung di sektor bisnis hulu migas tersebut, pembiayaan utang mereka rata-rata berjangka pendek. Artinya, peluang untuk saling berpeluk (layaknya Teletubies) antara perusahaan migas dengan perbankan masih lebar. Itupun kalau perbankan, utamanya bank nasional, berani ambil resiko.

Bank Indonesia mencatat, nilai kredit modal kerja (KK) dan kredit investasi (KI) ke industri migas oleh bank nasional dan bank umum swasta nasional (BUSN) devisa dari tahun ke tahun relatif meningkat.

Pada 2009: KK dari bank persero 49,41 persen sedangkan BUSN Devisa 38,54 persen; KI dari bank persero 52,36 persen sementara dari BUSN Devisa 17,34 persen.

Pada 2010: KK dari bank persero 50,50 persen sedangkan dari BUSN Devisa 26,39 persen; KI bank persero 59,46 persen sementara dari BUSN Devisa 27,18 persen.

Pada 2011: KK bank persero 56,78 persen sedangkan BUSN Devisa 26,99 persen; KI dari bank persero 52,13 persen sementara dari BUSN Devisa 25,54 persen.

Berdasarkan analisis yang dilakukan ReforMiner Institute diketahui, relatif masih dominannya utang jangka pendek dalam struktur utang perusahaan migas nasional terkait karakteristik perusahaan tersebut. Pasalnya, mayoritas, wilayah kerja yang dikelola perusahaan dalam negeri adalah blok migas habis masa kontrak.

Artinya, wilayah kerja tersebut sebelumnya dikelola kontraktor migas lain kemudian diambil alih perusahaan nasional setelah kontrak pengelolaan habis. Ini menjadi relevan bahwa pembiayaan untuk investasi yang dibutuhkan kebanyakan investasi jangka pendek. Sebab, pembiayaan yang ada ditujukan untuk membiayai kegiatan produksi yang sudah dan sedang berlangsung alias bukan kegiatan eksplorasi.

Tapi setidaknya asa atas kontribusi bank persero yang lebih besar di masa depan dalam bisnis hulu minyak dan gas bumi tetap ada. Ini sejalan dengan kebijakan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi atau SKK Migas (dahulu BP Migas) yang mengutamakan pemakaian jasa perbankan nasional dalam pengadaan barang dan jasa oleh kontraktor migas.

Jika dilihat dari sisi pembiayaan, semakin besar produksi maka kredit yang dibutuhkan hulu migas maupun sektor penunjang dan penggunanya juga makin besar. Sebab, semakin banyak hasil tentu memerlukan modal yang lebih besar pula.

Untuk setiap peningkatan output sepuluh persen dari hulu migas membawa dampak bertambahnya output sektor penunjang dan penggunanya masing-masing sekitar 1,27 – 3,82 persen. Output hulu migas ini tentu bisa lebih dioptimalkan kalau dapat dukungan memadai dari dalam negeri, termasuk sektor perbankan nasional.

Apakah dosa ketika perbankan menghindari pendanaan untuk investasi hulu migas? Hahaahaa.. saya bukan dalam kapasitas menjawab pertanyaan itu maupun memberikan asumsi. Kenyataannya, persepsi terhadap resiko yang tinggi menjadi pertimbangan penting bagi bank untuk menyalurkan kredit ke hulu migas, utamanya bagi kegiatan eksplorasi.

Pak Mario sih bilang, “resiko tidak seharusnya membuat kita ciut nyali, namun tidak seharusnya juga menjadikan diri sebagai orang yang tidak takut dosa”.

So, are the bankers ready to take the risk?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s