Perubahan Asumsi Energi dalam RAPBN-P 2013

SUBSIDI listrik dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Perubahan (RAPBN-P) 2013 diusulkan naik Rp8,61 triliun. Kalau DPR setuju maka nominal subsidi bertambah menjadi Rp87,24 triliun dari Rp78,63 triliun dalam APBN.
Revisi tersebut diajukan Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Jarman melalui rapat dengar pendapat dengan Komisi VII DPR, di Jakarta, pekan lalu. Pertimbangan utama usulan ini lantaran berubahnya asumsi kurs rupiah dan harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP).
“Belum lagi ada tambahan konsumsi BBM untuk pembangkitan listrik lantaran beberapa hal,” ujar Jarman kepada wartawan.
Konsumsi BBM untuk pembangkit listrik dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2013 sebanyak 5,67 juta kiloliter. Kemudian berubah jadi 6,27 juta kiloliter pada RAPBN-P tahun ini. Sedangkan kurs berubah menjadi Rp9.600 per dolar dari Rp9.300 per dolar. Dan ICP pun naik jadi US$108 per barel dari US$100 per barel.
Khusus untuk meningkatnya konsumsi bahan bakar minyak untuk pembangkit listrik, imbuh Jarman, disebabkan mundurnya jadwal operasional sejumlah proyek pembangkit. Selain itu juga disebabkan terlambatnya penyelesaian proyek kabel listrik bawah laut Jawa-Bali, awalnya ditarget kelar Desember 2012 lalu mundur ke pertengahan 2013.
Sementara terkait kurs dan ICP, Jarman menjelaskan, kedua komponen ini sangat mempengaruhi biaya pokok penjualan (BPP) maupun subsidi listrik. “Kalau kurs Rp9.300 dan ICP US$100 maka BPP sekitar Rp1.160 per kWh serta subsidi Rp80,06 triliun,” ucapnya.
Tapi ketika kurs naik ke level Rp9.600 dan ICP menjadi US$108 per barel otomatis BPP bergeser ke Rp1.198 per kWh dengan subsidi listrik Rp87,24 triliun. Artinya, perubahan kurs dan ICP berdampak pada peningkatan subsidi listrik sekitar Rp7,18 triliun.
Catatan saja, subsidi listrik 2013 mencapai Rp99,979 triliun jumlah ini berasal dari subsidi tahun berjalan Rp87,2 triliun, kekurangan subsidi 2011 Rp7,3 triliun, kekurangan subsidi 2012 Rp13,2 triliun, dan pengalihan ke 2014 Rp7,8 triliun. Jarman juga menyatakan, dalam Rancangan APBN Perubahan susut jaringan ditargetkan 8,5 persen dan rasio elektrifikasi 79,3 persen.
Terkait perubahan asumsi ICP, Dirjen Migas Kementerian ESDM Edy Hermantoro menyatakan itu disebabkan permintaan pasar global terhadap minyak turun sehingga harga minyak dunia juga turun. Belum lagi kuota suplai OPEC yang diperkirakan akan berkurang serta dipengaruhi ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Sementara untuk sektor minyak dan gas bumi (migas) yang diajukan ESDM dalam RAPBN-P 2013, lifting minyak turun dari 900.000 barel per hari (bph) dalam APBN menjadi 840.000 bph. Jumlah lifting gas juga turun menjadi 6.939 juta kaki kubik per hari atau setara 1,24 juta bph sebelumnya dalam APBN 1,36 juta bph.
“Turunnya lifting minyak disebabkan sebagian kerja KKKS tidak sesuai jadwal, pecahnya shipping line ke Dumai dan kasus bioremediasi. Selain itu, decline sejumlah lapangan yang sangat tajam,” ujar Wakil Kepala SKK Migas J Widjonarko.
Penurunan produksi di sejumlah lapangan yang dimaksud diantaranya PT PHE WMO sebesar 14.000 bph, PT Chevron Pacific Indonesia 10.000 bph, PT Pertamina EP 9.700 bph, serta Total EP Indonesie dan Hess Indonesia 5.400 bph.
Tapi tingkat produksi periode Januari – April 2013, imbuh Widjonarko, sudah mencapai 832.000 bph atau lebih tinggi dibandingkan produksi 31 Desember 2012 sebesar 825.000 bph. “Tahun ini kami menargetkan penurunan produksi cuma 0,2 persen. Ini lebih kecil dibandingkan 2012 sebesar 4,7 persen,” tuturnya.
Kepada Komisi VII DPR RI, ESDM juga mengajukan revisi asumsi volume elpiji 4,39 juta ton, subsidi biodiesel Rp3.000 per liter, bioetanol Rp3.000 per liter dan subsidi LGV Rp1.500 per liter.
Sementara kuota BBM subsidi meningkat jadi 48 juta kiloliter dari 46,01 juta kiloliter di APBN. Volume ini terdiri atas premium 30,77 juta kiloliter, minyak tanah 1,2 juta kiloliter, dan solar 16,03 juta kiloliter. Alpha BBM bersubsidi juga bertambah Rp50 per liter sebelumnya Rp642,64 per liter.
Direktur Utama PT Pertamina Karen Agustiawan mengatakan, alpha BBM bersubsidi sekarang sudah ditetapkan sejak 2008 dan belum ada perubahan. “Hiswana Migas, perwakilan pengusaha SPBU, ingin alpha dinaikkan,” ucapnya.
Kalau DPR setuju menaikkan alpha BBM Rp50 per liter maka Rp30 per liter akan diberikan kepada pengusaha SPBU. Sebanyak Rp20 per liter lainnya digunakan untuk mengurangi kerugian yang dialami Pertamina di kilang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s