Doa untuk Mobil Murah

Orang nomor 1 di DKI Jakarta, Joko Widodo, barang kali akan menggaruk kepala semakin keras saat memikirkan pemecahan masalah keruwetan lalu lintas ibukota. Garukkannya semakin kencang saat populasi mobil murah dan ramah lingkungan (low cost and green car/LCGC) meluas mulai beberapa bulan ke depan.

Kabarnya, Sang Gubernur ingin mempercepat penerapan kebijakan plat nomor genap dan ganjil beserta electronic road pricing (ERP). Toh inipun bukan solusi yang dalam waktu cepat bisa mengurai masalah. Karena, pada dasarnya tak ada jalan keluar instan yang diseduh air panas, tunggu tiga menit, lantas siap disantap.

Program LCGC yang digagas Kementerian Perindustrian (Kemenperin) sejatinya pun bukan kebijakan buruk. Tapi yah, suatu keputusan selalu menghadirkan dua dinding bertentangan.

Pada satu sisi, mobil murah bisa memperbesar kapasitas produksi nasional plus mendongkrak volume ekspor mobil. Bahkan, bisa merangsang pengusaha komponen otomotif lokal untuk meningkatkan daya saing.

Namun, di sisi berlawanan populasi LCGC mengundang kekhawatiran bakal semakin memampat ruas jalan terutama di kota-kota besar. Sebab, gagasan mobil hijau harga terjangkau tak disertai pembangunan infrastruktur transportasi besar-besaran, baik perluasan jalan maupun perbaikan sarana transportasi publik.

Untuk meratakan sebaran LCGC, pemerintah meminta para produsen mobil tidak cuma fokus memasarkan produknya di kota-kota besar. Promosi harus menyentuh berbagai daerah di luar Pulau Jawa.

Menurut Praktisi dan pemerhati senior otomotif Suhari Sargo, apa yang dikemukakan pemerintah ibarat tong kosong diketuk nyaring. Kendati pemasaran LCGC disebarluaskan ke berbagai daerah tetap saja populasi di ulau Jawa semakin bengkak.

“Bukannya menentang sepenuhnya program LCGC ini tapi sebaiknya jika dikaitkan dengan MP3EI, cocoknya mobil murah itu untuk daerah [di luar Jawa]. Agar masyarakat di sana memiliki daya beli terhadap LCGC maka ekonomi harus digerakkan,” ucapnya, Rabu (18/9/2013).

Selain itu, pemerintah menggaungkan LCGC bakal mendongkrak perekonomian Indonesia karena basis produksinya berada di sini. Tapi, Suhari mencermati adanya kekopongan dalam rantai struktur industri. Masalahnya, Indonesia belum memiliki pabrik baja untuk pelat bodi kendaraan tapi langsung konsentrasi pada manufaktur mobil murah.

“Bayangkan, panjang jalan di Thailand sudah lebih dari 800 km per 1 juta penduduk, Korea 1.000 km, dan Jepang 8.800 km per 1 juta penduduk. Tapi Indonesia cuma 160 km per 1 juta penduduk,” ucap Suhari.

Padahal, jika melirik dari kaca mata pelaku industri otomotif nampak semangat menggebu. Empat agen tunggal pemegang merek (ATPM) berlomba merilis mobil terbaru mereka selama kurang dari dua pekan terakhir. Ada Toyota Agya, Daihatsu Ayla, Honda Brio Satya, dan Datsun GO+ yang siap berebut “kue” LCGC.

Ibarat toko kue, ATPM melihat banyak varian lezat nan menggiurkan di etalase industri otomotif Indonesia. Selayaknya makanan baru pastinya mengundang keingintahuan besar untuk mencicip, demikianlah “kue” mobil murah.

“Saya rasa [terhadap persaingan segmen LCGC] jawabannya, positif. Dengan adanya pemain lain kita terdorong untuk menjadi lebih baik,” kata Direktur Pemasaran PT Toyota Astra Motor (TAM) Rahmat Samulo.

Toyota bersama kompetitor sedarah dari keluarga Astra, Daihatsu, meluncurkan mobil murah pada 9 September 2013 di lokasi berbeda. Mengingat keduanya adalah yang pertama kali merilis produk LCGC maka sebutlah mereka pionir.

Dua hari berselang, PT Honda Prospect Motor (HPM) meluncurkan New Brio Satya. Selanjutnya pada Selasa (17/9/2013), PT Nissan Motor Indonesia (NIM) menjadi ATPM terakhir yang mencocol “kue” mobil murah, Datsun GO+ bisa dibeli mulai 2014.

“Tak masalah kami disebut follower. Itulah kompetisi, konsumen yang akhirnya menentukan. Kalau ternyata mobil si follower yang lebih banyak dipilih, why not?” ucap Indriani Hadiwidjaja, General Marketing & Communication PT Nissan Motor Indonesia.

Namanya juga harga terjangkau, jangan berharap ada keunggulan luar biasa dari model-model yang ada. Setidaknya fitur yang tersedia cukup bagi ATPM meyakinkan bahwa produk mereka mampu memenuhi keinginan konsumen terutama mereka yang pertama kali membeli mobil.

Dapur pacu mesin misalnya, Toyota Agya dan Daihatsu Ayla berkapasitas 1.000 cc 3 silinder 12 valve DOHC fuel injection dengan tenaga maksimal 65 PS pada 6.000 rpm dan torsi puncak 8,8 kgm pada 3.600.

Mesin Honda Brio Satya lebih besar, yakni 1.200 cc 4 silinder 16 valve i-VTEC SOHC bertenaga terbesar 88 PS pada 6.200 rpm dan torsi maksimal 11,1 kgm pada 4.500. Sedangkan Datsun GO+ mesinnya 1.200 cc 3 silinder yang menghasilkan tenaga 68 PS dengan torsi puncak 10,6 kgm.

Setiap agen pemegang merek tentu akan menjagokan produk masing-masing. Sejauh ini, mereka mengaku tak khawatir dengan persaingan yang ada. Semakin banyak produk tersedia justru konsumen memiliki pilihan lebih beragam.

Rahmat Samulo mengaku optimitis lantaran TAM bukan cuma menjual barang tapi juga menyajikan layanan purnajual menyeluruh hingga jaminan ketersediaan suku cadang. “Strategi pemasaran kami adalah dengan hadir tak hanya di kota besar. Diler resmi kami sebarannya lengkap sampai ke daerah-daerah,” ucapnya.

Direktur Marketing dan Purnajual HPM Jonfis Fandy mengaku tak gentar kepada persaingan meski Honda baru pertama kali menjajaki bisnis mobil harga terjangkau. Target pasar LCGC adalah mereka yang baru pertama kali membeli mobil (entry level). “Semakin banyak pilihan untuk konsumen akan semakin bagus,” tuturnya.

Sedangkan bagi Indriani Hadiwidjaja tak ada yang perlu dikhawatirkan dari kompetisi karena potensi pasar Indonesia untuk LCGC ke depan sangat besar. “Tingkat kepemilikan mobil di sini masih rendah. Di Brazil dari 1000 penduduk ada 200 yang punya mobil, di Indonesia baru 45 orang. Potensinya masih banyak,” kata dia.

Tingkat komponen lokal yang terkandung di dalam produk LCGC dipastikan sudah memenuhi ketentuan minimal sekitar 80%. Para ATPM berupaya untuk memenuhi konten lokal sedikitnya 85%.

Komponen yang harus diproduksi di dalam negeri adalah bodi lengkap dengan sistem penggerak (power train). Emisi gas buang LCGC merujuk kepada standar Euro III dengan spesifikasi bahan bakar minimal RON 92 untuk motor bakar cetus api dan CN 51 bagi mesin diesel.

Harapan Kemenperin, atau sebutlah doa, terhadap program LCGC sebetulnya baik. Menteri Perindustrian M.S. Hidayat ingin kebijakan ini bisa menghadirkan kegiatan produksi mobil murah yang mampu mendongkrak daya saing industri komponen otomotif lokal.

Era LCGC, menurutnya, harus terlaksana sejak tahun ini guna mengantisipasi ketatnya kompetisi tatkala pasar bebas Asean dimulai pada 2015. Karir Indonesia sebagai basis produksi mobil murah diharapkan sudah cukup kuat ketika komunitas ekonomi Asia Tenggara itu berlangsung.

Dirjen Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi Kemenperin Budi Darmadi mengatakan basis produksi LCGC di dalam negeri disiapkan untuk menggantikan posisi mobil impor sejenis. Program ini juga bisa mengundang lebih banyak investor asing menanamkan modal dengan menggandeng produsen lokal.

“Ini mendorong potensi produsen lokal dengan menggandeng pengusaha otomotif lokal untuk penggunaan komponen yang tidak mengusung teknologi tinggi,” ucapnya.

Keinginan pemerintah untuk menjadikan RI sebagai basis produksi mobil murah ke depan bukan sekedar untuk memenuhi kebutuhan domestik melainkan pula untuk bermain di pasar global. Sayangnya, belum ada satupun pemegang merek LCGC yang secara tegas menjamin komitmen ekspor.

Presiden Direktur PT Astra Daihatsu Motor (ADM) Sudirman M.R. menyatakan ekspor akan dilakukan jika permintaan tumbuh signifikan. Tapi ini akan diwujudkan saat kebutuhan domestik sudah terpenuhi. Pasar luar yang dinilai ADM cukup prospektif salah satunya Afrika dan Filipina.

Sedangkan bagi TAM, target pasar utama Agya adalah Indonesia sehingga kesempatan ekspor belum menjadi fokus. “Tapi peluang untuk mengekspor Toyota Agya tetap terbuka,” kata Rahmat. Kalaupun akan jual Agya ke luar negeri TAM akan membidik negara dengan karakter pasar otomotif seperti Indonesia misalnya, Malaysia, Amerika Selatan dan Afrika Selatan.

HPM sejauh ini masih konsentrasi menembus persaingan di dalam negeri sedangkan peluang ekspor akan ditelaah belakangan. “Jangan hanya dilihat ekspor itu semata mobil saja. Kami ekspor juga kok seperti transmisi dan mesin. Lihat juga ekspor per komponen,” ujar Jonfis.

Sementara Nissan, untuk Datsun GO+, hingga kini mengambang. Penjualan ke luar negeri akan disesuaikan dengan kapasitas produksi di Indonesia sekaligus mencermati karakter pasar di negara tujuan.

“Kami tidak bilang tidak mau ekspor. Kalau ada permintaan kenapa tidak?” kata Indriani. Sejauh ini, Datsun fokus di industri otomotif Indonesia, India, Rusia, Afrika Selatan, dan Asia Tenggara.

Menurut Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Jongkie D. Sugiarto, komitmen ekspor tidak bisa diputuskan sendiri oleh basis merek otomotif di Indonesia. Mereka harus meminta restu kepada prinsipal pusat.

Sementara itu, menyikapi kontra LCGC terkait pengaruhnya terhadap kemacetan, Gaikindo tak menolak. Secara langsung atau tidak, proyek ini akan menambah populasi kendaraan.

“Sekarang memang agak sedikit dibantah, ada yang komentar mengenai LCGC bahwa ini akan membuat semakin macet. Tapi kalau kita tidak buat program ini mobil impor akan banjir,” tuturnya.

Dua tahun mendatang perdagangan antarnegara anggota Asean terbuka bebas. Melalui insentif potongan pajak bagi ATPM yang memproduksi LCGC di Indonesia setidaknya serbuan mobil murah impor bisa dibendung. Sebab, harga LCGC lokal jadi lebih murah dibandingkan produk impor yang kena pajak.

Setiap merek punya peluang untuk terjun bermain di segmen mobil murah. Untuk itu, antar-ATPM tak bisa dikatakan yang satu meniru lainnya alias jadi pengikut (follower).

“LCGC tergantung kesiapan masing-masing ATPM. Kalau mereka bernafsu besar ikutan tapi tenaga kurang alias belum siap, mau apa?” ucap Jongkie.

Gaikindo menilai tren pasar mobil murah nan irit bensin ini ke depan menjanjikan. Artinya, kendaraan ini bukan menggeser pamor mobil serba guna murah (low MPV) melainkan melahirkan segmen market tersendiri.

Menjadikan RI sebagai basis produksi, mendorong volume ekspor mobil, memacu investasi lebih besar, hingga memperluas lapangan kerja semua merupakan harapan. Idealnya, asa maupun doa bermuara kepada hal-hal baik dan datang dari hati. Tapi yang mengkhawatirkan apabila doa itu berasal dari hati yang tak jernih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s