Notasi Detik [selesai]

Ini bukan tentang lelah, lebih kepada kepalamu.

 

…yang lalu tak menyoal senyum melainkan matamu.

 

Kalau mengenai air mata?

Tidak juga, tapi soal bilamana lidah dan bibir menahan diri.

 

Ada yang harus dibatasi setidaknya untuk rasa.

Sebagian laininya disimpan, seperlunya disampaikan.

 

Jangan pikirkan tentang hak milik paling tidak pernah berjumpa, itu cukup.

Jalannya bukan untuk diiringi, doakan saja.

 

Bukan keberatan yang terasa melainkan alunan not detik… berdetik…

Melodinya seperti notasi ringan, seringan ia muncul dikepalaku.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s