Bicara pada biji kopi

SAYA berharap bisa menahan putaran detik, memutarnya balik ke sekian jam lalu. Menyiapkan diri dan mengantisipasi apa yang ternyata akan saya alami di jam-jam sekarang.

Saya berharap semua berubah menjadi lebih hening sehingga earphone tak perlu dipasang pada volume teratas. Musik terdengar lebih sayup dan semuanya menjadi lebih nikmat di telinga.

Saya berharap ada tiga liter kopi dan semua bisa saya habiskan seketika.

Saya berharap dia hilang, seterusnya, mereka hilang, pergi, tidak pernah muncul lagi, tidak terdengar kabarnya lagi, dan semua menjadi lebih baik. Atau tidak sama sekali? Kalau detik memang bisa dikembalikan, akan saya putar ke tiga tahun lalu agar tak ada yang terjadi di sini.

Saya berharap dia hadir entah bagaimana caranya tanpa terkait dengan dia, tanpa melalui tapi ada. Saya mengenalnya, berbicara, berkelakar, bersenda, bergurau, berkawan tanpa embel-embel dia. Tanpa lewat pintunya.

Saya berharap dia ditelan bumi, menghilang, enyah, lebur, luruh, dan tidak pernah menorehkan senyum maupun nanar dalam bentuk apapun.

Saya berharap saya tidak pernah menulis apapun, hilang, selesai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s