Kafein

admiring you, caffeine.

 

 

Hei kafein mengapa kamu bisa menjadi sedemikian menyenangkan?
Murung menjadi senyum, panik lalu tenang, buyar kembali fokus.

Kadang kamu terlalu baik, tahukah?
Ingatku tentang nama-nama itu menjadi lega.

Kafein aku belum menemukan alasan bagaimana bisa kamu menjadi sedemikian kuat.
Gersang berubah dingin. Lupa kembali ingat. Hujan terasa cerah.

Meresapimu kedalam pori-pori tubuh rasanya seperti merapalkan mantra di depan kotak sulap.
Kosong, kosong, kosong, seketika muncul merpati.

Di tengah pacuan kompetisi ini, kamu membantuku selalu tegak dan siap.
Tisu menjadi lebih hemat karena mata tak lagi sering sembab.

Kafein, malam itu kamu pernah menjadi senyawa yang menjalinkan perbicangan dengan nama-yang-tak-boleh-dihafal.
Ingatkah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s