Jawa & Batak, Bercerminlah…

http://mylifeflowswithmyheart.blogspot.com/

 

ADA beberapa tempat yang sulit untuk dilupakan lantaran membawa kenangan tersendiri. Sebagian lainnya punya lokasi favorit yang bisa jadi tak begitu nyaman ditinggali lama, tapi tempat itu kerap menjadi titik tujuan untuk dikunjungi di saat tertentu.

Mungkin lokasi tersebut adalah rumah ibadah, rumah tinggal, kamar kosan, ruang kerja, toko buku, perpustakaan, hutan, taman, pusat perbelanjaan/lifestyle, gymnasium, kafe, dan lainnya. Atau, hanya sepetak teras rumah salah seorang kawan maupun warung kopi-bubur ayam-nasi goreng-24 jam. Intinya, tempat itu bisa berupa apa saja.

Dari sekian banyak tempat yang aku suka, salah satunya adalah warung komik bekas di kawasan Perumnas I, Karawaci, Tangerang. Tidak ada kemewahan, kenyamanan, apalagi fasilitas membaca yang memadai di sana. Cuma deretan rak kayu berisi ratusan komik, majalah, novel, dan buku cerita lawas, semuanya bekas.

Menghirup napas di ruangan berukuran sekitar 3 x 7 meter, yang berada di antara mini market dan warung padang, itu sama sekali tak melegakan paru-paru. Selain pengap juga berdebu, maklum posisinya persis di pinggiran jalan.

Tempat itu terintegrasi dengan bengkel tambal ban plus tenda isi pulsa telpon seluler. Ruko minimalis ini disewa seorang pria berusia sekitar 40 tahunan, berkulit sawo matang mengilap (maklum, saban hari dia mesti berurusan dengan oli dan perangkat tambal ban). Rambutnya lurus sekitar 5 cm bergaya “cepak” dengan rumbai poni tipis ke arah kiri.

Om Komik, demikian aku menyebutnya. Dia adalah salah satu dari (mungkin) jutaan orang multitasking di dunia, lantaran menjalani profesi penjual komik dan buku cerita bekas, penjajak majalah, penambal ban motor, suami, dan ayah, sekaligus setiap waktu.

Sulit kujelaskan bagaimana raut wajah si Om, pada dasarnya muka itu berkarakter seorang batak-tok-tok. Wajahnya penuh dengan bekas jerawat. “Seragam” kerja sehari-hari ialah kemeja dan celana bahan panjang lusuh.

Jangan jatuhkan penilaian kepadanya dulu sebelum mendengar ia bicara. Nada batak itu keras tertangkap telinga, tapi isi kalimatnya sama sekali tak menyakiti.

“Si Mbak ini… jangan suka duduk di pinggir jalan. Duduk itu di pinggir jurang,” katanya saat aku sedang asik memilah judul buku yang ada di rak.

“Biar kalau stres tinggal loncat ya om”.

“Bukan. Kalau di pinggir jalan, semua orang bisa colek. Tapi kalau di pinggir jurang, cuma pendekar saja yang bisa menghampiri,” jawab Om Komik dilanjutkan suara tawa membahana, aku pun ikut tertawa.

“Iya Om, dan kalau ternyata nggak ada pendekar yang bisa datang lalu jadi depresi ya tinggal nyemplung aja ke jurang,” balasku tanpa mengalihkan perhatian dari tumpukan komik. Mendengar itu tawanya justru makin riuh.

Zaman sekarang semua bisa diperoleh dari internet secara instan. Tinggal browsing, klik link, unduh, dan didapatlah film, bacaan ataupun buku elektronik dan hal lainnya. Alhasil, bukan cuma pusat penyewaan film (VCD/DVD), baik original maupun bajakan, yang gulung tikar tapi nasib serupa dialami pengusaha macam Om Komik juga.

Kuantitas pemburu komik maupun buku bekas melorot drastis (aku peroleh informasi ini dari cerita si Om pada suatu malam). Memang belum mati, tapi dibilang hidup pun tidak.

Walau begitu, ketika berbincang dengan siapapun tak pernah terlihat gurat sedih atau beban dari pria asal Danau Toba tersebut. Bahkan, perkataannya cenderung kelakar.

“Kalau anak sekolah libur begini enak, bangun bisa siang sedikit,” ucap Om. Ini menyindir kehidupannya sendiri yang selama hari sekolah harus cepat terjaga di pagi hari guna mengantarkan anaknya ke sekolah. Meskipun ia kurang tidur karena buka toko (bengkel tambal ban) sampai larut.

Siang itu, toko komik bekas dan warung tambal ban si Om baru buka. Aku duduk di pinggir jalan sekitar 10 meter dari sana sejak 20 menit sebelum buka. Percakapan antara Om dan aku di atas terjadi sesaat setelah tokonya buka lantas aku masuk.

Kupilih salah satu novel Ko Ping Ho yang jadul banget, cetakan pertama, seharga Rp10.000 saja. Aku berusaha membiasakan Om tidak memberikan diskon seberapapun seringnya aku belanja di sana. Setelah membayar, aku tak langsung pulang. Duduk dan ngobrol sejenak.

“Saya itu kalau lihat orang bule sudah sering,” tuturnya membuka topik baru.

“Waktu kecil, daerah Danau Toba (dan sekitarnya) itu kan tempat pariwisata jadi kalau lihat bule sering. Yang tidak pernah justru lihat orang Jawa”. Dari perbincangan kali ini yang kutangkap, yakni Om Komik ingin ceritakan sekelumit pengalamannya terkait perlunya memahami orang lain.

“Kok bisa begitu Om?”

“[Tidak ada suku lain] karena di sana [di kampung Om, wilayah sekitar Danau Toba] tidak ada transmigrasi. Ya jelaslah, apa yang mau dicangkul di sana? Begitu nyangkul yang keluar api karena tanahnya berisi batu cadas semua,” jawab dia sembari tertawa (lagi).

Aku tertawa membayangkan ada seorang petani tengah bercocok tanam di tengah tanah berbatu.

“Dulu Kepala Sekolah saya yang baru ternyata itu orang Jawa. Kalau lewat pekarangan rumah orang selalu bilang permisi. Orangnya ada atau tidak tetap bilang permisi. Awalnya kesal. Lewat ya tinggal lewat saja, berisik sekali selalu bilang ‘permisiii’. Tapi ternyata memang begitu karakter orang Jawa [berusaha sopan].

Kalau Batak kan, coba tegur dengan bertanya ‘mau kemana?’. Bisa-bisa dijawab, ‘Memangnya apa urusanmu? Saya yang mau pergi, apa pedulimu?!”.

Kami berdua tertawa. Ada hal lain dari kutertawakan di sana, bukan sebatas kelakar si Om. Melainkan, betapa semua sebetulnya menjadi cermin yang saling memantulkan. Bukan untuk menelanjangi kelemahan satu dengan lainnya tapi untuk saling memahami.

…semua orang yang ada dalam hidup kita masing-masingnya bahkan yang paling menyakiti kita, diminta untuk ada di sana. agar cahaya kita dapat menerangi jalan mereka…

Si Jawa dan Batak, hahaha… seperti saya dan Om Komik.

Segalanya adalah cermin. Kemampuan kita untuk mengaca, melihat hal-hal baik dan keunggulan pada siapapun yang ada di sekeliling, baik dia adalah sahabat ataupun musuh, akan memberi nilai kebajikan pada tiap hubungan yang kita jalin dengan mereka. Kita bercermin, melihat bahwa ada selisih nilai antara kita dan sang bayang-bayang. Lalu kita menghargai kelebihannya. Memujinya, sehingga kebaikan itu makin bercahaya.*

 

 

[*Salim A. Fillah, Dalam Dekapan Ukhuwah]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s