Robekan Kertas dan Aku #3

DSCF0308

TIBALAH malam ini, sekarang, ketika aku kembali menyalakan netbook untuk mengetik sesuatu. Melanjutkan obrolan kita dalam perjalanan menuju Jakarta, Selasa pagi lalu.

“…sebetulnya aku sudah membuat surat resign. Tapi aku nggak tau, perlukah itu disampaikan atau nggak,” kira-kira begitu runut kalimatmu ya Kellana. Maaf kalau kurang tepat, hehe.

Bingung ya… [simak robekan kertas dan aku#2 disini]

Kekhawatiran kamu mengenai kelanjutan perjalananmu itu membawa aku ke dalam satu proses turut-coba-berpikir. Aku mencoba menyelam ke dalam perasaan seperti yang ada di benakmu.

Menyelam, bukan tenggelam. Mungkin kegusaran kamu tentang ini dalamnya ribuan meter. Tapi, sekali lagi… aku menyelam. Tentu, ada batas-batas kedalaman. Mungkin penyelamanku baru semeter di bawah permukaan perasaan kamu, bisa jadi belasan meter, puluhan meter, ratusan meter. Atau jangan-jangan, sebetulnya aku cuma mengamati dari atas perahu(?).

Dalam metode survei untuk pembuatan skripsi (misalnya) ada banyak variabel. Minat, persepsi, harapan, pemahaman, dan sebagainya termasuk rangsangan dan tanggapan. Ah, tentunya aku nggak bermaksud untuk membahas metode survei (karena pahamnya cuma sebatas itu doang, hehe).

Tapi ini tentang dua variabel terakhir yang aku sebutkan, rangsangan dan tanggapan. Kamu mendapat berbagai rangsangan dari eksistensimu di tengah-tengah korporasi itu. Soal ritme kerja di sana, suasana sosial-pertemanan yang ada, bingkai kaca mata yang dipakai, hingga impuls berupa pundi-pundi rupiah yang membantumu membiayai hidup.

Sebelumnya, aku mau cerita lagi tentang penyelamanku.  Menyelam, bukan tenggelam…

Apa bedanya ya?

Kamu mungkin jauh lebih paham perbedaannya. Tapi, boleh ya aku yang sok tahu kali ini hehe.

Kesadaran, sepertinya ini pembeda paling dasar antara penyelam dengan seseorang yang tenggelam. Ketika kusebut “menyelam” artinya secara sadar aku melakukan penyelaman. Untuk itu, aku siapkan segala peralatan yang dibutuhkan; baju renang dengan bahan terbaik, kaca mata dan senter bawah air kualitas baik, sepatu katak yang pas dikakiku, dan pastinya tabung oksigen yang cukup.

Tapi… kalau aku tenggelam, maka aku “lalai”.

Udah lama banget aku pernah ikut di suatu acara dan ada sesi motivasi di sana. Pokoknya aku (dan audiens lain) diminta mengikuti instruksi si pembicara. “Sekarang, tolong pegang hidung kalian,” kata pembicara itu.

Tapi banyak yang justru memegang jidatnya (aku lupa aku termasuk yang pegang jidat atau nggak). Kenapa? Karena sewaktu pembicara memberi aba-aba “pegang hidung”, tapi dia malah menempelkan tangan ke kening.

Hahaha, koplak!

Sering banget (aku juga termasuk, pastinya), kita terhalang dari pesan-pesan dasar, pesan sejati. Gegara terlalu sibuk memperhatikan pemandangan  di sekitar. Bukan fokus pada aba-aba melainkan pada contoh yang nampak. Jadilah, kuping kalah dari mata!

Aku kerap lebih fokus pada kemasan rangsangan yang datang lantas lalai untuk menyiapkan dan mengeksekusi tanggapan.

Ternyata kesadaran ini jadi modal utama ya Kellana; untuk menangkap berbagai rangsangan yang datang menjadi tanggapan nyata.

Nah, di antara rangsang dan tanggapan itulah terdapat pilihan-pilihan. Ada yang bilang begini, “Itulah gunanya misteri takdir. Agar kita memilih di antara bermacam tawaran”. *eaaaak…!

Untuk Kellana, kamu berhak memenggal semua karirmu kini terputuslah semua kegerahan terhadap bingkai kaca mata yang dipakai korporasi itu. Tapi, ada kemudahan melalui aktivitasmu berkerja di sana tohto finance yourself.

Bukan tanpa resiko. Tapi bukankah kita memang selalu berkelana dalam pilihan-pilihan, dan itu butuh keberanian? (ingatkan aku soal ini juga yah kalau suatu ketika aku lupa).

Keberanian ada di mana yak? Yang pasti bukan di laman-laman kaskus,bukan di kandang hammy, bukan di tangki bensin ega. Bisa jadi keberanian itu bukan dicari, tapi disadari lantas dilakukan. (aseeekkkk, aku udah kayak orang bener aja yak)

Doa. Ini nih yang katanya paling mujarab. Katanyaaa…mbuh kata si-apa.

Pernah ada yang bilang, “padahal doa itu cuma salah satu tahapan aja,sebagai bentuk kepasrahan kepada apa yang dipilihkan Sang Dzat yang Maha-segala itu untuk kebaikan kita. Untuk nafas kita di dunia, dan setelahnya. Doa, dimulai jauuuh sebelum itu”.

Jauh banget kayaknya, dari mana emang? “dari acceptance, dari setiap langkah menjaga kemurnian ikhtiar (baca: upaya) kita, dan dari kepekaan menjaga hubungan baik dengan Sang Dzat itu sendiri”.

Ini jalanmu, di jalan ini tapak pertama haruslah VISI. Ah, aku mau ngutipomongan orang lagi nih (soalnya ilmuku belum nyampe) :

…tapak pertama visi, agar aku tak lagi tertidur lelap tapi bangkit terjaga. Agar aku tak lagi tertunduk sayu, tapi tegak terpancang. Agar cintaku tak lagi terpejam sendu, tapi tajam terpancar. Agar aku tak menyipit silau, tapi menatap lekat. Agar aku tak memandang serampang, tapi menelisik jeli.

Einstein kalau nggak salah pernah bilang, “…dan visi jauh lebih penting dari pengetahuan”. Sebab, katanya sih pengetahuan itu lebih bersifat lampau dan terbatas gitu deh. Sedangkan visi, ibaratnya visi itu masa depan yang nggakterbatas. Dia [visi] lebih besar dari sejarah, lebih besar daripada beban kita, lebih besar dari luka emosi kita yang udah lalu.

Jadi ingat jamannya sekolah. Setiap tahun pasti ada musim pemilu ketua OSIS. Semua calon kandidat pasti menyampaikan visi-misinya. Yaah, kenyataannya visi dibutuhkan. Ini sangat membantu kita membangun gambaran ideal dalam perspektif jangka panjang.

Dari semua obrolan kita tentang perubahan iklim yang dahsyat banget (plus mengkhawatirkan), tentang pergerakan bawah tanah orang-orang cerdas-tangkas nun jauh di balik korporasi-korporasi besar (baca: zionis/koruptor/pelanggaran HAM dsb), tentang banyak deh!

Masa’ mau kayak Soe Hok Gie yang lebih rela diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan?

Kalau memang kelak harus berhadapan dengan “musuh” ya hadapi. Pakai cinta, eaaak. Cinta kan bukan sekedar pelukan hangat, belaian lembut, atau kata-kata unyu. Kata yang ilmunya pada lebih tinggi dari aku, cinta itu bisa dipelajari dari apapun yang ada di bumi termasuk dari kebencian musuh, irinya lawan, dari ketidaktahuan penipu, termasuk dari lihainya pikiran si-munafik.

Kellana yang baik, seperti kita tau di antara rangsangan dan tanggapan itu ada pilihan, menyelam bukan tenggelam, sadari jangan terlena dalam lalai. Pertimbangkan lantas melompat, berpikir di luar kotak untuk antisipasi masa depan.

Sepertinya kita (atau sebetulnya aku aja sih) butuh lebih banyak “halte” untuk singgah, untuk berhenti sebentar dan mengingat sembari menyusun ulang si-visi itu supaya nggak nyasar.

Maka kamu, harus terus menuju mimpi-bertanggalmu (baca: cita-cita)! Tuh… dia masih ngejogrok di depan sana. Harus tetap menuju ke sana, biarpun sembari merangkak, tersandung, terpeleset.

Ibaratnya sopir bajai atau kopaja, ada aja celah untuk ngeles. Akan selalu ada alasan bagi kita untuk berhenti; perjalanan yang sulit, bekal sedikit, jarak selangit.

Di lautan nikmat, dua mahkluk terpisah. Yang satu tenggelam, yang satu menyelam. Kau tahu apa bedanya?

-Tangerang, Kamis (14/11/2013) 01.23 dinihari.-

One thought on “Robekan Kertas dan Aku #3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s