Robekan Kertas dan Aku #4 (selesai)

one step ahead from the greed.  [sumber: chankurappu.blogspot.com]
one step ahead from the greed.
[sumber: chankurappu.blogspot.com]

KEPADA, Aku… [simak robekan kertas dan aku #3 disini]

Rasanya nggak cukup waktu selama perjalanan dari ibukota menuju rumah kita pakai untuk ngobrol. Lebih luas, seolah 24 jam itu nggak cukup kupakai untuk menuntaskan berbagai hal dalam hitungan sehari.

“Tapi sebetulnya waktu itu tidak ada,” katamu me- ringkas maksud teori relativitas Einstein di sela obrolan kita tentang komet, “kita bisa memperlambat waktu kalau bisa mendahului kecepatan cahaya”. Dan kita tahu itu nyaris impossible (kecuali, Muhammad SAW saat Isra’ Mi’raj).

Merutuk, ngambek, marah, karena terasa sedikit sekali waktu bicara yang tersedia.. ini kerap aku lakukan. Tapi itu tak mengubah sedikitpun rentang waktu ngobrol yang tersedia, kuotanya tetap sama.

Setidaknya, di sinilah aku coba mengubah (sedikit) konsepnya. Keterbatasan perjalanan itu selalu ada, tak berubah. Untuk itu, kucari cara lain untuk menambah kontennya.

Menunggu ranjang dengan merenung; rebah dengan mengingat kebesaran Dzat Sang Punggawa Semesta; berbaring dengan memaafkan; terlelap setelah memaafkan diri sendiri; tidur dengan ilmu.

Bagiku -yang teramat jauh dari kemahiran menyelami “hikmah di balik hari”- kalimat itu terasa nyebelin.  Bagaimana mungkin menyelesaikan seluruh hiruk-pikuk kehidupan hari ini cuma dengan “menyelam” menjelang rehat? Yang ada, semakin senewen karena saat coba mengingat tindak tak sempurna maupun sikap orang tak berkenan bukannya dapat langsung memaafkan, justru geram lagi. Esmosiii.

Atau justru, manusia-manusia hebat di luar sana menutup rehatnya dengan ilmu? Mungkin… belasan jam dalam hidup mereka setiap hari juga beruntai aneka beban berat, kesulitan silih berganti sampai menguras jiwa-raga. Yup, inilah beda mereka denganku.

“Aku sulit sekali untuk berucap… kondisi ini berlangsung berjam-jam. Sama sekali tak terlintas di benak aku akan mengalami seperti ini. Keselek tanpa henti, nggak bisa napas,” ucap si Kakek Dosen Sosiologi dari Kampus Brandeis sekian tahun lalu.
“Sampailah di satu waktu, kepalaku pusing… tapi, justru aku merasa begitu damai, tenang, seolah aku sudah siap untuk berpulang,” kata Eyang Morrie menyelesaikan kalimatnya.

Bahkan, Mitch Albom bingung tenan waktu dengar jawaban Morrie tentang “Bagaimana kalau tetiba kau diberi satu hari 24 jam untuk sembuh, hari itu saja?”.

Jawabannya standar banget. Morrie cuma menjawab dengan rentet kegiatan yang akan dilakukan pada hari itu, mulai dari mandi, sarapan, jalan-jalan, menari, intinya hanya hal biasa yang selayaknya dulu dia lakukan sebelum sakit. Kalau kataku sih, “Yaelah Prof, cape dehhh!”.

Hmmm… ternyata yang Morrie maksud adalah soal …”find perfection in such average day”. Aseek!

Seperti perjalananku, baik di atas si kuda besi maupun si roda 4 bermotor; haruslah menyiagakan mata untuk memperhatikan segala yang ada di tengah jalan. Di antara semua itu terdapat debu yang nggak terhitung jumlahnya, kecil tapi menyakitkan. Lantas, akan terpejamkah mata yang memandang kepada debu yang pasti mampir? Semestinya, tidak.

Dari jamannya bocah sepertinya banyak banget orang yang menyarankan agar jalanilah hari seperti air mengalir, let it flow. Sampai-sampai, akukeingetan banget dengan istilah itu sampai detik ini. Dan… setelah sekian lama lekat dengan perumpamaan itu aku sampai lupa, air kan cuma mengalir ke tempat yang lebih rendah hahaha.

Padahal, (dulu) aku mematok suatu “tempat” yang jauh tinggi. Berharap mencapai mimpi-bertanggal (baca: cita-cita) yang kedengerannya sesuatu banget gitu. Dan sekarang (nyaris) lupa.

Supaya ingat, semestinya itu aku rapal berulang-ulang setiap hari, khususnya terhadap otakku sendiri. Supaya jadi kuat, ingat, rapat di benak, agar (mungkin) menjadi doa yang dibantu turut mengamini oleh orang-orang baik di sekeliling.

Padahal, semestinya si “sesuatu di tempat yang jauh tinggi” itu selalu aku panggil, supaya dia mendekat.

Akan kupanggil citaku itu setiap hari, setiap saat supaya terus terasa dekat!

Nah… lucunya, si cita tinggi di atas sana itu bisa bertukar tempat dengan si hawa (nafsu); setelah aku menempuh jejak meninggi menuju yang ada di atas itu lalu aku mulai merasakan angin yang kian mendingin, menusuk pori hingga ke tulang, mengkristalkan darah, hingga akhirnya hipotermia mendera.

Seberapapun mimpi-bertenggat melekat di kepala, pagari ia… agar tak menjadi hawa.

Demikianlah Aku, mungkin nggak sempat tersampaikan di sela-sela waktu perjalanan kita. Atau mungkin lupa kusampaikan, bahkan (sebetulnya) belum terpikir untuk kusampaikan. Semoga bisa membantuku untuk menutup rehat dengan sedikit ilmu.

 

Bukan kita  yang memilih takdir. Takdirlah yang memilih kita. Bagaimanpun takdir bagaikan angin bagi seorang pemanah. Kita selalu harus mencoba untuk membidik dan melesatkannya di saat yang paling tepat. [Shalahuddin Al Ayyubi]

-Tangerang, Sabtu (16/11/2013) 2:19 dinihari-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s