Obet dan Bukit Darah Naga #2

pine forest

OBET tak bisa mengetahui dengan pasti sudah berapa lama badannya berendam di dalam Sungai Aurora. Singatnya, sewaktu akan nyemplung sorot matahari masih berwarna emas muda. Sekarang, sesaat setelah menyeruakkan kepala dari dalam air, langit nampak bernuansa emas dengan semburat oranye.

 

Sinar tersebut cuma terlihat sedikit. Letaknya di atas muara sungai yang entah ada di mana. Kini, Obet sedang menghadap ke sana. Sesaat sebelum mengubur tubuhnya lagi ke dalam air, di ujung mata kanan ia melihat hamparan awan biru keabu-abuan beriring seperti hendak menutupi matahari.

 

Pertanda, akan segera turun hujan. “Plaak,” suara telapak tangan Obet memukul permukaan air. Kesal menggumpal di dalam kepala anak itu. Ia masih ingin berenang tapi terpaksa mentas sebelum air dari langit mengguyur.

 

Selama tujuh hari terakhir Obet beranjak menjauh dari rumahnya menuju Sungai Aurora setiap sore. Awalnya, ia bertekad untuk berenang sampai ke muara tapi sejauh ini angan tersebut belum terlaksana.

 

Bukan karena tidak sanggung melainkan lantaran waktu yang dimiliki untuk menjelajah sungai berdinding tebing bebatuan itu terlalu singkat. Obet cuma bisa keluar rumah mulai pukul 5 sore dan kembali sebelum jam 7 malam.

 

Selama kurun dua jam itu, waktu yang dimiliki untuk berenang hanya 45 menit lantas harus segera pulang. Dua jam, 45 menit untuk berenang dan sisanya waktu yang dihabiskan dalam perjalanan.

 

Obet sama seperti anak-anak pada umumnya, ingin menjajal segala hal yang justru dilarang orang dewasa. Termasuk nasihat kakek agar tak pernah melewati hutan pinus ketika bulan penuh terpancang di langit.

 

“Kamu tidak pernah tahu sejahat apa isi hutan itu ketika malam. Cukuplah kamu saksikan segarnya udara di tengah hamparan pinus yang jangkung ketika sore hari,” kata kakek beberapa hari sebelum nafas terakhirnya mencelos dari paru-paru.

 

Pria tua dengan garis keriput di wajah serupa serat daging sapi setengah matang itu memang tak pernah secara jelas mewartakan soal Naga Turnal kepada Obet. Bukannya tidak pernah, mungkin saja belum sempat. Karena, kakek yang sejatinya tak pernah punya pertalian darah dengan si cucu itu keburu mati.

 

Naga Turnal.

 

Akhirnya Obet mengetahui soal makhluk itu dari orang lain. Orang yang ditemuinya di sungai ketika pertama kali nyebur ke tengah Aurora sepekan lalu. Bocah bermata bulat seperti petai itu mencoba tarik kesimpulkan bahwa larangan kakek sebetulnya merujuk kepada sosok makhluk malam tersebut.

 

Orang yang menceritakan sosok Naga Turnal adalah sosok yang dipanggilnya “kakak”. Keduanya pertama kali bertemu di bawah permukaan Aurora tatkala si “kakak” itu tenggelam.

 

Jangan pernah berpikir wujudnya menyerupai ular raksasa seperti selama ini banyak digambarkan dalam berbagai warita rakyat. Yang pasti, panjangnya melebihi pinus tertinggi yang pernah dilihat Obet di dalam hutan.

 

Matanya menyala hijau seperti daun pisang. Bentuk kepalanya seperti ular sendok dengan sungut panjang mengelilingi hingga ke leher, lebat. Sekujur tubuhnya bersisik halus seperti kadal. Permukaan sisik itu licin berwarna coklat tua seperti tanah.

 

Tanpa alasan jelas, Naga Turnal dikabarkan hanya muncul pada malam hari ketika langit cerah dan menampilkan bulan secara utuh dalam berbagai wujud, baik itu purnama, separuh, maupun sabit. Kehadirannya di dalam hutan pinus untuk mencari mangsa, kata orang, tapi sebagian lain yakin si naga ada di sana untuk tidur.

 

“Mana yang benar jadinya? Apa yang dia mangsa?” tanya Obet kepada orang yang dipanggilnnya ‘kakak’ itu. Tidak ada jawaban, hanya lonjakan bahu mengisyaratkan si penceritapun tak tahu mana yang benar. Sejak hari pertama mencapai Aurora itu Obet langsung mengurungkan niatnya berenang lebih lama.

 

Kini, Obet baru saja selesai mendaki akar beringin di dekat Sungai Aurora lantas hujan deras turun begitu saja. Ia bersungut-sungut dalam hati, merutuk kenapa hujan mesti ada. Hujan hanya membuat repot.

 

Saat ini, hujan terkutuk karena memangkas waktu mainnya. Beberapa waktu ke depan hujan itu menyebalkan karena membuat perjalanan pulang jadi lebih panjang. Di tengah hujan, Obet mesti berupaya lebih ketika melangkah. Kakinya kerap terperosok tanah becek.

 

“Arrrggh..” gumamnya sembari berusaha menarik kaki dengan kedua tangah dari dalam bubur tanah yang tak sengaja terinjak.

 

Semakin berusaha menarik kaki kanannya maka pijakan kaki kiri kian dalam. Serba salah bocah itu. Setelah berhasil mengeluarkan telapak kaki kanan, dia segera mencari titik pijak terdekat yang tanahnya lebih padat.

 

Awan mendung berwarna abu ditambah guyuran hujan membuat pandangan lebih buram sehingga pekerjaan mudah macam itu terasa lebih merepotkan. Belum sempat berdiri tegak, kini giliran kaki terperosok lebih dalam hingga Obet jatuh. Sekujur tubuhnya bersimbah tanah basah.

 

“Ssssrrrrkkkh,” Obet spontan menoleh ke belakang. Sepertinya barusan terdengar suara sesuatu menyeruak di antara semak. Tapi yang terlihat hanya kabut dan air hujan yang meluncur seperti garis.

 

Hatinya kedatangan perasaan lain selain kesal, yakni takut dan…curiga. Obet mempercepat bangkitnya dan segera melanjutkan perjalanan dengan setengah berlari.

 

Sungguh hujan membuat segalanya semakin kacau. Ribuan kiloliter air dari langit ini hanya menyenangkan ketika sedang terlindung darinya. Menenangkan, sewaktu hanya mendengarkan rintiknya yang menhantam atap rumah saat sedang telentang di atas pembaringan.

 

Berkali-kali Obet mengerjapkan mata, mengusap air hujan yang menetes dari ubun-ubun ke alis. “Sssrrrrkh,” sekali lagi suara itu sekelebat terdengar dari belakang di antara riuh air hujan yang menghantam bebatuan, tanah, dan daun.

 

Obet kepikiran soal Naga Turnal. Larinya semakin kencang, terasa seperti ada yang menguntit di belakang.

One thought on “Obet dan Bukit Darah Naga #2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s