Spora Kristal*

[on my hands / dok. pribadi]
[on my hands / dok. pribadi]
MEREKA belum juga berhenti. Topik yang sama dibahas berulang kali; substansi maupun isi.

Aku duduk di sana, dalam satu kotak yang terhijab dari perhelatan keduanya; melihat, mendengar, dan merasakan sebatas apa yang bisa kupikirkan.

Kenapa pula aku tetap berdiri di san? menyaksikan betapa konsep tentang kebaikan haruslah mengikuti apa yang terpahami di benak mereka.

Ada banyak wajah yang terlihat di setiap tapak lurus, berkelok, menanjak, menurun, hingga tikungan.

Ada banyak suara yang terdengar di setiap ruang, lubang, terowongan, hingga celah.

Ada banyak aroma yang tercium di setiap tumpukan, sudut, hamparan, hingga kubangan.

Ada banyak nama yang teringat di setiap pertemuan, pembicaraan, kehidupan, hingga masa.

Aku seperti kristal. tak ada yang mulus sempurna. pilihan hanya; tampil sebagai yang retak namun tetap utuh, atau hancur sekalian.

Aku seperti angin. berembus menyelimuti setiap sudut kehidupan; yang tua, yang muda, yang teraniaya, yang menyakiti, yang salah, yang benar.

Beberapa janji terbiarkan tak terpenuhi. Beberapa cerita terlanjur dibiarkan terlupa. Beberapa sosok terlambat untuk ditemui. Beberapa ketakutan teramat sulit diatasi.

Mereka bicara tentang nasihat. mereka berdebat dengan urat. mereka bertutur tentang harapan, usia, kematian.

Ada yang bertanya, ada yang menjawab. aku tak butuh pertanyaan, aku enggan menjawab.

Daun; tertumbuh dari tunas, muda, menua, rontok, mati.

Air; terserap tanah, tersaring, tersimpan, tersedot, habis.

Batu; terlalu keras.

Embun; teruapi matahari, berbulir, lenyap.

Esok; terlihat seperti lainnya.

Jangan disuruh, karena aku sudah lebih dulu melakukannya. memukulkan godam itu tepat di atas ubun-ubun; agar hancur, agar remuk, hilang.

Mereka bicara tentang dunia yang terbentang di antara, mungkin antara kau dan aku, atau antara kita.  satu mewartakan, lainnya menanggapi lirih.

Ujung mataku melirik kepadamu . yang melihatku serupa malu-malu. yang mengerjap seolah membuka pintu. dan aku tetap saja sejenis makhluk manja di negeri itu.

Ya, aku kristal. aku kristal itu dulu. sekarang, aku sedang berkelindan bersama angin. menikmati ketidaan sosokku lagi. menjadi remah seperti spora. tertiup, hinggap, diam.

Ingkar, lalai, alpa, sukar… bisa jadi ini merupakan awal segala sesuatu.

Karena yang tersadari adalah aku cuma perlu menemui diriku sendiri.

 

 

*tuturan lintas prosa ini saya peruntukkan kepada diri sendiri yang mengulang tanggal kelahiran pada 28 Desember.

Tangerang, 15/12/2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s