Paspor Bikin Akrab Yah

KANTOR Jurusan Jurnalistrik Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik berada di semak belakang kampus. Tentu saja bukan semak dalam arti sebenarnya.

Ruang yang dihuni para dosen jurusan jurnalistrik fakultas komunikasi Kampus Tercita IISIP Jakarta itu terdiri dari 2 lantai. Posisinya tepat di samping toilet pria yang paling terpencil di kampusku. Pokoknya, dekat halaman parkir belakang, terpencil, terasing, terisolasi. Halah

Siang menjelang sore di salah satu hari pada 2009 (kalau tidak salah ingat). Bocah kriting itu mengenakan switer dan sendal jepit memasuki ruang jurusan (andai tak salah ingat pula :p ). Ada beberapa mahasiswa lain di sana, aku salah satunya. Kami yang tak saling kenal berkumpul dalam rangka pengumuman seleksi magang untuk sebuah surat kabar olahraga.

[detil soal bocah tersebut bisa ditengok disini]

Dosen mata kuliah Penulisan Berita Olahraga dan Budaya (PBOB) menugasi kami untuk menulis berita sebaik mungkin guna diseleksi, beberapa hari sebelumnya. Siapa yang lolos berkesempatan magang, sekalian KKL (kuliah kerja lapangan), plus dapat honor.

Itulah pertama kali aku mulai berinteraksi dengan bocah penggila Harry Potter tadi (sekarang usianya sama sekali sudah nggak bocah/remaja/belia sih). Satu komentarku untuk parasnya: orang ini mukanya jawa banget dah.

Setelah itu, kami berkawan. Friend of benefit, pokoknya temenan harus cari “untung” (nama siapa yah ini? :p ). Dua kalimat terakhir becanda kok. Sebab, kayaknya aku nggak menguntungkan buat digauli juga sih.

Dia itu baik deh (sambil nahan muntah nih ngetiknya). Sekarang ia men-status-isasi dirinya sebagai the (most) quality jomblo in Jabodetabek.

“Kita akrab banget yah,” celetuknya diiringi rangkulan bernuansa nyindir sambil cengar-cengir, tatkala kami sedang menghabiskan waktu di mal. Anak nongkrong coy! (Preet)

Aku tertawa, dia juga. Hari ini, 24 Januari 2014, entah sudah berapa kali bocah bermuka Jawa yang mengaku punya kecantikan abadi itu menggerakkan telunjuknya ke depan hidung. Menekan tulang lunak di antara lubang hidungnya. Membuat indra pernapasannya berbentuk menyerupai yang dimiliki babi. Ini dilakukan berulang-ulang setiap kali habis mengucapkan hal koplak atau sekedar untuk merespon tingkah goblok yang terjadi di antara kami.

Kalau aku tak ingat betapa dia ingin diakui memiliki kecantikan abadi, pasti sudah kubilang: idungmu nggak usah digituin udah berbentuk ‘begitu’ kok.

Sekitar 12,5 jam kuhabiskan bersamanya, hari ini. Kemudian, kami berpisah di depan salah satu pintu gerbang mal tersohor di Tangerang, setelah sebelumnya dari mal yang lain. (Omaigat, cinta bener sama mal)

Kalimat celetukkan tadi memang cuma sepintas. Tapi, setelah beberapa jam sampai di rumah lantas mengingatnya kembali ada rasa yang lain. Cailah… (makin nahan muntah)

Yah, aku dan wanita -yang hari ini bersorak lantaran berhasil dapat diskon 20% saat membeli sepatu baru di Khakikhakiku- itu sempat menghilang satu sama lain. Atau, mungkin yang on-invisible-mode hanya aku saja, atau sebaliknya, entahlah. Periode invisible ini berlangsung sekitar 2,5 tahun.

[Roppan, Mal TangCity, 24 Januari 2014 / dok. pribadi]
[Roppan, Mal TangCity, 24 Januari 2014 / dok. pribadi]
Ini bukanlah pertama kali aku menghabiskan waktu dengan perempuan yang namanya serupa dengan bandar udara Negeri Sakura tersebut. I am not her best woman (obviously) >> sok ngikutin Sherlock yang disebut sebagai best man-nya Watson. Tapi, demikianlah dan… ya sudahlah.

Setiap dari kami memiliki kehidupan masing-masing, khususnya dia. Setidaknya, saya senang menyadari bahwa periode invisible mode itu perlahan semakin menjauh. I am not feeling sorry for… whatever it was. Looking back, perhaps we knew ‘this’ all along.

Kami berpisah menuju rumah masing-masing. Dia menuju rumahnya sembari mlipir menemui seseorang dulu, eeyaaa’ (aku bisa tebak namanya kan, sok misterius sih lu). Aku pulang sembari berulang kali membuang ingus (ini efek pilek, bukan karena terharu).

Sebetulnya, ‘perjalanan’ 12,5 jam hari ini bermula dari obrolan pada tengah malam sebelumnya.

Kawanku yang sangat baik hari berkenan traktir makan di Roppan ini sejak pukul 00.00 WIB (semalam) ngoceh soal perkara bikin paspor tapi nggak menghasilkan kesimpulan apapun. Hasilnya, jam 6 pagi tadi nelpon [ketika mataku masih sepet dan mimpi masih nanggung]. Oknum -yang hari ini menceramahiku soal membuka hati- itu nelpon ngasih tau mau ke kantor imigrasi Tangerang pada 7.30 WIB.

Hello world, itu kejadian jam 6.10 WIB. Setidaknya, aku butuh waktu 45 menit untuk sampai di lokasi. Belum lagi kepotong prosesi mandi, bedakan, siapin berkas, etcetera.

Pada akhirnya aku tetap nyamperin dia tersebut sih.

Aaaak, ini jelang akhir bulan man… devisa di ATM cekak ditambah mesti bayar biaya pembuatan paspor sekian ratus ribu rupiah. Huuft! [Makasi yah, oknum].

Setelah meninggalkan kantor imigrasi sejak berjam-jam lalu ada pertanyaan yang tertinggal di benak. Sebenarnya, gua bikin paspor mau ngapain dah?

Ketika sedang mengisi formulir : “Duh, ini [merujuk pada lembar pertama formulir di kolom tujuan pembuatan paspor] negara tujuan dan tujuannya diisi apa?” ujar temanku yang ngarep banget jadi selingkuhan Ryan Gosling itu.

Aku tak langsung menjawab, melempar tatapan ‘menurut el?’ terlebih dulu.

Lalu dia menjawab pertanyaannya sendiri, “Yaudah ke Singapura aja yah, mau liburan aja tulisnya”.

Dalam hatiku: mmm… mmm..

Beberapa menit kemudian setelah menyelesaikan pengisian formulir permohonan paspor, dia mengantre nomor urut. Berlanjut aku yang mengisi formulir.

Biasanya, seseorang makan karena? lapar. Oke, fine. Minum disebabkan? haus. Kalau tidur? karena ngantuk atau lelah. Mmm, aku beli sepatu baru karena ? (biasanya) lantaran kondisi sepatu lama udah nggak memadai.

Nah, hari ini… aku bikin paspor, karena? mau liputan ke luar negeri (?), mau liburan ke luar negeri (?), atau mungkin mau umroh (?).

Teetooot, nggak ada yang benar dari opsi jawaban di atas.

Aku membuat paspor karena…. karena… karena ada orang yang ngajak. (tepok jidat)

……negara tujuan SINGAPURA, permohonan pembuatan paspor untuk keperluan LIBURAN….. [I wrote the same thing].

Dengan PeDe tingkat dewa kuikuti isian formulir temanku bahwa negara tujuan lancongan adalah Negeri Singa.

2 thoughts on “Paspor Bikin Akrab Yah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s