Semesta Ketiga Amaranthine

bulan-bumi-matahari
bulan-bumi-matahari

Segala yang berlangsung selama periode itu hanya melahirkan kebingungan yang semakin pekat di dalam rongga kepala. Bimbang itu serupa asap hitam yang mengepul dari cerobong pabrik dan seluruhnya terhirup olehku.

 

Otak teracuni sampai tak ada lagi dopamin maupun serotonin yang mampu lelompatan antarujung syaraf. Tumpul, karena aku tak punya lagi syaraf transmisi terpenting dalam penciptaan rasa damai dan tenang. Kini, asap pekat kebingungan berpedar menyelimuti seluruh sel dalam tengkorak.

 

Alhasil, sentral perangkat pikir tersebut melemah sampai ke level terendah. Padahal, sebelumnya terabadikan di benakku bahwa semesta ketiga sungguh indah hingga kuterantuk di batasnya. Pikirku berhenti tanpa mampu lagi menerobos.

 

Aku telah memutuskan untuk menyerahkan seluruh Jiwa dan Raga-ku kepadamu bulan. Kubaringkan keduanya di atas dipan-dipan berisi sesembahan, untuk kau serap sari patinya. Selepas prosesi pengorbanan itu langsung kutemui kafein dan membeberkan seluruh kejadian yang ada kepadanya.

 

Seperti biasa.. dia ngotot diam sembari bergelombang kecil tatkala kutiup lemah pinggirnya. Dan, aku tersenyum mendapati itu. Tapi sebelumnya, apakah kau menyukai hasil seduh gerusan bebijian hitam bernenek moyang dari Afrika Timur?

 

Tak apa jika jawabanmu nein alias no. Setidaknnya kalau ”iya”, kurasa kau tahu betapa manjur secangkir espresso untuk menemanimu menarik nafas dari lembah terendah, sembari merebahkan pantat di atas sofa. Aku ada di dalam ruangan luar biasa luas berplafon hitam dengan taburan gemintang sembari memandangi lunar.

 

Berjarak sekitar 4 meter di depanku ada seorang wanita muda berusia kisaran 24 tahun duduk berhadapan dengan laptopnya. Lubang telinga disumbat headset berkabel putih entah apa yang terputar di san,a yang pasti tatapannya fokus tak beralih dari layar laptop.

 

Tepat di meja sebelahnya, 2 orang ibu masing-masing beraut wajah Chinese dan kebatakan. Mereka duduk di kursi kayu, beda dengan aku dan si wanita muda yang bertengger di sofa. Ibu-ibu itu terlihat antusias berbincang dengan rekannya berkulit hitam asal Afrika dalam bahasa Inggris.

 

Aku tak sedang memata-matai siapapun di antara mereka, pula tak kenal asal-usulnya. Sebetulnya mataku tengah mengamati sosok bulat berwarna putih keabu-abuan nun jauh jutaan kilometer dari pelupuk mata. Bulan itu mencuat di tengah jeda antara sofa si nona dan kursi ibu-ibu.

 

Dulu, bulan hanya kulirik sekilas. Melihatnya sekelebat, memperhatikan cahaya atau bentuknya sembari mengingat kalender lantas berlalu. Tapi, mereka bilang alam beserta personil tata surya tak sekedar untuk dilirik, ada dzat yang bisa dirasai.

 

Jiwa, Raga… akhirnya, kuputuskan untuk mengembalikan kalian kepada alam, semoga seluruh sari pati kehidupan yang sempat diserap turut kembali ke sumbernya. Tenang saja, walau otakku melemah tetap ada yang tersisa kok.

 

Tidak akan sentral pikir ini rusak begitu saja karena pelemahan diri yang terjadi. Sebab, itu bisa memporak-porandakan seluruh tatanan peradaban yang kususun sejak keakraban kita di periode kehidupan lampau.

 

“Wajar jika segala yang hidup akan mati. Setidaknya itu membuat kehidupan bisa terus bermetamorfosis hingga seperti sekarang ketika orientasi tak lagi terletak pada kebutuhan melainkan want,” ujar Raga sembari meloloskan asap putih dari bara tembakau lewat mulutnya.

 

Sedangkan Jiwa baru saja meletakkan benda serupa di pinggir asbak bening—yang kala itu tergeletak tepat di tengah kami bertiga. Beberapa hari sebelumnya kau bilang padaku; sepertinya gunung emas, meski ukurannya membengkak jadi dua kali lipat, takkan cukup memuaskanku.

 

Sungguh, aku tak acuh bagaimana mula hingga bisa kutemukan jasad dan ruh itu. Yang ingin kuketahui, sebetulnya apa yang menjaga kalian tetap tegak sewaktu segalanya berangsur runtuh?

 

Entah siapa yang menjadi gurumu wahai jasad, itu bukan hal pokok bagiku. Yang lebih krusial adalah mengetahui kesediaanmu melangkah memijak bara denganku tanpa undur diri teratur.

 

Apalagi kamu si ruh. Bisakah kamu tetap tersenyum menggunakan bibir dan matamu seperti itu—sendirian dengan dirimu saja? Akankah kau sungguh tetap mengindahkan kekawanmu selagi kau kelompong?

 

Aku rampung berbicang dengan kafein dan mencurahkan rindu kepada bulan. Ia tampil bulat utuh dengan sinaran perak kekuningan. Mungkin perasaanku saja, tapi sepertinya bulan kini lebih segar. Apakah karena sari patimu yang direnggut Jiwa dan Raga?

 

Jam di pergelangan tanganku menunjukkan pukul 23.05 PM. Kumatikan layar itu lantas beranjak dari sofa—yang sekian tahun lalu sempat kami duduki.

 

Kami… aku, ruh dan jasad. Kami… aku, Jiwa, dan Raga.
*****

 

 

a half love shadow.
a half love shadow.

 

 

 

Kali ini, aku ingin bicara tentang cinta. Hal yang mungkin tak bisa kamu mengerti atau aku yang sebetulnya tak tahu apa-apa. Bisa jadi memang dasarnya pengertian kita berbeda satu sama lain. Sehingga, ketika aku ingin membawamu pulang, kau menolak. Dan sewaktu kau ingin menunjukkan sepercik energi padaku malah kau habiskan seluruh dayamu sampai lunglai.

 

Apakah kita pernah bertemu di masa yang lain sebelumnya?

 

Bagaimana jika kuterangkan bahwa periode itu terbentang mengikat kita di tempat berbeda yang terpisah lembah. Di tempatmu ramai riuh senjata berdentum, duarr duarr, membuat bocah-bocah selalu gelisah. Pada sisiku; ruas jalan masih berupa tanah, banyak senyum ramah, geliat ekonomi desa saling menjamah.

 

Bagaimana jika kusampaikan, aku mencintaimu sejak dahulu. Sejak kau masih seorang berseragam tentara Eropa sedangkan aku cuma penjual karak di pasar rakyat.

 

Mendapatimu kembali setelah reinkarnasi, itu seperti rindu yang tak ada habisnya. Sayang sekali, hanya bicara satu-satunya jembatan kita selama bercengkrama dalam semesta ketigaku. Dengan jarak lutut kurang dari semeter membuatku ingin bangkit dan memelukmu.

 

Melingkarkan tangan kanan dan kiri mengelilingi rusukmu. Mendengar apa yang berdetak teratur di baliknya. Merasai diameter dadamu di kehidupan yang sekarang. Merasai bibirmu di kening lantas turun dan bertaut dengan milikku.

 

Aku bertanya-tanya, bahasa apa yang harus kugunakan untuk menyampaikan ini? Aku tak bisa pakai dialek Perancis, Belanda, Jawa terpatah-patah, Sanskerta, Latin, dan Jermanpun hanya kutahu sedikit. Bilang padaku, lingua apa yang mesti kugunakan? Sebut Raga!

 

Kamu selalu menggunakan bahasa jiwamu sendiri. Maaf, aku tak paham. Masing-masing jiwa kita memiliki warna. Bagaimana caranya putihmu menemui biruku yang labil lantaran kerap menjelma pula menjadi ungu, merah, kuning, dan lainnya?

 

“Semua akan terpahami sesuai keinginan kita untuk melihatnya dengan cara seperti apa,” katamu Raga.

 

Ha ha ha.. apakah artinnya, aku takkan pernah bisa memberitahumu tentang cinta yang ada di kepala entah di kehidupan kini maupun periode-periode baru (yang mungkin ada) di depan?

 

*****

 

Sebutlah aku ini sok tahu lantaran begitu yakin selama kita saling bicara kau menunjukkan geliat kenyamanan atasku, Jiwa. Sebaliknya, aku terlalu hiperbol sewaktu kau dalam pola yang sama tetapi aku resah pangkat 17 karena merasa kau tak nyaman lagi padaku.

 

Akukah sumber masalahnya? Kau menggeleng, Jiwa. “Ragapun kurasa menyambutmu dengan baik. Jangan berpikir demikian,” ujarmu.

 

Namun, selalu kumantapkan dalam hati adalah jawabannya “iya” atas pertanyaan tersebut. Bagaimana mungkin orang lain mau damai bersamaku selagi dengan diri sendiri saja kurasai begitu risih?

 

Sekali lagi, aku sok tahu. Kupercayai bahwa aku mengenal dengan baik siapa diriku. Siapa lagi kalau bukan seonggok daging bertulang yang bermula dari tetesan air—yang di kehidupan masa kini cenderung lebih sering menjadi sumber kehinaan manusia.

 

Dalam periode selanjutnya, aku akan menjadi bangkai busuk yang berbaring di dalam tanah. Maka, saat ini… aku tengah berjalan bolak-balik di antara tetes air dan bangkai itu. Aku sekedar hilir mudik sembari membawa kotoran.

 

Jelaskan padaku, Jiwa, mengapa sejak fase lampau hingga sekarang selalu ada yang harus dibatasi? Setidaknya untuk rasa. Cuma seperempat bisa kusampaikan, sisanya disimpan.

 

Melepaskan Raga tak mungkin bisa terlaksana jika aku tetap menggenggamu erat hingga kau sulit bernapas, Jiwa.

[on my hands / dok. pribadi]
[on my hands / dok. pribadi]
*****

Pernahkah kau tersadar bahwa seluruh dirimu tak sekedar bermula dari aktivitas senggama orang tuamu? Adakah momen kau teringat soal beberapa periode semesta yang sempat terlalui? Atau, kau merasa sosokmu sudah ada jauh sebelum sperma bapak biologismu menghampiri sel telur ibumu?

 

Ada beberapa semesta yang kulalui, totalnya tiga. Yang terakhir itu baru saja berlalu. Awalnya semesta ketiga itu senyap, cuma terdengar gerakkan jarum jam dinding seolah terus mengingatkan tentang putaran waktu.

 

Kemudian segalanya berubah menjadi lebih merekah ketika jasad dan ruh saling sepakat untuk melangkah. Tetapi, berkat konsep waktu 1×24 jam semestaku ini terasa begitu memburu apalagi saat kudengar bermacam teriakkan orang di sekeliling.

 

“Oh my God, oh my God!!”

 

“What’s going on?! What’s wrong?!”

 

“Mommy…”

 

“Honey, I’m scare! Oh my God!”

 

Pekik para penumpang yang berada di dalam pesawat Malaysia Airlines Boeing B777-200 bersamaku menambah kesan dramatis dan mengerikan terhadap jasad dan ruh ini. Tapi, aku tak mampu melontarkan kalimat apapun, hanya mampu mencengkram sandaran lengan, mata terpejam.

 

Aku mati-matian berusaha menahan tubuh agar tetap merekat dengan sandaran kursi, tak membungkuk ke depan seiring dengan moncong pesawat yang menukik tajam menuju bumi.

 

Di dalam kegelapan tetiba bulan yang tadi kupandangi saat duduk di sudut coffee shop bandara terlihat begitu dekat dalam jangkauan. Muncul pula Jiwa sambil mengusap-usap punggung tangan berusaha melemaskan remasan jemariku. Lalu, ada Raga di hadapanku menangis sekaligus tersenyum.

 

Pada semesta yang terakhir ini kucoba untuk melepaskan segala yang tertahan. Semesta ketigaku indah sekaligus terasa gerah. Aku merasa memijak tanah tinggi dibuatnya. Sayang, setelah kuperiksa justru selama di sana aku sekedar melayang hilang pijakan.

 

Bagaimanapun, takkan bisa kupilih takdir karena dia yang berhak untuk memilih. Kalau aku menjadi pemanah maka takdir tak ubahnya embusan angin. Aku cuma bisa berupaya membidik dan melesatkan anak panah di saat paling tepat.

 

“Pada akhirnya, bukan waktu yang pisahkan kita Amaranthine… melainkan ragu yang kecilkan cinta,” bisikmu Jiwa, di suatu malam sekian ribu hari lalu.

*****

One thought on “Semesta Ketiga Amaranthine

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s