Dua Prolog tentang Cinta

THE ALCHEMIST piked up a book that someone in the caravan had bought. Leafing through the pages, he found a story about Narcissus.

The Alchemist knew the legend of Narcissus, a youth who knelt daily beside a lake to comtemplate his own beauty. He was so fascinated by himself that, one morning, he fell into the lake and drowned. At the spot where he felt, a flower was born, which was called the narcissus.

But this was not how the author of the book ended the story.

He said that when Narcisuss died, the goddesses of the forest appeared and found the lake, which had been fresh water, transformed into the a lake of salty tears.

“Why do you weep?” the goddesses asked.

“I weep for Narcissus,” the lake replied.

“Ah, it is no surprise that you weep for Narcissus,” they said, “for though we always pursued him in the forest, you alone could contemplate hiw beauty close at hand.”

“But… was Nrcissus beautiful?” the lake asked.

“Who better than you to know that?” the goddesses said in wonder. “After all, it was by your banks that he knelt each day to contemplate himself.”

The lake was silent for some time. Finally, it said:

“I weep for Narcissus, but I never noticed that Narcissus was beautiful. I weep because, each time he knelt beside my banks, I could see, in the depths of his eyes, my own beauty reflected.”

“What a lovely story,” the Alchemist tought.

*   *   *   *

sumber: nimeshkiranverma.wordpress.com
sumber: nimeshkiranverma.wordpress.com

Ya, memikat sekali prolog di dalam buku The Alchemist karya Paulo Coelho tersebut. Tapi saya merasa ada yang mengganjal. Soal sosok danau dan si Narcissus tersebut, mengenai kesalingkaguman di antara mereka, rasanya saya merasa ada sesuatu.

Usai membaca prolog tersebutpun saya langsung terperanjat sejenak. Rasa-rasanya kilas cerita tentang Narcissus itu sudah lebih dulu saya baca, tapi di dalam buku apa saya lupa.

Akhirnya saya berhasil mengingat. Dalam Dekapan Ukhuwah karya Salim A. Fillah. Diapun menggunakannya sekilas di dalam prolog.

Ganjalan yang saya rasakan seusai membaca prolog The Narcissus tersebutpun terjawab. Dan jawabannya ada di dalam prolog yang dibuat Salim.

Si sungai berkata: I weep because, each time he knelt beside my banks, I could see, in the depths of his eyes, my own beauty reflected.

Cerna terhadap kalimat itu dikemukakan Salim bahwa “Kisah tentang Narcissus menginsyafkan kita bahwa setinggi-tinggi nilai yang kita peroleh dari sikap itu adalah ketakmengertian dari yang jauh dan abainya orang dekat.

…”telaga itu hanya menjadikan Narcissus sebagai sarana untuk mengagumi bayangannya sendiri. Persis sebagaimana Narcissus memperlakukannya,” tulis pria yang menjuluki diri sendiri sebagai hamba Alloh yang tertawan dosanya itu.

Pada dasarnya, tiap-tiap jiwa hanya takjub pada dirinya, tulis Salim mengakhiri paragraf.

Narcissus memang indah, demikian pula si danau. Tapi rasanya terlampau dangkal apabila cinta itu hanya teruntuk diri sendiri. Ke-narcissus-an hanya menciptakan gagal paham mereka yang jauh dan abainya yang di sekeliling.

Cinta sesama. Bukankah ini yang dibutuhkan?

Tapi saya sendiripun terlena karena lebih sering memikirkan bagaimana menjadi pohon yang kokoh, tegak menjulang dengan akar menghujam. Padahal, ha ha ha, yang dinantikan sekeliling adalah dahan-reranting-daun yang meneduhkan, serta buah yang ranum nan bermanfaat.

Cinta sesama itu, Salim berpandangan, persaudaraan yang sebening prasangka, sepeka nurani, sehangat semangat, senikmat berbagi, dan sekokoh janji.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s