Kotak Sabun Kucing

Kitten bathing

KUCING termasuk jenis hewan teritori, maksud saya mereka hidup dengan menetapkan secara tegas batas-batas teritorialnya. Apabila kucing lain mulai mengusik apalagi hendak merebut wilayah pengusaannya maka si empunya pasti langsung siaga berkelahi.

Saya menyayangi mereka memang, tetapi apakah lantas sekarang ini saya sudah berubah rupa menjadi kucing?

Kotak sabun raksasa berukuran 2 x3 meter dengan dinding bata merah ini adalah teritori yang saya tetapkan dan patenkan secara tak disadari orang lain. Onggokan sekantung sampah kertas, meja komputer yang dipenuhi buku, brosur, map, dan kertas tak beraturan, tempat tidur berselimut sleeping bag, satu lemari kecil berwarna coklat, dua boneka, dan beberapa tumpukan kardus. Inilah teritorial saya.

Saya sudah pisahkan beberapa helai pakaian kotor di sudut ranjang untuk dicuci sendiri pada akhir pekan. Tapi sekembali ke rumah, ke dalam kotak sabun merah muda ini, baju kotor itu tidak ada. Kemana perginya?

Rupanya mereka sudah diterjemur rapi di halaman belakang. Kenapa? Maksud saya, siapa yang melakukannya?

Ahh.. sosok itu.

Tokoh yang tak pernah absen menyiapkan sarapan itu, diri yang tak terjangkau oleh saya itulah pelakunya. Mungkin dia tak betah melihat baju kotor di dalam kotak sabun kacau ini. Padahal, demikianlah adanya kotak sabun.. bagaimanapun tetap terasa bersih dan wangi sabun, isinya kan sabun dan hakikatnya sabun itu membersihkan.

Tapi demikianlah, saya bahkan untuk membersihkan bekas diri sendiri saja sukar. Sosok itu kembali, kembali lagi lebih dulu mencucinya. Seseorang yang terkadang mengeluarkan suara tinggi itu selalu mencucinya. Mencuci seluruh pakaian kotor yang ada. Setelah itu kelelahan, sakit, dan akan kembali mencucikan.

Bahkan, kotak sabun raksasa yang berantakan ini beberapa kali pernah dibersihkan. Niatnya pasti baik, tidak mungkin tidak, terlepas bagaimanapun caranya melakukan itu. Tapi saya menyaksikan sepulang ke rumah, tempat ini tidak saya kenali. Sejumlah hal berubah bukan karena tangan saya, kotak sabun ini menjadi kotor dan tidak wangi.

bubble bath

Debu, tumpukan barang, kertas, buku bahkan sampah membuatnya hidup. Tapi mereka tidak terserak lagi, mereka mati.

Saya cemas, bagaimana yang terjadi selanjutnya. Saya bingung, saya bingung, saya marah, saya berteriak, saya bergulat, saya duduk, berdiri, berlari, ya… saya diam.

Powerless.

Perlahan saya kembalikan semua seperti semula. Seperti seharusnya atmosfir di dalam kotak sabun ini, kumuh, usang, agar tak perlu ada siapapun melirik dan berminat memilikinya.

Kotak sabun ini teritori saya. Dari sekian ratus meter persegi rumah tinggal ini hanya ini yang hendak saya patenkan sebagai teritori, cuma 2×3 meter persegi ini saja. Sungguh.

Di sinilah tempat kucing bisa mengeong lapar, mengeong sakit, mengeong untuk bernyanyi, mengeong untuk bertanya, mengeong untuk tidur, di sini saja.

Jika kucing jantan mematenkan teritorialnya dengan mengencingi, apakah saya juga perlu? Perlu kah saya kencingi daun pintu itu dengan kalimat : restricted area ?

 -Amaranthine-

Camera 360

[ini merupakan cerita lanjutan dari Semesta Ketiga Amaranthine]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s