CHINA BENTENG: Museum itu Pita dalam Temali Kusut #1

PASAR Lama termasuk salah satu kawasan yang mungkin paling familiar bagi warga Kota Tangerang, selain Cikokol.

Sesuai namanya, mayoritas daerah Pasar Lama memang berupa pasar. Entah itu dengan konsep tradisional, ritel modern, pertokoan, hingga pusat kuliner pada malam hari. Gampangnya, sebut saja ini daerah pusat perdagangan. Sejak pagi sampai malam transaksi jual beli agaknya tak berhenti.

Rupanya tidak semua sudut di sana bernuansa bisnis. Saya coba merangsek masuk ke dalam pasar tradisional tak jauh dari Masjid Al-Ijtihad. Nama jalannya Cilame, jangan dikira ini terkenal. Beberapa masyarakat yang saya temui dalam perjalanan tidak tahu bahkan salah memberi arah.

Saya berjalan kaki sekitar 50 meter memasuki mulut gang menuju satu tempat. Sebetulnya ragu apa betul ini jalan yang benar. Di depan gang sama sekali tak ada papan informasi atau sekadar spanduk yang menginformasikan keberadaan lokasi yang saya tuju.

Berdasarkan informasi di laman daring dan hasil tanya tukang parkir, ini memang jalan menuju Museum Benteng Heritage. Setelah menyusuri jalanan becek berbau apak campuran sampah sayuran, lumpur, dan daging busuk  akhirnya saya tiba di depan bangunan ini sekitar pukul 16.30 pada Sabtu (4/4/2015).

Saya berhenti beberapa detik sebelum memasuki pagar besi bercat hitam selebar 1,5 meter. Garis bibir melebar. Menatap museum tersebut seperti melihat sehelai pita di dalam tumpukan tali-temali kusut yang didominasi rafia dan sumbu kompor bekas, batin saya.

DSC_0622
[Museum Benteng Heritage, Kota Tangerang / dok. pribadi]

Museum dua lantai itu dicat putih pada dindting dan hitam untuk berbagai kusen dan titik-titik penyangga bangunan. Seluruh jajaran pagar pun dicat hitam. Tak banyak hal spesial dari penataan taman di halaman cagar budaya ini. Cuma ada beberapa batang tanaman setinggi 1- 1,5 meter tertanam di dalam pot.

Rasa ingin tahu terhadap isi bangunan berusia sekitar 300 tahun ini melambung saat melihat ornamen dinding depan dan pintu utama. Ada tirai merah membalut daun pintu hitam, sepasang patung kirin laki-laki dan perempuan bak penjaga yang selalu beri hormat kepada semua tamu.

Pintu kayu tersebut diapit jendela kayu dengan warna cat sama, ada teralis warna coklat muda di tengah-tengahnya. Saat kepala mendongak, terpampang tiga lampion menggantung tenang. Warnanya lagi-lagi merah tetapi satu yang di tengah berwarna coklat.

Keramik hitam berukuran sekitar 1 x 0,5 meter tertanam pada dinding putih, tepat di samping jendela kanan. Di sana tertera informasi bangunan ini disahkan sebagai museum pada 11 November 2011 (11.11.2011) pukul 20.11 WIB oleh Harimurti Kridalaksana, Ping Supandi, dan Udaya Halim si pemilik cagar budaya ini.

“Hou de zai wu,”  tulisan di samping daun pintu ini menahan bola mata sejenak. Tindakan yang penuh kebajikan membuahkan kebaikan, demikian artinya.

Suasana yang saya dapati sebelum melintasi pintu utama sangat khas China tetapi bukan hanya itu. Betul ini museum tentang kebudayaan Tionghoa di Tangerang, tetapi saya tak merasa ini terlalu a la Tiongkok. Ya, inilah hasil peranakan Tionghoa Tangerang, inilah China Benteng.

2 thoughts on “CHINA BENTENG: Museum itu Pita dalam Temali Kusut #1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s