CHINA BENTENG: Restorasi Bukan Renovasi #2

PADA akhirnya kita hanya akan melestarikan apa yang kita cintai, mencintai apa yang kita mengerti, dan mengerti hanya apa yang diajarkan. (bagian #1 klik di sini)

Kalimat itu tertera di halaman belakang brosur Museum Benteng Heritage, saya membacanya saat beranjak pergi dari kawasan Pasar Lama usai mengunjungi museum dan klenteng di dekatnya. Ya, museum ini hanya sepenggal bagian tentang upaya melestarikan rekam jejak peranakan Tionghoa di Tangerang.

Usai mengunjungi museum tersebut, saya sadar warga Tionghoa tak bisa dipisahkan dari sejarah kota ini. Mereka hadir, menetap, hidup, tumbuh, dan meneruskan keturunannya di sini. Mereka ada sejak Tangerang dipenuhi benteng pada jaman kolonial Belanda. Merekalah China Benteng.

“Disebut China Benteng karena dulunya Tangerang jadi benteng pada jaman Belanda. Tidak ada info pasti benteng ini mencakup wilayah mana saja di Tangerang,terakhir ditemukan sisa benteng di daerah Batuceper,” ujar Satyadhi Hendra.

Saya banyak berbincang dengan pria keturunan Tionghoa berusia 38 tahun itu. Sejujurnya saya tak mendapatkan sebutan yang pas untuknya. Tapi anggaplah Hendra, demikian dia disapa, salah satu pengelola museum dan orang yang dipercaya Udaya Halim si pemilik museum.

Tapak pertama yang saya pijak saat menyusuri  jejak China Benteng ada di Jalan Cilame No. 18 – 20, Pasar Lama, Tangerang. Museum kelolaan Yayasan Benteng Heritage inilah yang berusaha mempatenkan China Benteng sebagai mutiaranya Tangerang, the pearl of Tangerang.

“Dari proses restorasi sampai sekarang seperti bola salju, museum ini seperti dapat pengakuan bahwa di sini bisa jadi sumber cerita tentang masyarakat peranakan di Tangerang. Sumber cerita, bukan sumber sejarah,” ujar Hendra.

Radius sekitar hingga 300 meter di sekitar museum kental suasana pecinan. Bangunan, demografi penduduk, dan suasana khas kampung China. Bukan cuma klenteng Boen Tek Bio dan Vihara Padumuttara, ada juga Masjid Kalipasir bergaya Tionghoa yang tuanya tak kalah dengan bangunan museum.

Hendra, pria berkulit putih, tubuh sintal dan berkaca mata, menemani saya berbincang di ruang depan museum sebelum tiba giliran untuk tur ke dalam. Kami duduk di atas bangku kayu di depan loket yang menjual tiket senilai Rp20.000 per orang.

Mungkin saya adalah tamu kesekian ratus yang ditemuinya selama mengurus Museum Benteng sejak 2011. Hendra sangat mengusai topik pembicaraan soal museum dan sekilas tentang China Benteng. Dia mulai menjelaskan dari apa yang tampak di ruang utama ini.

Di sisi bagian kiri, jika dari arah saya masuk, ada naga barongsai berdiri tenang. Naga Nusantara namanya, kata Hendra. Sebutan nusantara menyiratkan begitu dalam percampuran budaya Indonesia dengan Tionghoa di Tangerang.

“Lihat saja naganya pakai batik. Naga ini bernuansa naga barong Bali, garuda wisnu kencana, ditambah sentuhan Tionghoa. Ini adalah Naga Nusantara pertama,” ucapnya.

Pada sisi berlawanan dari naga di antaranya terpajang beberapa lukisan suasana sekitar museum dan Pasar Lama tempo dulu, diadopsi dari foto ukuran dompet. Adapula piala dipajang berjejer baik dari dalam negeri maupun penghargaan level internasional.

Seluruh bangunan Museum Benteng dibeli Udaya Halim untuk direstorasi bukan renovasi. Sama sekali tidak ada perubahan konstruksi, posisi, maupun bahan bangunan. Bahkan ada pahatan keramik di dinding langit-langit luar dan dalam di lantai dua tetap tersaji seperti sedia kala tanpa diubah sedikitpun.

Proses restorasi bangunan yang diperkirakan dibangun pada abad ke-17 itu bermula pada 2009. Seluruh bagian bangunan tua ini tidak memiliki struktur besi. Batu bata kuno yang ada dirawat tanpa diubah agar museum ini dapat dicatat sebagai cagar budaya, sehingga tak bisa diperjualbelikan.

Museum Benteng sepertinya dahulu bukanlah rumah. Pasalnya bangunan ini tidak memiliki kamar tidur dan ruangan dapur. Diperkirakan bangunan artistik ini pada mulanya dipakai sebagai kantor sebuah organisasi.

Setelah direstorasi selama dua tahun tepat pada 11 November 2011 pukul 20.11 WIB, cagar budaya ini diresmikan sebagai museum. Pemilihan jam peresmian memang sengat pada malam hari, ujar Hendra.

“Karena kalau dilakukan pagi bisa berantem sama orang pasar dulu, mereka  bisa bawakan kami semua golok,” katanya sembari tertawa menunjuk pasar di sekitar bangunan museum.

Untuk barang-barang yang menjadi koleksi saat ini semuanya merupakan milik pribadi Udaya Halim yang dikelola Yayasan Benteng Heritage. Tapi sayang, pada Sabtu sore itu saya tak sempat menghampiri dan berbincang langsung dengannya lantaran dia sedang sibuk berbincang dengan tamunya.

Museum Benteng Heritage, imbuh Hendra, enggan menjadi bangunan statis. Setiap tahun setidaknya ada informasi mengenai sejarah bangunan ini maupun budaya China Benteng di sekitar ditambahkan. Ini agar dapat disebut  sebagai museum pintar.

Halaman pertama pada brosur museum tersebut seolah bersahutan dengan kalimat pujangga yang saya temuka di halaman paling belakang. Restorasi bangunan ini bertolak dari kesadaran pentingnya melestarikan peninggalan sejarah, agar kita tidak mengalami amnesia sejarah.

DSC_0625

One thought on “CHINA BENTENG: Restorasi Bukan Renovasi #2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s