Sepertiga Hidup Ara

EMPAT rumah lampu itu disangga sebuah tiang besi yang berdiri tegak di tengah empat kursi kayu di belakang kami. Kursi-kursi sepanjang 1,5 meter ini berjejer di bawah setiap rumah lampu, membuat formasi kotak.

Tidak ada siapapun yang duduk di kursi itu selain kami. Dari atas kepala, cahaya lampu berwarna kuning temaram menghujan. Tapi tidak demikian dengan ubun-ubunnya. Lebih gelap, tak ada pendar cahaya kuning. Lampu di atas kepalanya padam.

“Rasanya sukar, berat, sulit, dan segala berjalan lambat,” kata dia sembari memerhatikan ujung sepatu kanannya yang sedang menggaruk-garuk tanah.

Kutatap samping wajahnya beberapa detik. “Lantas?” jawabku.

“Mungkin sebaiknya aku berhenti dan menyudahi saja”. Dia menangkat kepala dan melihatku, “begitukah?”

“Cuma sampai sini saja keyakinan dan usahamu? Hanya segini?” Aku justru bertanya balik kepadanya.

Nada suaraku seperti motivator yang penuh percaya diri bicara di depan audiens. Padahal, andai aku ditimpa seperti apa yang dijalaninya belum tentu aku sanggup.

“Kenapa aku berbeda?”

“Maka, kenapa kau harus sama seperti yang lain?” jawab sekaligus tanyaku diplomatis.

“Bukankah semua yang membuat ini lebih sukar bagiku menandakan semesta tak mendukung?”. Kulihat dia menghela nafas pendek setelah mengucap.

“Andai orang-orang eksentrik lain menalar sepertimu, adakah Chicken Soup, Forrest Gump, The Breakfast Club, atau Dead Poet Society di tengah-tengah kita?”

Matanya segera menyambar retinaku lagi, “maksudmu?”

******

C360_2014-05-14-10-55-34-1

Ara memasuki ruang kelas sembari berlari. Kaki bernomor sepatu 30 itu berayun menghentak-hentak lantai dengan irama tertentu. Sepasang kaki itu seperti punya energi yang takkan payah meski pemiliknya tidak makan tiga hari.

Pagi itu kami mengenakan seragam batik merah, seragam khusus hari Kamis. Rok dan kemeja batiknya yang kebesaran berayun mengikuti jejak kaki. Ara masuk ke dalam kelas lantas menyusuri setiap deret meja yang ada, dari paling kanan ke pojok kiri.

Ara, yang selalu memasuki gerbang sekolah sampai kelas berlari itu, memeriksa lipatan roknya setiap 15 menit sekali. “Mana yang berkerut? Tidak ada kan. Kau ini memang senang mengerjai aku,” ucapnya kepada angin sembari menolehkan wajah ke kiri.

Aku penasaran siapa yang diajak bicara Ara maka kuhampiri dia yang masih memeriksa lipatan rok merahnya. Ara sedang berdiri di samping mejanya yang berdiam di baris paling belakang. Menyadari langkahku mendekat, dia mengembalikan arah muka lurus ke depan. Ara berhenti bicara.

“Kenapa Ta? Bukannya mejamu di depan?” tanya Ara kepadaku saat langkahku tinggal berjarak lima kotak lantai darinya.

Aku berhenti. Coba mencari alasan bahwa tujuanku bukan untuk menghampiri dia melainkan teman yang lain. Alasan ini tak jadi kupakai karena ternyata di deret meja kami, yang kedua dari kanan ini, hanya ada Ara dan aku. Kekawan lain sedang di luar, ini jam istirahat.

“Oh iya ya, Ra. Aku lupa tempatku di paling depan, hahaha,” jawabku kikuk ditutup tawa garing.

Otomatis aku memalingkan badan dan melangkah menjauhi Ara.

Sembari langkahku bertolak darinya, kudengar dia bicara lagi dengan angin –maksudku kawan di sebelahnya. “Awas ya, nanti-nanti kalau kau bilang rokku berantakan aku takkan tertipu lagi”.

Ara selalu berlari menyeruduk pintu kelas dan mengitari setiap deret meja kursi dengan kedua lengan tangan terangkat ke samping, menyerupai sayap pesawat terbang. Dia berlari dengan mengolengkan tangannya kekanan dan kiri bergantian. Setelah memutari setiap deret barulah dia hinggap di kursinya sendiri.

Setiap menyaksikan itu pada pagi hari sebelum jam pelajaran dimulai, aku sering terpukau. Apa rasanya memiliki teman khayalan seperti yang dipunyai Ara. Tapi aku tak pernah berani bertanya. Beberapa kali sehabis bercerita kepada ibu tentang kelakuan Ara, dia selalu bilang, mempertanyakan hal itu tidaklah sopan.

Ketika jam pelajaran olahraga atau sedang istirahat aku sering memerhatikan Ara. Dia yang selalu jalan, maksudku berlari, sendirian. Tak jarang Ara tampak murung jika tidak sedang ditemani kawan imajinya.

Suatu kali aku pernah berbaris tepat di sebelahnya ketika pelajaran olahraga. Saat melakukan serangkaian gerakan senam Jumsih (Jumat Bersih), Ara malas-malasan. Tetiba dia bicara setingkat berbisik kepadaku bahwa di depan gerbang sekolah ada bapak-bapak berjaket kulit hitam sedang mengintainya. Orang itu akan berbuat jahat, kemungkinan besar ingin menculiknya sepulang sekolah.

“Kurasa kepala sekolah akan memanggilku saat pulang sekolah nanti. Dia mengira aku yang mengempeskan ban motornya tadi pagi”. “Saat jam pelajaran terakhir aku akan membolos ke WC ya. Aku tidak akan membiarkan Obet menuduh bahwa akulah yang mengerjai Pak Usman dengan mengoles balsem di kursi guru”.

Lebih sering hanya kudengarkan dan mengangguk saja. Aku tak paham dengan cerita Ara. Karena setahuku tidak ada insiden ban motor kepala sekolah bocor atau Pak Usman yang pantatnya kepanasan karena balsem.

*****

Ara sekarang tentu tidak pernah sibuk merapikan lipatan rok seragam sekolah. Pun tak pernah berputar-putar dengan tangan terangkat ke samping sambil mendengungkan suara “ngeeeeng… ngeeeeng…”. Dia pun tidak pernah lagi kusaksikan menyeruduk pintu kelas.

Sekarang, Ara lebih sering menggesek-gesekkan ujung sepatu atau sendalnya ke tanah, aspal, con block, lumpur, atau apapun yang sedang dipijak. Beberapa belas menit sekali telapak tangannya mengusap ubun-ubun memastikan belahan rambut tak berubah.

Saat dosen sedang menerangkan materi di kelas, aku sering mendapatinya menekan rapat-rapat bibir sembari menatap ke arah tertentu. Entah ke depan, kanan, kiri, bisa menoleh atau sekadar melirik. Kalau bukan bibirnya yang dirapatkan, maka wajahnya menunduk dan Ara memejamkan mata hingga sudutnya berkerut.

“Aku selalu dan terus berusaha mengabaikannya,” ucap Ara suatu sore saat kami sedang di perpustakaan kampus. “Tapi mereka selalu muncul”.

Apapun jawaban yang kulontarkan, aku tidak pernah benar-benar menasehatinya. Aku bahkan tidak pernah mampu menalar dengan tepat apa yang dihadapi perempuan kurus berambut keriting itu.

“Pernah kudengar orang berkata, imajinasi dan fiksi membentuk lebih dari tiga perempat bagian dari kehidupan nyata kita, Ra.

Tak sedikit orang-orang eksentrik lain yang pernah menjalani seperti yang kau alami. Saat mereka memutuskan untuk berhenti mungkin ketika mereka sedang dicemooh karena tidak bisa berlari lantaran kakimu penuh dengan besi penyangga.

Mungkin saat mereka harus hadir di sekolah pada akhir pekan, dari pagi sampai siang, hanya untuk menuliskan siapakah diri mereka. Padahal, orang hanya akan melihat sebagaimana dirinya.

Mungkin pula ketika seorang guru harus keluar dari sekolah karena disangka gila. Bisa jadi itu terjadi ketika dunia memaksa merangsek untuk bercokol di hati seseorang.

Kecintaan semesta kepadamu terlihat dari sejauh mana kau bersedia menerima sosokmu sendiri dan sekitaran. Selama itu mampu kau lakukan, bersemangatlah kawan”.

*****

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s