Di Balik Lelucon Plastik Herbal

KOTA Tangerang bisa menghemat uang miliaran rupiah dari struktur anggaran belanja tahunannya asalkan seluruh warga yang bermukim diwajibkan menggunakan plastik herbal.

Judulnya saja herbal maka orientasinya kepada sesuatu yang alami alias berasal dari alam. Plastik yang dimaksud adalah kantong pembungkus serba guna berbahan dasar tetumbuhan.

“Bungkus makanan semua diganti pakai daun pisang. Jadinya nanti bukan sampah, semua jadi kompos,” kata Kepala Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPA) Rawa Kucing Masan.

Plastik herbal hanya sekilas lelucon dalam obrolan dengan pria yang kerap berkecimpung dalam penghijauan Kota Tangerang itu. Perbicangan kami berkisar soal solusi pengolahan sampah yang volumenya tak pernah surut, malah sebaliknya.

Mengoperasikan TPA yang mampu menampung, mengolah, dan mengelola sampah secara terpadu bukan perkara mudah dan murah. Sulit memang bukan berarti mustahil. Tapi soal “mahal” pun tak seketika teratasi dengan pengajuan proposal permintaan tambahan dana.

Namun Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang tidak perlu khawatir. Mereka bahkan tidak perlu memusingkan perkara mahal itu. Dengan kehadiran plastik herbal, anggaran pengoperasian TPA Rawa Kucing sekitar Rp6,4 miliar per tahun tak butuh tambahan.

“Wali kota sediakan saja sekian ribu hektar untuk seluruhnya ditanami pohon pisang batu, lalu semua bungkus diganti pakai daun pisang,” ujar Masan sembari tertawa.

Dengan luas wilayah 184,24 kilometer persegi, Kota Tangerang menampung sekitar 1,7 juta jiwa. Sampah yang mereka hasilkan sedikitnya 4.964 meter kubik atau 1.241 ton. Sampah yang bisa terangkut ke TPA sehari-hari hanya 75% sekitar 3.723 meter kubik setara 1.000 ton.

Angka tersebut naik lebih dari seratus persen dibandingkan dengan lima tahun silam yang jumlahnya masih berkisar 500 ton. Dan jangan kaget kalau lima atau sepuluh tahun mendatang volumenya menyentuh 2.000 ton.

Perkiraan itu sukar terbantah jika melihat perkembangan ekonomi dan kependudukan di Kota Benteng. Posisinya yang strategis sebagai penyangga ibukota bikin Tangerang jadi sasaran investasi baik properti, jasa, industri, dan lain-lain.

“Tidak pernah ada grafik volume sampah turun. Semakin bertambah jumlah penduduk, sampah juga bertambah,” ucap Masan.

Di tengah keterbatasan dana dan kerepotan mengurus ribuan ton sampah, Rawa Kucing tetap bersolek. TPA seluas 34 hektare (ha) ini tak lagi kumuh. Masan mendandaninya jadi tempat pengelolaan sampah terintegrasi dengan taman edukasi berbasis lingkungan hidup.

Simsalabim! Memasuki gerbang Rawa Kucing sekarang tidak lagi gersang dan bau. Pepohonan rindang, kicau burung, serta hijaunya taman pembibitan pohon pelindung dan tanaman hias jadi menu utama yang tertangkap retina.

Pengembangan TPA Rawa Kucing tersebut dilakoni Masan dan timnya tanpa kucuran dana tambahan dari pemkot. Modalnya cuma rajin, yakni rajin memunguti benda-benda dan tanaman bekas fasilitas kota.

Tak sedikit jenis tanaman dan pohon yang dibudidayakan berasal dari pinggir jalan. Pepohon dan tanaman layu tak terurus diselamatkan. Balok-balok conblock bekas dipakai melapisi ruas jalan dicomot. Conblock ini sekarang jadi jalan setapak di area taman TPA.

Rasanya tidak mungkin penghijauan di sana bisa seperti sekarang kalau cuma menunggu kucuran uang pemerintah. Mengambil rupiah anggaran operasi yang adapun tak mungkin. Dana Rp6,4 miliar habis dipakai menggaji 83 PNS dan membeli ratusan bahkan ribuan liter solar dalam setahun.

Bagi Masan, ketimbang buang waktu mengeluhkan anggaran yang minim lebih baik bergerak dan melakukan apa yang bisa digarap, seperti mengumpulkan bambu dan conblock bekas. “Mau minta [tambahan dana], mintanya pun capek,” tuturnya.

Wali Kota Tangerang Arief R. Wismansyah membenarkan pihaknya ingin memposisikan Rawa Kucing bukan sekadar tempat pembuangan melainkan taman pemrosesan sampah. Tapi diapun mengakui tidak ada anggaran khusus yang disediakan untuk program penghijauan di sana.

Pemkot justru berharap ada investor swasta yang bersedia menanamkan kapital untuk menyokong pembiayaan. “Rawa Kucing harus secepatnya menjadi TPA yang berbasis taman edukasi. Kami juga terus bersinergi dengan pihak luar yang berniat meringankan,” tuturnya kepada Bisnis.

Dari sekitar 34 ha total lahan TPA Rawa Kucing yang kini berstatus aktif 10 ha. Luas ini diharapkan tidak bertambah. Untuk menemani tumpukan sampah, ruang terbuka hijau berisi taman edukasi lingkungan hidup bakal dibangun seluas 3 ha yang dirintis sejak akhir 2014.

Sejauh ini belum tuntas pengembangan ruang terbuka hijau di Rawa Kucing. Tapi kini dapat dilihat sejumlah fasilitas beroperasi, seperti taman bonsai, pengomposan sampah sayur berbekal ampas kopi, green house pusat pembibitan tanaman, lapangan bola, bahkan perkebunan eucalyptus.

Penampilan Rawa Kucing sekarang bukan berarti sudah cantik. Tetap saja ada keruwetan yang rutin terjadi, semisal antrean truk yang hendak menyetor sampah mengular ke luar gerbang. Tapi Masan tak pernah kaget lagi menyaksikan hal ini.

Antrean tersebut agaknya mustahil diberantas selama jalan raya menuju TPA tak diperlebar dan permukaannya yang berantakan tidak diperhalus. Apalagi dari gerbang menuju kantong-kantong penampungan sampah hanya ada satu jalur.

Antrean tambah parah manakala ada truk yang bannya terperosok ke dalam gunungan sampah. Rutinitas ini kerap terjadi lantaran beton sepanjang 3 meter pelapis permukaan sampah, untuk pijakan roda truk, kuantitasnya minim.

Misalnya, dari kebutuhan 100 meter jalan, setara 500 balok beton, yang terakomodir paling cuma 70 meter. Ingin beli sendiri tetapi dompet tiris. Untuk kebutuhan 500 balok butuh lebih dari Rp1 miliar dengan asumsi per balok Rp2,4 juta.

Beginilah repotnya kalau semua perkara merujuk kepada UUD, ujung-ujungnya duit. Hmm, kalau demikian tampaknya Rawa Kucing harus belajar pula mengkompos daun pisang jadi plastik herbal.

3 thoughts on “Di Balik Lelucon Plastik Herbal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s