CHINA BENTENG: Sebutlah Ini Budaya Asli Tangerang #3 (Selesai)

TIDAK semua daerah di Indonesia tampil ke muka publik sarat akan budaya asli nan khas, sebut saja Kota Tangerang.

Bagian 1 klik di sini

Bagian 2 klik di sini

Lingkungan depan Kelenteng Boen Tek Bio, Kota Tangerang. [ dok. pribadi]
Lingkungan depan Kelenteng Boen Tek Bio, Kota Tangerang. [ dok. pribadi]
Mungkin bagi sebagian orang, atau bahkan bagi warga Tangerang sendiri, tidak ada yang spesial dari kota satelit DKI Jakarta ini. Tidak ada kebudayaan khas seperti di Aceh, Minang, atau daerah lain. Tidak pula punya kuliner tersohor seperti Bakpia Jogja. Isinyapun tak jauh dari pabrik dan mal.

Pandangan semacam itu perlu diluruskan karena ternyata kota seluas 184,24 kilometer persegi ini punya degupnya sendiri. “Bisa dibilang China Benteng inilah budaya aslinya Kota Tangerang,” tutur Oey Tjin Eng, generasi kedelapan peranakan Tionghoa di Tangerang.

Saya menemuinya pada Jumat (19/6/2015) siang di Kelenteng Boen Tek Bio, Kota Tangerang. Pria bermata sipit dengan kulit sawo matang itu juga aktif di dalam kepengurusan kelenteng ini. Tjin Eng, demikian dirinya akrab disapa, membidani bagian hubungan masyarakat (humas).

Mungkin banyak yang pernah membuat ulasan tentang China Benten alias peranakan Tionghoa di Tangerang. Secara umum komunitas masyarakat ini dinilai memberikan warna tersendiri bagi sisi historis dan kultur Kota Tangerang.

Laman daring resmi Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang menyebutkan wilayah ini punya sejumlah aspek budaya, seperti Tarian Lenggang Cisadane, Gambang Kromong, Lenong dan Barongsai.

Namun di dalam tangerangkota.go.id tidak ada penjelasan khusus tentang komunitas China Benteng. Meski demikian, dalam penuturan soal Gambang dan Barongsai disebutkan keduanya berangkat dari akulturasi antara Tionghoa dan budaya setempat.

“[China Benteng] saat ini adalah hasil pengaruh budaya Tionghoa, Betawi, Sunda, dan Makassar,” ujar Tjin Eng.

Sebagai contoh Gambang Kromong, orkes ini memadukan gamelan dan alat-alat musik Tionghoa, seperti sukong, tehyan, dan kongahyan. Namanya diambil dari dua alat perkusi, yakni gambang dan kromong.

Pemkot mencatat awal mula orkes tersebut muncul erat terkait dengan sosok pemimpin komunitas Tionghoa bernama Nie Hoe Kong. Dia diangkat Belanda pada masa jabatan 1736 sampai dengan 1740.

Hoe Kong mengkombinasikan 18 bilah gambang dari kayu suangking, huru batu, manggarawan atau kayu jenis lain yang empuk bunyinya saat dipukul. Kromong sendiri lazimnya dibuat dari perunggu atau besi sebanyak sepuluh pencon.

Nada dalam gambang kromong adalah tangga nada pentatonik China. Ini kerap disebut salendro China atau salendro mandalungan. Instrumennya terdiri dari gambang, kromong, gong, gendang, suling, kecrek, sukong, dan tehyan atau kongahyan sebagai pembawa melodi.

Sementara Barongsai diakui sebagai salah satu kesenian khas Tangerang. Barongsai yang ada di kota ini terdiri dari jenis Kilin, Peking Say, Lang Say, Samujie. Secara umum kesenian ini menampilkan Singa Batu model dari Cieh Say.

Ada dua aliran yang dianut dalam kesenian tersebut, yaitu Aliran Utara dan Selatan. Hal ini merujuk kepada sisi Utara Sungai Yang Zi, si Barongsai berbentuk garang, berbadan tegap, dan mulutnya persegi.

Aliran selatan terdapat di sisi selatan Sungai Yang Zi. Wujudnya lebih bervariasi dan luwes tetapi kurang gagah. Aliran Selatanlah yang biasanya ada di Indonesia terutama Tangerang. Bukan mengacu kepada wujud singa melainkan Anjing Say yang pernah dipelihara kaisar dan dianggap suci.

Kini dan Dulu

Berdasarkan Instruksi Presiden No. 13/1976, Jabotabek termasuk Tangerang merupakan wilayah pengembangan yang siapkan untuk mengurangi ledakan penduduk di ibu kota.

Daerah penunjang DKI ini juga diharapkan bisa mendorong kegiatan perdagangan dan industri, mengembangkan pusat pemukiman, dan mengusahakan keserasian pembangunan antara DKI Jakarta dengan daerah yang berbatasan langsung.

Hal tersebut tertera dalam ringkasan sejarah Kota Tangerang. Hasilnya sekarang kota ini dihuni sekitar 1,7 juta jiwa. Padahal sensus pada 1990 mencatat penduduk baru berjumlah 921.848 jiwa.

Pabrik, perkantoran, gedung-gedung ritel, mal, perumahan, ini yang menghiasi Tangerang masa kini. Padahal bangunan tersohor yang ada di Tangerang tempo dulu hanya benteng. Dulunya kota ini memang dikelilingi benteng, karenanya peranakan Tionghoa di sini disebut China Benteng.

Pada era 1683, Pemerintah Kolonial Belanda membangun benteng di pinggiran Sungai Cisadane. Tujuannya tentu untuk mempertahankan diri terhadap serangan Kesultanan Banten. Tidak ada sumber resmi yang bisa memastikan seberapa panjang benteng ini terbentang.

Tjin Eng menyebutkan bangunan pertahanan itu ada dari titik yang sekarang menjadi Masjid Agung Al-Ijtihad sampai ke daerah belakang Mal Robinson, Kota Tangerang. Benteng yang berdiri di Tangerang termasuk salah satu pertahanan terdepan Belanda di Jawa.

Datang Menetap

“Pada 1407 terdampar serombongan perahu di Teluk Naga di bawah pimpinan Tjen Tjie Lung atau Halung, di dalamnya ada sembilan orang gadis,” ujar pria kelahiran Tangerang 71 tahun silam itu. Mereka mendarat di muara Sungai Cisadane yang kini dikenal sebagai Teluk Naga.

Pada era 1683 kawasan yang sekarang disebut Tangerang berada di bawah pimpinan Sanghyang Anggalarang, wakil dari Sanghyang Banyak Citra dari Kerajaan Parahyangan.

Melihat sembilan orang perempuan Tionghoa berparas cantik di perahu yang baru mendarat di muara Sungai Cisadane, hatinya tertarik. Mereka “dibeli” dengan kompensasi sebidang tanah.

Tinggal para lelaki, mereka selanjutnya hidup dan menetap di kawasan Teluk Naga lantas menikah dengan orang pribumi. Seiring waktu terbangunlah komunitas peranakan Tionghoa di sebuah desa yang selanjutnya dinamai Tanggeran.

“Kenapa disebut China Benteng? Karena orang-orang di sini tinggalnya dekat benteng. Dulu disebutnya Benteng Makassar karena saat pembangunan banyak dikerjakan orang dari Makassar,” tutur Tjin Eng.

Pada 1740 dipimpin Gubernur Jenderal Andriaan Valckenier terjadi pembantaian massal terhadap etnis Tionghoa yang ada di benteng (kini Tangerang) hingga lebih dari 10.000 orang tewas.

Warga Tionghoa itu sebelumnya berusaha mengemukakan ketidakpuasan mereka terhadap berbagai peraturan VOC (Veneenigde Oostindiche Compagnie). Peranakan Tionghoa yang berhasil menyelamatkan diri lantas mencari wilayah lain untuk bermukim, seperti di Teluk Naga.

Usai pembantaian pada 1740, pada tahun-tahun setelahnya pemerintah Belanda menyebarkan warga Tionghoa peranakan ke titik lain untuk bertani, sekarang di kenal sebagai Pondok Cabe, Pondok Jagung, dan Pondok Aren.

“[Awalnya] dari pembantaian 10.000 orang warga Tionghoa itulah sekarang ada Pondok Aren, Pondok Pinang, Pondok Cabe dan Kali Pasir,” kata Tjin Eng.

Usai pemberontakan itu teredam, Belanda lantas membangun perkampungan Tionghoa. Lokasinya ada di Tegal Pasir atau Kali Pasir bernama Petak Sembilan. Sekarang daerah ini menjelma menjadi kawasan Pasar Lama dan berkembang menjadi pusat perdagangan dan wilayah tak terpisahkan dari Kota Tangerang.

Selepas kemerdekaan, peranakan Tionghoa kembali sempat mengalami masa krisis sosial. Mereka kontra dengan warga pribumi tersentil aksi seorang tentara NICA etnis Tionghoa mengganti Merah Putih dengan bendera Belanda. Hasilnya pada pertengahan 1946 rumah warga China Benteng diporak-porandakan.

Rumah mereka dijarah hingga furnitur meja abu tempat ritual sembahyang turut dirampas. Lantas ada kelompok pemuda peranakan Tionghoa Tangerangyang pro kepada NICA mengungsikan warga China Benteng ke Batavia yang sekarang jadi Jakarta.

Setelah konflik tersebut teredam, komunitas China Benteng kembali ke tanahnya dan mereka kehilangan harta benda. Rumah tidak lagi dalam keadaan utuh bahkan hancur rata dengan tanah, isinya pun entah dijarah kemana. Klaim atas tanah pun jadi dikuasai para pribumi.

Proses panjang untuk bertahan hidup di Tangerang sampailah ke era modern seperti sekarang. Suasana khas pecinan masih terasa khususnya di kawasan Pasar Lama, komplek Poris, Selapajang, dan Teluk Naga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s