GADIS

 

GENGGAMAN tangan seorang pria berusia 30-an merenggang di sela-sela jemari wanita di sebelahnya. Mereka menelan ludah bersamaan melalui tenggorokan yang berbeda. Bersama pula merasai butiran peluh berjatuhan padahal sedang di dalam ruang steril yang dingin.

Kamar bersalin sebuah rumah sakit umum daerah itu baru saja diramaikan tangis bayi perempuan. Berlumur darah dan mengkilat-kilat badannya selepas keluar dari rahim. Tangisnya seperti nyanyian paling merdu bagi pria dan wanita tersebut; membius.

Namun dokter lama menimang si bayi. Dia ragu menyerahkan kepada sosok yang melahirkannya. Dokter terus menahan bayi merah itu di tangan; gemetar.

“Mana anak saya dok?” tanya si wanita, yang melahirkan jabang bayi, sembari berbaring bersimbah keringat.

Dokter menatap mata pasangan suami istri ini lantas membanting tatap kepada wajah si bayi. Ragu. Tak pernah dia seragu ini dalam prosesi penyerahan bayi kepada ibunya. “Ini, bu,” akhirnya dia menyerahkan.

Pasangan suami istri tersebut tentu menangis terharu. Lebur dan luruh bahagia mereka. Si ibu meletakkan anaknya tengkurap di dada agar bisa menemukan puting susu sendiri. Adapun si suami menepuk-nepuk punggung bayi lalu beradzan.

Sehabis itu tangis mereka reda, seketika, seperti setengah terpaksa lantas berganti jadi cengang. “Ayah…” suara si ibu terputus. Keduanya berpandangan. Tetiba tangis mereka kembali pecah.

Apabila kau saksikan separang pasutri tersebut menangis dari layar kaca, mereka tampak seperti sedang berteriak dalam bisu. Coba matikan volume sampai ke limit terbawah, maka yang terlihat cuma orang yang sedang meringis-ringis dan megap-megap.

Pria yang kelak dipanggil ayah dan wanita yang akan dinamai ibu itu menangkap semburat keheningan di dalam bisingnya pekik pita suara. Mereka mendapati keheningan dari derasnya laju air mata. Tak hanya itu, berdua juga meneriaki keheningan yang membungkus sukma.

Tangis yang hening, bagi si bayi demikian. Ia tengkurap menempelkan pipinya ke dada sang ibu tanpa tahu apa yang bikin suasana begitu pilu. Dia asing saja menyusu ke sepasang puting bengkak di dada ibunya. Itulah aku, si bayi berkaki satu.

++++

Apabila mengenai orang lain kita bisa menjadi pengingat jitu, apalagi terhadap diri sendiri.

Tak lekang dari amigdala otakku ketika itu berusia sekitar sepuluh tahun; masih berseragam putih dan merah; kelas empat sekolah dasar. Aku sedang di kamar mandi siswi usai pelajaran olahraga. Walaupun tidak ada satupun aktivitas olahraga yang bisa aku ikuti, tetap saja aku harus mengganti baju selama jam pelajaran berlangsung. Biasanya aku cuma teronggok bak obat nyamuk di pinggir lapangan.

Aku hendak berganti baju menjadi seragam putih dan merah kembali. Kebodohan yang paling kusumpahi sampai kesumat adalah memilih masuk bilik yang kuncinya rusak. Tetiba ada dua, tiga, atau empat kepala beserta anggota tubuh lengkap menyeruak masuk.

Kebodohan lainnya adalah aku sibuk dengan kaget. Kenapa aku sibuk kaget? Sibuk berteriak-teriak histeris karena takut ada yang mau mengintip. Kenapa tidak langsung tersadari, monyetpun rasanya tidak akan berminat kepada tubuh bau kencurku.

Mereka ramai-ramai dengan kompak dan sigap mengambil tongkat. Sepasang tongkat keramat. Benda itu dirampas; disembunyikan. Aku berusaha menengangkan diri setengah mati selepas teman-temanku yang keparat itu keluar seperti kilat.

Tidak ada air mata boleh turun, satupun. Demikian sumpahku di kepala.

Aku keluar dari kamar mandi tanpa terpikir mencari tongkatku. Aku hanya ingin sampai di kelas. Sepanjang koridor aku dianiaya secara verbal. Jalanku melompat seperti kodok dan menunduk seperti anak babi.

Memang itu yang mereka teriakkan, “Huuuuu kodok huuuu”.

++++

Para keparat itu akhirnya mengembalikan tongkatku setelah aku kembali melompat terombang-ambing dari kursi menuju pintu kelas; saat pulang sekolah. Aku tak berharap tongkatku kembali, aku hanya sibuk berusaha tak menangis dan menyimpan marah.

Kalau harus mengesot untuk sampai di rumah, biarlah, akan kucoba jalani. Begitu batin cacatku berkata.

Sesampai di rumah aku langsung meraih dada ibu yang sedang berbaring telentang, mempelkan pipi di sana; seperti ketika pertama aku menyentuhnya. Aku merangsek di sana dalam posisi tengkurap. Aku menanggis sesenggukan dan meracau.

Kenapa harus berlari jika berjalan terasa lebih menenangkan? Mengapa memaksa melihat jika segala yang ada cuma tampak seperti berkabut?

“Tidak mengapa sayang. Dan karena tidak apa-apa mengapa harus memaksa berlari dan ngotot memandang dengan mata telanjang?” jawab ibu sembari menguatkan cengkraman jemarinya dibahuku.

++++

Berjalan dan memandang menjadi ritual mewah dalam hidupku. Ritual utamaku setelah bangun tidur, pertama mencari kacamata, kedua meraba di mana tongkatku.

Hubunganku dengan tongkat dan kacamata sangat mesra, akrab, dan hangat; intim. Kedekatan kami melebihi kedekatanku dengan siapapun atau apapun.

Berkat si kacamata, aku bisa memandang dengan baik. Sementara si tongkat mampu memapah saat menapaki jalan. Komplementer yang sempurna; melihat jalan dan menjalaninya.

Aku memang bisa memandang apa yang tersaji dalam perjalanan dan mampu menjalaninya. Tapi rupanya ini saja tidak tidak cukup. Ya, seperti orang keren; keren saja enggak cukup buat hidup. Untukku melihat dan berjalan saja belum memadai, aku harus bisa melakukannya dengan cepat.

Rupanya memang omong kosong pepatah yang berkata alon-alon asal klakon, perlahan yang penting selamat. Kenyataan tidak demikian. Semua harus cepat dalam ritme yang lazim bukan yang cacat.

“Gadis kamu lambat kayak keong. Cepetan dong, antreannya panjang nih”. Pada waktu itu aku sedang mengantre pembagian seragam baru saat kenaikan kelas.

Andai keparat-keparat itu tahu, mereka tidak perlu mengolok-olok. Cukup memandangi dari ujung kaki ke kepala. Rasanya seperti tak ada helai kain nyangkut lagi di tubuhku.

++++

Ini gilirannya, si anak lamban. Betapa tidak lelet, kaki lunglai itu harus selalu ditopang tongkat. Berurusan dengannya harus mau menyediakan waktu lebih, untuk mengakomodir geraknya yang lamban. Saya sendiri bingung kenapa sekolah menerima dia. Selain lamban, aneh pula.

“Esai terakhir yang akan ibu bagikan ini adalah yang nilainya paling buruk, dapat F.”

Sebelum melanjutkan kalimat, saya membuka kacamata sampai hidung dan memandang ke tempat duduk murid berikut ini. “Gadis, maju kemari”.

Biasanya berjalan dari baris meja paling belakang butuh lima detik untuk sampai ke depan. Tapi untuk si lamban ini, lima detik harus digandakan dua kali lipat.

“Bacakan hasil esaimu”.

++++

Apa itu mimpi? Apakah itu serupa batu yang dililitkan benang sol lantas dilempar ke salah satu ranting pohon rindang nan teduh?

Jika batu benang berhasil terlilit di ranting dengan baik, itu bisa tersangkut dengan kuat. Tapi saat lemparanmu salah arah, justru keningmu yang tertimpa dan berdarah. Apakah demikian?

Atau, jangan-jangan mimpi dalam konteks apapun tak ubahnya kembang tidur belaka? Kalau begini, perbanyak saja tidur agar mimpimu terus hidup.

Ibu tertawa mendengar celotehku tersebut. “Kalau kamu cuma memberi dua opsi itu maka anggaplah mimpimu seperti opsi yang pertama,” jawabnya usai menuntaskan tawa. “Memangnya kamu punya mimpi apa?”

Aku diam dan menyeringai menatap ibu sembari terus menaburkan makanan ikan ke permukaan kolam lele. Ibu pun tidak bertanya lagi. Dia sibuk meremas-remas ikan dan mencampurnya dengan nasi. Setelah ini dia akan berkeliling komplek memberi makan kucing jalanan.

Pertanyaan ibu yang tak terjawab bukan berarti lantaran aku tak punya jawaban. Aku punya, hanya saja aku malu. Aku khawatir jika kujawab sekarang tetapi sepuluh tahun mendatang aku malah lupa dan abai.

“Gadis? Cepat dibaca paragraf yang ibu tandai dengan pulpen merah,” ibu guru menegurku.

“Saya ingin bisa membeli rumah dengan luas bangunan 100 meter persegi dan halaman kalau bisa 300 meter persegi. Lokasinya saya harap ada di pinggiran ibukota. Saya membutuhkan rumah dengan halaman luas agar teman-teman bisa bermain dan hidup dengan layak.

Saya akan membuat beberapa rumah kecil atau sebutlah kandang di halaman tersebut, ada kandang burung berukuran tiga kali tiga meter, area kucing sekitar sepuluh kali sepuluh meter, untuk anjing mungkin 15 kali lima meter persegi. Selebihnya akan saya tanami tumbuhan sayur dan pohon buah. Sementara di halaman belakang rumah akan saya buat beberapa kolam ikan.

Rumah tersebut sangat saya butuhkan ada di pinggir ibukota karena kalau di ibukota sendiri terlalu padat. Sementara di sanalah dan daerah sekitarnya banyak binatang-binatang terlantar.

Sebelum saya membeli rumah tersebut saya ingin kuliah di jurusan kedokteran hewan. Saya ingin menjadi dokter hewan dan penyelamat binatang bahasa Inggrisnya animal rescuer,” kataku sembari memandangi huruf F di sudut kanan atas.

Setelah itu kuberanikan menatap seisi kelas. Mereka bukan terperangah melainkan sibuk berbisik dengan teman sebangkunya. Aku tetap berusaha melempar senyum ke udara.

“Gadis,” aku menoleh ke arah guruku, “keinginan kamu itu aneh sekali ya. Buat apa sibuk mengurus binatang-binatang jalanan itu?

Kamu tidak pernah juara kelas, nilai matematikapun selalu merah, bagaimana bisa masuk kedokteran? Kamu juga tidak punya uang. Belum lagi keluarga kamu relatif kurang mampu, hanya beternak lele lho.

Kalau menginginkan rumah seluas itu dalam waktu sekitar sepuluh tahun dari sekarang, kamu butuh banyak uang, Dis. Coba kamu tulis ulang esaimu dengan isi yang lebih realistis, mungkin nilai F kamu bisa jadi lebih baik”.

Senyumku lenyap.

++++

“Jadi mimpi itu apa Bu?”

Sepulang sekolah hari itu, aku langsung menodong ibu yang sedang memberi makan lele dengan pertanyaan yang sama; mimpi.

Ibu menghentikan aktifitasnya dan berlutut di depanku. “Mimpi itu hidup, Dis,” katanya sambil memegang bahuku.

“Kamu tahu rahasia hidup?”

“Apa Bu?”

“Jatuhlah tujuh kali tetapi kamu harus bangun delapan kali”.

Malam itu aku memandangi esaiku yang dibubuhi huruf F sampai tertidur. Aku berpikir keras apa yang harus kuperbaiki, apa yang mesti kuubah?

Keesokan paginya aku hampiri guru Bahasa Indonesia dan menyerahkan kertas esaiku.

“Kenapa masih esai yang sama?”

“Saat awal-awal mulai berjuang demi mimpi yang saya inginkan tentu saya tidak punya pengalaman dan membuat banyak kesalahan, bu. Tapi biarpun saya jatuh seratus kali, saya akan bangun 101 kali”.

++++

Sepuluh tahun sejak saat itu benar yang diolok-olok guruku. Sampai sekarang aku belum berubah.

“Benarkah begitu?” tanya juru warta di depanku. Kami sedang berbincang di taman sebuah bangunan yang di depan pagarnya ada papan bertuliskan PITA; Pengasuh Binatang Terlantar.

“Ya, seperti yang Anda lihat. Saya masih bertongkat, lambat, dan rabun. Orang tua saya juga tetap beternak lele”.

Wartawan itu tertawa.

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s